
(pov DIRGA)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌺🌺🌺
Saat malaikat ada di sampingku ...
Hujan berhenti seketika ...
Kupegang tangan dinginnya ...
Awan hitam menyingkir begitu saja ...
Saat malaikat ada di sampingku ...
Kubuka hatiku untuknya ...
Kubagi separuh dari jiwaku ...
Kutitipkan cintaku padanya ...
🌺🌺🌺
---------------------------------------------------------------------
Kugapai ponsel yang ada di atas kepala dipan. Kutekan tombol "off" untuk mematikan bunyi alarmnya. Angka di layar menunjukkan pukul 04.00 WIB.
Kulihat ke samping kiriku. Rhesa masih memejamkan mata dengan membenamkan tubuhnya dalam selimut.
Kusentuh rambutnya ... alisnya ... matanya ... hidungnya ... pipinya dan bibirnya.
Dia sungguh nyata di depanku. Syukurlah, aku tak sedang bermimpi. Aku sungguh menghabiskan malam bersamanya.
"Eng?" Perlahan, matanya yang masih mengantuk itu terbuka. "Jam berapa sekarang?"
"Jam 4. Ayo bangun! Sudah subuh."
"Apa aku harus mandi? Hawanya dingin sekali," ucapnya malas.
"Ya udah, ayo mandi sama-sama aja!"
"Iiish ... apaan, sih?!"
Hari itu aku minta ART-ku untuk libur. Sengaja, agar aku bisa berdua saja dengan istriku.
------------------
"Aku mencintaimu." Kupeluk dia dari belakang saat sedang mencuci sayur di dapur. "Aku sangat mencintaimu. Aku sangat ... sangat ... dan sangat mencintaimu."
Rhesa meletakkan sayur yang dicucinya dan berbalik padaku.
"Sekali lagi mengatakan itu, Mas Dirga akan mendapatkan bonus piring cantik."
"Nggak perlu. Aku udah dapat istri yang cantik," kataku, dengan diikuti tawanya.
"Udah, ah ... jangan menggangguku lagi!" katanya, sambil melepaskan lenganku dari pinggangnya. "Aku harus segera buat sarapan. Nanti aku terlambat ke kampus."
Kembali aku melingkarkan lenganku di pinggangnya dan menempelinya dengan manja.
"Hari ini nggak usah ke kampus! Bolos aja, ya!" rengekku.
"Lho, kok bolos?!" serunya.
"Aku ingin seharian ini bersamamu! Hanya kita berdua." Semakin erat aku mendekapnya.
"Jangan kayak anak kecil, deh!"
"Iih ... kamu tega banget, sih!" rengekku.
"Kamu tahu, seberapa berharganya hari ini bagiku? Aku sudah menahan diri selama dua tahun. Masa' kamu nggak bisa ngerti, sih? Keterlaluan sekali!"
Rhesa hanya cekikikan mendengar ocehanku.
"Ya udah. Apa yang ingin Mas Dirga lakukan seharian ini?" tanyanya.
Aku melihat senyum manis di wajahnya. Setiap hari dia memang selalu menarik. Tapi entah kenapa hari ini terlihat jauh lebih menarik.
"Eh? Mas Dirga mau apa? Turunkan aku!" serunya, ketika aku mengangkat tubuhnya.
Tubuhnya ringan sekali.
"Turunkan aku, Mas Dirga!" rontanya.
"Enggak mau. Kamu milikku sekarang."
Aku menggendongnya dan membawanya kembali ke kamar. Ya ... kamar kami berdua!
-------------------------
-------------------------
14.00 WIB
"Kita mau ke mana, sih?" tanya Rhesa.
"Bertemu seseorang."
"Pasti begitu. Seneng banget, ya bikin aku penasaran?" Rhesa nampak mengerucutkan ujung bibirnya.
"Mereka pasti akan senang bertemu denganmu, Sayang," kataku.
--------------
Selama dua jam menempuh perjalanan, akhirnya kami sampai di tujuan.
'Tempat Pemakaman Umum'
Kulihat Rhesa nampak ragu untuk melangkah. Kugenggam tangannya dan membawanya masuk ke dalam.
Dua nisan bersebelahan ada di hadapan kami.
ERIKA dan RAJENDRA.
Itulah nama yang tertulis di nisan tersebut.
"Ayah ... ibu ...!" Bulir bening mulai jatuh dari pelupuk mata istriku.
"Tante Erika ... Om Rajendra!" kataku. "Maaf . Di hari aku mengambil Rhesa sebagai istriku, aku tak sempat datang kemari. Hari ini, meski sangat terlambat, aku datang untuk meminta restu kalian."
Kudengar Rhesa berusaha menahan suara tangisnya.
"Kalian nggak perlu lagi mengkhawatirkannya! Rhesa adalah gadis yang kuat. Dia mahasiswi yang pintar. Dan juga istri yang sangat baik.
Aku akan selalu menjaganya dan berada di sisinya. Aku akan selamanya mencintainya."
