WILL YOU MARRY ME?

WILL YOU MARRY ME?
Part 30


(pov ARGA)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🍰🍰🍰


Kubagi sesutu yang manis ...


Untukmu ...


Yang tampak manis ...


🍰🍰🍰


---------------------------------------------------------------------


"Morning, Mom ... emmmuah. Morning, Dad ... emmmuah. Morning, My Little Sister ... emmmuah!"


"Duh ... Mas! Jangan cium-cium, ih! Apaan, sih?!" Jesika mengerucutkan ujung bibirnya sambil mengusap kasar pipinya.


"Sarapan dulu! Mama udah masak rendang kakap kesukaanmu," kata mama.


"Thank you, Mom."


Dengan semangat aku mengambil nasi dan memindahkan kepala kakap besar ke piringku.


"Ada apa? Ada sesuatu yang baik terjadi?" tanya papa. "Atau kamu sedang jatuh cinta?"


"Uhuk ... uhuk ... uhuk ... uhuk!"


Wah ...!


Pertanyaan apa itu tadi?


Hampir saja duri ikan tersangkut di tenggorokanku.


"Wajahmu nampak berseri-seri, Honey." Mama menyahuti. "Apa ada sesuatu yang baik terjadi?"


"Eng--enggak. Nggak ada apa-apa, kok," jawabku, salah tingkah.


"Oh, aku tahu," sahut Jesika. "Mas Arga senang gitu pasti karena tadi malam, kan? Kejadian di Prom Night tadi malam. Ya kan?"


Duh ... gawat!


Apa dia tahu? Dia tahu soal aku dan Luna?


Ya ... Tuhan!


Bisa gawat nanti. Aku belum siap mental untuk memberi tahu ini pada mama dan papa.


"Memang apa yang terjadi tadi malam?" tanya mama.


"Itu, Ma ... Mas Arga berduaan sama ..."


Mati aku!


Habis sudah!


"Sama Viona," jawab Jesika.


"Viona?" seru mama.


Aku bergantian melempar pandang pada mama dan papa. Mereka nampak tersenyum sambil sedikit menggelengkan kepala keheranan.


"Ngomong-ngomong soal Viona, kabarnya dia berhasil masuk ke kampusmu lewat jalur prestasi, Arga," kata mama.


"Benarkah?" pekikku.


"Iya. Dokter Vian sempat cerita saat kami ketemu di klinik kemarin. Dia ambil psikologi."


"Penerimaan maba sudah sebentar lagi, ya?" Papa menyahuti.


"Arga, jagain dia!" kata mama.


"Iya. Aku tahu."


"Cieeee ... ngejagain calon istri," goda Jesika.


"Calon istri apaan? Sembarangan, kamu!" geramku.


-------------------


--------------


FLOWER NEXT DOOR CAFE


Mumpung libur, aku ingin jalan-jalan dengan Luna hari ini.


"Wah ... wah ... wah! Coba lihat! Betapa gantengnya si Dirga junior ini." Om Sony mengamatiku dari ujung kaki ke ujung kepala.


"Mau ke mana rapi begini?"


"Jalan-jalan," jawabku, sambil menggulung lengan kemeja panjangku.


"Dengan Luna?"


"He'em."


"Eiiiii ... jatuh cinta ... berjuta rasanya," goda Om Sony sambil nyanyi.


------------------


"Ayok! Aku sudah siap."


Tak lama, gadis cantik nan imut itu pun datang menghampiriku.


Sebuah jeans putih dengan medium cardi baby pink. Dia terlihat begitu manis.


"Kalian serasi sekali," kata Om Sony. "Persis Ji Chang Wook dan Yoona di drama K2."


"Hahaha ... apaan, sih, Om?! Gantengan juga aku," kataku, dengan pe-denya.


"Iyalah, terserah kamu aja," jawab Om Sony, dengan tawanya.


"Kami berangkat dulu, Om," salamku.


"Iya. Hati-hati."


------------------------


----------------


"Jadi, dulu kamu pernah tinggal di sini?" tanya Luna.


"He'em. Saat aku berusia empat tahun.


Sebuah desa kecil di pinggir pantai. Tempat aku dan mama tinggal beberapa bulan setelah kami kembali dari Amerika. Aku membawa Luna ke tempat itu.


"Sekarang di sini jadi ramai. Dulu masih agak sepi," kataku.


"Iri banget," katanya. "Kamu punya masa kecil yang indah."


Mata yang sedang menatap sunset di ujung laut itu nampak sayu.


Warna jingga menerpa wajahnya yang kecil dan putih.


Semilir angin laut yang membuat rambutnya sesekali tersibakkan setiap helainya.


"Aku akan mengganti masa kecilmu itu."


Kuraih kedua tangannya. Kugenggam jemarinya yang begitu kecil.


"Terima kasih, Arga," ucapnya, dengan senyum manis di wajahya. "Rasanya, beberapa bebanku mulai menguap."


"Oke. Mau jajan nggak?" tanyaku. "Harusnya di sekitar sini ada kedai es krim. Semoga aja masih buka."


