
(pov ARGA)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌊🌊🌊
Karena air yang tenang pun ...
Akan menghanyutkanmu ...
Saat gelombangnya datang ...
🌊🌊🌊
---------------------------------------------------------------------
"Kenapa punggungmu sampai memar begini, sih?" tanya mama ketika mengoles salep di punggungku.
"Tadi ada sepatu kuda liar yang tiba-tiba terlepas dan kena punggung Arga, Ma," jawabku dengan melirikkan ekor mataku pada Jesika.
Gadis itu nampak cekikikan sembari memindah channel TV.
"Bagaimana hasil lombanya?" tanya papa.
"Feeling good," jawab Jesika. "Biar pun nggak langsung pengumuman, tapi Jesika yakin bakal keluar sebagai juara."
"Jangan sombong begitu!" kata mama.
"Bukannya sombong, Mama," sahut Jesika. "Tapi Jesika udah kerja keras dan melakukan yang terbaik. Karena itulah aku bisa seyakin ini."
-------
Jesika Mahesa Putri.
Gadis kelas XI SMA ini tengah mengikuti lomba desain baju pengantin tingkat nasional.
Meski dia tak sepintar aku dalam akademik, tapi dia punya bakat yang luar biasa soal perancangan busana. Mungkin bakat itu dia dapat dari nenek.
-----------
Dan malam itu, seperti biasa, kami menghabiskan waktu bersama untuk sekedar duduk-duduk sambil nonton TV.
"Pa ... jadi, kan?" tanyaku.
"Iya," jawab papa.
"Asiiik!"
"Jadi apa?" tanya mama penasaran.
"Itu ... Arga minta dibeliin mobil," jawab papa.
"Mobil?!" Mama langsung melotot menatapku. "Nggak boleh! Nggak ada mobil segala."
"Iiih ... Mama! Arga, kan udah dapat SIM A," rengekku.
"Enggak. Pokoknya mama nggak setuju kamu bawa mobil segala," tolak mama. "Mas Dirga juga! Aku nggak suka, ya kalau Mas Dirga manjain Arga sampai segitunya. Dia masih sekolah. Nggak boleh hura-hura gitu! Nggak setuju pokoknya."
Nah, kan!
Kadang ini ibu-ibu bisa berubah sangat menyeramkan. Dan papa selalu diam saat bola mata mama sudah hampir melompat keluar.
"Kalau Mas Arga dibeliin mobil, aku juga minta beliin motor, dong!" Jesika ikut menimpali.
"Kamu lagi!" seru mama. "SIM C aja nggak punya mau sok-sokan naik motor. Naik bus aja kalau sekolah!"
"Iih ... Mama pelit!" gerutu Jesika.
"Pokoknya mama nggak suka, ya kalau anak-anak mama seenaknya memanfaatkan uang orang tua. Kalian mesti belajar mandiri! Tetap rendah hati dan berempati! Nggak usah sok gaya-gayaan!"
"Iya ... iya, Sayang!" Papa menenangkan. "Mereka udah gede, udah paham. Nggak usah marah-marah gitu. Entar keriput, lho."
"Ini, kan Mas Dirga yang salah," sergah mama.
"Makanya jangan terlalu manjain mereka!
Huh ... bikin kesel jadinya!"
----------
"Tuh, lihat!" Jesika menunjuk mama yang 'ngeluyur' menuju kamar. "Gara-gara Mas Arga, tuh mama jadi kesal."
"Eeh ... kan, kamu juga ikut-ikutan minta motor," kataku. "Mama jadi dobel kesalnya gara-gara kamu."
"Sudah ... sudah!" lerai papa. "Minta maaf sama mama sana! Kalau dibiarin marah begitu, besok pagi kita nggak bakal dikasih makan ini."
"Hahaha ...!"
Sebenarnya, hal seperti ini sudah biasa terjadi. Malihat mama yang keras kepalanya kambuh, itu sudah biasa. Kami hanya perlu sedikit melempar rayuan, pasti akan luluh hati hello kittynya.
--------------
---------
"Mama ...!" Aku memeluk wanita cantik yang sedang duduk di depan meja rias itu. "Mama cantik banget, sih. Nggak heran kalau aku jadi seganteng ini."
"Udah, deh nggak usah gombalin mama! Nggak ngaruh. Pokoknya mama nggak setuju kamu minta mobil ke papa."
"Enggak, kok. Arga ke sini bukan untuk gombalin mama. Arga mau minta doa."
