
(pov RHESA)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
💔💔💔
Bukan aku egois ...
Aku hanya seorang yang berprinsip ...
Segala yang aku miliki ...
Akan tetap aku miliki ...
Aku tak mau berbagi ...
Apalagi terbagi ...
Akan kulepas segalanya ...
Saat kesanggupan sudah tak ada lagi ...
💔💔💔
____________________________________________
"Sudah gila kamu, Rhes!"
Kemarahan Mas Dirga langsung memuncak begitu aku menyuruhnya untuk menikahi Clara.
"Aku nggak mau menikahinya. Kamu satu-satunya istriku. Nggak ada yang lain!" bentaknya padaku.
"Apa sekarang ... kamu sedang lari dari tanggung jawab?"
"Aku akan bertanggung jawab, tapi tidak dengan menikahinya," geramnya. "Rhes, dengar aku baik-baik! Sampai sekarang, aku bahkan masih nggak yakin kalau itu adalah anakku. Aku sama sekali nggak ingat kejadiannya. Aku nggak merasa melakukan hal itu dengan Clara, Rhes!"
"Apa?! Apa maksudmu, Mas Dirga?!" Aku menatapnya miris. "Apa terlalu menikmatinya sampai kamu nggak bisa ingat semuanya?!" teriakku.
"Rhesaaaa ...!" teriaknya. "Kamu benar-benar nggak percaya padaku?!"
"Bagaimana aku bisa percaya padamu kalau di dalam rahim wanita itu ada benihmu?!"
Emosi sudah sangat menguasai kami berdua. Rasanya akan percuma saja kalau kami terus berdebat.
"Apa kamu sungguh ingin aku menikahinya?" lirihnya.
"Aku nggak mau kamu jadi lelaki pengecut setelah berbuat dosa," kataku, sambil terus menunduk.
Wajah Mas Dirga nampak kebingungan. Dia pasti nggak akan lagi bisa merubah pikiranku. Dia tahu benar bahwa aku cukup berhati keras. Saat aku sudah memutuskan sesuatu, maka aku pun tak akan menariknya lagi.
"Baiklah," ucapnya tiba-tiba. "Atas ijinmu ... aku akan ... menikahi Clara."
Mas Dirga nampak menatapku dengan penuh emosi. Seakan dia tengah menyambarkan gelegar petir yang amat dahsyat ke dalam hatiku. Dan mungkin ini adalah sebuah awal dari petir-petir berikutnya.
--------------------
--------------------
RUMAH UTAMA KELUARGA MAHESA
PLAK!
Telapak tangan ayah mertuaku itu mendarat di pipi putranya dengan sangat keras.
"Kamu benar-benar menjijikkan, Dirga!" teriak Om Mahesa. "Aku sangat malu mempunyai seorang anak brengsek sepertimu!"
Mas Dirga sama sekali tak merespon ucapan ayahnya.
Apa tamparan di pipinya itu terasa sakit? Aku merasa bersimpati. Tapi aku juga sedikit senang. Bahkan jika tamparan itu terasa sakit, maka rasa sakitnya tak akan bisa menyamai luka yang sudah Mas Dirga goreskan di hatiku.
"Rhes, kamu serius menyuruh Dirga menikahi wanita itu?" tanya Tante Dessy.
"Ya, Ma! Mas Dirga harus bertanggungjawab," kataku, dingin.
"Lalu bagaimana denganmu, Nak?"
"Apalagi yang bisa aku harapkan, Ma? Aku sudah benar-benar hancur sekarang."
"Rhes ...!" Mas Dirga meraih tanganku dengan pelupuk mata yang dipenuhi genangan air mata. "Aku mohon ... berhenti seperti ini! Berhenti membuatku seperti orang jahat! Aku nggak tahan lagi melihatmu tersakiti begini!"
"Nggak perlu mencemaskan aku! Saat ini ... aku sangat tersiksa ... karenamu!" ucapku, sinis. "Dengan memberikan benihmu pada wanita lain ... kamu sudah mencabut satu aliran darah ke jantungku. Sampai aku benar-benar merasakan sesak yang teramat sangat!"
