
ππΊπ
Tak ada kata-kata untuk hari ini ...
Melihatnya saja, sudah cukup ...
Tak perlu menyelami isi hati ...
Semua terlihat saat mata itu mengatup ...
Dia asing ...
Seterusnya, akan tetap asing ...
Dia biarkan aku bertanya-tanya ...
Apa arti hadirku baginya ...
ππΊπ
Pandanganku teralihkan pada suara kaki yang melangkah menuruni anak tangga. Lelaki bertubuh jangkung dengan kemaja abu muda. Rambut klimis dengan air muka menawan.
Ah! Kenapa semakin hari, keberadaannya begitu mengusikku?
"Rhesa ... Rhesa!"
"Hah?! Ya?!" Teriakan Mas Dirga membuyarkan lamunanku.
"Kamu melotot, lho saat melihatku. Apa aku kelihatan tampan pagi ini?" Mas Dirga mengerlingkan sebelah matanya.
"Iih ... ge-er amat, sih!" seruku. "Cepetan sarapan, keburu aku terlambat ke kampus, nih!"
"Mbak Siti mana? Kok, kamu yang masak?" tanya Mas Dirga, mencari ARTnya.
"Aku suruh bersih-bersih aja. Lagian kalau cuma bikin sarapan buat kita, aku sendiri aja udah cukup."
"Ehm ... beruntungnya aku ini. Punya istri cantik, pinter masak lagi," kata Mas Dirga dengan santainya.
Sepenggal kalimat tak bermakna baginya, tapi sedikit menggelitik hatiku.
Sudah mulai menjadi hal biasa, ketika aku berangkat ke kampus bersama dengannya yang berangkat ke tempat kerja. Kadang aku berpikir keras tentang hubungan kami ini. Lelaki di sampingku ini cukup baik sebagai seorang suami. Namun sayang, sepertinya aku hanyalah seorang adik baginya.
"Ini untukmu." Mas Dirga menyodorkan sebuah kartu kredit padaku. "Untuk belanja, kebutuhan rumah dan uang jajanmu."
"Enggak usah. Aku masih ada uang, kok."
Ditariknya tanganku dan digenggamkannya kartu itu di telapak tanganku seraya berkata, "Dengar! Meski hubungan kita nggak sama seperti pesangan lainnya, dalam hukum dan agama kamu tetap istri sahku. Sudah menjadi kewajibanku untuk memenuhi semua kebutuhanmu. Jadi, nggak perlu merasa canggung!"
Justru sikapmu inilah yang membuatku tak nyaman. Di saat aku sibuk menjaga jarak denganmu, kamu justru melakukan semua kewajibanmu sebagai seorang suami padaku.'
Ingin aku lontarkan sepenggal kalimat itu, tapi lidahku terasa keluh.
"Diem aja? Ayo cepet cium tangan dan masuk kelas sana!" kata Mas Dirga, seraya mengulurkan tangannya padaku.
Sedikit menahan tawa, aku menggapai punggung tanggannya dan kudaratkan menciumnya dengan khidmat.
----------
Ah, akhirnya! Kehidupanku sebagai seorang mahasiswa pun dimulai. Dengan beasiswa yang sudah susah payah aku dapat, tentu saja akan kucetak prestasi gemilang di kampus ini.
"Rhesa!" Seorang gadis manis, berambut panjang sedikit ikal, datang menghampiriku. "Yuk, ke kantin dulu! Laper, nih!"
"Oke, deh!"
Dia Cindy. Sahabat baruku di jurusan Psikologi. Anaknya super ramai dan baik.
***
"Wah! Si Karina itu keren, ya! Tinggi semampai dengan wajah cantik bak model. Aku aja yang sama-sama cewek, sampai mengagumi kecantikannya. Dia bener-bener primadona jurusan kedokteran angkatan kita."
"Duh.. lebay deh kamu, Rhes!" sahut Cindy, seraya memasukkan sesendok bakso ke mulutnya.