"Doa?!"
Mama memutar duduknya dan menatapku yang sedang berjongkok di depannya.
Kupersembahkan senyum terbaikku pada ibuku tercinta itu.
Seorang ibu yang selalu tersenyum manis padaku, meski hatinya sedang berkecamuk tak menentu.
Seorang ibu yang selalu mengusap ujung kepalaku, hingga hangatlah rasa hatiku.
Seoramg ibu yang pandangannya begitu menyejukkan, hingga aku seakan tak butuh hal lain lagi selain dirinya.
"Mama ... Arga udah memgajukan paper beasiswa ke luar negeri."
"Benarkah?" pekik mama.
"He'em," anggukku. "Karenanya ... doakan Arga, ya! Supaya Arga berhasil lolos."
"Ohw ... Honeyku!" Tangan hangat itu mulai mendekapku. "Tanpa kamu minta pun, mama pasti akan selalu menyebutmu dalam doa. Untuk kebahagiannmu dan kesuksesanmu, Sayang."
"Makasih, Mom! Love you so much."
Aku selalu suka saat pelukan hangat ini kurasakan. Seluruh bebanku seakan terangkat dan menguap begitu saja.
---------------
"Kalau Arga lolos, mama bakal kasih hadiah nggak?" tanyaku.
"Pastinya," jawab mama, meyakinkan.
"Boleh nggak kalau Arga pilih sendiri hadiahnya?"
"Boleh, dong," jawabnya.
"Kalau gitu, boleh nggak kalau lolos ... Arga minta ... mo--bil?"
"Enggaaaak!" Mama terhenyak dari duduknya.
"Kamu ini, ya! Ujung-ujungnya mobil terus."
------
"Udahlah, Rhes iyain aja!" Papa tiba-tiba muncul di belakangku. "Arga, kan udah kerja keras. Dia belajar dengan rajin untuk bisa mendapat beasiswa itu. Apa salahnya, sih? Lihat dia! Anakmu itu bahkan nggak pernah melanggar laranganmu. Dia benar-benar jadi anak yang baik selama ini. Berikan mobil itu sebagai hadiah saat paper beasiswanya berhasil lolos!"
Mama melempar pandang padaku. Dan aku memasang ekspresi sabagai anak baik-baik agar mama bersimpati padaku.
"Baiklah," katanya. "Asal kamu lolos."
"Serius, Ma?!" seruku hampir tak percaya.
"He'em."
"Huwaaaa ... Mamaaa!" Aku menghambur memeluknya. "Aku sayang padamu, Mama! Saaaangat sayang!"
"Iya ... iya! Sudah malam. Tidur sana!"
"Oke. Good night, Mom! Love you full. Papaaaa ...!" Aku memeluk papa tersayangku itu. "Thank you very much. Emmuach ...!"
"Astaga ... anak itu!" gerutu papa.
-----------------
------------------------------------
KAMPUS
Hari test untuk mendapat beasiswa itu pun datang.
Aku melangkah penuh semangat menuju medan perang. Meski harus bersaing dengan ratusan mahasiswa, tak ada sedikit pun rasa gentar. Karena aku punya tujuan yang harus aku capai. Tujuan itu adalah ... mobil baru!
"Ah ... maaf. Bisa geser? Nggak ada kursi lagi." Seorang gadis menghampiriku.
Aku edarkan pandanganku ke penjuru ruangan. Memang tak ada tempat lagi.
Aku sudah terbiasa dengan situasi seperti ini. Seorang gadis yang berpura-pura minta tempat duduk, tapi sebenarnya punya niat terselubung.
Mau bagaimana lagi?
Ketampananku ini memang sebuah magnet yang maha dahsyat.
"Maaf ... apa kamu punya masalah pendengaran?" tanyanya.
"Apa?!"
"Boleh geser sedikit? Sebentar lagi testnya dimulai. Aku perlu tempat duduk," katanya.
"Oh ... i--iya. Silakan!"
"Makasih."
Wah ... wah ... wah ...!
Apa-apaan ekspresi dinginnya itu? Dia sama sekali tak melirikku. Tak menggubrisku. Apa dia tak mengenalku? Tumben sekali ada cewek yang tak merespon keberadaanku.
----------
"Oke ... ladies and gentlemen! Selesai mengerjakan, kalian harus seret link hasil kerja kalian ke situs web yang sudah di siapkan AsDos, ya! Selamat mengerjakan testnya dan semoga beruntung."
