WILL YOU MARRY ME?

WILL YOU MARRY ME?
Part 16


(pov DIRGA)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌾🌾🌾


Satu hal yang teramat mudah ...


Mudah sekali untuk didapatkan ...


Kepercayaan ...


Betapa mudah untuk mendapatkan ...


Tapi ...


Akan lebih mudah lagi ...


Jika ingin menghancurkan ...


🌾🌾🌾


---------------------------------------------------------------------


"Terima kasih atas kerjasamanya, Pak!" kataku, seraya menjabat tangan Rudy. Seorang pengusaha properti muda yang menjadi klien baruku.


"Bagaimana kalau minum dulu untuk merayakan kerjasama kita?" katanya.


"Aah ... maaf! Saya nggak minum," tolakku.


"Ayolah, kali ini saja ... mumpung di sini! Saya traktir, Anda," bujuk Rudy.


Akhirnya kami masuk ke sebuah bar. Tapi aku hanya memesan sebuah softd drink tanpa alkohol. Ya ... seingatku, itulah yang aku pesan!


-------------


------


22.15 WIB


"Aduh!"


"Ada apa, Dirga?" tanya Clara.


"Tahu, nih! Kepalaku sakit banget!" keluhku.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Rudy.


"Iya. Mungkin saya kecapekan saja," kataku.


"Sepertinya saya harus kembali ke hotel sekarang. Saya perlu istirahat. Maaf, nggak bisa menemani Anda lebih lama."


"Okey. Nggak masalah. Kesehatan Anda lebih penting. Selamat beristirahat!" kata Rudy.


"Aku akan mengantarmu ke kamar, Ga! Sepertinya kondisimu sedang nggak baik," kata Clara.


"Makasih."


---------------- ----------------- ------------- -------------


7.30 WIB


Mataku yang masih terasa berat, terpaksa terbuka karena silau mentari yang menerobos lewat jendela kaca.


"Ugh ... sakit banget!" keluhku, sembari memegangi sebelah kepalaku.


"Huhuuu ... hu ... huuuu ...!"


Siapa?! Suara siapa yang sedang menangis itu? Aku masih berusaha membuka mataku dan mencari sumber suara itu.


Kudapati seseorang berambut panjang dan berlilit selimut putih. Dia duduk di sisi dipan sambil terus menangis.


"Rhesa?!" gumamku.


Sekali lagi ... dengan kepala yang terasa berat, aku edarkan pandanganku ke sekeliling.


Tidak! Aku masih di hotel sekarang. Lalu siapa wanita itu?


"Huhuuuu ... hu ... hu ...!"


"Cla -- Clara?!" pekikku.


Begitu menyadari wanita yang menangis di sisiku itu adalah Clara, kesadaranku langsung kembali sepenuhnya.


Aku amati kondisi Clara yang hanya terlilit selimut. Mendadak, hatiku jadi tak tenang.


Aku segera menarik tubuhku dari pembaringan dan segera melihat kondisiku di balik selimut hotel berwarna putih itu.


"A -- apa yang ...?"


Tak ada sehelai benang pun menempel di tubuhku.


"Apa yang terjadi?! Claraaaa ... apa yang terjadiii?!" teriakku.


Tapi Clara terus saja menangis tanpa merespon pertanyaanku.


"Berhenti menangis dan jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi?!" bentakku.


"Dirga ... kita ... kita sudah melakukan kesalahan besar," katanya, sambil terus menangis.


"Apa?! Apa maksudmu? Apa maksudmu?!" teriakku.


Lagi-lagi ... tanpa merespon pertanyaanku, Clara terus saja menangis.


"Enggak! Nggak mungkin!" lirihku. "Ini nggak mungkin terjadi, kan?! Enggak ... nggak mungkin terjadi apa-apa. Enggak!"


---------------- ------------------- -------------------


----------------


RUMAH DIRGA


"Lho ... Mas Dirga? Kok udah pulang?"


Aku langsung membenamkan diriku dalam pelukan istriku begitu aku melihatnya.


"A -- ada apa?" tanyanya, heran.


"Begini saja! Dua menit saja!"


-----------------


"Mas Dirga ... ayo bangun! Udah dhuhur, nih! Mau sampai kapan tidur terus? Tadi juga belum sarapan, kan?" kata Rhesa, sembari duduk di sisi dipan.


Aku menyandarkan tubuhku di kepala dipan. Kupandangi lekat wajah istriku yang terlihat lelah. Mungkin dia begadang mengerjakan skripsinya.


"Mas Dirga sakit?" tanya Rhesa saat memegang keningku. "Sepertinya agak demam."


"Aku nggak apa-apa."


"Ya udah, yuk makan! Aku udah masakin kesukaannya Mas Dirga, tuh!"


"He'em."


---------------------


-------


"Ya?! Aah ... ya, ini mau dimakan, kok!" kataku, seraya memasukkan sesendok nasi ke mulutku.


Biasanya ... aku akan sangat senang saat makan masakan Rhesa dengan ditemani olehnya. Tapi kali ini ... gejolak menyakitkan tiba-tiba terasa menghimpit hatiku.


"Mas Dirga tahu, nggak? Skripsiku udah di acc, lho!" katanya, senang. "Dua minggu lagi ... aku akan sidang."


