WILL YOU MARRY ME?

WILL YOU MARRY ME?
Part 28


(pov ARGA)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🍎🍎🍎


Because ...


You Are The Apple Of My Eyes ...


🍎🍎🍎


---------------------------------------------------------------------


FLOWER NEXT DOOR CAFE


"Ayolah, Om Sony! Sekali ini saja, bantuin Arga! Mau, ya? Om?"


"Astaga ...! Kamu ini kenapa jadi nekat gini, sih? Perasaan dulu papamu nggak seberani ini, deh," geram Om Sony.


"Ayolah ... ayolah ... ayolah ...!" paksaku.


"Kalau sampai papamu tahu, aku bisa dirajam tahu, nggak?"


"Ya, makanya ... jangan sampai papa tahu!"


"Ya ampun ... anak muda jaman sekarang!" serunya. "Oke. Om kasih ijin. Tapi ingat, jangan berbuat macam-macam! Jangan melampaui batas, kamu!" ancam Om Sony.


"Iiih ... apaan, sih, Om?! Nggak bakalanlah Arga kayak gitu."


"Ya udah, bawa barang-barangnya ke belakang!"


"Thank you very much, Om." Kuhadiahkan sebuah pelukan pada sahabat karib papa itu.


--------------------


---------------


Ada sebuah ruangan tak terpakai. Ruangan yang cukup luas. Ada kamar mandi dalamnya juga. Tempatnya ada di samping cafe yang dikelola papa dan Om Sony.


Aku sengaja membawa Luna untuk pindah ke tempat ini. Karena hari itu dia bilang, bahwa ibunya sering datang ke tempat kostnya dan memukulinya.


Entah tindakanku salah atau benar, itu urusan belakangan. Aku hanya tak mau Luna menerima perlakuan buruk lagi dari ibunya.


--------------------


-------------


"Kamu akan aman di sini," kataku, sembari merapikan sprei tempat tidurnya.


"Arga ...," panggilnya.


"Hem?"


"Berhentilah berbuat baik padaku! Aku merasa tak enak," katanya.


"Kenapa? Aku masih merasa berhutang atas kesalahanku padamu di kantin waktu itu. Dan aku wajib membayarnya, dong!" kilahku.


"Aku sudah melupakan kejadian itu. Jadi kamu nggak perlu merasa bersalah terus padaku!"


"Aku akan terus melakukan kebaikan padamu, selama rasa bersalah ini masih tersangkut di hatiku," kataku.


"Apaan, sih kamu ini," ucapnya, dengan sedikit terkekeh.


------------------


--------------


RUMAH ARGA


"Jes ..."


"Hem ...?"


"Jesiii ..."


"Apa, sih, Mas? Jesi, kan lagi nonton drakor. Jangan gangguin, dong!" keluhnya.


"Ayolah, Mas Arga butuh bantuan, nih," rayuku, sembari melingkarkan lenganku di pundaknya.


Gadis itu nampak melotot padaku. Demgan mendengus kesal, dia matikan laptopnya.


"Ada apa?" tanyanya, dengan ekspresi jutek.


"Ehm ... kamu pernah nembak cowok nggak?"


"Ya enggaklah! Amit-amit jabang bayi. Gengsilah! Ngapain cewek nembak cowok? Yang ada, tuh Jesika dapat amplop pink puluhan ... bahkan ratusan tiap hari."


"Amplop pink? Surat cinta maksudnya?" tanyaku, keheranan.


"Iyalah," jawabnya, sombong.


"Hahaha ... kuno banget, sih!" ledekku. "Emang masih di jaman primitif, pake surat-suratan? Aneh!"


"Ya ini ... jomblo dua puluh satu tahun tapi sok tahu," geram Jesika. "Mas ... itu namanya romantis ... ro--man--tis!"


"Romantis?"


Jesika pun mengangguk dengan penuh keyakinan.


"Apa cewek suka kalau dikasih surat pink gitu?" tanyaku.


"Ya jelas klepek-klepeklah," sahutnya. "Karena semua cewek suka hal-hal yang berbau romantis dan pinky-pinky. Ehm ... sweet banget."


"Oooh ..."


"Kenapa? Apa Mas Arga mau nembak cewek?"


"Apa?! Ah ... enggak, kok!" kilahku. "Aku ... aku hanya ... observasi. Ya ... hanya observasi."


------------------


--------------


Akhirnya aku kembali ke kamar. Merasa bodoh sendiri karena menanyakan hal remeh-temeh begitu pada adikku. Dia malah semakin membuatku bingung.


Apa aku harus mengakui, kalau aku punya rencana nembak cewek?


No! Itu memalukan. Dia pasti akan 'ember' mengadu ke papa dan mama. Dan jadi viral akhirnya aku di sosmed miliknya.


Kubuka laptopku dan mulai googling.


"Cara nembak cewek yang akurasinya seratus persen. Search!"


Wah! Beruntungnya aku yang menjadi generasi 'Mbah Google'.


Semua informasi tersedia dalam hitungan detik. Benar-benar sebuah jaman yang tak perlu banyak bergerak untuk mendapatkan sesuatu.


----------------------


-----------------


10.00 WIB


KAMPUS


Duh ... sumpah, aku nervous banget!


It's the first time.


Pertama kalinya aku bertindak segila ini.


"Huft ... bismillah aja, deh!" kataku, sambil menyelipkan amplop tersebut di loker seorang mahasiswi jurusan psikologi.


----------


"Aku ke kantin dulu, ya, Luna."


"Oke. Sampai nanti."


Dan ... hatiku semakin berdetak tak karuan, saat pemilik loker itu datang.


Dengan bodohnya, aku bersembunyi di sisi tangga di sebelah ruang loker tersebut, sambil terus mengamatinya.