Begitu rektor selesai memberi sambutan, kami pun mulai mengotak-atik soal yang dikirim via online ke laptop setiap mahasiswa.
-----------
"Ya ... eror!" seru gadis, yang ada di sebelahku. "Aduh, laptop ... jangan eror sekarang, dong! Hilang sudah hasil kerjaanku. Haduuuh ... gimana, nih?!"
Kulirikkan ekor mataku padanya. Dia nampak frustasi dengan meremas rambut ikalnya.
"Oh, Tuhan! Kenapa begini banget, sih nasibku?" rengekknya.
Sebuah laptop tua. Wajar saja kalau 'ngeblank' tiba-tiba. Untuk test sepenting ini harusnya dia melakukan persiapan yang matang.
"Pakai punyaku saja!" Kusodorkan laptopku padanya.
"Hah?! Bolehkah?" tanyanya sembari membenarkan posisi kaca mata tebalnya.
"Iya. Aku sudah selesai," kataku, seraya beranjak meninggalkan ruangan.
"Te--terima kasih banyak. Akan aku kembalikan nanti."
Aku tak yakin dia akan berhasil. Waktu yang tersisa cuma tinggal lima belas menit lagi. Dengan soal sebanyak dan serumit itu, mana mungkin dia berhasil.
------------------
Aku meregangkan otot tubuhku sambil menghirup udara sejuk di taman kampus.
"Arga Mahesa Rizaski ... kamu sudah melakuakan yang terbaik. Sebentar lagi mobil baru akan ada di genggamanku. Asiiiiiik ...!" seruku.
"Ga, ke kantin, yuk!" ajak Reyhan.
"Oke."
-----------------
-------------------------------
"Papa udah pesen mobilnya, kan? Aku mau yang warna merah pokoknya," kataku, saat papa mengantarku ke kampus karena motorku masuk bemgkel.
"Hasil testnya aja belum keluar," kata papa.
"Emang Papa nggak yakin dengan kemampuan putra papa ini?"
"Yakin, dong! Tapi kamu harus bawa hasilnya ke mama. Dia yang akan memberi ACC," kata papa.
"Oke. Akan kubawa nilai teetinggi ke hadapan mama. Dan kunci mobilnya harus siap untukku!"
"Iya, Pangeran kecil ... akan langsung papa belikan."
"Yes!"
-----------------------------
-----------------
Saat tiba hari diumumkannya hasil test, aku langsung melesat ke papan informasi online kampus.
Nampak bergerumbul mahasiswa yang juga sedang melihat hasil test mereka.
"Apa hasil testnya sudah keluar?" tanyaku.
Semua yang ada di depan papan informasi itu serentak melempar pandang padaku.
Ah ...!
Kejadian seperti ini pun sudah biasa. Mereka selalu terpukau saat namaku bertengger di peringkat paling atas.
Aku berjalan mendekat dan melihat posisi paling atas.
"A--apa-apaan ini?! Namaku ... namaku ada di urutan nomor dua?!" pekikku.
-----------------------
----------------
"Kak, kenapa namaku ada di urutan kedua?" Aku menghampiri AsDos yang menangani program beasiswa itu.
"Oh? Arga? Sebenarnya aku juga cukup terkejut. Tapi kenyataannya memang begitu," jawabnya.
"Apa maksudmu?!" teriakku.
"Arga ... tenang!" katanya. "Nilaimu dan nilai si nomor satu hanya beda 0.2. Itulah kenapa, kamu ada di urutan kedua."
"Enggak. Nggak mungkin. Aku nggak mungkin gagal," gumamku, syok. "Siapa yang ada di nomor satu? Siapa?!"
AsDos memberikan sebuah berkas data padaku.
"Luna Kei Cecili? Siapa itu?" tanyaku, saat kubaca berkas itu.
"Seorang mahasiswi jurusan psikologi."
Aku sungguh penasaran. Orang seperti apa yang bisa mengalahkanku? Ini pertama kalinya aku merasa sangat dipermalukan. Seumur hidupku, inilah pertama kalinya aku tergeser dari peringkat pertama.
----------------------
-----------------
KANTIN KAMPUS
"Tolong, kembalikan tasku!"
"Sujud dulu padaku! Kalau perlu, cium sepatuku! Berani sekali mahasiswi cupu sepertimu menumpahkan makanan padaku."
"Aku sungguh minta maaf. Aku nggak sengaja."
