
🍈🍎🍈
Tiap rasanya selalu berbeda ...
Berganti-ganti ...
Tanpa terduga ...
Kadang dia manis ...
Pahit pun terasa ...
Sebuah aroma menyegarkan ...
Membungkus hariku ... cerah ...
🍎🍈🍎
"Uwaaah ... rendang kakap!" seruku, saat melihat makanan terhidang di meja. "Makasih, Mbak Siti udah masak kesukaanku hari ini."
"Bukan saya, kok, Mas yang masak," kata ART-ku dari tempat menyetrika. "Itu Mbak Rhesa yang bikin".
"Hah?!"
Aku menatap heran pada gadis di depanku itu. Tumben sekali dia masak menu ribet begini.
"Apa?!" Suara Rhesa terdengar ketus. "Kecewa, ya karena bukan Mbak Siti yang masak?"
"Iih ... kok kamu ngomong gitu, sih? Aku, kan cuma heran aja. Nggak biasanya kamu masak menu yang ribet begini."
"Ohw ... jadi Mas Dirga mau bilang kalau aku bisanya cuma masak telur dadar sama sambel doang, begitu?!"
"Y--ya nggak gitu juga, Rhes."
Duh ... salah ngomong apa, sih aku tadi?!
Sebenarnya sedikit berharap masakannya Mbak Siti juga. Rasanya persis seperti di warung padang deket cafe. Rasanya enak.
"Kamu nggak sarapan?" tanyaku, yang melihat Rhesa duduk tanpa piring di depannya.
"Nanti aja!" jawabnya ketus.
"Ya udah."
Aku pun dengan semangat memindahkan kepala kakap ke dalam piring. Sudah lama aku tidak makan ini karena Rhesa tidak terlalu suka masakan penuh rempah. Aku lebih mengikuti pola makannya sejak kami menikah.
"Gimana?" Rhesa bertanya dengan mata berkilau-kilau.
"Ehm ... lumayan."
"Apaaaaaa?!"
Astaga! Sampai kaget aku dengar teriakkannya. Untung saja duri ikannya tak tersangkut di tenggorokan.
"Apa-apaan jawabanmu itu?! Bilang enak kek ... luar biasa kek ... daebak kek ... amazing kek! Huh! Apaan, tuh lumayan? Dikiranya bikin rendang nggak susah apa? Lumayan doang!" gerutunya.
"Kamu kenapa, sih sensi amat? Lagi PMS, ya?" kataku cekikikan.
Ujung bibir istriku yang cantik itu kian mengerucut menahan kesal. Lucu sekali.
"Enak ataupun enggak, kalau istriku yang masak ... pasti aku makan."
Gadis itu menatapku dengan wajah merona. Tersipu tersipunya dia.
***
Sore itu, aku membawanya ke suatu tempat. Sebuah tempat kejutan yang pasti akan membuatnya senang. Selama 1,5 jam aku membawanya menempuh perjalanan ke luar kota.
"Ayo masuk!"
Kami pun smapai di sebuah rumah makan dengan ornamen klasik. Dinding yang terbuat dari jati yang diukir. Nuansa jaman sejarah terasa kental dari tempat ini.
"Rhesa!"
"Cindy?!"
Gadis itu menghampiri Rhesa dengan nampan yang masih ada di tangannya.
"A--apa yang---"
Rhesa tampak bingung. Bergantian dia menatapku dan Cindy.
"Ayo ikut aku! Kita bicara di sana!"
Cindy pun membawa Rhesa di kursi kosong dan berbincang.
"Apa yang sebenernya terjadi?" Rhesa masih penasaran. "Kenapa kamu di sini? Mas Dirga?"
"Rhes, suamimu itu adalah malaikat yang dikirim Tuhan pada kami."
"Ya?!"
"Dia membantu kami melunasi hutang ayahku pada si brengsek tua itu." Cindy mulai bercerita. "Dia juga meminjamkan modal pada kami untuk membuka restoran keluarga yang hampir bangkrut ini. Dia bener-bener orang baik, Rhesa. Kamu sangat beruntung."
Rhesa tampak menatap heran padaku. Aku hanya tersenyum dan kembali melanjutkan pembicaraan dengan ayahnya Cindy. Sepertinya gadis itu terlalu berlebihan bercerita tentang aku.
***
Lepas maghrib, kami pun pulang. Rona bahagia dan lega terpancar dari wajah kemerahannya. Wajar saja, mengingat kejadian di Coffe Mix hari itu, Rhesa pasti sangat mengkhawatirkan kondisi Cindy dan keluarganya. Kali ini dia sudah bisa melihat Cindy kembali ceria. Syukurlah.
"Mas Dirga, kok nggak ngomong, sih soal membantu keluarga Cindy?"
"Aku nggak membantu mereka, kok. Aku cuma sedang berinvestasi."
"Ya bedalah, Rhes. Kalau cuma membantu, aku dapat pahala saja. Kalau investasi, aku dapat keuntungan juga."
"Ya, terserahlah. Pokoknya mewakili Cindy, aku sungguh berterima kasih pada Mas Dirga." Gadis itu tampak tersenyum lebar.
"Mumpung masih di sini, kita mampir ke kedai kopi milik seniorku, ya!" ajakku.
--------
Tak lama, kami pun sampai di kedai kopi milik seniorku waktu kuliah.
