WILL YOU MARRY ME?

WILL YOU MARRY ME?
Part 43


(POV ARGA)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


πŸŒΊπŸ’šπŸŒΊ


Bagi siapa saja ...


Saat dia mencintai dengan sesungguhnya ...


Kerelaan untuk menunggu ...


Pastilah ada ...


πŸŒΊπŸ’šπŸŒΊ


---------------------------------------------------------------------


"Mas Arga!"


Aku berjalan menghampiri Viona yang tengah duduk bersama dua orang temannya di salah satu bangku kantin kampus.


"Sini, kita makan dulu!" Ditariknya lenganku untuk duduk di sampingnya. "Mas Arga, kenal sama Kak Gilang dan Mbak Luna juga?"


Apa-apaan ini? Kenapa Viona bersama mereka berdua? Membuatku canggung saja.


"Mbak Luna, ingat nggak, saat aku bilang ada seseorang yang aku suka? Ini, nih orangnya," kata Viona seraya mengapitkan tangannya di lenganku.


Luna nampak melempar senyum pada kami dan kembali meneguk jus jeruk di hadapannya.


"Mbk Luna dan Kak Gilang jadian juga, dong!" kata Viona.


"Hahaha ... jangan mulai lagi untuk menggoda kami, ya!" kata Gilang dengan wajah memerah.


"Kenapa? Kalian cocok, lho," kata Viona.


"Bisa saja."


Aku pandangi Luna yang masih diam. Tak sedikit pun dia melihat ke arahku. Jemarinya masih bergerak bebas di layar ponselnya.


"Kalau ada Kak Gilang yang sebaik ini masih dianggurin, terus tipe cowoknya Mbak Luna kayak apa, dong?"


"Hah?!"


Mau jawab apa dia mendengar pertanyaan Viona? Aku sungguh sangat penasaran.


Diangkatnya perlahan wajah kecil itu. Mata tajamnya tiba-tiba menghujam padaku.


"Mungkin, yang seperti seorang pangeran," jawabnya. "Seorang pangeran yang akan memperjuangkan aku meski lautan akan menenggelamkannya. Tapi sepertinya itu nggak akan mungkin terjadi. Karena sang pangeran masih harus melanjutkan garis kehidupannya dan bukannya mengurusi sumber masalah sepertiku."


Kenapa sikapmu padaku seperti ini, Luna? Kadang kamu terlihat bagai dandelion rapuh yang terbawa angin.


Kadang kamu bagai benteng kokoh yang tak perlu perlindungan.


Kadang kamu bagai rembulan redup yang terhalang awan.


Lalu aku harus bagaimana? Saat aku berusaha mendekat, kamu terus mendorongku menjauh. Tapi saat aku menjauh, kamu membuatku merasa seperti orang jahat.


Andai saja kamu bisa mendengar isi hatiku. Aku ingin sekali memberontak atas keputusanku. Aku ingin menulis kembali takdirku bersamamu. Aku pun merasakan sakit, sama sepertimu.


"Vee, kita pergi sekarang?" tanyaku pada Viona.


"Oke. Kami duluan, ya." Viona melambai pada Luna dan Gilang yang masih duduk di kursi.


"Ah, iya." Aku kembali berbalik dan melangkah ke hadapan Luna. "Kamu pernah bicara soal apel yang membunuh Snow White, bukan? Apel itu memang telah meracuninya, tapi dia tidak mati. Aku harap, jika Snow White itu memang ada, semoga dia tetap bisa bertahan sampai pangeran datang untuk membangunkannya."


Sungguh aku berharap, jawabanku itu adalah jawaban yang terbaik untukmu, Luna.


***


"Bagusan yang mana, Ga?" Papa menyodorkan dua cincin padaku.


"Dua-duanya bagus," jawabku asal saja.


"Pilih satu saja! Harganya, kan mahal. Masa' iya beli dua," gerutu papa. "Kamu suka yang mana?"


"Kok, malah tanya aku? Aku nggak paham beginian," kesalku. "Harusnya tadi langsung ngajak mama aja, biar dia pilih sendiri."


