
(pov ARGA)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
💔
Dia telah membawa pergi ...
Separuh dari hati ...
Juga jiwaku ...
💔
------------------------------------------------------------------
Sebuah kursi rotan panjang yang ada di samping rumah. Menghadap ke arah taman kecil yang dipenuhi bunga tropis.
Malam itu, aku kembali menjadi anak kecil berusia empat tahun. Aku letakkan kepalaku di pangkuannya. Aku menikmati tangan hangatnya yang terus membelai lembut kepalaku. Aku sungguh merindukan rasa tenang ini, rasa nyaman ini.
Mama, aku sungguh ingin selalu menjadi putra kecilmu.
"Kenapa, Mama belum tidur?" tanyaku.
"Karena kamu belum pulang," jawabnya sambil terus mengusap lembut kepalaku.
"Mama khawatir padaku?"
"He'em," angguknya.
"Kenapa?" tanyaku.
"Karena kamu merasa sedih," jawabnya.
Aku segera bangkit dan duduk menatapnya. "Dari mana Mama tahu kalau aku sedih?"
"Dari sini." Mama tersenyum sambil menepuk-nepuk dada kirinya. "Saat anak mama merasa sedih, hati mama pun terasa sakit."
Aku ini kenapa? Dari pagi, aku terus saja menangis tanpa henti. Aku terus saja teringat cerita tentang mama yang dikatakan nenek padaku. Setiap kali aku melihat wajah wanita yang telah melahirkanku ini, hatiku terus saja terasa begitu nyeri dan membuat air mataku tak hentinya mengalir.
"Arga, mama sungguh tak ingin mencampuri kehidupanmu. Kamu sudah dewasa. Kamu bisa menentukan jalan hidupmu sendiri. Hanya saja, soal Luna, mama masih sangat---"
"Aku tahu," sahutku. "Aku tak pernah ingin melihat mama menangis karena aku."
Seandainya saja mama tahu betapa rumitnya pikiranku saat ini. Di satu sisi, ada gadis yang begitu aku cintai dan dia sangat membutuhkan dukunganku. Tapi di sisi lain, aku juga tak ingin menyakiti hati mama dengan mengorek kembali luka yang sudah susah payah untuk dikubur.
***
KAMPUS
Laju motorku terhenti saat sebuah mobil hitam mengerem mendadak di depanku. Kubuka helmku dan mengamati dua orang wanita yang keluar dari dalam mobil itu.
Aku kenal mereka. Seorang gadis yang selalu muncul di benakku dan seorang wanita modis dengan rambut panjangnya. Dia melempar pandang padaku dengan menyibakkan geraian rambut di pundaknya. Aku pun turun dari motorku dan berjalan melewati mereka.
"Dari sikapmu, sepertinya kamu sudah tahu segala hal tentang kami, ya?" Suara tante Clara terdengar ditujukan padaku. "Bagaimana menurutmu? Apa ceritaku, ibumu dan ayahmu sangat menarik?"
Aku kembali mengamati wanita di hadapanku itu. Sebuah sunggingan senyum sinis dia berikan padaku. Di kepalaku langsung terlintas wajah mama dengan uraian air matanya.
Geram sekali. Rasanya aku ingin marah tapi tertahan karena gadis di sebelahnya yang sedang menatap heran padaku.
"Apa ibumu menyuruhmu untuk meninggalkan Luna?" tanyanya. "Sepertinya begitu, ya?"
"A--apa ... maksudnya?" Bergantian, Luna menagih jawaban dariku dan ibunya.
"Bagaimana, Arga?" tanya tante Clara. "Apa kamu akan memberi tahu Luna yang sebenarnya atau aku sendiri yang harus memberi tahunya?"
Sialan! Wanita ini benar-benar tidak punya hati.
Terserah! Aku tak mau peduli dengan omongannya. Aku kembali berbalik dan melangkah menjauh dari mereka.
"Haruskah aku bilang pada Luna kalau aku pernah menjadi istri dari Dirga?" kata tante Clara dengan setengah berteriak.
"Apa?! Mama bilang apa?!" pekik Luna.
Sungguh tak bisa didiamkan. Hatiku terasa panas mendengar perkataannya.
"Haruskah, Tante mengatakannya di depan Luna?" Aku kembali menghampirinya.
"Memangnya kenapa? Itu kenyataan," jawabnya tanpa rasa bersalah. "Aku pun sama seperti ibumu. Aku tak akan sudi berurusan dengan keluarga Mahesa, apalagi dengan Rhesa. Dia sudah mengambil semuanya dariku dan menghancurkan hidupku."
"Cukup!" teriakku. "Harusnya kata-kata itu ... mamakulah yang mengucapkannya. Tantelah yang membuat hancur hidup mama dan kehidupan Tante sendiri."
"Kurang ajar!" geramnya. "Nggak akan aku ijinkan kamu mendekati Luna."
"Terserah," sahutku. "Saya pun nggak ingin ada hubungan dengannya lagi."
"Arga?" lirih Luna.
Gadis itu menatap heran padaku. Matanya sayu. Sebuah lebam di pipi kirinya masih terlihat baru.
Luna. Maafkan aku! Aku sungguh tak ingin menyakitimu. Tapi saat ini, hatiku masih belum tertata. Perasaanku masih hancur karena masa lalu orang tua kita.
