WILL YOU MARRY ME?

WILL YOU MARRY ME?
Part 33


(pov ARGA)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


👑👠👑


Jika benar ...


Dia adalah Cinderella ...


Maka ...


Akan ku bawa dia ke istana ...


👠👑👠


---------------------------------------------------------------------


"Astaga?!" pekik mama. "Luna?!"


Reaksi yang sudah aku perkirakan. Mama nampak syok saat aku membawa Luna ke hadapannya.


"Mas, apakah ... apa pacar Mas Arga itu ... Mbak Luna?" Jesika tak kalah terkejutnya.


"Iya," jawabku.


"Ya ampun! Aku tak percaya ini," kata Jesika dengan wajah pucatnya. "Mas Arga ... bagaimana mungkin? Sejak kapan?"


"Jesika!" seru papa. "Diam!"


Adikku itu kembali diam dan duduk mengamati kami.


"Arga ... Luna ... ayo, duduk di sini!" kata papa.


Kulirikkan ekor mataku pada Luna. Gadis di sampingku ini nampak berdiri mematung. Dia menoleh padaku dengan sedikit menggelengkan kepalanya. Dia seakan memohon padaku untuk membawanya keluar.


Tapi aku justru semakin erat menggenggam tangannya dan membawanya duduk di sofa ruang tengah.


Sampai kami duduk pun, mama masih berdiri syok menatap kami.


"Sayang ... duduklah!" Papa menarik lengan mama.


----------------


Hampir lima menit, suasana canggung itu masih terasa.


Bahkan semakin canggung.


Tak sedikit pun mama melepas pandangannya dari gadis di sampingku itu. Hingga Luna semakin ciut nyalinya. Dia semakin menundukkan dalam kepalanya.


"Ini kedua kalinya kita bertemu. Bagaimana kabarmu, Luna?" Papa membuka percakapan.


"Ba--baik, Pak."


Papa nampak melempar senyum hangat pada Luna.


"Nggak usah tegang begitu!" kata papa.


"Kedua kalinya?!" seru mama. "Apa maksudnya itu?"


"Oh ... itu ...."


"Apa Mas Dirga sudah tahu tentang hubungan mereka?" tanya mama. "Sejak kapan Mas Dirga tahu?"


"Soal itu ...."


Mama menatap tajam sambil menunggu jawaban yang terlontar dari mulut papa. Sesaat, papa nampak mengernyitkan keningnya padaku. Dia selalu kesulitan kalau mama sudah mengintimidasinya seperti itu.


"Ma ...," panggilku. "Aku harap ... mama bisa menerima hubunganku dengan Luna."


"Apa?!" pekik mama. "Apa maksudmu bicara seperti itu, Arga?!"


Dia marah. Sudah jelas saat ini mama sedang sangat marah padaku. Sepertinya, dia benar-benar tak bisa menerima Luna.


"Luna." Mama beralih menatap gadis itu. "Apa ini ada hubungannya dengan pertanyaanmu tempo hari?"


"Apa?"


"Soal Cinderella," sahut mama. "Apakah ini maksudnya?"


"Maafkan saya, Bu Rhesa!"


"Apa katamu? Maaf? Setelah berani bertanya seperti itu padaku, sekarang kamu minta maaf?"


"Mama, hentikan!" seruku. "Mama ini kenapa? Nggak biasanya mama seperti ini."


"Diam, kamu!" bentak mama padaku. "Luna, lihat padaku! Aku ingin kamu mengucapkan pertanyaan itu lagi sekarang!"


"Sayang ...," kata papa.


"Kalian, jangan ikut campur!" seru mama. "Aku ingin bicara dengan jelas pada gadis yang sudah dipilih anakku ini."


Kupandangi Luna yang nampak menahan air mata di pelupuknya. Kupandangi pula wajah mama yang kian memerah menahan kesalnya.


"Kenapa diam saja, Luna?" tanya mama. "Cepat ulangi pertanyaanmu waktu itu! Aku ingin mendengarnya sekali lagi."


Luna nampak menyeka sudut matanya. Perlahan, dia mulai mengangakat wajahnya dan menatap mata mama.


