WILL YOU MARRY ME?

WILL YOU MARRY ME?
Part 26


(pov ARGA)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌷🌸🌷


Entah sejak kapan ...


Dia membuatku resah ...


Membuatku terganggu ...


Dan rasa khawatir itu ...


Mulai kurasa ...


🌷🌸🌷


---------------------------------------------------------------------


KAMPUS


"Arga ...!"


Langkahku yang hendak masuk ke ruang kelas terhenti, saat suara seseorang memanggil namaku.


"Luna?!"


Gadis itu menghampiriku. Dia terlihat mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Air muka ragu dan canggung nampak darinya.


"Apa ... aku mengganggu?" tanyanya.


"Enggak. Ada apa?" Aku balik bertanya.


"Ah ... ini." Disodorkannya sebuah laptop padaku. "Terima kasih karena sudah meminjamkannya padaku waktu itu."


"Iya. Nggak masalah." Aku meraih laptopku dari tangannya.


Beberapa saat kami hanya berdiri terdiam. Tiba-tiba muncul rasa canggung tanpa bisa mengeluarkan kata-kata.


"Ah ... kalau gitu ... aku pergi dulu. Aku ada kelas," katanya.


"O--oke," ucapku.


Sedikit sunggingan senyum dia perlihatkan sesaat sebelum dia beranjak dari hadapanku.


"Tu--tunggu ... Luna!" Aku menghampirinya.


"Ada apa?"


"Kelasmu ... jam berapa kelasmu selesai hari ini?" tanyaku.


"Ehm ... jam ..."


"Argaaaaa ...!" Tiba-tiba Melani menghampiri kami. "Ayo latihan untuk presentasi nanti!"


"Ah ... tapi ..."


"Ayolah!" Digapitkan tangannya ke lenganku.


"Iya. Baiklah."


Sempat kulirikkan mataku pada Luna yang masih berdiri di depan ruang kelasku, sesaat sebelum Melani menarikku ke dalam.


Gadis itu sempat sedikit menganggukkan kepalanya dan tersenyum padaku, sebelum akhirnya berjalan menjauh.


Hah! Harusnya aku bisa membayar hutangku padanya hari ini.


---------------------------


------------------


18.30 WIB


"Taraaaaa ...!"


Jesika nampak berputar dengan long dress maroon menempel di tubuh mungilnya.


"Sudahkah aku terlihat secantik Kate Winslet di masa muda?" celetuknya, dengan mengerlingkan mata indahnya.


"Enggak. Nggak ada mirip-miripnya," jawabku.


"Iih ... Mas Arga! Ngeselin banget, sih." Dikerucutkan ujung bibirnya.


"Adikku ini cantik," kataku, sembari mengusap ujung kepalanya. "Sama cantiknya seperti mama. Itu pun kalau nggak lagi cerewet. Hahaha ...!"


"Udah ... ayo berangkat!" kata papa. "Ayo, Rhes ... keburu dimulai acaranya!"


"Iya ... iya. Ini lagi pasang alis," sahut mama.


---------------------


---------------


Hari itu, kami ada acara arisan di rumah tante Cindy. Sebuah acara kumpul-kumpul yang dilakukan mama, papa dan kawan-kawannya.


"Mas Argaaaaa ...!" Seorang gadis manis berlari memelukku, begitu aku sampai di ruang tamu rumahnya. "Uhm ... kangeeeen banget sama calon imamku ini."


"Hahaha ...! Iya, adik kecil ... Mas Arga juga kangen sama kamu," kataku.


"Iiish ...! Berhenti memanggilku adik kecil! Aku sudah tujuh belas tahun sekarang. Aku udah dewasa. Aku sudah siap menikah denganmu."


Viona Okta Chatarine.


Putri tunggal dari tante Cindy dan dokter Vian.Gadis manis ini sudah akrab denganku sejak kecil. Dia sudah seperti adikku sendiri.


"Tante Rhesa, jangan biarkan Mas Arga punya pacar! Dia harus menungguku lulus kuliah dan menikahiku!" kata Viona.