Hampir semua mata mahasiswa di kantin ini terpusat pada Karina. Dia anak pemilik Rumah Sakit Jaya Medika. Kecantikan yang luar biasa dengan otak yang encer. Keberuntungan yang hakiki.
"Hay, Cindy! Long time no see."
Eh?! Lho?!
Tiba-tiba si Karina datang menyapa Cindy dan duduk di sebelahnya.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Karina.
"Apaan, sih?! Nggak usah sok kenal, deh!" Cindy terlihat kesal.
"Gimana mungkin nggak kenal?" kata Karina. "Bukannya dulu pacarmu mencampakkanmu gegara dia falling in love sama aku? Meski aku menolaknya karena dia bukan tipeku, sih!"
"Kamu!" teriak Cindy dengan wajah kesal.
"Jadi kalian ini satu SMA?" tanyaku. "Kelihatannya kalian akrab, ya?"
"Tentu saja," sahut Karina.
"Enggak sama sekali!" sergah Cindy. "Aku nggak mungkin, ya akrab sama cewek tengil kayak dia."
Mereka terlihat lucu. Karina dengan wajahh datarnya, sedangkan Cindy dengan sikap yang selalu berapi-api. Meski selalu beda pendapat, mereka tetap saling menjaga. Terlihat sekali kalau dulu mereka sahabat dekat.
***
"Siapa, ya itu? Ganteng banget. Artis bukan, sih?"
"Mobil mewah, tuh!"
Jam pulang pun tiba. Tampak beberapa mahasiswi bergerombol di depan gerbang kampus. Kami bertiga yang merasa penasaran, akhirnya ikut nimbrung di antara mereka.
"Mas Dirga? Ngapain dia?" gumamku.
"Hei, kayaknya dia lagi jalan ke arah kita, deh, Guys," kata Cindy.
Duh! Mas Dirga berjalan ke arahku. Aku mulai bingung karena semua orang melempar pandang ke arah kami.
Seorang mahasiswi tingkat satu dijemput lelaki ganteng yang terlihat tajir melintir.
"Rhesa, ayo kita pulang!"
Sontak saja semua mata melihat ke arah kami. Termasuk dua sahabatku yang melongo keheranan melihat tangan lelaki ini mengulur padaku.
"Sampai jumpa besok, Guys."
Aku segera menarik tangan Mas Dirga ke dalam mobil dan menyuruhnya cepat meninggalkan lokasi kampus.
----------
"Mas Dirga nggak usah jemput aku lagi, deh!" kataku kesal.
"Lho kenapa? Kamu malu, ya dilihatin temen-temenmu?"
"Memangnya Mas Dirga nggak lihat tadi?
Semua cewek di sana melotot menatapmu. Bola mata mereka kayak mau lompat keluar. Mereka terlihat terkagum-kagum gitu sama Mas Dirga."
"Kamu cemburu?" Suamiku itu nampak cekikikan.
"A--apa?! Enggaklah! Mana mungkin?" Aku jadi salah tingkah.
"Kalau ada yang nanya, kamu bisa bilang aku ini kakakmu, kan? Lagipula kita lebih mirip saudara ketimbang pasangan."
Begitulah dia bersikap padaku. Dia manjagaku, baik sekali padaku. Rupanya dia hanya menanggapku sebatas seorang adik kecil. Ah, sedikit kecawa terselip di hati yang kecil ini.
***
Perlahan, kubuka pintu kamar suamiku--kosong. Biasanya, lepas maghrib begini dia asyik dengan laptop di pangkuannya. Segera aku turun ke dapur dan bertanya pada ART-ku.
"Tadi Mas Dirga ditelpon sama bapak disuruh ke kantor, ada rapat mendadak. Mbak Rhesanya lagi di kamar mandi, jadi titip pesen ke saya," kata Mbak Siti padaku.
"Oh, gitu! Lha ... ini kayaknya proposal. Milik siapa, Mbak?" tanyaku.
"Owalah ... pasti Mas Dirga ketinggalan itu proposalnya."