"Apa ini?" gumam Luna, sambil mengamati amplop pink di tangannya.


"Hai ... hai ... Luna Kei Cecilli si anak yatim piatu dari panti asuhan Kei Cecillia!"


Berandalan itu! Si Dony.


Rupanya dia masih mengganggu Luna. Belum kapok, ya dia?


"Wah ... rambut yang indah!" katanya, sambil mengelus rambut Luna. "Kamu terlihat ... uhm ... makin mempesona, Baby."


-------------


Sialan! Awas saja dia!


Aku mulai tersulut emosi dan hendak menghampiri Dony. Tanganku sudah terasa gatal ingin menyenyuh mukanya dengan kasar.


"Jangan coba-coba menyentuh rambutku seujung pun, berandal!" seru Luna.


Kakiku tercekat saat suara keras itu terlontar dari bibir Luna.


"Berandal katamu? Berani sekali menghinaku," geram Dony.


"Tak akan aku ijinkan tangan kotormu menyentuh rambutku yang berharga ini," ancam Luna.


"Sialan! Sudah berani, kamu, hah?!" bentak Dony. "Mentang-mentang hari itu Arga datang memyelamatkanmu, sekarang kamu jadi sok jual mahal begini? Gadis menyedihkan! Apa kamu pikir, Arga akan selalu datang menolongmu, hah?"


"Iya. Dia pasti akan selalu datang menolongku," sahut Luna. "Dia itu ... bukan pengecut sepertimu, yang beraninya hanya menindas yang lemah saja. Dan perlu kamu tahu! Mulai sekarang, tak akan kubiarkan berandal sepertimu merendahkanku lagi!"


"Wah ... benar-benar nggak tahu diri," geram Dony.


"Kamulah yang nggak tahu diri," balas Luna.


"Dari pada kamu sibuk ngebully orang, mending belajar sana! Jangan sampai kamu terus mendekam di kampus ini sampai tua. Memalukan!"


"Gadis gila!" teriak Dony, saat Luna berlalu dari hadapannya.


Wah! Sangat menarik.


Akhirnya aku bisa melihat wajah beraninya. Dia mirip seperti mama dan Jesika. Pemdiriannya luar biasa. Aku suka tipe wanita seperti itu.


-----------------


---------------


20.15 WIB


"Nggak apa, nih aku balik ke cafe malam? Nanti Om Sony marah," kata Luna.


"Nggak apa. Aku udah minta kunci ke dia, kok." Aku tersenyum sambil memperlihatkan kunci cafe padanya.


Kami berjalan menyusuri pinggiran sebuah danau yang disulap menjadi taman penuh cahaya lampu di malam hari.


Tempat yang cukup ramai, apalagi di akhir pekan seperti ini.


"Mau?" Luna menyodorkan permen kapas padaku.


"Enggak, ah! Aku nggak suka makanan manis," gelengku.


"Ah ... tentu saja. Karena hidupmu sudah terlalu manis, makanya kamu udah nggak butuh yang manis-manis."


"Masih butuh, kok," sahutku.


"Hem?"


"Kamu," kataku. "Aku masih butuh kamu yang selalu terlihat manis."


"Hahaha ... astaga! Aku nggak tahu kalau kamu pinter ngegombal," tawanya.


"Enggak, kok. Aku serius."


Kuhentikan langkahku dan kutahan tangan gadis itu untuk menghentikan langkahnya.


Dia diam, menatapku heran.


"Luna ... kenapa aku belum dapat jawaban?" tanyaku.


"Jawaban apa?" tanyanya, bingung.


"Jawaban dari pernyataanku padamu."


"Pernyataan apa?" Luna makin terlihat bingung.


"Iiih ... jangan muter-muter gitulah! Jawab yang serius!" kesalku.


"Lho, aku beneran nggak paham apa maksudmu, Arga."


"Sesuatu yang aku tulis di amplop pink waktu itu. Apa tanggapanmu?"


"Amplop pink?" Luna nampak memutar bola matanya. "Ooh ... yang itu."


Dia meraih tas ransel kecil yang bertengger di punggungnya. Dirogohkan tangannya ke dalam dan diambilnya amplop pink yang aku berikan padanya waktu itu.


"Oh, ini kamu yang ngasih? Nggak ada namanya, sih. Jadi aku nggak tahu. Belum aku buka juga, kok."


"Belum dibuka?!" pekikku.


"He'em," angguknya. "Emang apa, sih isinya?"


"Jangan ... jangan dibuka! Berikan padaku!"


"Eits ...!" Tangannya bergerak menghindariku.


"Ini sudah jadi milikku. Nggak boleh diambil lagi, dong!"


"Haduuuh ... sinilah! Nggak usah dibuka aja kalau gitu!" rengekku.


"Apaan, sih?! Ini, kan punyaku. Suka-suka aku, dong."


Duh! Tiba-tiba aku jadi tegang. Harusnya sejak awal, aku tak mengikuti saran si Jesika.


"You Are ...." Luna mulai membaca tulisan di kertas pink itu. "You Are The Apple Of My Eyes."


Wajahnya nampak berubah tegang. Dia menatapku dengan bola mata yang bergetar.


"Ini ... ini yang ingin kamu nyatakan padaku?" tanyanya, dengan ekspresi tak percaya.


"He'em."


"Kamu tahu ... seberapa dalamnya arti dari kalimat ini?" tanyanya, memastikan.


"Aku tahu."


"Kamu ... sedang bercanda denganku, Arga? Kamu ingin mempermainkanku?"


"Enggak. Nggak pernah ada niatan untuk mempermainkanmu," jawabku. "Aku serius, Luna. Sangat serius!"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=