
(pov RHESA)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=📖📖📖
Orang bilang ...
Tinggalkan masa lalu ...
Hiduplah untuk masa depan ...
Tapi bagaimana ...
Jika masa lalu terus mengikatmu ....
Dan membuat garis untuk masa depan ...
📖📖📖📖
---------------------------------------------------------------------
Aku selalu berdebar saat memasuki kamar ini. Kamar yang selalu bau aroma lemon. Menyegarkan.
Kuletakkan beberapa kemeja yang selesai aku setrika ke dalam lemari kaca di sudut kamar.
Sepi. Sepertinya pemilik kamar ini sedang keluar. Mungkin dia sedang joging di jalan kompleks seperti kebiasaannya setiap libur kerja.
Pandanganku mampir ke sebuah foto yang nampak tersandar di sisi dipan.
"Lucunya," gumamku.
Seorang anak lelaki kecil nampak tersenyum sembari membawa bola sepak di tangannya.
Itulah gambar dalam figura berukuran sedang tersebut.
"Kamu sedang apa?
"Hah?! Aaaaarghhh!" Aku berteriak sekencang-kencangnya saat aku menoleh ke asal suara tersebut. "Dasar mesuuum!" teriakku.
"Mesum apanya? Ya, beginilah tampilan orang yang baru keluar dari kamar mandi," jawab Mas Dirga santai, sembari mengeringkan rambutnya yang masih basah.
Terkejut aku bukan kepalang. Melihat badannya yang hanya terlilit handuk putih di perutnya dengan dada yang terbuka.
"Bagaimana bisa Mas Dirga merasa santai berpenampilan seperti itu di depan wanita?" teriakku, dengan wajah yang aku tutupi kedua telapak tanganku. "Cepat kembali ke kamar mandi dan pakai bajumu yang benar!"
Tanpa menghiraukan rasa tidak nyamanku, Mas Dirga malah terus melangkah maju mendekatiku.
Diraihnya tanganku yang menutupi wajahku.
"A--apa maumu?" Aku mundur menghindarinya yang semakin mendekatiku.
"Menurutmu, aku mau apa?" tanyanya, dengan terus menggiringku melangkah mundur.
"Berhenti main-main dan pakai bajumu sana!"
"Memangnya kenapa kalau aku berpenampilan seperti ini, hah?!"
Mas Dirga terus memojokkanku hingga tubuhku tersandar di depan lemari kacanya.
"Ja--jangan macam-macam!"
"Memangnya kenapa kalau aku macam-macam padamu?"
"Mas Dirga, jangan bercanda!" Aku mulai panas dingin.
Dihimpitkannya tubuhku ke lemari dan dia dekatkan bibirnya di telingaku.
"Lain kali, jangan masuk sembarangan ke kamar seorang pria! Bisa bahaya tahu," bisiknya. "Hahaha ... lihat, tuh wajahmu merah kayak udang rebus!"
Mas Dirga malah tertawa melihat ekspresi salah tingkahku. Dasar laki-laki itu!
"Menyebalkan!" gerutuku, sembari meninggalkan kamarnya.
Aku masih bersandar di luar pintu kamar Mas Dirga, memegangi dadaku yang terasa panas.
Keringat dingin terasa bercucuran di punggungku.
Oh Tuhan! Laki-laki menyebalkan itu hampir membuat aku terkena serangan jantung.
-----------------------
-----------------------
"Mbak siti kok nggak datang hari ini?" tanya Mas Dirga saat melihatku menyiapkan sarapan sendiri.
"Tadi ke sini, terus pulang. Dapat telpon dari adiknya di desa. Katanya mengalami kecelakaan."
"Ohw ... jadi hari ini kita hanya berdua saja dong, ya?"
Astaga! Rasanya tiba-tiba ada duri ikan tersangkut di tenggorokanku.
Mas Dirga bahkan bisa makan dan bersikap sesantai itu setelah membuat jantungku hampir melompat keluar.
"Mas Dirga, boleh aku bertanya sesuatu?" Aku duduk di depannya sambil makan telur rebus.
Asal tahu saja, aku sedang ikut program diet yang lagi hitz sekarang.
"Katakan!" ucapnya, sambil melanjutkan makan.
"Apa dulu kita pernah bertemu?"
Suamiku itu langsung menghentikan gerak sendoknya yang hampir sampai di mulut.
Menatapku penuh rasa penasaran.
"Kenapa kamu bertanya begitu?"
"Ya penasaran aja," jawabku.
"Kamu benar. Papa dan mama memang pernah tinggal di kotamu. Ehm ... mungkin sekitar 3 tahun," kata Mas Dirga.
"Berarti, Mas Dirga juga pernah tinggal di sana, dong? Kita pernah ketemu juga dong?" tanyaku, sangat penasaran.
"No ... no ...! Sejak SMP aku tinggal sendiri di apartement mama, di kota ini. Aku nggak pernah ikut mereka tinggal di kotamu."
"Oh ... begitu!" Entah kenapa aku merasa sedikit kecewa.
"Tapi aku pernah liburan di sana selama 2 minggu."
"Benarkah?"
Mas Dirga mengangguk dengan senyum manis menghiasi bibirnya seperti biasa.
