
(pov RHESA)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌹🌹🌹
Untaian rasa dari hati ...
Terselip teduh ...
Terjaga cinta ...
Mimpi dan keraguan hati ...
Menjadi bimbang ...
Menelisik hampa ...
Dengan menyebut nama Tuhan ...
Kuharap ...
Dia selalu terjaga hatinya ...
🌹🌹🌹
---------------------------------------------------------------------
"Aduh ... duh ... badanku capek semua. Tiap hari pasien poli kita nggak kurang dari 400 orang, ya! Baru magang aja capeknya bukan maen. Gimana kalau udah beneran kerja, nih?" kata Cindy saat kami baru keluar dari poli.
"Bener juga, ya? Aku pengen jadi dosen aja, deh kalau gini," candaku.
----------------------
"Eh ... ada apa itu?" tanyaku saat melihat beberapa mobil ambulance berhenti di depan rumah sakit.
"Entahlah, ayo coba lihat!" ajak Cindy.
-----------
"Beri jalan .... beri jalan ...!"
"Ada apa ini?" Seorang petugas keamanan bertanya pada paramedis yang turun dari mobil ambulance.
"Ada tabrakan antara bus penumpang dan bus pariwisata. Ada sekitar 110 luka parah dan 10 orang meninggal."
"Apa?!"
Tampak banyak sekali pasien yang dibawa masuk ke dalam gedung rumah sakit. Lobi rumah sakit sampai terisi penuh korban kecelakaan bus tersebut.
"Hubungi rumah sakit lain dan kirim rujukan ke sana!" kata Pak Satya Jaya, Direktur rumah sakit Jaya Medika.
"Beberapa korban sudah dikirim ke rumah sakit lain, Pak. Di sini masih tersisa 40 pasien yang luka parah dan harus dioperasi secepatnya!" kata seorang paramedis.
"Apa?! Mana mungkin kita menjalankan operasi sebanyak itu? Kita kekurangan dokter dan juga ruangan."
"Tapi rumah sakit lain tak memadai, Pak. Kami juga sudah mencari solusi tapi tidak bisa. Di sinilah satu-satunya tempat yang bisa menangani mereka. Lagipula kalau dibawa di perjalanan kemungkinan pasien tak akan bisa bertahan."
"Oke ... kumpulkan semua dokter di sini, dokter dari poli mana pun! Mau dokter magang atau pun residen! Sterilkan seluruh ruangan yang bisa dipakai! Kita lakukan operasi darurat!" perintah si Direktur.
Semua pun nampak sibuk melakukan persiapan operasi. Tak terkecuali dokter Vian dari poli kejiwaan. Segala hal yang tak mungkin berusaha dijadikan mungkin demi keselamatan pasien.
"Pak, ada satu pasien yang masih belum ditangani," kata seorang perawat.
"Apa ada dokter yang belum dapat pasien?" tanya Pak Satya Jaya.
"Sudah tidak ada lagi, Pak! Bahkan dokter bedah pun ada yang mengoperasi dua pasien sekaligus."
Pak Satya Jaya mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Berharap ada bantuan yang tiba-tiba datang kepadanya.
"Karina!" panggilnya.
"Ya?!"
"Kamu ... lakukan operasinya!"
"Apa?!" Karina nampak terperanjat dengan perkataan ayahnya. "Ta -- tapi ... aku bahkan ... aku belum pernah melakukan operasi, Pa!"
"Nggak ada waktu untuk banyak berpikir! Ingat saja semua teori yang kamu dapat di kampusmu dan terapkan di sini!" kata sang ayah.
"Tapi ... aku ..."
"Karinaaaaa!" teriak Pak Satya Jaya. "Kamu ingin melihat pasienmu mati begitu saja?! Cepat ... lakukan operasinya!"
----------------
---------
RUANG OPERASI
Karina nampak gemetar ketakutan. Ini pengalaman pertama baginya. Hal yang di luar nalar dia bisa terjebak di ruangan ini. Dia memang mengambil jurusan dokter bedah. Tapi dia bahkan belum lulus. Bagaimana mungkin dia melakukan operasi?
Karina masih berdiri di sisi meja operasi dengan penuh keraguan.
"Karina, kamu dengar aku?"
"Kakak?!"
Pak Satya Jaya menghubungkan sebuah monitor di ruangan Karina dengan tempat dokter Kevin yang juga sedang melakukan operasi.
"Karina, tenangkan dirimu! Aku akan membantumu dari sini," kata dokter Kevin.
"A -- apa yang harus aku lakukan?" Karina nampak semakin pucat.
"Dengar ... pertama ... coba kamu periksa apa yang salah dengan pasienmu!"
"Ba -- baik!"
Masih dengan tangan gemetar, Karina meraba bagian luka dari pasien dan berusaha mengindikasi kelainan yang terjadi.
