WILL YOU MARRY ME?

WILL YOU MARRY ME?
Part 49


🍁🍁🍁


Masa yang tak aku pahami


Habis terkikis suara sumbang


Kalimat hujat sulit kumengerti


Dalam hening malam membuatku tumbang


Aku patah


Hampir menyerah


🍁🍁🍁


Di sinilah kami sekarang. Sebuah tempat dengan gemerlap lampu warna-warni bak bintang. Ramai, penuh lautan manusia. Suara tawa anak-anak, sampai senyuman pada muda-mudi yang tengah jalan bersama pun terlihat.


Aliran darah berdesir cepat. Tubuhku terasa hangat, meski aku yakin udara dingin terus menyergap. Demi tubuhku yang lemah dan ringkih ini, dia rela melepas jaketnya dan menyisakan kaos tipis berwarna putih membungkus dada bidangnya.


Arga ....


Memang begitulah dia. Perhatian yang tulus dengan mengalirkan banyak cinta. Tak serakah jika aku mengharap selalu ada dia bersamaku, bukan? Sebentar saja. Cukup sebentar.


"Mau beli makanan?" tanya Arga.


"Boleh."


Kami berjalan ke sebuah stand martabak telur. Memesan seporsi isi daging sapi dan daun bawang. Duduk menikmatinya di salah satu kursi sembari menyaksikan bianglala berputar.


Ya ... kami ada di taman ria sekarang. menghabiskan malam dengan penuh keceriaan. Mengulang masa kecil yang tak pernah aku dapatkan. Manis sekali.


"Arga, aku mau naik komedi putar itu!" Tunjukku pada kuda-kudaan yang berputar dengan iringan musik.


Arga menatapku dengan menautkan alis. Ingin menolak, tapi tak bisa karena kupasang wajah memelas penuh permohonan.


"Baiklah. Ayo!"


Ah, luluh juga dia! Dengan sebuah tiket seharga sepuluh ribu untuk satu orang, kami pun naik di atas kuda mainan yang berputar. Menyenangkan. Sungguh aku tak pernah merasa sesenang ini. Seakan raga dan akalku terseret ke masa lima belas tahun lalu. Mendarat di usia kanak-kanak dan menghabiskan waktu liburan di taman ria. Ah, aku suka!


"Arga, naik lagi, ya!" rengekku.


"Bercanda, kamu?!"


Lagi-lagi tak kuasa menolak, meski dia sempat muntah karena pusing. Entah sudah berapa kali aku memaksanya naik komedi putar itu. Tak terhitung. Aku hanya ingin bersenang-senang. Ingin kunikmati masa kacil yang tak pernah aku dapatkan ini sampai aku bosan.


"Kamu kedinginan, ya?" tanya Arga.


Jarum jam pada pergelangan tangan berputar cepat. Waktu habis penuh kebahagiaan. Aku senang. Pukul sembilan malam. Suasana di taman ria masih sangat ramai, meski udara dingin mulai menusuk tulang.


Sejak aku melewati proses kemoterapi, imunitasku perlahan menurun. Kala suhu udara naik, aku sungguh sulit menemukan suhu hangat pada gerak gesekan telapak tangan. Menggigil hebat. Di depan Arga, aku berusaha menahannya.


"Mau pulang?"


"Enggak," gelengku. "Aku mau duduk di sini saja. Sebentar lagi."


Duduk sambil melihat keramaian. Tawa dan keceriaan anak-anak kecil yang bermain bersama kedua orang tuanya. Iri sekali.


"Arga, terima kasih untuk malam ini."


"Apa pun untukmu, Luna."


Hangat. Aku kira, tak mampu lagi tubuh lemah ini merasakan aliran darah hangat. Ternyata bisa. Jemari yang saling bertautan, mengalirkan suhu panas ke dalam arteri. Jantungku sedikit sesak. Teremas rasa takut akan kematian. Namun, aku lega. Dia yang ada untukku di saat-saat terakhir. Aku mengharapkannya.


Egois, sungguh ....


Mengambil Arga dari Viona tidaklah benar. Namun, sekejap saja. Aku pun ingin mendapatkan cinta yang sebenarnya, meski hanya sesaat.


***


"Iya. Hati-hati, Arga."


Di penghujung malam, kami berpisah. Lambaian tangan mengiringi langkah jenjangnya masuk ke dalam lift gedung apartement tempatku tinggal.


"Hoek!"