Kedua mertuaku nampak menunduk pilu. Aku tahu saat ini mereka merasa sangat bersalah padaku. Ibuku yang menitipkanku kepada mereka dan bahkan sampai memberikanku untuk diperistri putra mereka. Saat ini, mereka pasti merasa sangat kecewa. Kekecewaan yang teramat dalam pada putra kebanggaan mereka yang telah meremukkan hatiku.
"Pa ... Ma ..." Kubuka suaraku. "Aku mohon, ijinkan Mas Dirga untuk bertanggung jawab atas bayi itu!"
Terlihat sangat berat bagi mereka untuk menyetujui hal ini. Beberapa kali aku melihat Om Mahesa mengepalkan tangannya untuk menahan amarah.
"Baiklah," kata Om Mahesa. "Tapi ingat, Dirga! Anak yang lahir dari hubungan terlarangmu itu ... selamanya ... dia bukan keturunan keluarga Mahesa!"
----------
----------
Kami pun menggelar pernikahan Mas Dirga dan Clara di rumah kami. Tanpa seorang anggota keluarga pun yang datang, termasuk Om dan Tante Dessy.
"Saya terima nikah dan kawinnya Clara Nasution binti Irwan Nasution dengan mas kawin tersebut ... tunai."
"Bagaimana saksi? Sah?"
"Sah."
"Alhamdulillah ...!"
Dengan senyum sumringah Clara meraih tangan suamiku dan menciumnya.
Memuakkan!
Melihatnya saja membuatku ingin muntah.
-------------
"Ini kamarmu." kataku, seraya membawa Clara ke kamar tamu di lantai bawah.
"Lho ... kenapa di sini? Rumah sebesar ini pasti ada lebih dari satu kamar utama, kan?" protesnya.
"Kamu mau tidur di sini atau di kamar pembantu? Silakan pilih!" ucapku, ketus.
"Baiklah ... baiklah ...! Aku akan tidur di sini!" katanya, sembari membanting pintu.
Kamar utama katanya?!
Benar-benar wanita sinting! Tak akan aku biarkan wanita sepertimu menginjakkan kaki di kamar utama kami.
------------
22.10 WIB
Kupandangi wajahku dari pantulan cermin meja rias. Wajah itu ... terlihat sangat lelah. Kusemprotkan micellar water agar wajahku sedikit lebih segar.
Hari ini benar-benar melelahka ... hati dan juga pikiranku.
TOK... TOK... TOK...
"Siapa?"
Tak ada jawaban. Mungkin Clara. Apa dia memerlukan sesuatu?
Aku berjalan dengan langkah malas dan meraih gagang pintu.
"Mas Dirga?!"
Mas Dirga menghambur memelukku, menutup pintu kamarku dan menguncinya.
"Mas Dirga ... sedang apa di sini?! Harusnya kamu bersama Cla ... hem ... ehm ...!"
Sebelum sempat aku melanjutkan perkataanku ... suamiku itu sudah lebih dulu membenamkan tubuhku dalam pelukannya. Dia mengadukan wajah kami sampai tak ada sejemgkal pun jarak yang membatasi.
"A ... apa yang ..."
BRUK ...!
Dijatuhkannya tubuhku di atas tempat tidur. Seperti kesetanan ... dia menyentuhku.
---------
DOR ... DOR ... DOR ...!
"Dirgaaaaa ... Dirgaaaa ...! Kamu di dalam, kan?!" teriak Clara, sambil terus menggedor pintu kamarku. "Dirgaaaa ...!"
-----
"Clara itu ... dia istrimu sekarang," kataku.
"Dia memang istriku. Tapi aku juga suamimu. Kamu juga berhak atas diriku, Sayang!"
Tanpa memperdulikan teriakan Clara ... Mas Dirga menghabiskan malam pengantinnya di dalam kamarku.
