WILL YOU MARRY ME?

WILL YOU MARRY ME?
Part 40


(pov LUNA)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🍁🌾🍁


*Ketika takdir digariskan padaku ...


Kehilangan ...


Selalu kehilangan ...


Sendiri ...


Terbenam kepedihan ...


Tersayat ...


Dalam isak tangisan* ...


🍁🌾🍁


-------------------------------------------------------------------


"Oper bolanya!"


"Arga, terima ini!"


"Oke! Mari kita saksikan detik-detik terakhir pertandingan basket antar jurusan. Babak final antar tim jurusan bisnis dan jurusan akuntansi. Siapakah yang akan meraih tropi kemenangan tahun ini? Apakah pangeran lapangan Arga Mahesa Rizaski berhasil mempertahankan gelar juaranya atau tim jurusan akuntansi yang dipimpin Gilang Mahendra yang akan merebutnya? Kita tunggu saja!"


"Kali ini, akulah yang akan merebut tropi itu darimu," kata Gilang yang menghadang Arga.


"Coba saja kalau bisa!"


"Wah ... wah ... wah! Arga berkelit dan berhasil lolos dari hadangan Gilang. Dia berdiri di bawah ring. Dia bersiap melompat. Apakah akan terjadi sebuah slam dunk?!"


"Jangan harap!" seru Gilang.


PRIIIT ... PRIIIIIIT ...!


"Tidak terduga! Sungguh tidak terduga! Gilang berhasil menepis bola yang sudah ada digenggaman Arga. Dengan begini, juaranya adalah tim jurusan ... akuntansi!"


"Yeeeeey!"


"Gilang ... Gilang ... Gilang!"


"Permainan yang bagus." Gilang mengulurkan tangannya pada Arga.


"He'em. Selamat juga untukmu. Tapi berikutnya, akulah yang akan menang," kata Arga.


"Tak akan aku biarkan." Sebuah senyuman terlempar dari bibir Gilang. "Luna, aku yang menang taruhannya." Gilang melambaikan tangannya padaku yang duduk di bangku penonton. "Jangan lupa janjimu, ya!"


"Iya," anggukku.


Bukan Gilang yang aku lihat, tapi seseorang yang berdiri di sampingnya. Dia lemparkan tatapan tajamnya padaku. Bergantian dia mengamatiku dan Gilang, kemudian berlalu.


Arga ... haruskah kita jadi sejauh ini? Hatiku sungguh sakit dengan segala keadaan ini. Tapi, aku cukup tahu diri. Aku tak akan punya tempat lagi di tengah-tengah keluargamu.


Arga ... sungguhkah hatimu telah tertutup untukku? Aku sungguh masih sangat kesulitan untuk melupakanmu.


"Mbak Luna!"


"Oh? Hai, Viona."


Viona Okta Catharine.


Seorang mahasiswi psikologi tingkat satu. Dia anak yang cukup supel. Dia baik dan pintar. Aku mengenalnya saat dosen menunjukku untuk membimbingnya membuat tugas psikologi pertamanya.


"Nilaiku sempurna," katanya sambil menunjukkan transkrip nilai padaku.


"Wah! Kamu benar-benar hebat. Selamat, ya," kataku.


"Mau makan ke kantin nggak? Sebagai ucapan terima kasih, akan aku traktir," katanya.


"Oke. Ayok!"


Aku edarkan pandanganku untuk mencari bangku yang kosong di kantin kampus itu. Saat jam istirahat, tempat ini selalu terlihat penuh.


"Luna," panggil Gilang. "Di sini."


Aku pun membawa Viona ke tempat Gilang berada.


"Kakak, yang menang basket antar jurusan itu, kan?" tanya Viona.


"Wah, ingatanmu bagus! Hahaha ...," tawa Gilang.


"Kakak, keren banget. Lompatannya tinggi," puji Viona.


"Astaga, kamu membuatku malu," kata Gilang dengan muka merahnya.


Seperti yang aku katakan, Viona adalah gadis yang menyenangkan. Dia mudah akrab dengan orang lain. Pembawaannya begitu 'easy going'. Membuat orang yang diajaknya bicara jadi ingin terus bicara.


"Kakak berdua pacaran, ya?"


"Uhuk ... uhuk ...!" Gilang tersedak dan menutup mulut dengan jemarinya.


"Bukan, ya?" tanya Viona. "Hahaha ... kirain."


"Apa kami terlihat serasi?" tanya Gilang.


"Banget," kata Viona.


"Haha ... begitukah? Gimana, Luna? Perlukah kita pacaran?" canda Gilang.


"Astaga ... ngomong apaan, sih, kamu?" gerutuku sembari memasukkan sesendok makanan ke mulutku.


Viona dan Gilang nampak cekikikan melihat muka kesalku.


***


"Mbak Luna, mau langsung ke tempat kerja, ya?" tanya Viona.


"Iya."


"Karena sudah biasa, ya jadinya biasa aja."


Jam kuliah pun usai. Kami melangkah bersama melewati taman hijau universitas untuk menuju gerbang besar yang ada di ujung bangunan megah itu.


"Kak Gilang orangnya baik, cocok sama Mbak Luna yang juga sangat baik. Yang mau susah payah jadi pembimbingku buat tugas. Hahaha ...."


"Bisa aja, kamu." Aku terkekeh mendengar ucapan polosnya.


"Kalian berdua terlihat akrab, seperti sepasang kekasih."


"Kami hanya teman," kataku.


"Ke depannya mana ada yang tahu. Hahaha ...," tawanya. "Nggak ada yang namanya persahabatan di antara laki-laki dan perempuan. Itu teori psikologi modern."