Terasa lagi. Mual yang teramat sangat. Nyeri menyusup seakan kepala hendak pecah. Tak kuasa. Aku ingin menyerah. Terisak sendiri di kamar mandi adalah ketidak berdayaan. Nelangsa tanpa henti adalah nasibku. Sampai kapan? Entah. Aku ingin menyerah.


***


Bekerja di toko bakery masih kujalankan. Sakit, tak ingin kujadikan penghalang. Jikalau usia ini tak lebih dari hitungan bulan, terserah saja. Hanya ingin kuhabiskan sisa hidup tanpa penyesalan.


Malam itu, kala pulang dari tempat kerja, aku bertemu dengannya. Tepatnya, beliau tengah menungguku untuk sebuah tanya.


Wanita anggun dengan tas mewah di tangannya. Rambut tersanggul elegan dengan mantel bulu panjang. Wajah cantik dengan mata bulat bak boneka, mirip sekali dengan Viona. Ya ... dia Bu Cindy--ibu dari Viona. Aku pun bisa memperkirakan maksud kedatangannya.


Secangkir americano terhidang untuk mantan calon mertua Arga itu. Sedangkan segelas jus jambu merah, untukku. Pada cafe dua puluh empat jam kami singgah. Hening, tanpa ada yang memulai membuka suara. Sepertinya aku akan dihantam dengan tas mahalnya atau disiram secangkir kopi panas dari cangkirnya. Mungkin saja.


"Bagaimana kondisimu?"


"Ya?!"


"Jangan salah paham!" Diseruputnya kopi itu dengan larik mata tajam menghujamku. "Aku tak akan bertindak bodoh dengan menyiramkan kopi ke wajahmu atau menghantammu dengan tas mahalku. Ini bukan cerita sinetron."


Ah! Bagaimana aku bisa lupa jika beliau seorang psikolog? Membaca pikiran orang lain, sepertinya bukan hal sulit.


"Apa kamu menggunakan sakitmu untuk menjerat Arga? Jika iya, maka kamu tak ubahnya dengan Clara."


Bergeming. Hanya itu yang bisa aku lakukan. Cerita masa lalu yang tak akan pernah lepas, meski aku bukanlah tokoh utama di dalamnya. Miris.


"Viona bilang pada Arga, bahwa dia akan menunggunya. Arga pun menyetujuinya. Bagaimana denganmu?"


"Segala keputusan ada di tangan Arga. Saya tak berhak ikut campur," jawabku.


"Luna, jauh dari lubuk hati aku bersimpati padamu. Namun, aku juga seorang ibu. Melihat air mata yang mengucur deras dari netra putriku tidaklah gampang. Itu bukan hal sepele buatku. Jika bisa aku membelokkan hati Viona, maka ingin kusingkirkan Arga dari hidupnya. Akan tetapi, cinta selama bertahun-tahun, sudah membutakan matanya. Ini sungguh gila."


"Apa yang ingin Ibu minta dari saya?"


Tertangkap olehku ekspresi terkejut pada paras ayunya. Mungkin, beliau tak menyangka jika akan kulontarkan tanya itu.


"Hidup saya tak lama. Saya yakin begitu. Karenanya, katakan saja apa yang Ibu mau. Saya pasti akan melakukannya."


***


Malam yang terasa kian dingin. Berjalan gontai sendirian menyusuri pinggiran jalan. Pikiranku kian kacau lepas pertemuan dengan Bu Cindy. Sebuah keinginan yang tak aku sangka akan beliau ucap.


Ah! Sungguh pelik hidupku. Takdirku ditulis dengan begitu istimewa. Entah mengapa.


Bulan yang di sana ....


Aku pun ingin tampak terang menghias malam. Gelap tak jadi soal. Asal semua orang menginginkan aku untuk datang. Menjadi sosok yang terbuang tak diinginkan itu sakit. Menyedihkan.


Aku adalah aku ....


Luna adalah namaku ... bukan Clara.


Meski raga ini lahir dari rahim wanita yang mereka anggap perusuh, perusak rumah tangga, tapi aku berbeda. Jika tak karena terpaksa, aku pun tak ingin merebut Arga dari Viona.


Sebentar ....


Beri aku waktu sekejap saja! Aku ingin habiskan masa dengan dia yang selalu menganggapku ada. Darinya aku dapatkan sejuta cinta.


Arga .... Biarkan aku bersandar sebentar di pundaknya!


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=