Rhesa pun membenamkan wajahnya di pelukanku dengan menangis sejadi-jadinya.
-----------------
------------
Menjelang malam, kami pun berjalan menyusuri taman kota. Mengenang setiap jalanan kota yang pernah ditinggali Rhesa.
"Sayang sekali paman dan bibi sedang pulang kampung sekarang. Padahal sudah lama aku nggak bertemu mereka."
"Lain kali, sebelum ke sini kita hubungi mereka dulu!" kataku.
-------
Malam yang terasa mulai dingin, tapi genggaman tangan kami terasa kian menghangat.
"Mas Dirga," panggilnya. "Terima kasih karena sudah menjadikan aku istrimu."
Kurangkulkan lenganku padanya. Dan kembeli kami menyusuri taman yang dihiasi lampu berwarna-warni.
"Apa Mas Dirga, akan terus mencintaiku? Apa perasaanmu padaku nggak akan berkurang?"
"Mana mungkin berkurang?" sahutku. "Dari dulu, perasaanku padamu nggak pernah berubah. Malah semakin bertambah."
"Dari dulu?" tanyanya. "Dari kapan? Bukannya kita baru bertemu lagi saat akad nikah waktu itu?"
"Dari saat kita bertemu lima belas tahun lalu."
"Apa?! Jangan bilang Mas Dirga yang seorang anak SMP jatuh cinta pada gadis kecil berusia tujuh tahun? Hahaha ...!" tawanya.
"Bukan jatuh cinta, sih! Mungkin lebih tepatnya, aku sudah merasa bahwa kamulah jodohku."
"Iih ... nge-gombal."
"Beneran, kok," kataku. "Saat aku bertemu denganmu waktu itu, rasanya kita akan dipertemukan lagi ... lagi ... dan lagi.
Ya, aku ngerasa yakin aja kalau kamu pasti akan menjadi milikku."
"Astaga ... pe-denya!" serunya, sembari memukul lenganku.
"Buktinya, sekarang kamu tergila-gila padaku, kan?" godaku.
"Iiish ... mana mungkin?!" Wajahnya nampak memerah.
Aku semakin menariknya mendekat padaku.
"Aku akan selamanya mencintaimu, Sayang. Apapun yang akan terjadi, aku hanya akan mencintaimu.
Gadis itu menatapku dengan senyum tipis tersemat di bibirnya.
"Kalau ditanya bagaimana perasaanku padamu saat ini, entahlah! Aku sulit menjelaskannya," kataku. "Yang jelas, aku ingin terus memegang tanganmu, sampai tak seorang pun akan bisa mengambilmu dariku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
10 TAHUN LALU
"Ini bener alamatnya, kan?" Aku melihat tulisan di secarik kertas yang aku pegang.
"Besok udah mulai libur semester. Harus aku kembalikan sekarang juga flash disknya si Clara. Dia pasti membutuhkannya."
Gerakan tanganku yang hendak menekan bel langsung terhenti saat mendengar suara benda jatuh. Lebih tepatnya ... benda yang dibanting.
"Pergi sana! Jangan menatapku dengan matamu itu, anak sialan!"
Kudengar suara melengking seorang wanita dari balik pintu itu.
"Ampuuuun, Ma ...! Ampuni akuuu ...!"
Kali ini seperti suara Clara dan suara sesuatu yang ditendang.
"Pergiii! Bawa mati saja matamu itu! Aku muak melihatmu. Aku muuaaaak!"
Seorang gadis berseragam putih abu keluar dari balik pintu. Dari pelipisnya mengucur darah. Dan beberapa memar di lengannya.
"Dirgaaa!" Clara menghambur ke dalam pelukanku.
"A--ada apa, Clara? Apa yang terjadi?"
"Aku takut," katanya, dengan suara bergetar.
"Aku takut padanya. Bawa aku pergi dari sini, Dirgaaaa!" teriaknya.
---------------------------
---------------------------
SAAT INI
DI CAFE
"Ga--lusa ada reservasi untuk acara pernikahan. Kamu udah menghubungi Pak Edi untuk mengisi acara musiknya, kan?" tanya Sony, saat memeriksa jadwal di komputerku. "Hubungi tim dekorasi juga!"
Aku masih diam tak merespon.
"Dirga, kamu dengar aku, kan?"
Aku tetap diam.
"Dirgaaa!" teriaknya.
"Eh? Apa? Kamu ngomong apa barusan?"
"Ampun, deh!" geram Sony. "Lagi mikirin apa, sih kamu? Ngelamun sambil senyum-senyum gitu. Kayak baru ngalamin malam pertama aja, nih anak!"
Ponsel di tanganku langsung tergelincir begitu mendengar omongan Sony.
"Hei, apa aku benar?" Sony menangkap reaksi kikuk dariku.
"A--apa?" Aku mulai gelagapan.
Sony memicingkan mata. Menatapku penuh curiga. "Dirga,apa kamu ... sudah nggak perjaka lagi?"
"Duh ... apaan, sih pertanyaanmu itu?!" kilahku, dengan wajah mulai panas menahan malu.