COFFE BEN'Z--itu namanya. Sudah lama kami tak bertemu. Dia pindah ke sini setelah menikah untuk mengikuti istrinya.
"Bang Ben!"
"Dirga!" Lelaki bertubuh tinggi itu langsung memelukku saat melihatku. "Wah ... kamu lebih tinggi, ya sekarang! Gimana kabarmu?"
"Baik," jawabku. "Gimana Bang Ben dan Kak Sarah? Kata Sony, kalian udah punya anak."
"Ya ... udah satu setengah tahun sekarang, tapi mereka sedang maen ke rumah mertua hari ini," kata Bang Ben. "Hei, siapa gadis cantik ini?" tunjuknya pada Rhesa.
"Aah ... dia---"
"Saya Rhesa. Istrinya Mas Dirga."
Terkaget pastinya. Rhesa mengakui kebenaran hubungan kami dengan wajah sumringah. Tak biasanya.
"Ayo kita duduk sambil ngobrol-ngobrol! Sambil nunggu pesenan kalian datang!"
Tak lama, segelas americano untukku dan cappucino untuk Rhesa pun datang ke meja kami.
"Kenapa menikah nggak bilang-bilang? Kamu bahkan nggak mengundangku," protes seniorku itu.
"Nggak ada pesta kok, Bang. Cuma keluarga dan kerabat dekat aja, sih," jawabku.
"Apa kalian sudah punya anak?"
"Uhuk ... uhuk ...!"
Astaga! Kopi dalam mulutku hampir tersembur kaluar.
Anak apa? Menyentuh istriku saja belum pernah. Harusnya aku jawab begitu, tapi, kan malu. Mana ada orang menikah dua tahun, tapi masih perjaka. Ya, aku ini, mungkin satu-satunya di dunia.
"Kami menundanya, Kak." Tiba-tiba Rhesa bersuara. "Kalau bisa nunggu aku lulus kuliah, deh biar nggak kerepotan."
"Wah ... jangan lama-lama! Nanti keburu tua lho!" Bang Ben menimpali.
Mereka tertawa lepas. Sedangkan aku tertawa na'as. Miris sekali.
Aku tahu Rhesa berkata seperti itu karena ingin menjaga martabatku di depan Bang Ben. Namun, menyesakkan sekali rasanya.
***
Di perjalanan pulang, kami berencana mampir ke rumah sakit keluarga Jaya untuk check-up. Sengaja meminta jadwal malam, meski sebenarnya sudah tak ada praktek dokter di jam segini. Akan tetapi, kami tak mau banyak yang melihat. Apalagi perihal kasus kemarin. Jika sampai media tahu aku masuk ke rumah sakit, Papa pasti akan meradang.
"Kamu udah kasih tahu Karina, kan kalau kita akan mampir ke rumah sakit untuk kontrol?"
"Iya. Karina udah ngambil nomor antrian untuk Mas Dirga. Dia juga lagi nunggu kita di lobi."
Setiba di rumah sakit Jaya Medika, kami pun langsung bertemu Karina yang sudah menunggu di lobi. Dia akan mengantar kami langsung ke poli.
"Halo, Dirga ... lama nggak ketemu." Kevin--kakak Karina. Dia dulu juga seangkatan denganku waktu kuliah. "Gimana kabarmu?"
"Baik." Aku menjabat tangannya.
"Ayo, silakan duduk!" kata Kevin. "Jadi, sudah berapa bulan usia kandungannya?"
"Apa?!" pekikku yang bersamaan dengan Rhesa.
Kami saling melempar pandang dengan tatapan heran. Kevin pun tampak bingung melihat ekspresi terkejut di wajah kami.
"Kalian ke sini untuk cek kandungan, kan? USG?" Kevin meyakinkan.
"Kakakku ini dokter kandungan." Karina menyahuti dengan santai.
"Apa?!" Aku terhenyak kaget mendengar ucapan santainya. "Lha, ngapain kamu bawa kita ke sini? Aku, kan mau kontrol luka di badanku. Kenapa malah ke poli kandungan?"
"Di poli umum lagi banyak pasien. Aku malas nungguin di sana. Lagian kalau cuma periksa luka, Kak Kevin juga ahlinya, kok!" kata Karina.
"Ampun deh, Karina!" seruku.
Rhesa dan Kevin tampak tertawa "ngakak" melihat wajah tanpa dosa dari Karina. Salah satu anggota keluarga Jaya yang dingin bak es ini benar-benar menjengkelkan. Membuatku malu saja.
***
"Hahaha ...."
Sepanjang perjalanan pulang, Rhesa masih tertawa tanpa henti. Membuatku kian kesal.
"Nggak capek, kamu ketawa terus?" geramku.
"Aduh ... duh ... perutku kram rasanya. Hahaha .... Gimana bisa si Karina itu nganter kita ke poli kandungan dengan muka lempeng gitu? Hahaha ...," tawanya.
Apa-apaan, sih dia itu? Kenapa dari tadi ketawa terus? Aku paling tak suka kalau ada yang bahas-bahas soal anak. Membuatku merasa kian frustasi. Menyedihkan.
"Nggak apa-apa, dong!" Akhirnya Rhesa berhenti tertawa. "Suatu hari nanti, mungkin kita juga akan datang ke polinya dokter Kevin.
Ya kan, Mas Dirga?"
"Apa?!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=