"Namanya bukan kejutan, dong!" geram papa.


"Atau ngajak Jesika gitu."


"Si Jesi rempong. Nggak bisa jaga rahasia," kata papa.


"Kalau gitu, minta pendapat si Mbak pegawai ajalah! Bikin pusing."


Ada-ada saja suami mamaku ini. Mau beli cincin untuk anniversary pernikahannya malah anak gantengnya yang disuruh pilih. Mana cocok seleraku dan selera mama.


"Kalau umpama kamu mau ngelamar seorang gadis, cincin mana yang kamu pilih?"


"Hem?!"


Aku sedikit terhenyak mendengar pertanyaan papa. Senyum jahil terlihat menghiasi wajahnya.


Aku mengamati deretan cincin di etalase toko emas itu. Banyak sekali modelnya dan kurasa aku pun sama bingungnya seperti papa.


"Yang itu." Aku menujuk pada sebuah cincin berwarna putih polos dengan sebuah berlian kecil yang tertanam di dalamnya.


"Sangat sederhana," gumam papa.


Iya, begitu sederhana, tapi cantik. Pasti akan cocok jika melingkar di jari manisnya.


"Siapa yang terlintas di pikiranmu?"


"Ya?!"


Pertanyaan papa membuyarkan lamunanku.


"Enggak. Nggak ada," kilahku.


Papa nampak tersenyum mengamati ekspresiku.


"Ini, Pak." Sebuah bungkusan kecil berhias pita merah diberikan si Mbak pegawai pada papa.


"Terima kasih," kata papa. "Ayok!"


Barang sudah didapat dan aku ingin segera pulang. Paling malas juga kalau ke pusat perbelanjaan begini. Aku lebih suka menghabiskan hari liburku untuk main game di rumah.


"Novel terbarunya Sibel Eraslan ada nggak, Mbak?"


Sebuah suara yang membuatku ingin melihat pemiliknya. Seorang gadis yang tengah berdiri di depan rak toko buku. Gadis dengan ranbut panjangnya yang tergerai.


"Oh? Apa kabar, Om?" Gadis itu menundukkan kepalanya.


"Baik. Kamu sedang cari buku?"


"Iya."


"Oh begitu." Papa nampak mengangguk-anggukkan kepalanya. "Arga juga mau cari buku."


"Apa?!" pekikku.


"Kamu cari bukumu dulu, gih! Papa pulang naik taksi saja," kata papa sambil menepuk-nepuk pundakku. "Jangan pulang terlalu malam, ya! Sampai jumpa, Luna."


"Iya, Om."


Wah, Papa! Haruskah aku berterima kasih? Papa benar-benar mengerti perasaanku.


"Kebetulan sekali kita bertemu di sini," kataku berusaha memecah keheningan.


"He'em."


Canggungnya! Sejak hubungan kami benar-benar berakhir, lidahku serasa keluh kalau bicara padanya.


"A--aku ... aku duluan," katanya seraya berlalu meninggalkan toko buku itu.


Aku meletakkan buku yang kupegang dan berlari mengejarnya.


"Luna, tunggu! Tunggu sebentar!" Aku menarik lengannya. "A--aku ... aku akan mengantarmu pulang."


"Enggak. Nggak perlu," tolaknya.


"Sekali ini saja!" seruku. "Ada yang ingin aku katakan padamu. Aku mohon!"


***


Kami pun menyusuri jalanan kota yang nampak lengang malam itu karena guyuran gemericik air hujan.


"Aku harap, Viona tak mengetahui apa pun tentang kita," katanya.


"Kenapa?"


"Aku nggak mau membuatnya sakit hati."


"Kamu sendiri?" tanyaku. "Apa kamu nggak sakit hati melihatku bersama Viona?"


"Sakit," jawabnya.


Refleks, aku menoleh pada gadis yang duduk di sampingku itu. Tapi kemudian kembali fokus ke jalanan di depanku.