"Berarti kita pernah bertemu?" tanyaku.
"He'em. Beberapa kali," katanya sambil menyeruput orange jus yang aku buat.
Wah! Entah kenapa rasanya muncul rasa senang yang agak beda. Seperti ada kupu-kupu yang muter-muter di perut gitu.
"Gimana awal pertemuan kita?" Aku makin penasaran.
"Ehm ... coba aku ingat!" Mas Dirga nampak menggaruk-garuk janggutnya yang tak terasa gatal. "Kalau nggak salah, waktu itu mama mengajakku untuk ngambil sesuatu yang tertinggal di rumah tante Erika. Saat itu hujan cukup deras. Jadi kami nggak langsung pulang. Aku minum coklat hangat yang dibuatkan tante Erika sambil melihat hujan di teras rumahnya. Dan saat itulah aku melihatmu. Kamu baru pulang bermain. Dengan kondisi basah kuyub, kamu malah muter-muter di halaman rumah sambil hujan-hujanan."
Mas Dirga nampak tertawa saat bercerita.
"Tante Erika memanggilmu berkali-kali, tapi kamu nggak menghiraukannya. Kamu lucu sekali. Badanmu pendek dan gemuk waktu itu. Kamu hujan-hujanan cuma pakek kaos oblong tipis gambar hello kitty sama celana dalam doang warna pink. Hahaha ...!"
"Iih ... Mas Dirga, kok jadi mesum gitu, sih ngomongnya!" Aku jadi kesal.
"Mesum apaan?! Kamu, tuh yang pikirannya ngeres," sahutnya. "Pertama kita ketemu itu kamu masih kecil. Kecil banget. Tujuh tahunan mungkin umurmu."
"Be--benarkah?" Aku merasa sedikit malu.
"Saat itu, Mas Dirga umur berapa?"
"Ehm ... entahlah. Kalau nggak salah itu awal-awal aku masuk SMP."
Ah, jadi begitu! Aku kira saat akad nikah waktu itu adalah pertama kalinya kami bertemu.
"Apa kita juga main bersama?" tanyaku.
Mas Dirga hanya tersenyum sambil mengangkat bahunya.
"Tapi sepertinya kita nggak begitu dekat, ya? Buktinya, aku sama sekali nggak ingat apapun, tuh."
"Itu karena kamu masih sangat kecil," kata Mas Dirga.
"Tapi mengingat Mas Dirga yang bertipe menyebalkan, sepertinya kita dulu nggak begitu cocok, ya," kataku. "Karena aku dulu lebih suka main sama teman-teman yang nurut sama aturanku."
Lagi-lagi Mas Dirga menanggapi omonganku dengan senyumnya yang mengandung diabetes tingkat tinggi.
"Ternyata kamu masih sama seperti dulu. Seorang gadis kecil yang saaangat menggemaskan."
Apaan, sih? Kata-katanya emang terdengar sepele. Tapi serasa membuat gunung berapi dalam perutku mengeluarkan magma panas menuju jantung dan otakku.
--------------------------------------------------------------------
15 TAHUN LALU
(POV AUTHOR)
"Rhesa ... berhenti ..!"
Erika, ibu Rhesa tengah mengejar gadis kecil itu yang terus berlari mengikuti mobil Pak Mahesa, yang mulai melaju meninggalkan halaman rumahnya.
"Mas Dirgaaaa!" teriaknya. "Mas Dirgaaaaaaaaaa!" Rhesa kecil terus berteriak.
"Papa, hentikan mobilnya!" seru Dirga saat melihat Rhesa berlari dari kaca spion mobil.
Anak lelaki berusia 12 tahun itu pun bergegas turun dari mobil dan menghampiri gadis kecil itu.
"Ada apa, Erika?" tanya Dessy saat melihat Erika yang tengah mengejar putrinya.
"Entahlah, Dessy. Rhesa tiba-tiba lari mengejar mobil kalian."
Rhesa kecil nampak ingin menangis. Nafasnya terlihat naik turun.
"Ada apa?" Dirga kecil berjongkok di depan Rhesa.
"Mereka semua bilang kalau Mas Dirga nggak akan kembali ke sini lagi. Rhesa sedih. Rhesa nggak bisa main sama Mas Dirga lagi. Huwaaaa ...!" Gadis kecil itu pun mulai menangis.
"Siapa bilang aku nggak akan kembali? Aku pasti akan kembali lagi ke sini. Untuk menemuimu." Dirga tersenyum dan menghapus air mata di pipi Rhesa.
"Benar? Nggak bohong?"
"Benar."
"Kalau nanti Mas Dirga kembali terus pergi lagi, aku gimana? Main sama siapa?" rengeknya.
"Kalau nanti aku datang ke sini lagi dan aku pergi lagi, saat itu aku akan membawamu bersamaku."
"Janji, ya!" Rhesa nampak kegirangan.
"Janji. Tapi sekarang, aku harus pergi. Kamu mau menungguku?"
Rhesa mengangguk dengan polosnya.
"Baiklah. Kamu harus menungguku datang untuk menjemputmu, ya, Rhesa!"
Itulah yang dimaksud dengan masa lalu yang akan terus menjadi benang merah, untuk mengantar seseorang menuju masa depan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=