"Oh ya? Siapa yang ciptain teori itu?" tanyaku.


"Aku. Barusan aku yang ciptain."


"Hahaha ... dasar, kamu!"


"Aku juga punya seseorang yang aku suka."


Aku lirikkan ekor mataku pada gadis cantik di sampingku itu. Wajahnya nampak bersemu merah. Dia terlihat tersipu malu.


"Aku sangat menyukainya. Aku bahkan masuk psikologi agar aku bisa nyambung kalau bicara dengan ibunya."


"Wah! Kelihatannya kamu serius dengannya," kataku.


"Iya. Sangat serius," jawabnya. "Sejak kecil kami selalu bermain bersama karena orang tua kami bersahabat. Aku menyukainya sebagai seorang pria. Tapi sepertinya, dia hanya menganggapku sebagai seorang adik. Menyedihkan sekali, aku kena adek zone. Hahaha ...."


"Sepertinya dia orang baik."


"Sangat," kata Viona. "Aku akan berusaha untuk membuatnya jatuh cinta padaku dan menganggapku sebagai seorang wanita, bukan seorang adik lagi."


"Begitu? Semoga kamu sukses, ya! Fighting!"


"Hahaha ... iya. Fighting!" tawanya. "Hari ini pun, aku sengaja nggak minta jemput supir agar aku punya alasan untuk pulang bareng dia."


"Hahaha ... rencana yang bagus."


Viona nampak tersenyum lebar mendengar perkataanku.


"Ah, itu dia udah nungguin aku di gerbang!" seru Viona. "Aku duluan, Mbak Luna. Bye!"


"He'em. Hati-hati."


Gadis itu berlari dengan penuh semangat menghampiri seorang lelaki yang tengah duduk di atas motornya.


Lelaki itu ... dia terlihat tak asing.


"Duluan, ya, Mbak!"


Bersamaan lambaian tangan Viona padaku, lelaki itu pun melempar pandangannya ke arahku.


"Arga," lirihku.


Dia kembali berpaling dan melaju menjauh dari hadapanku.


Lagi-lagi ... aku merasa sesakit ini saat melihatmu, Arga.


Aku merasa begitu tak berdaya untuk mengendalikan perasaanku, Arga.


Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakuakan, Arga?


***


Hari itu adalah hari di mana jadwal konselingku dilaksanakan.


Aku masih berdiri di depan pintu sebuah ruang konseling dengan hati yang terus bergemuruh. Beberapa kali aku menarik dan menghembuskan nafas. Aku berharap hatiku menjadi tenang dan lidahku tak menjadi keluh.


"Masuk!" Sahutan suara terdengar saat aku mengetuk pintu berwarna coklat tersebut.


"Selamat siang, Bu Rhesa."


Pandangan mata itu membuatku semakin tak tenang. Langkahku terasa gemetar. Mataku mendadak panas dan berembun.


Aku menarik kursi di depan meja konselingnya. Tak ada suara. Psikolog di hadapanku itu mengalihkan perhatiannya pada lembaran-lembaran berkas dan pena di tangannya.


"Ini resep untukmu," katanya sambil menyerahkan selembar resep padaku.


"Tapi saya belum melakukan konseling, kenapa sudah diberi resep?" tanyaku bingung.


"Ini resep untuk luka lebam di pipimu dan di pergelangan tanganmu."


Begitu terlihatkah? Warna biru kemerahan bekas tangan mama yang mencengkeram pergelangan tanganku.


"Mulai minggu depan, dokter Roy yang akan menangani konselingmu. Silakan atur jadwalmu dengannya!"


Bu Rhesa bersikap sangat berbeda padaku. Tak melihatku sama sekali. Nada bicaranya terdengar dingin.


"Kamu boleh pergi sekarang!" ujarnya.


Aku sedikit mengangkat wajahku untuk melihatnya, namun kembali kutundukkan dan beranjak dari dudukku.


"Bu Rhesa." Aku mengurungkan tanganku yang hendak meraih gagang pintu dan kembali mencoba bicara padanya. "Saya minta maaf."


Dia diam. Ibu dari lelaki yang aku cintai itu sungguh telah mengabaikanku.


"Untuk segala kesalahan mama, saya sungguh minta maaf," kataku dengan berurai air mata. "Saya harap, kehadiran saya dan juga mama saya, tidak menjadi permasalahan baru dalam kehidupan keluarga, Bu Rhesa. Saya cukup tahu diri. Saya pasti akan menjauh dari kehidupan kalian. Bu Rhesa, tidak usah khawatir! Saya tak akan menjadi seperti mama saya. Saya akan hidup dengan baik tanpa menyakiti orang lain. Terima kasih karena selama ini kalian semua sudah baik pada saya. Setidaknya, saya pernah merasakan hangatnya punya keluarga saat bersama kalian. Terima kasih atas segala bantuan dan kebaikannya selama ini. Saya permisi, Bu Rhesa."


Sekarang, aku tak tahu lagi harus bagaimana?


Aku tak tahu harus ke mana?


Jika saat ini dia ada bersamaku, dia pasti akan tersenyum padaku dan mengangkat sedikit bebanku.


Aku ayunkan perlahan kakiku. Hingga takdir menitahkan arah di setiap langkahku. Aku menyusuri setiap jalan kehidupan ini dengan sebuah beban yang bertambah dan terus bertambah. Tanpa aku tahu, kapan beban itu akan berkurang.


Arga ... ternyata cerita Cinderella hanya sebuah dongeng yang tidak nyata.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=