"Ya udah, biar aku anterin ke sana aja kalau gitu!"
MAHESA CORPORATION adalah perusahaan di bidang fashion. Baju, tas, sepatu, make-up, dan sejenisnya. Perusahaan ini dikelola oleh Om Mahesa dan juga suamiku.
Sedangkan Tante Dessy adalah seorang perancang busana di perusahaan itu. Tapi khusus untuk gaun pengantin. Jadi, tak salah jika semua kerabatku mengatakan, bahwa aku adalah gadis yang sangat beruntung karena ada di tengah-tengah keluarga amazing ini. Mereka bilang begitu karena tak tahu saja, kalau pernikahanku ini tidak normal.
"Ruangan Mas Dirga di mana, ya?" Aku bertanya pada resepsionis.
"Sudah buat janji?"
"Ah ... saya---"
"Apa yang dilakukan gadis desa di kantor ini?!" seru seorang wanita yang berdiri di belakangku.
"Clara?!"
Wanita gila yang sudah membuat suamiku meninggalkan aku di malam pernikahan kami.
Ugh! Rasanya ingin kujambak rambutnya.
"Sedang apa kamu di sini?" ketusnya padaku.
"Kenapa kamu harus tahu?" Aku tak kalah ketus darinya.
"Sok banget, ya jadi orang? Sudah berasa jadi nyonya besar, kamu?!" bentaknya padaku.
"Iya. Aku memang nyonya di sini. Aku istri pewaris perusahaan ini. Mau apa, kamu?!" geramku.
Dia benar-benar wanita sinting tak tahu malu.
Dia pikir aku akan lembek bagai ratu drama begitu?
Jangan mimpi!
Harga diriku terlalu tinggi untuk diinjak-injak oleh wanita seperti dia.
"Biar aku katakan padamu!" Clara berbisik padaku. "Mungkin di rumah Dirga adalah suamimu, tapi di kantor dan di luar rumah, dia tetap milikku."
Si nenek sihir itu menyeringai meninggalkan aku.
Clara sungguh menguji kesabaran. Kalau saja kami tak ada di kantor milik mertuaku, sudah aku stepless mulutnya.
Nafasku terasa memburu---kesal rasanya mengingat wajah menyebalkan wanita itu. Aku lemparkan proposal yang kubawa ke atas meja Mas Dirga.
"Terima kasih sudah mengantarnya ke sini. Aku tertolong," katanya dengan wajah senang. "Kamu kenapa cemberut begitu?"
"Kenapa Mas Dirga nggak bilang dia ada di sini?" selidikku, menahan emosi.
"Dia siapa?"
"Siapa lagi? Pacarmulah!" geramku.
"Clara maksudnya?"
Ya ampun! Dia bahkan langsung tahu namanya begitu aku bilang pacarnya.
"Dia kerja di sini. Dia sekretarisku," jawabnya tanpa dosa.
"Apa?!" pekikku. "Bagaimana bisa kamu nggak bilang ini padaku? Kamu bahkan menghabiskan waktu seharian dengannya? Ohw ... luar biasa! Aku merasa seperti orang bodoh sekarang. Pantas saja nenek sihir itu menertawakanku."
"Apa sekarang ... kamu sedang cemburu?"
Aku terbelalak mendengar pertanyaannya. Cemburu? Sudah gila, ya? Untuk apa cemburu?
"Perlu kamu tahu! Aku dan Clara nggak seperti apa yang kamu pikirkan," kata Mas Dirga. "Lagipula, kenapa kamu kesal jika aku ada hubungan dengan Clara? Bukannya pernikahan kita hanya sebuah perjanjian seperti yang kamu tulis di kertas itu?"
Ucapannya terasa menancap tepat di jantungku.
"Rhesa, sebenarnya ... kamu ingin aku menganggapmu sebagai apa?" Lelaki itu berjalan mendekatiku. "Sebagai adikku ... atau ... sebagai istriku?"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=