"Enak aja minta maaf! Nggak segampang itu! Kamu tahu nggak? Ini sepatu keluaran terbaru. Import, tahu?!"
Segerombol mahasiswa semester enam nampak sedang mengerjai juniornya.
Dony dan kawan-kawan.
Kakak tingkat si pembuat onar. Sungguh kumpulan orang-orang yang bermasa depan suram.
--------------
"Kak Dony itu benar-benar keterlaluan," gumam Reyhan, sambil memasukkan kentang goreng ke mulutnya. "Dia tak akan berhenti sebelum gadis itu benar-benar bersujud di kakinya."
Aku menatap ke arah gadis yang sedang dikerjai si Dony itu.
"Lho? Dia, kan?"
Rambut ikal panjang sedikit acak-acakan. Tampang culun dengan kaca mata tebal.
Ya ... aku ingat penampilan itu. Dia gadis yang duduk di sebelahku saat test beasiswa waktu itu.
"Hei ... mau ke mana? Arga ...!" teriak Reyhan.
-----------
Tanpa menggubris panggilan temanku itu, aku berjalan menghampiri Dony dan kawan-kawannya.
"Ada apa ini, Kak?" tanyaku, sambil memasang senyum manis.
"Oh? Arga?!" Dony nampak terperanjat melihatku.
Seluruh kampus mengenalku. Mereka tahu persis bahwa aku adalah putra pemilik MAHESA CORPORATION. Mereka seakan begitu segan padaku. Atau lebih tepatnya, mereka takut padaku. Karena perusahaan keluargaku adalah tempat magang yang menjadi incaran para mahasiswa.
"Kenapa gadis itu duduk di lantai? Apa dia sedang dibully?" tanyaku, lagi-lagi dengan melempar senyum manis.
"Ah, tidak! Kami ... kami hanya sedang bercanda, kok. Iya, kan, guys? Hahaha ...," kilah Dony.
"Kamu sedang apa? Cepat berdiri!" kataku pada gadis itu.
Dia nampak ragu. Sekilas melempar pandang pada Dony. Dia nampak ketakutan.
"Berdiri!" Kuulurkan tanganku padanya.
Diraihnya tanganku dan berdirilah ia sambil merapikan rambut dan bajunya.
"Ini tasmu?" Aku meraih tas itu dari tangan Dony.
"Iya," jawabnya, dengan menunduk.
Aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas, karena dari tadi dia terus menundukkan kepalanya.
Aku meraih tanda pengenal mahasiswa yang tergantung di lehernya.
"Luna ... Luna Kei Cecili? Itu namamu?!" pekikku.
Gadis itu pun mengangguk.
"Kamu ... apa kamu ... dari jurusan psikologi?" selidikku.
Lagi-lagi dia mengangguk.
Tak bisa dipercaya. Jadi dia orangnya. Orang yang sudah merampas posisi nomor satu dariku. Gadis culun dan acak-acakan ini? Aku benar-benar tak habis pikir.
"Hei ... kamu ingat aku?"
Gadis itu mengangkat kepalanya perlahan. Dia nampak mengamatiku dengan seksama.
"Oh? Kamu? Kamu yang waktu itu duduk di sebelahku saat test dan soal laptop itu ..."
"Iya, itu aku," sahutku.
Dia nampak tersenyum lega saat melihatku dan aku pun membalas dengan senyuman pula.
"Kamu berhasil mendapatkan beasiswa itu?" tanyaku.
"Iya. Berkatmu," jawabnya, dengan senyum lebar. "Kalau kamu nggak meminjamkan laptopmu padaku, masa depanku pasti akan hancur sekarang. Kamu sudah menyelamatkan hidupku."
"Begitukah?" Aku menyunggingkan sedikit senyum padanya.
Aku angkat tasnya tinggi-tinggi, kubuka resleting tasnya dan kutuang isinya. Semua jatuh, termasuk laptop tua miliknya. Semua berserakan di lantai kantin.
"Hahaha ...!" Gelak tawa langsung terdengar dari seluruh penjuru kantin.
"A--apa yang kamu lakukan?" serunya, keheranan.
"Luna Kei Cecili ... aku memang telah menyelamatkan hidupmu. Tapi kamu ... telah menghancurkan hidupku."
Kuhempaskan tas itu ke lantai dengan penuh emosi.
"Aku akan selalu mengingat namamu. Jadi kamu pun, harus selalu ingat namaku!
Aku ... Arga Mahesa Rizaski."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=