WILL YOU MARRY ME?

WILL YOU MARRY ME?
Part 45


🌾🌾🌾


*Sungguh ...


Di hamparan dunia yang luas ini ...


Tak seorang pun dekat denganku ...


Sungguh ...


Aku berada dalam sebuah keluarga ...


Yang bukan keluargaku* ...


🌾🌾🌾


------------------------------------------------------------------


"Leukemia III B. Lima bulan. Bisakah bertahan selama itu? Aku tak yakin."


Kutekan bergantian tombol ON/OFF pada lampu belajarku. Cahaya redup dan kian meredup.


Dunia ini tercipta begitu luas, ada begitu banyak tempat yang aku tak tahu, ada banyak manusia. Namun, mereka sehat, tidak sepertiku.


Lalu, apa arti hadirku di dunia ini? Sebagai pemeran utama atau sebagai pelengkap? Ataukah justru sebagai pemeran pengganti yang bahkan tak dikenali?


Benarkah aku adalah orang yang tidak diinginkan?


Benarkah aku orang yang tidak dipilih?


Benarkah aku orang yang harus disingkirkan?


Kenapa? Kenapa aku ada di posisi ini?


Salah siapa, ketika aku terus menderita seperti ini?


Betapa bahagianya mereka, yang tak tahu kapan mereka akan mati. Aku iri, sungguh iri.


------------------


------------------------


KAMPUS


"Akhirnya sang Cinderella benar-benar dibuang. Sang pangeran sudah bertemu dengan tuan putri yang sesungguhnya dan akan mengikat janji mereka. Lalu, apa yang bisa dilakukan Cinderella? Menangis. Hanya mengalirkan air mata."


Tenang Luna!


Aku tak perlu mendengarkan omongan mereka. Itu kenyataan dan aku tak berhak sakit hati.


"Ops, maaf!" Segelas air mineral mereka tumpahkan di atas kepalaku.


"Kenapa kamu seperti ini, Lidia? Aku bahkan tak pernah mengusik hidupmu," kataku.


"Kenapa, ya? Mungkin karena kamu terlihat kotor dan harus dibersihkan pake air. Hahaha ...."


Betapa nafasku terasa berat saat semua mata di kantin itu memicing menatap ketidak berdayaanku.


"Kamu ngapain, hah?!"


"Vi--Viona?!" seru Lidia.


"Berani macem-macem lagi, aku siram air got, kamu!" geram Viona. "Mbak Luna, nggak apa-apa?"


"Iya. Nggak apa," jawabku.


"Ayo, kita pergi aja dari sini!" Viona menarik tanganku.


"Wah! Lihatlah, betapa akurnya calon tunangannya Arga Mahesa Rizaski dan mantan pacarnya ini! Sangat menakjubkan."


"Apa? Kamu bilang apa tadi?" Viona kembali melempar pandangannya pada Lidia.


"Kenapa? Apa kamu belum tahu soal Luna dan Arga?"


"Mas Arga? Ada apa dengannya?" tanya Viona, mulai penasaran.


"Sepertinya dia belum cerita padamu, ya? Hahaha ... kasihan sekali."


"Bicara yang jelas!" bentak Viona.


"Ehm ... Viona Okta Catharine, gadis yang sedang kamu tolong itu, dia adalah mantan pacar tunanganmu."


"Apa?!" pekik Viona. "Jangan bicara sembarangan, kamu!"


"Hem? Coba saja tanya sendiri padanya kalau nggak percaya! Tanya pada si Cinderella itu!"


Viona kembali menarik tanganku dan membawaku keluar dari kantin.


Aku bisa memperhatikan dia yang sedang berusaha menahan emosi sambil terus melangkahkan kaki.


"Sekarang katakan yang sebenarnya! Aku tak percaya padanya, karena itu aku ingin mendengarnya langsung dari Mbak Luna tentang semua omong kosongnya. Katakan! Katakan kalau dia bohong, Mbak!"


"Viona, semua hal tentang aku dan Arga--antara kami sudah berakhir."


"Berakhir?!" pekik Viona. "Apanya yang berakhir? Di antara kalian nggak ada apa-apa, kenapa harus berakhir? Mbak Luna, ini semua bohong, kan? Mbaaaak?!"


Gadis itu terlihat histeris menatapku. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Sungguh ingin kukunci mulut ini agar tetap diam. Sungguh aku tak ingin membuat jurang pembatas di antara persahabatan kami.


"Mas?"


Seseorang yang berada di persimpangan antara aku dan Viona tiba-tiba datang. Hatiku dan hati gadis itu mungkin sama bergemuruhnya. Aku mulai memahami bagaimana saat Hajar telah memasuki garis lurus di antara Sarah dan nabi Ibrahim. Sedikit luka sayat di hati dengan perih yang tak terkira.