"Uwooooo ... Brother!" Sony langsung menghambur memelukku. "Congratulation ... congratulation, Brother!" serunya.
"Apaan, sih?! Lepas!"
"Hei, ini harus dirayakan! Hahaha ...!" goda Sony.
"Diam, kamu!" geramku, menahan malu.
Sony saja sampai histeris begitu, bagaimana aku?.Aku bahkan tak percaya semua ini terjadi. Tahu begitu, dari dulu saja aku mengakui semuanya ke Rhesa, kalau pernikahan ini aku yang minta. Kenapa juga harus menunggu sampai dua tahun segala?
-------------------
---------
"Tante Heny?!"
"Ooh ... jadi kamu pemilik tempat ini, Dirga? Lama tak bertemu."
Sudah lama aku tak melihatnya. Terakhir ... lima tahun lalu saat aku dan Clara mengantarnya ke bandara. Lebih tepatnya, kami mengejarnya. Tapi tak berhasil menahan kepergiannya. Hanya bisa melihat lambaian tamgannya saja. Ya, wanita ini adalah ibunya Clara.
"Saya tak tahu kalau yang mereservasi adalah Anda, Tante," kataku sembari menyuguhkan secangkir kopi padanya. "Kapan Tante kembali ke sini?"
"Lima hari yang lalu."
"Sudah bertemu Clara?"
Wanita itu merubah raut wajahnya. Dia nampak terlihat sendu.
"Dia tak mau bertemu denganku. Padahal aku ingin sekali dia datang di hari bahagiaku," katanya. "Aku ingin sekali minta maaf padanya atas semua perlakuanku padanya dulu. Aku ingin dia memberiku kesempatan sekali lagi."
-----------------
---------
("Clara, kamu dimana sekarang?")
Sudah tiga jam. Gadis itu masih belum membaca pesanku. Ditelpon pun tak diangkat. Sejak bertemu tante Heny, aku jadi khawatir padanya.
-----------------
-----------------
RUMAH DIRGA
"Mas Dirga, kok mukanya ditekuk gitu? Ada masalah?" tanya Rhesa, yang duduk di sebelahku.
"Melihatmu, semua kekhawatiranku menghilang, Sayang." Kudaratkan ciuman di keningnya.
Sebuah deringan tiba-tiba terdengar dari ponsel yang kuletakkan di meja.
CLARA. Itu nama yang muncul di layar ponselku. Aku menatap Rhesa saat hendak menggapai ponsel di hadapanku. Air mukanya nampak berubah kesal.
"Sebentar!" Aku ambil ponselku dan menjauh darinya. "Halo. Lagi-lagi begini!" geramku.
"Tunggu di sana, aku akan segera menemuimu!"
"Mas Dirga, mau kemana?" Rhesa meraih tanganku dengan wajah cemas.
"Sayang, aku harus menemui Clara ... sekarang!"
"Clara?! Untuk apa?!"
Aku melihat rasa kecewa muncul di wajahnya. Aku mendekapnya erat.
"Nanti aku akan jelaskan. Kamu tidur duluan, oke! Aku mencintaimu."
Aku mengecup bibirnya dan berlalu meninggalkannya.
-------------------
-------------------
RUMAH CLARA
Kulihat Clara sedang duduk di bangku depan rumahnya. Kuhampiri dan duduk di sampingnya.
"Kamu nggak apa-apa?"
"He'em," angguknya. "Kamu sudah bertemu dengan wanita itu?"
"Iya. Di cafe tadi siang," jawabku. "Bagaimana denganmu? Sudah bertemu ibumu?"
"Tidak. Aku takut dia akan membunuhku," katanya, dengan senyum miris.
"Kenapa nggak coba temui ibumu? Dia bilang, dia ingin minta maaf padamu."
"Ha... haha... haha...!" Gelak tawa tiba-tiba keluar dari bibirnya. "Apa kamu percaya ucapannya? Ucapan wanita yang selalu ingin aku mati itu?! Hahaha ... lucu sekali!"
"Clara, mungkin dia sudah berubah. Dia nampak menyesal tadi."
"Bohoooong ...!" teriaknya. "Kamu lihat ini? Kamu lihat?!"
Clara menunjuk matanya.
"Mata inilah ... mata inilah yang selalu mengingatkan dia pada orang yang mencampakkannya. Mata inilah yang selalu ingin dicongkelnya itu!" serunya. "Dia manusia yang menakutkan, Dirga!"
Tubuh Clara nampak bergetar, seperti ketakutan
"Jangan tinggal sendiri! Pulanglah ke rumah nenekmu!" kataku.
"Kenapa? Kamu takut aku akan bunuh diri?"
"Clara, aku benar- benar mengkhawatirkanmu saat ini. Aku mohon, dengar aku sekarang!" Aku merasa mulai kesal.
"Jika kamu benar-benar mengkhawatirkan aku, bawalah aku bersamamu, Dirga!" teriaknya.
"Apa?!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=