"Apa yang terjadi?" terdengar suara dokter Kevin dari layar monitor.
"Sebuah pembengkakan di area perut ... kurasa," jawab Karina.
"Oke ... pasti ada bagian organ dalam yang pecah. Lakukan pembedahan di area itu!" perintah dokter Kevin.
"Ka -- kakak ... aku nggak bisa melakukannya!" Karina semakin merasakan tubuhnya mulai lemas.
"Karinaaaa ...! Jika kamu merasa sebagai seorang dokter ... maka tugasmu adalah ... mengusahakan keselamatan pasienmu!"
"Kakaaaak ...!" Rasa gelisah semakin memguasai diri sahabatku itu.
"Lakukan, Karina! Aku percaya kamu bisa melakukannya!"
"Ba -- baiklah! Akan aku lakukan!"
--------------
Seorang perawat memasangkan jas operasi pada tubuh Karina dan sepasang handscoon pada kedua tangannya.
"Pisau bedah," kata Karina, memberi instruksi pada perawat yang membantunya.
Sebuah pisau kecil tajam berwarna silver digerakkannya pada perut pasien tersebut.
Darah membeku berwarna merah kehitaman nampak memenuhi organ dalam pasien itu.
Dirasakannya sebuah adukan dalam perutnya saat pertama kali melakukan pembedahan. Beberapa kali Karina nampak menggelengkan kepala, untuk menepis keraguannya.
"Keluarkan semua darah yang berkumpul di area itu!" kata dokter kevin.
"Lakukan penyedotan!" kata Karina pada para perawatnya.
Para perawat itu pun terus melakukan penyedotan pada area yang ditunjukkan Karina.
-------
"Bagus ... tinggal sedikit lagi. Teruskan untuk menjahit!" kata Karina.
"Terima kasih atas kerja kerasnya, Dokter!" semua perawat memberi hormat pada Karina.
Karina dan dokter Kevin nampak tersenyum lega melalui layar monitor itu.
---------------
---------------
"Gawat! Tekanan darahnya!" seru salah seorang perawat. "Sepertinya pasien mengalami VT (Venticular Tachycardia)"
"Apa?! Bagaimana bisa?! Padahal operasinya berhasil." Wajah Karina berubah memucat.
"Karina, gunakan alat pacu jantung!" kata dokter Kevin, dari layar monitor.
Dengan ragu, Karina mengambil alat pacu jantung dan bersiap memberi kejut jantung pada pasiennya.
"Satu ... dua ... tiga ... Syok!" kata Karina, sambil menempelkan alat tersebut di dada pasien.
"Naikkan lagi tekanannya!" Karina memberi perintah pada perawatnya.
"Satu ... dua ... tiga ... Syok!"
Tiiiitttt ... tiiiitt ...!
"Tidak! Aku mohon bertahanlah!" ucap Karina, sambil terus memberi kejut jantung pada pasiennya.
TIIIIIIIIIITT ...!
"Tidaaaak ... Tidak boleeeh!" teriak Karina.
Tanda vital di monitor yang tadinya masih berbentuk gelombang, kini berubah menjadi garis lurus.
Melihat pasiennya yang seperti itu, Karina pun beringsut naik ke atas meja operasi dan menekan dada pasiennya dengan kuat.
"Bernafaslah ... aku mohon bernafaslaaaah!" teriak Karina.
Dengan seluruh kekuatan Karina terus memompa dada pesien tersebut.
Di saat semua yang ada di ruangan itu sudah tertunduk menyerah ... sahabatku itu justru terus berusaha dengan segenap harapannya.
"Bernafaslah kembaliiiii ...!" kataKarina. "Aku sudah berusaha sejauh ini, kenapa kamu menyerah?! Buka matamuuuuuuu ...!"
Tut ... tut ... tut ...!
"Ta -- tanda vitalnya!" seru seorang perawat.
"Tanda vitalnya kembali!"
"Subhanallah!" seru semua orang yang melihat kejadian tersebut.
Dengan perlahan, Karina melepas tangannya dari dada pesien itu dan turun dari meja operasi.
"Terima kasih ... terima kasih kamu sudah bertahan," lirih Karina, sambil menyeka bulir bening di ujung matanya.
-------------
Kami semua ... aku, Cindy, Pak Satya Jaya dan Dokter Kevin menunggu di depan ruangan operasi.
--------
Dengan mata yang nampak sayu, peluh keringat bercucuran di dahinya. Gadis itu berjalan gontai menuju arah kami menunggunya.
"Papa ...!" Karina menghambur ke pelukan ayahnya.
"Kamu berhasil, Nak!" kata Pak Satya Jaya.
"Kamu luar biasa, Karina!" kata dokter Kevin.