"Tidak. Mas Arga hanya milikku." Viona meraih lengan Arga dengan tubuh gemetar.


"Vee, kamu kenapa?" tanya Arga, keheranan.


"Aku tak akan membaginya dengan siapa pun. Aku tak ingin membagi cintaku dengan siapa pun!" teriaknya.


"Vee?"


"Mas." Gadis itu menengadahkan pandangannya pada Arga. "Mas Arga hanya milikku, kan? Hanya aku, kan?"


Mata tajam dari lelaki itu beralih padaku. Sekuat hati aku menahan diri agar terlihat kuat bagai benteng yang tak akan rapuh terhantam badai.


"Iya. Aku hanya milikmu."


Arga. Aku sungguh ingin mengikhlaskanmu, tapi rasanya amat sulit.


Arga. Melangkahlah menjauh dariku sampai aku tak mampu melihat siluetmu.


Arga. Putri salju itu tak punya waktu lagi untuk menunggu pangerannya kembali.


Dia adalah angin yang selalu membawa kabar bahagia padaku. Berhembus lembut, mendinginkan hatiku. Kini angin itu hilang ... lenyap. Hanya ada panas dan terik membakar tubuhku.


***


"Maaf, Gilang aku jadi merepotkanmu!" kataku.


"Nggak apa. Aku akan menjemputmu tiga hari lagi."


Sesuai jadwal kemoterapi yang sudah ditentukan untukku, aku pun menjalani hari pertama pesakitan ini.


Sebuah pengobatan yang terjadwal tiga hari selama dua minggu. Karena selama tiga hari aku harus menginap di rumah sakit, aku minta Gilang untuk meyakinkan mama bahwa kami ada kegiatan di luar kampus. Aku pun tak ingin mama sampai tahu semua ini.


------------------


Aku menekan remote TV yang ada di kamar rumah sakit tersebut.


"Berita utama hari ini. Putra CEO MAHESA CORPORATION akan melangsungkan pertunangannya dengan putri seorang dokter yang juga menjadi pemilik dari rumah konseling remaja. Stasiun TV ini akan menyiarkan acara pertunangan mereka secara langsung."


Sudah satu minggu lalu saat terakhir aku bertemu dengan mereka. Hari ini, mereka akan resmi bertunangan.


"Saya mulai menyuntikkan obatnya via infus, ya, Mbak," kata seorang perawat padaku.


Aku masih menatap layar TV itu. Sebuah senyum bahagia dari wajah Viona dan keluarganya.


Sebuah senyum bahagia dari Bu Rhesa, Jesika dan Om Dirga.


Lalu Arga ... dia terlihat manis saat melingkarkan sebuah cincin di jari Viona.


Sakit. Obat yang mengalir lewat infus dan menjalar ke aliran darahku ini terasa amat sakit.


Sebuah parang terasa menggaruk seluruh pembuluh darahku.


Panas ... mual ... aku sungguh kesakitan, Tuhan!


"Aaaaaargh ...! Sakit. Mama, sakit sekali!"


Tuhan, apa semua orang mulai bosan padaku? Hingga aku menjadi sendiri menahan segala rasa sakit ini.


Kepalaku terasa berat--berputar-putar. Perjalananku terasa berat dengan segala lintasan pemikiran yang begitu menyedihkan.


***


5 HARI KEMUDIAN


APARTEMENT CLARA


"Luna, apa ini?"


"Mama?"


"Apa maksudnya ini?!"


Selembar kertas hasil kemo telah ada di genggaman mama. Dia menatapku dengan wajah marahnya. Dan aku sungguh tak ingin berdebat dengannya, aku lelah.


"Leukemia III B? Apa-apaan ini, Luna?!" teriaknya.


"Apa lagi, Ma? Sudah jelas tertulis di situ kalau sebentar lagi anakmu ini akan mati," jawabku, masa' bodo.


"Luna!" bentaknya.


"Mama masih mau terus membentakku? Memukulku? Menyakitiku?" lirihku. "Tidakkah mama ingin menghabiskan sedikit waktu bahagia bersama anakmu ini? Mama, aku akan segera mati. Aku akan mati, Mamaaaaaa!" teriakku.


Mama. Tidak bisakah aku merasakan bagaimana rasanya disayangi? Bahkan sampai saat-saat terakhirku pun, aku masih tak mengenalimu sebagai ibuku.


Mata itu begitu nanar menatapku, sebelum akhirnya membanting pintu dan pergi meninggalkanku.


Sendiri. Tak apa, ini sudah biasa.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=