"Hahaha ... kamu ini ceplas-ceplos. Persis seperti mama kamu," tawa mama.


"Lagian kamu masih sekolah, kenapa nikah terus yang dipikirin?" sahut tante Cindy.


"Ya nggak apa, dong. Aku pesen Mas Arga mulai sekarang, biar nanti nggak diambil orang," jawab Viona dengan polosnya.


------------


"Halo, Brother!" Om Sony langsung memeluk papa saat tiba di rumah tante Cindy.


"Apa kamu perlu pinjaman? Datamg aja langsung ke bankku!"


"Promosi terus. Hahaha ...," tawa papa.


"Hai, Arga!" Dipeluknya diriku. "Wah ... coba lihat anakmu ini, Dirga! Dia benar-benar merampas ketampananmu. Dia ambil semuanya."


"Astaga ...! Om Sony lebay, deh," ucapku, sedikit tersipu.


"Om ... aku nggak dipuji juga, nih?" tanya Jesika.


"Oh, tentu! Gadis manis nan cantik secantik Kate Winslet." Om Sony mencubit pipi Jesika dengan gemas.


"Nah ... kita sehati, nih, Om!" Jesika nampak kegirangan. "Aku juga mikir, kalau aku ini mirip Kate Winslet."


"Si kembar nggak ikut, Karin?" tanya mama, yang menanyakan putra-putri tante Karina dan Om Sony yang satu tahun lebih muda dari Jesika.


"Enggak. Mereka diajakin kakek dan neneknya liburan," jawab tante Karina.


--------


"Hei ... apa kamu sudah punya pacar?" tanya Om Sony, padaku.


"Belum dapat, Om. Haha ...," jawabku.


"Duh ... sayang banget wajah tampan gini disia-siain," katanya. "Jangan kayak papamu! Dia bahkan masih perjaka meski udah menikahi mamamu selama dua ta ..."


"Tutup mulutmu, Sonyyyy!" Papa membungkam mulut sahabat karibnya itu.


Sejak kecil, mereka selalu ada di sekitarku. Mereka sudah seperti oramg tuaku. Dan anak-anak mereka sudah seperti saudaraku.


Aku sungguh merasa beruntung, karena dikelilingi orang-orang baik dari sahabat-sahabat orang tuaku.


------------------------------


----------------------


20.45 WIB


"Sampai jumpa, Cindy!" salam mama.


"Rhes ... jangan lupa, asistenmu akan mulai bekerja besok pagi," kata tante Cindy.


"Siap," jawab mama.


"Sampai jumpa, Mas Argaku tersayang," kata Viona.


"Sampai jumpa, adikku yang manis. Haha ...!"


------------------


-------------


"PHP apa?" tanyaku, bingung.


Jesika nampak melotot padaku.


"Viona itu suka sama Mas Arga," katanya. "Kalau Mas Arga nggak suka, bilang nggak suka! Jangan kasih harapan palsu, dong!"


"Harapan palsu apa? Sikap Mas Arga ke dia, kan sama kayak sikap Mas Arga ke kamu."


"Heiiiii ...!" teriaknya. "Huh ... nggak peka banget! Nggak ada hubungan yang namanya friend zone, apalagi adek zone. Peka, dong ... peka!"


"Apaan, sih?!" geramku.


Papa dan mama nampak tertawa mendengar perdebatanku dan adik kecilku itu.


"Emang kamu mau nanti nikah sama Viona, Arga?" Papa menyahuti.


"Iih ... kenapa papa ikut-ikutan ngeledekin, sih?" kesalku.


"Hahaha ...! Kamu setuju nggak, Sayang?" Papa bertanya pada mama.


"Terserah Arga saja," jawab mama. "Asal Honeyku ini bahagia, aku sih ... yes! Memang kamu udah punya pacar, Honey?"


"Apa?!" Aku terperanjat mendengar pertanyaan mama. "Ah ... itu ..."


"Lho ... siapa itu di depan pager rumah?!" seru Jesika.