"Benarkah? Kamu sudah berusaha keras."


"Jadi ... mau program sekarang aja nggak?" tanya Rhesa, sembari mengerlingkan sebelah matanya.


Aku paham yang dia pikirkan. Itu yang selalu aku tanyakan padanya. Program kehamilan.


Aku mengusap ujung kepalanya dan berkata.


"Maafkan aku, Rhesa!"


"Hem?! Kenapa tiba-tiba minta maaf?"


"Nggak apa-apa. Ingin saja," jawabku.


"Apaan, sih?! Bikin khawatir aja, deh!" tawanya.


Aku harusnya merasa senang saat dia akhirnya menyetujui untuk segera punya anak. Tapi mengingat apa yang terjadi padaku dan Clara ... aku muak!


Aku muak pada diriku sendiri.


-----------------


-----------------


Selama hampir tiga minggu, aku nggak pergi ke kantor. Aku beralasan menemani Rhesa persiapan sidang skripsi pada papa.


Tapi sejujurnya, aku tak ingin bertemu Clara.


Entah rasa marah, malu atau bersalah yang akan aku rasakan saat bertemu dengannya.


-----------------


-----------


"Mas Dirga ...!"


Rhesa berlari ke arahku yang sedang menunggunya di depan gerbang kampus. Dia perlihatkan wajah yang begitu ceria kepadaku.


"Aku berhasil! Skripsiku nggak ada revisi sama sekali."


Gadis itu menghambur ke dalam pelukanku dengan penuh kebahagiaan.


"Jadi ... mau minta hadiah apa?" tanyaku.


"No ... no ...! Bukan minta hadiah," katanya.


"Akulah yang akan memberimu hadiah."


-------------


-------------


Ingat sebuah pantai sepi yang pernah kami datangi saat Rhesa masih praktek kerja?


Ya ... hari itu kami menyewa sebuah villa di sana. Dan menghabiskan malam bersama.


"Kamu suka sekali tempat ini, ya?" tanyaku sembari melingkarkan tanganku di pinggangnya.


"Tempat ini tenang, kan? Di sini seperti hanya ada kita berdua saja," katanya. "Terima kasih atas segalanya selama ini. Aku sudah mendapat banyak cinta darimu. Aku tak memerlukan apapun lagi selain dirimu."


Setelah semua hal yang sudah terjadi pada kami ... akhirnya kami sampai di titik ini. Dimana kami sama-sama saling menginginkan ... sama-sama ingin membahagiakan ... sama-sama ingin melengkapi. Dan sama-sama merindukan kehadiran malaikat kecil di tengah-tengah kami.


"Aku mencintaimu, Rhesa! Sangat ...!"


------------------------


-------------------------------


SATU MINGGU KEMUDIAN


RUMAH DIRGA


"Rhes ... tadi aku bertemu mama di cafe. Katanya kamu harus ... Clara?!" pekikku.


Aku melihat Rhesa dan Clara duduk berhadapan di ruang tamu. Clara yang nampak tertunduk dengan wajah sedih.


Sedangkan Rhesa nampak menatap Clara dengan wajah pucat.


"Aku ... permisi!"


Clara pun berlalu begitu saja dari rumah kami. Perasaanku bertambah tak karuan saat Rhesa hanya terduduk diam tanpa sepatah kata pun.


"A -- apa yang ..."


Rhesa menyambar kertas yang ada di hadapannya. Berjalan menghampiriku dan menyodorkan kertas itu padaku.


"A -- apa ini?" tanyaku.


"Surat itu menerangkan bahwa Clara sedang hamil," katanya.


"Apa?"


"Apa benar ... bayi yang dikandungnya itu ... adalah anakmu?!" Suara Rhesa terdengar bergetar, menahan kemarahan.


Dia menatap tajam padaku. Seakan sedang mencari jawaban di dalam mataku.


"Apa kamu sungguh telah tidur dengannya, Mas Dirgaaaa ...?!" pekiknya.


"Rhes ... aku nggak mungkin melakukan itu!" sergahku.


"Lalu yang ada di rahim wanita gila itu apa?!" teriaknya. "Sebegitu inginkah kamu punya anak, sampai kamu harus tidur dengan wanita lain, hah?!"


"Rhes ... dengar dulu! Ini nggak seperti yang kamu pikirkan!"


"Lalu seperti apa?!" bentaknya. "Kamu selalu bilang bahwa hubunganmu dan Clara nggak seperti yang aku pikirkan. Lalu seperti apa yang harus aku pikirkan?! Katakaaaaaan ...!" teriakknya.


"Rhes ..."


"Apa yang sudah Mas Dirga lakukan padaku?


Kenapa Mas Dirga begitu tega padaku?!"


Mulutku ini hanya bisa diam tanpa pembelaan sedikit pun.


Melihat istriku yang tersungkur duduk di lantai dengan air mata yang terus mengucur deras dari pelupuk matanya. Menangis tersedu-sedu dengan begitu kecewanya padaku.


Aku hanya berdiri layaknya pria brengsek tanpa bisa menenangkannya.


Apa yang sudah aku lakukan ... sampai orang yang begitu aku cintai ini terlihat amat tersakiti?!


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=