"Tapi cukup aku saja yang merasa sakit, orang lain nggak boleh tersakiti karena aku," lanjutnya. "Aku akan segera melupakan semuanya, kamu nggak usah khawatir!"


Aku juga tak ingin mengkhawatirkan segala keadaan ini. Tapi semakin aku melihatnya, semakin aku tak ingin melepasnya.


"Hidup itu seperti sebuah perjalanan, Arga," ucapnya. "Di setiap perjalanan, pasti akan menyisakan sebuah kenangan. Entah itu kenangan baik atau kenangan buruk. Tetap saja itu akan menjadi bagian dari perjalanan hidup. Entah akan jadi seperti apa hidupku ke depannya. Aku hanya berharap, aku tak sampai menyakiti orang lain. Termasuk kamu, Arga."


"Saat ini, kamu sedang menyakitiku, Luna," ucapku.


Hatiku terasa amat bergemuruh, panas, sesak dan jantungku terasa diremas.


Jika benar hidup bagai sebuah perjalanan, maka aku berharap, perjalanan yang amat melelahkan ini akan menjadi sebuah obat. Semoga obat itu, bisa membuat seseorang untuk sejenak beristirahat dari segala penderitaannya. Aku harap begitu.


***


APARTEMENT LUNA


"Terima kasih sudah mengantarku," kata Luna.


"He'em. Sama-sama."


Luna! Bahkan ketika dia ada di hadapanku, rasanya begitu jauh.


"Luna."


"Mama?!"


"Apa-apaan ini?! Kamu masih berhubungan dengannya?!" teriak Tante Clara.


"Enggak, Ma. Tadi kami cuma---"


"Diam!" bentak Tante Clara.


Wanita itu berjalan mendekatiku. Matanya merah dengan tarikan nafas yang berat. Sejak awal aku tahu kalau dia amat membenciku dan aku tahu alasannya.


"Astaga! Dengan melihatmu saja, aku langsung teringat masa laluku yang hancur karena ibumu," desisnya. "Aku benci kalian semua."


"Tante, saya tahu dengan pasti kejadiannya. Saya pun tahu alasan Tante sampai membenci anak Tante sendiri," kataku dengan menahan emosi di ubun-ubunku. "Tapi, tidakkah ini terlalu konyol? Tante, papa dan mama sayalah yang punya permasalahan, kenapa harus kami yang menanggungnya? Kenapa Tante melampiaskan kemarahan Tante pada Luna? Kenapaaaa?!" teriakku.


"Berani sekali, kamu!" seru Tante Clara bersamaan dengan telapak tangannya yang mendarat di pipiku.


"Seorang ibu yang membuang anaknya ke panti asuhan, tidaklah pantas disebut sebagai seorang ibu. Tante jahat sekali--seperti monster."


"Apa katamu?!"


"Arga, hentikan!" Luna meraih tanganku.


"Aku akan mengakhiri semua dengan Luna, tapi dengan satu syarat," kataku. "Jika aku melihat luka lebam ada di tubuhnya, akan aku pastikan kalau kalian bertiga--Tante, papa dan juga mamaku--kalian tak akan melihat kami lagi."


"Sudah gila, kamu!"


"Ya, sama gilanya seperti masa lalu kalian!" teriakku. "Jangan coba-coba menyentuhnya, jangan pernah!"


"Luna, masuk!" Tante Clara menarik lengan Luna.


"Arga," lirih Luna.


"Mama bilang masuk!"


Suara keras dari bantingan pintu besi itu seakan membuat hatiku semakin keras.


"Brengsek! Brengsek! Brengsek!" Kupukul-pukulkan genggaman tanganku pada tembok apartement itu.


Tubuhku serasa lemas termakan amarahku. Hingga aku hanya bisa bersandar dan duduk di depan pintu besi itu.


Relakan ... relakan ... relakan!


Tentu itu yang aku inginkan. Tapi kini aku berkabung, berselimut dengan warna hitam. Sebuah kekuatan besar yang tak akan bisa kukalahkan. Itulah takdir dan segala hal yang telah memisahkan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=