Maaf, Luna! Aku harus memaksa diriku untuk menjauh darimu.
Berita putusnya hubunganku dan Luna menyebar cepat seantero kampus. Begitu pula dengan kabar masa lalu papa dan tante Clara.
Hal itu memang tak terlalu berimbas padaku. Kebanyakan dari mereka tak berani menyinggung berita itu di depanku. Tapi hal berbeda terjadi pada gadis yang sudah aku campakkan itu. Situasi kami benar-benar berbanding terbalik.
"Ga, lihat itu!" Reyhan menunjuk pada segerombolan gadis-gadis yang tengah berdiri di depan kelas psikologi.
"Beraninya kamu nggak nyantumin namaku di tugas kelompok kita. Mau dihajar, ya?" teriak seorang mahasiswi.
"Kamu nggak ikut ngerjain tugas, kenapa aku harus nulis namamu?" sahut Luna.
"Sialan!"
"Argh!"
Gadis itu nampak menarik rambut Luna sambil terus mengoceh kesal.
"Ayo, Rey!"
Aku melangkah meninggalkan Reyhan yang masih mengamati Luna yang tengah terduduk di depan ruang kelasnya itu.
Memuakkan sekali! Aku benci saat melihat jemarinya menyeka sudut matanya.
Aku benci saat melihat dia menjadi lemah dan tak berdaya.
Aku benci dengan kebodohanku yang tak bisa berbuat apa-apa.
***
"Lepas!"
"Hei, kenapa jual mahal begitu?"
"Jangan menyentuhku, sialan!"
"Apa?! Berani kamu sama aku?"
Aku menghentikan motorku saat Dony dan teman-temannya tengah ribut di depan gerbang kampus. Terdengar suara seorang wanita berteriak di antara kerumunan mahasiswa perusuh itu.
"Hei, Luna!" seru Dony. "Kalau sama Arga kamu mau, kenapa sama aku enggak? Udah dibayar berapa kamu sama dia? Berapa kali dia menyentuhmu?"
Si brengsek itu!
"Sialan!" Dony meradang saat telapak tangan Luna mendarat keras di pipinya. "Berani sekali gadis hina sepertimu menamparku."
"Kamulah yang hina!" teriak Luna. "Arga nggak pernah memperlakukanku seburuk itu. Dia orang baik. Dia bukan ******** sepertimu."
"Gadis liar!" Dony mencengkeram lengan Luna dengan muka memerah karena marah.
"Lepaskan aku! Lepas!" teriak Luna.
Manusia-manusia sampah seperti mereka memang harus dibuang.
Sudah cukup! Aku tak tahan melihat ******** itu bertingkah seenaknya.
"Lepaskan dia!"
"Gilang?!" seru Dony.
"Wah! Sudah berapa banyak catatan burukmu, Dony? Sekali lagi ketahuan, kamu pasti akan di DO," kata Gilang. "Pergi dan jangan ulangi lagi atau aku akan mengambil rekaman CCTV di pojok gerbang itu sebagai bukti!"
"Awas saja kalau berani," ancam Dony. "Ayo, guys!"
"Preman-preman kampus nggak punya otak," gerutu Gilang. "Kamu nggak apa, Luna?"
"Iya. Terima kasih," kata Luna.
"Mau pulang barenga? Sepertinya kita searah."
"Enggak usah. Aku mau ke tempat kerja," tolak Luna.
"Toko bakery itu? Bagus kalau gitu, aku juga lagi pengen makan kue. Ayok, deh sekalian aku anter aja!"
"Ta--tapi ...."
"Ayolah!"
Gilang Mahendra.
Syukurlah! Mahasiswa semester tujuh jurusan akuntansi sekaligus Asisten Dosen itu datang di saat yang tepat.
Sudahlah, Arga!
Aku harus berhenti memikirkannya. Aku sudah memilih untuk mengakhiri semua hal tentangnya. Aku harus menghapusnya dari ingatanku.
***
21.30 WIB
TOKO ROTI
Hujan mendadak turun dengan deras. Gilanya, aku malah datang ke tempat ini. Dengan bodoh, aku bersembunyi di sisi gedung beraroma cake itu.
Aku mengkhawatirkannya. Dia pasti tak membawa payung atau pun jas hujan. Dia pasti akan menerobos hujan tanpa memikirkan keadaannya. Pikiranku kembali dipenuhi olehnya.
Memuakkan!
"Sampai jumpa." Terdengar suara Luna yang keluar dari toko roti itu.
Dia nampak berdiri menengadahkan pandangannya ke langit.
"Deras," gumamnya.
Kuayunkan kakiku mendekat padanya.
"Ayok!"
"Oke," kata Luna, seraya merapatkan tubuhnya ke bawah payung yang dipegang lelaki di sampingnya. "Untung ada kamu ya, Gilang. Kalau enggak, aku bisa pulang dengan basah kuyub, nih!"
"Hahaha ... kamu pikir aku ini pawang hujan?" tawa Gilang.
"Bukan pawang. Tapi dewa hujan. Hahaha ...!"
Kupandangi siluetnya yang berjalan makin menjauh.
Dia terlihat begitu kecil dan kurus. Tapi tadi dia tertawa. Aku mendengar tawanya.
Luna ... aku harap kamu baik-baik saja.
Luna ... aku harap kamu segera melupakan semuanya.
Selamat tinggal, Luna!
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=