----------------


Nampak seorang gadis berdiri bersandar di sisi pagar rumah kami.


Dia itu ...!


Siluetnya sangat tak asing bagiku.


"Mbak Luna?!" seru Jesika.


Benar ...!


Luna Kei Cecilli ...! Itu dia. Kenapa dia ada di depan rumahku?


------------


"Ka--kamu ... kenapa ... di sini?" Aku segera turun dari mobil dan menghampirinya.


"Oh ... itu ...! Ah ... Bu Rhesa!"


Apa?!


Kenapa dia justru menghampiri mama?


---------


Aku perhatikan dari balik jendela kaca. Nampak mama dan Luna sedang berbincang di luar dengan serius.


Gadis itu terlihat menyerahkan beberapa lembar kertas dan mama tampak serius mengamatinya.


Beberapa kali mama mengusap ujung kepala gadis itu, saat Luna menyeka sudut matanya.


Ada apa sebenarnya?


Kenapa dia menangis begitu?


Kenapa dia sedekat itu dengan mama?


------------------


----------


"Kamu masih di sini, Honey?" Mama memasuki rumah, sesaat setelah Luna berlalu pergi. "Ini sudah malam, tidurlah!"


"Mama ...!" panggilku. "Gadis yang barusan itu ... mama mengenalnya?"


"Oh ... Luna?" tanya mama. "Dia pasien mama."


"Pasien?!" seruku.


"Iya."


"Apa ... apa yang terjadi padanya?" tanyaku, penasaran.


Mama terlihat mengamatiku dengan bingung.


"Kamu mengenalnya?" tanya mama.


"Dia ... dia ... satu kampus denganku," jawabku, sekenanya.


Mama nampak mengangguk mendengar jawabanku. Wajahnya terlihat berubah khawatir.


"Mama ... boleh aku tahu, ada apa dengannya?" selidikku.


Mama nampak memghela nafas, terlihat ragu untuk bercerita padaku.


"Dia korban kekerasan yang dilakukan orang tuanya," jawab mama. "Orang tuanya pergi meninggalkannya dan membuangnya ke panti asuhan."


"Apa?!"


"Dia ..." Mama nampak ragu untuk bercerita.


"Beberapa bulan lalu, ibunya menemuinya dan kembali melakukan kekerasan padanya. Dan dia sempat mencoba untuk bunuh diri."


"Astaga ...! Apa-apaan ini?"


"Tidurlah, Honey! Sudah malam."


"Mama ... aku keluar sebentar."


"Hei ... Argaaaa ...!"


-------------------------------


-----------------


Aku berlari menyusuri jalan kompleks rumahku. Aku edarkan pandanganku ke sekeliling.


Tidak ada!


Cepat sekali dia pergi.


Aku masih terus berlari keluar dari lokasi perumahan. Jalanan yang sudah mulai sepi karena malam yang semakin larut.


---------


Pandanganku terhenti, saat kulihat sosok itu tengah berdiri di ujung jalan. Berdiri di depan traffic light menunggu lampu merah untuk menyeberang.


Sepi ...!


Tak ada seorang pun di sana. Hanya dia seorang yang sedang berdiri dengan mata sayunya.


---------------


DIIIIN ... DIIIN ...!


"Menyingkiiiiir ...!"


Dapat!


Aku berhasil menggapai tangannya, meski kami harus terguling ke ujung jalan.


"Dasar ... gila kalian!" teriak pengendara yang hendak menabrak kami itu.


---------


"Sudah gila, kamu, ya?! Apa yang kamu lakukan?!" teriakku.


Dia hanya diam ... menunduk ... menangis tersedu-sedu.


"Maaf!" Kurengkuh dia ke dalam pelukanku.


"Syukurlah ... kamu nggak apa-apa."


"Arga ...! Argaaaa ...!"


Dan tangis itu pun pecah seketika. Tubuh kecil itu, terasa bergetar hebat dalam pelukanku.


"Nggak apa-apa. Kamu nggak sendirian, Luna."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=