----------------
ESOK HARINYA
"Apa kamu sedang memonopoli Dirga, hah?!" teriak Clara, sembari menggebrak meja makan.
"Memonopoli? Ohw ... maksudmu, kamu yang kehilangan suamimu di malam pertama?" sindirku. "Hahaha ... bagaimana rasanya, Clara? Saat suamimu menemui wanita lain di malam pernikahan kalian, hem? Tidakkah kejadian ini mengingatkanmu pada sesuatu?"
Clara nampak terperanjat mendengar ucapanku.
Dia yang sudah membuat suamiku meninggalkanku di malam pertama kami dulu. Kali ini, karma itu datang padanya.
--------
"Hati-hati!"
Mataku serasa panas melihat mereka berangkat ke kantor bersama. Inikah rasanya dimadu? Aku tak bisa merasa ikhlas sedikit pun.
-------------- --------------------- -----------------
"Ini." Aku memberikan undangan dari kampus pada Mas Dirga.
"Wisuda?"
"He'em."
"Selamat, Rhes! Akhirnya ...!" katanya, sambil merangkulku.
"Mas Dirga akan datang, kan?"
"Tentu saja! Aku nggak akan melewatkan hari bahagia istriku."
PRANG!
"Aaarg ...!"
"Clara?!" seru Mas Dirga.
Kami pun segera lari ke dapur untuk melihat yang terjadi.
"Ya Tuhan ... Clara, apa yang kamu lakukan?!" Mas Dirga menghampiri Clara yang terduduk di lantai.
"Aku sedang merebus air. Aku juga ingin membuatkanmu kopi, Dirga. Tapi aku nggak tau kalau pegangan pancinya rusak. Untung air panasnya gak kena aku," ucap Clara, dengan manja.
"Syukurlah, nggak ada luka. Kamu harus lebih hati-hati!" kata Mas Dirga.
"Harusnya, kan Rhesa memberitahuku kalau pegangan pancinya rusak. Yang lebih tahu soal dapur, kan dia." Clara merajuk.
"Rhes ... barang-barang yang rusak kayak gini, mending kamu buang aja! Ini, kan berbahaya," kata Mas Dirga. "Kamu juga harus kasih tahu Clara, dong informasi soal dapur! Biar nggak ada kejadian kayak gini lagi!"
"Apa?!"
"Ayo, Clara ... aku bantu kamu ke kamar! Hati-hati!" kata Mas Dirga.
Apa-apaan itu tadi? Ini pertama kalinya Mas Dirga marah padaku untuk hal yang remeh seperti ini?
Clara nampak menyunggingkan senyum kemenangan padaku.
Wanita sialan!
Dia benar-benar seperti rubah. Kalau bukan karena bayi di perutnya, aku tak akan pernah rela membagi suamiku dengan wanita licik sepertinya.
---------------
---------------
Setiap hari, sikap Mas Dirga kepada Clara semakin melunak. Aku tahu, dari awal mereka adalah teman. Tapi sekarang ... ada benih suamiku di rahimnya. Jauh di dasar hatinya ... Mas Dirga pasti juga merasa senang.
Semakin hari ... hatiku terasa semakin sempit. Kemesraan yang dulu sering suamiku perlihatkan padaku ... kini mulai jarang kurasakan. Menemuiku di kamar pun ... sudah tak sesering dulu.
Aah ...! Sampai kapan aku bisa bertahan denganmu, suamiku?
Hatiku sudah tak lapang lagi rasanya.
--------------------- ----------------------
HARI WISUDA
"Ayo ... aku sudah siap!" kataku, seraya menggapit lengan Mas Dirga.
"Ehm ... maaf, Rhes! Sepertinya aku nggak bisa ikut ke acara wisudamu," katanya.
"Lho ... kenapa?"
"Hari ini Clara ada jadwal USG. Aku harus mengantarnya," kata Mas Dirga, menunduk kecewa.
"Dirga, ayo cepetan!" panggil Clara dari dalam mobil.