"Bagaimana jika pangeran Bu Rhesa ini, jatuh cinta padaku?" Luna mengucapkannya dengan suara bergetar dan menatap tajam pada mama. "Bagaimana jika dia mencintaiku yang seorang gadis bermasalah ini? Bagaimana jika dia mencintai gadis sebatang kara yang selalu disiksa ibunya ini? Bagaimana jika mencintaiku yang tak sebanding dengannya ini? Apakah keluarganya bisa menerimaku? Apakah aku bisa hidup bahagia bersama sang pangeran seperti di cerita dongeng? Jika tidak, maka cerita Cinderella adalah sebuah kebohongan. Karena di dunia ini ... keluarga sang pangeran, tak akan pernah bisa menerima kondisi Cinderella."


Luna beranjak dari duduknya.


"Maaf, karena saya sudah lancang untuk masuk ke dalam kehidupan kalian."


"Lunaaaaa ...!" panggilku saat melihat Luna mulai melangkah meninggalkan kami.


"Cinderella itu ada, Luna," kata mama.


Langkah kaki Luna pun terhenti. Dia berbalik menatap wanita yang telah melahirkan aku itu.


"Seorang pangeran berkuda putih yang datang menjemput Cinderella. Seorang gadis yatim piatu yang tak punya apa-apa. Apakah keluarga pangeran merestui mereka? Iya ... mereka merestuinya. Apakah pangeran dan Cinderella hidup bahagia? Iya ... mereka hidup sangat bahagia."


Mama berjalan menghampiri Luna. Dipandanginya gadis itu yang tengah berurai air mata.


"Luna." Diraihnya tangan gadis itu. "Akulah ... Cinderella itu. Dan suamiku adalah pangeran berkuda putih itu. Kenapa kamu mengira, bahwa aku akan menolakmu, jika aku sendiri juga seorang Cinderella ... sama sepertimu?"


"Bu Rhesa ...!"


Yang aku lihat adalah saat kedua wanita yang berharga bagiku itu sedang berpelukan dan menangis bersama.


Sejujurnya, aku sungguh tak memahami maksud ucapan mama. Tapi melihat tangisan Luna yang menjadi-jadi ... aku rasa ... hanya mereka berdua yang memahami isi hati mereka masing-masing.


---------------------


----------------


"Jadi ... itu maksudnya?" tanyaku pada papa saat kami sedang duduk berdua di ruang tengah. "Saat papa bilang, kalau aku sedikit mirip papa dulu. Itu maksudnya?"


Papa mengangguk dengan muka memerah, menahan malu.


"Astaga! Menggelikan sekali." Aku terkekeh dibuatnya. "Sejak awal papa tahu, kalau mama pasti menerima Luna, kan? Karena mereka sama, begitu?"


"Enggak. Bukan itu alasannya," jawab papa.


"Lalu?"


"Masih tanya?" Papa nampak kesal. "Tentu saja karena mamamu orang yang baik. Itu nggak perlu diragukan. Dia wanita yang keras kepala tapi hatinya penuh cinta."


"Waaah ... karena itulah papa menikahinya?" godaku.


"Yaaa ... karena dia cantik juga."


"Hahaha ... ya ampun!"


------------------------------


-------------


------------------


"Wah ... kamu pinter masak, Luna!" kata papa.


"Sudah terbiasa hidup di kost masak sendiri, Pak," jawab Luna.


"Pak?!" seru papa. "Sony saja kamu panggil Om, masa' aku dipanggil Pak?"


"Baiklah, Om," kata Luna.


"Nah ... gitu! Berasa masih muda jadinya."


"Aku suka, lho Mbak Luna jadi pacarnya Mas Arga," kata Jesika. "Jesi jadi ada yang bantuin ngerjain tugas, deh. Hahaha ...."


"Belajar yang bener sana!" kataku.


"Ayo, makan!" ajak mama.


Suasana ramai saat makan bersama. Adu mulut antara aku dan Jesika. Keributan seperti ini adalah hal biasa di tengah-tengah keluargaku.


Tapi bagi seseorang, hal seperti ini adalah sesuatu yang asing. Atau mungkin, dia tak pernah ada di situasi seperti ini sebelumnya.


"Luna, kenapa nangis?" tanya mama tiba-tiba.


Aku segera melempar pandang pada gadis di sampingku itu. Dia nampak buru-buru menyeka sudut matanya.


"Ini waktunya makan, bukan waktunya nangis," kataku seraya menyeka air mata yang jatuh di pipi Luna.


"Ahem ... ahem ... romantisnyaaaaa!" seru Jesika. "Bikin baper yang jomblo, euy!"


Aku segera menarik tanganku dari wajah Luna.