"Huwaaaaaa ... hu ... hu ... huuu ...! Aku takut sekali, Papa! Aku takut sekali!" Tangisan Karina semakin menjadi-jadi.
"Tidak apa-apa! Semua baik-baik saja sekarang. Pasien itu sudah selamat ... berkat kerja kerasmu, Karina!"
Ini pertama kalinya aku melihat wajah Karina seperti itu.
Wajah yang selalu datar tanpa ekspresi. Kali ini aku seakan melihat banyak ekspresi di wajah itu. Sedih, takut, marah, haru dan bahagia. Semua ekspresi itu seakan muncul bersamaan dengan balutan air mata yang terus membanjiri pipinya.
---------------
---------------
CAFE
TIIIIT ...!
"Hei ... kenapa TVnya dimatikan?" seru Kak Sony, saat Karina menekan tombol off pada remote tv. "Padahal itu gambarnya lagi bagus, lho! Nggak nyangka seorang Karina Jaya bisa menangis seperti itu. Hahaha ..."
"Tutup mulutmu ... atau aku siram kopi, nih!" geram Karina.
Ya ... banyak wartawan yang meliput kejadian kecelakaan tersebut. Bahkan sampai operasi pertama Karina pun menjadi sorotan utama. Tentu saja ... itu adalah suatu kebanggaan besar bagi rumah sakit dan keluarga Jaya.
"Tapi aksimu itu keren. Luar biasa!" kata Mas Dirga.
"Tentu saja. Aku memang selalu luar biasa," kata Karina, datar.
"Dih ... gadis sombong ini!" geram Kak Sony.
"Coba saja kamu berekspresi kayak di tv tadi! Itu lebih menggemaskan. Hahaha ...!"
"Sekali lagi kamu mengolok-olokku ... beneran aku siram kopi, nih!" Karina bersiap mengangkat cangkirnya.
"Aku bangga sekali bisa menyaksikan kejadian luar biasa itu, Karin!" kataku.
"Iya. Aku berasa lagi nonton drama Korea waktu melihatmu naik ke meja operasi dan menekan dada pasien yang hampir out itu," kata Cindy. "Duh ... jadi merinding aku!"
"Okey ... spesial untuk kesuksesan operasi perdana Nona Karina Salsabila Jaya ... aku traktir kalian makan sepuasnya di Flower Next Door Cafe!" teriak Kak Sony. "Dirga ... untuk pembayarannya kita patungan, ya!"
"Astaga, Son ... kamu ingin membuatku bangkrut?" kata Ma Dirga, sambil cekikikan.
--------------
--------------
Hari-hari praktek kerja kami pun berlalu. Banyak ilmu dan pengalaman luar biasa kami dapatkan selama di rumah sakit.
Mungkin bagi para pasien... rumah sakit adalah tempat yang mengerikan dan tak ingin didatangi. Tapi bagi kami ... para pekerja di dunia kesehatan ... rumah sakit adalah tempat dimana kami memikul tanggungjawab besar untuk mempertahankan kelangsungan hidup bagi mereka yang berharap bantuan dari kami.
Waktu yang semakin cepat berlalu akhirnya membawa kami sampai ke tahap bimbingan skripsi.
---------------
---------------
RUMAH DIRGA
"Kamu, kok kelihatan sedih gitu, sih?" tanya Mas Dirga, sambil mendongakkan kepalaku ke arahnya. "Kamu khawatir, ya karena aku cuma pergi berdua dengan Clara?"
Aku masih tak merespon. Ya ... selama dua hari suamiku akan ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Clara memang sekretarisnya. Jadi wajar kalau dia mengikut Mas Dirga kemana-mana. Tapi ... aku tak suka!
"Kamu mau ikut juga?" tanyanya.
"Mana mungkin? Aku sedang sibuk bimbingan skripsi sekarang," gerutuku.
"Rhes, memang kamu nggak percaya padaku?"
Aku menatapnya lekat. Aku selalu percaya padanya. Tapi aku tak pernah percaya pada Clara.
"Aku percaya padamu!" kataku, kemudian.
"Terima kasih, Sayang," katanya, sembari memelukku erat. "Kalau kamu bosan di rumah, kamu bisa main ke tempat mama!"
"He'em. Berangkatlah ... nanti Mas Dirga ketinggalan pesawat!"
"Baiklah! Jaga dirimu baik-baik!"
Mas Dirga menarikku kepadanya dan mendaratkan beberapa ciuman di kening dan bibirku.
"Aku mencintaimu, Sayang!" katanya, dari balik kemudi.
"Aku juga mencintaimu. Hati-hati!"
Dan aku melihatnya berlalu dari pandanganku.
Hatiku ... entah kenapa terselip rasa mengganjal di dalamnya.
Semoga tak ada sesuatu hal buruk ... yang akan menimpa dirinya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=