"Maafkan aku, Sayang! Semoga wisudanya lancar, ya!" katanya, seraya memberiku sebuah ciuman di kening.
Kamu memberiku ciuman perpisahan dan berlalu dengan wanitamu.
Kamu sudah membuatku hancur, Suamiku.
Hancur untuk yang kesekian kalinya.
------------------
DI KAMPUS
"Lulusan terbaik dengan IPK tertinggi 3.98 diraih oleh ... RHESA DAYANA PUTRI."
PROK ... PROK ... PROK ...!
DI saat semua orang bertepuk tangan untukku. Di hari yang berharga ini, harusnya aku berdiri di panggung ini didampingi ayah dan ibuku. Harusnya ada Mas Dirga yang datang membawa bunga untukku.
Karina dan seluruh keluarga Jaya. Cindy dan kedua orang tuanya. Mereka terlihat bahagia.
Sedangkan aku?!
Aku hanya berdiri seorang diri.
Sendirian ... seperti dulu lagi ...!
-------
"Rhesaaa ...!"
Aku menoleh ke arah suara di belakangku.
"Ma ...!"
Aku berlari ke arah Tante Dessy dan Om Mahesa yang tersenyum padaku.
"Selamat, Sayang ... kamu berhasil." Tante Dessy memelukku.
"Terima kasih ... terima kasih sudah datang!"
Air mata pun terjun bebas di pipiku. Setidaknya, aku masih punya mereka. Mereka yang sudah seperti orang tua kandungku.
----------------
RUMAH DIRGA
"Coba sentuh, deh, Ga! Ini dia gerak-gerak."
"Beneran! Nendang dia."
Pemandangan seperti ini ... aku mulai sering melihatnya.
Kehamilan Clara yang sudah menginjak usia lima bulan sudah terlihat membesar. Mas Dirga pun semakin perhatian padanya.
------------
"Wah ... rendang! Terima kasih, Sayang." Mas Dirga mengecup keningku dengan lembut.
"Dirga, kayaknya aku pengen makan yang lain, deh!" kata Clara.
"Di sini, kan banyak makanan, Clara. Rhesa udah masak sebanyak ini, lho!"
"Iiish ... ini, kan dedek bayinya yang pengen, bukan aku!" rengek Clara.
"Oke ... kamu pengen makan apa?" tanya Mas Dirga.
"Nasi goreng yang di depan cafemu itu. Kayaknya enak, tuh!" kata Clara dengan semangat.
Mas Dirga menatapku seakan merasa tak enak dengan pernintaan Clara.
"Nggak apa-apa. Ini, kan masih bisa diangetin buat besok pagi," kataku.
"Ayo ... sebelum kemaleman!" Mas Dirga beranjak dari duduknya.
"Asyiiiiik!" seru Clara.
Kejadian seperti ini pun juga sudah biasa.
Sarapan sendirian ... makan siang sendirian. Dan makan malam pun sendirian. Hanya dengan alasan Clara sedang ngidam.
Setiap sendok makanan yang masuk ke mulutku ... aku bahkan sudah tak bisa lagi merasakan manis dan asinnya. Hanya sebuah rasa pahit yang selalu aku telan setiap harinya.
Sampai kapan air mataku ini akan berhenti menetes setiap kali aku mengingatmu, Suamiku?!
Aku sungguh sangat merindukan suamiku yang dulu.
---------------------------- -------------------------------------
"Ada apa? Kenapa pagi-pagi begini menyuruhku ke kamar? Kamu merindukanku?" godanya.
Aku hanya tersenyum ... melangkah ke arahnya dan sedikit mengecup bibirnya.
"A--ada apa?" Mas Dirga terlihat keheranan dengan sikapku.
Aku menyodorkan selembar kertas padanya.
"Apa ini, Rhes?!"
Deja vu, kan?!
Ini sama seperti saat aku memberinya surat perjanjian dulu. Saat aku sudah tak sanggup lagi menahan tekanan yang aku rasakan.
"Ini surat gugatan cerai dariku ... untukmu!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=