Malunya!


Kami berdua hanya menunduk malu, saat mama dan papa menggeleng heran melihat tingkah kami.


"Duh ... lihat Mbak Luna yang diperhatikan Mas Arga begitu, aku jadi pengen punya pacar juga," celoteh Jesika.


"Ya ampun, ini anak!" seru mama. "Makan aja masih belepotan begitu, mau mikirin pacaran segala."


"Iish ... emang kenapa?" tanya Jesika tak mau kalah. "Mama dulu bahkan menikah muda."


"Sungguhkah?!" Luna nampak terperanjat mendengar perkataan adikku itu.


"Kenapa ekspresimu heran begitu?" Mama terkekeh melihat tanggapan Luna. "Aku dulu menikah di usia 19 tahun."


"Apa?!" seru Luna.


"Hahaha ...!"


Kami berempat semakin terbahak-bahak melihat ekspresi tak percaya dari gadis yang dekat denganku itu.


"Seseorang sepertinya begitu jatuh cinta padaku, sampai dia tak sabar untuk menungguku lulus kuliah. Begitu masuk kuliah semester satu, dia langsung menikahiku. Bukankah begitu, Pangeran bermobil putih?" Mama nampak mengerlingkan sebelah matanya pada papa.


"Wah ... keren!" seru Luna. "Aku juga ingin menikah muda seperti itu."


"Uhuk ... uhuk ... uhuk ...!"


"Kenapa, Honey? Hati-hati, dong makannya! Sampai tersedak begitu," kata mama.


Papa hanya tersenyum sambil menepuk-nepuk pundakku.


Ya ... sepertinya hanya pria yang mengerti isi hati pria lainnya.


Mendengar perkataan polos Luna, benar-benar membuatku sedikit syok.


----------------


-------------------------


Usai makan malam, aku dan Luna masih duduk di beranda rumah. Kami hanya ngobrol-ngobrol dan berbagi cerita. Dan aku merasa lebih lega. Dari tadi, dia terus memperlihatkan wajah yang ceria. Aku senang melihatnya.


----------------------


"Apa yang dilakukan istriku di sini?" tanya papa yang menghampiri mama di lantai dua.


Tanpa kami sadari, kedua orang tuaku itu, nampak sedang mengamatiku dan Luna dari beranda kamar mereka.


"Kamu lagi ngintipin anak kamu pacaran?" goda papa.


"Apaan, sih?"


"Terus? Lagi apa, dong?"


"Arga sudah besar ya, Mas? Nggak kerasa," kata mama sambil mengamatiku. "Rasanya, aku sedikit merasa cemburu."


"Cemburu?"


"He'em. Dia selalu bilang sayang padaku. Tiap pagi dia selalu memelukku. Dan sekarang ... mungkin dia akan membagi rasa sayang itu dan pelukan itu untuk wanita lain."


"Aduh ... aduh ... kalau kamu bilang kayak gitu, jadinya aku yang cemburu." Papa merangkulkan lengannya di pinggang mama.


"Kenapa kamu lebih mencintai Arga daripada aku? Bikin iri."


"Hahaha ... apaan, sih?!" Mama membenamkan dirinya dalam pelukan papa.


"Semoga dia bahagia. Semoga dia nggak menemui kesulitan dalam hidupnya."


"Aamiin. Rhes ...!"


"Hem?"


"Mau punya anak lagi nggak?"


"Astaga, Mas Dirga!" seru mama. "Ingat umur, dong!"


"Ya ... gimana, dong? Aku pengen gendongin bayi lagi, nih! Hahaha ...."


------------


------------------


FLOWER NEXT DOOR CAFE


21:30 WIB


"Pulanglah, sudah malam!" kata Luna.


"Aku nginep di sini aja gimana?" candaku.


"Jangan gila!" Telapak tangannya mendarat keras di punggungku.


"Hahaha ... bercandalah. Aku ini pria yang polos. Pooolos banget," tawaku. "Ya udah, aku balik dulu. Besok aku jemput kamu."


"Oke."


"Night," kataku sambil berlalu dari hadapannya.


"Arga ...," panggilnya.


"Hem?"


"Terima kasih untuk hari ini," katanya. "Aku sangat berterima kasih. Aku sangat bahagia hari ini."


Aku kembali berjalan menghampirinya dan memeluknya.


"Aku akan selalu membuatmu bahagia. Aku janji."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=