WILL YOU MARRY ME?

WILL YOU MARRY ME?
Part 48


🍁🌾🍁


Tak ada harapan yang tersisa ...


Hanya sebuah jeritan ...


Tangis kepedihan ...


Semua orang terlihat kuat ...


Selain diriku ...


Karena aku hanya sebongkah hati ...


Pedih ... dan ingin mengadu ...


🍁🌾🍁


Aku sangat menyukai saat berjalan di malam hari. Dalam kegelapan malam, aku bisa berjalan tanpa bersembunyi. Aku bisa menampakkan diriku tanpa ada yang mengenali. Jika aku tengadahkan pandanganku ke atas, di sanalah sinar terang seakan menuntun langkahku.


Wahai bulan, aku pun ingin menyinari banyak orang seperti halnya dirimu.


"Hoek ... hoek! Hah ... hah!"


Entah sudah berapa kali aku berlari ke kamar mandi dan mengeluarkan isi perutku. Efek kemoterapi ini sungguh menyiksa. Lemas, mual, pusing, serta rasa panas di sekujur tubuh. Seakan organ-organ vitalku telah siap untuk meledak.


"Luna."


"Arga?!"


Mimpikah? Aku melihatnya tengah berdiri di ruang tamu rumahku. Dia berlari menghambur memelukku. Mimpi? Apa aku terlalu merindukannya sampai aku berhalusinasi?


"Sedang apa kamu di sini?"


Kami duduk menatap televisi yang sebenarnya tak kami perhatikan sama sekali.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Arga.


"Keadaan apa?"


"Kamu sakit dan aku tahu semuanya."


Ah! Aku ini sudah menyedihkan. Kehadirannya semakin membuatku merasa sangat menyedihkan. Aku tak mau dikasihani olehnya. Menyesakkan.


"Keadaanku tak seburuk yang kamu pikirkan," kilahku.


"Tiga B. Masih mau bilang bahwa kamu baik-baik saja?"


Dia tahu. Sepertinya akan percuma jika aku terus berkilah.


"Ada harapan sembuh, kan? Ada, kan?" Nada bicaranya terdengar begitu khawatir.


"Enggak. Sebentar lagi, aku akan mati."


"Luna!" teriaknya.


"Berhenti bicara omong kosong!" bentaknya. "Ayo pergi bersamaku! Kita pergi bersama dan tinggalkan tempat ini!"


"Apa?!"


"Luna, menikahlah denganku!"


***


Hari ini, daun-daun di taman kampus terlihat begitu hijau. Bekas guyuran air hujan, membuat tanahnya basah dan mengeluarkan bau yang khas.


Menyejukkan! Aku suka sekali hawa seperti ini. Tenang dan nyaman. Segala beban berat dalam hati, seakan terhempas begitu saja.


"Menikah?" Pikiranku kembali melayang pada pembicaraanku dan Arga tadi malam.


Dia tiba-tiba datang padaku dan mengajakku menikah. Aku rasa, dia hanya sedang mengasihaniku saja. Betapa malangnya nasibku ini. Aku sendiri bahkan sangat iba pada kehidupanku.


"Mbak Luna."


"Viona?"


Kepala gadis itu menunduk dalam. Geraian rambutnya menjulur menutupi sisi wajahnya yang terlihat sendu. Aku memahami maksud kedatangannya padaku, aku sungguh paham. Segala bentuk kesedihan hatinya, akulah penyebabnya.


"Boleh aku pinjam Arga sebentar?" Sebuah senyuman aku lempar padanya yang tengah terkejut menatapku. "Aku tak pernah ingin merebutnya darimu, Viona. Tak pernah ada pemikiran seperti itu. Lagi pula, aku tak punya cukup waktu untuk memilikinya, meski aku mengharapkannya."


Ada kalanya, aku menginginkan seorang teman untuk berbagi cerita. Akan tetapi, ketika ada seseorang datang padaku, bibir ini terkunci seketika. Seakan aku melupakan segalanya, meleleh bagai lilin yang terbakar api.


"Dari awal, Arga memang bukan untukku," ujarku. "Tak pernah ada benang merah yang menghubungkan kami. Rasanya sedikit menyakitkan, tapi beginilah takdir. Ada yang harus mendapatkan dan ada yang harus merelakan. Tinggal di mana kita menempatkan posisi kita saja."


Mbak." Dengan mata yang berembun, gadis berwajah mungil itu menggenggam tanganku. "Jangan menyerah! Mbak Luna pasti bisa sembuh. Jika aku merelakan seseorang yang amat berarti bagiku untukmu, maka jangan sia-siakan pengorbananku! Kamu baik sekali padaku dan aku pun ingin menjadi orang baik untukmu."


"Aku tak ingin menjadi orang jahat untukmu, Viona," sahutku.


***


Kurasakan, kian hari langkah kaki ini kian berat. Terasa terseret dengan sebuah beban yang cukup berat.


Aku tak ingin orang-orang salah mengertiku. Apa yang menimpaku memang sebuah kemalangan dan kepedihan tapi aku bukanlah orang yang sanggup menghancurkan. Selemah apa pun diriku, tak pernah ingin aku menggantungkan harapan pada seseorang. Sudah cukup lama aku berjalan menyusuri jalan kehidupan seorang diri, tak masalah jika terus sendiri.


"Luna!"


Akan tetapi, aku ingin meraih kesempatan itu. Sebuah kempatan yang nantinya akan menjadi terakhir kali untukku.


Viona. Aku tahu dengan jelas bahwa selamanya, aku tak akan pernah sebanding dengannya. Sejatinya takdir kami tidaklah pernah sama. Cerita kami, sangatlah berbeda.


"Kita jalan-jalan?" tanya Arga.


"He'em."


Namun, ada satu hal yang sama. Kami sama-sama mencintainya. Mencintai dia yang selalu mengulurkan tangan dan memasang senyuman di wajahnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=