----------------------


---------------


Akhirnya, kami duduk di bawah pohon mangrove. Masih setia menikmati semilir angin menjelang malam.


"Aku paling suka jajan ini dulu," kataku, seraya memasukkan sesendok.es krim ke mulutku.


"Enak. Rasanya masih enak ternyata."


"Apa seenak itu?" Luna nampak cekikikan melihat ekspresiku.


"Iya. Aku suka rasa apukat. Cobain!"


Tanganku bergerak menyuapkan sesendok es krimku padanya.


"Gimana?" tanyaku, penasaran.


"Wah ...! Es krimmu lebih enak. Tahu gitu, tadi aku nggak beli yang coklat," gerutunya. "Kita tukeran, ya?"


"Enak aja. Enggak, ah!" tolakku. "Aku, kan nggak suka coklat."


"Iiih ... jahat banget, sih!" Dikerucutkan ujung bibirnya.


"Hahaha ... apaan, sih? Malah ngambek gitu. Makan bareng aja, mau?"


"Boleh, nih?" tanya Luna, dengan wajah berbinar.


"Boleh," anggukku.


"Asiiiik," soraknya. "Kamu nyendoknya jangan banyak-banyak, dong! Aku nanti nggak kebagian."


"Ya, kan aku yang beli. Suka-suka aku, dong! Haha ..."


Sebuah hal sederhana seperti ini, tak aku sangka akan membuatnya terlihat bahagia.


Aku selalu penasaran, sesulit apa hidupnya dulu?


Apa dia sendirian?


Apa dia kesepian?


Apa dia punya teman?


Tapi, aku tak ingin membahasnya, jika dia sendiri tak ingin bercerita. Saat ini, aku hanya ingin bersamanya dan melihat dia tertawa bahagia.


----------------------


---------------


"Apa rumah ini sudah tidak ditempati?" tanya Luna.


"Sesekali. Kalau kami long holiday. Itu pun kalau mama dan papa nggak sibuk," jawabku.


Hujan tiba-tiba turun dengan deras. Aku pun akhirnya membawa Luna ke rumah yang dulu aku tinggali bersama mama.


"Harusnya di sini ada beberapa baju milik Jesika," kataku, seraya membuka pintu lemari.


"Nah ... ini! Ganti bajumu! Pakai ini saja sambil nunggu bajumu kering!"


Dengan tubuh basah kuyub, Luna menggapai sebuah baju milik Jesika yang aku berikan padanya.


"Kamu ... bisa keluar? Aku ganti baju dulu."


"I--iya. Aku ... aku tunggu di bawah," jawabku, salah tingkah.


--------------------------


DAPUR


"A--Arga. Baju ini agak ... sempit."


Kuletaakkan piring berisi nasi goreng yang tadi aku beli. Kupandangi gadis itu yang nampak berusaha menarik bagian bawah mini dress yang menempel di badannya.


Aku berjalan menghampirinya dan melepas hoodie yang kupakai.


Kuikatkan hoodie panjangku di lingkar pinggangnya.


"Sudah," kataku. "Begini lebih aman dari pandanganku, kan? Haha ..."


"Iiish ... jangan macam-macam, ya!" geramnya.


"Ayo, makan dulu! Setelah pakaian kita kering dan hujan reda, kita pulang. Kalau kemalaman, nanti Om Sony ngomel," kataku, sembari menarik kursi untuk Luna.


--------------------


Usai makan, kami duduk-duduk di beranda. Kami menikmati rintik hujan yang mulai reda. Hawanya mulai dingin, tapi hatiku terasa hangat.


"Ini menyenangkan," gumamnya.


"Bersamaku?"


"Melihat hujan," ucapnya, dengan terkekeh.


"Ya ampun."


"Sejak kecil, aku selalu menangis saat hujan turun. Entah kenapa, hatiku sedih saat melihat hujan," ucapnya, dengan mata sayu.


"Segala kenangan buruk seakan menyeruak tiba-tiba. Karena itulah, aku tak begitu suka saat hujan turun."


"Ayo buat kenangan yang baru saat hujan turun!"


Kugenggam tangannya dan kupandangi matanya yang nampak berembun.


"Mari buat kenangan indah bersamaku, Luna!" Aku meraihnya ke dalam pelukanku. "Jangan pernah menangis lagi! Aku nggak mau melihat wajahmu terlihat sayu. Mulai sekarang, kamu harus sering tersenyum bersamaku!"


"Terima kasih. Terima kasih banyak."


Hudupku memang begitu manis. Karenanya, aku ingin sedikit membagi rasa manis itu dengannya.


Agar dia selalu bisa bersinar indah, seperti rembulan.


--------------


------------


20.30 WIB


FLOWER NEXT DOOR CAFE


"Besok pagi aku akan menjemputmu. Kamu ada kelas pagi, kan?" tanyaku, saat mengantarkan Luna kembali ke cafe.


"Iya. Akan aku tunggu," jawabnya, dengan tersenyum manis padaku.


----------------


"Arga?!"


Mataku seakan ditarik sebuah magnet untuk menemukan suara panggilan yang sangat tak asing di telingaku itu.


"Papa?!"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=