WILL YOU MARRY ME?

WILL YOU MARRY ME?
Part 38


(pov ARGA)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌾🌸🌾


*Kamu bagai dandelion ...


Terbawa angin pun ...


Kamu masih terus bertahan ...


Kamu bagai dandelion ...


Tetap terlihat cantik ...


Meski angin coba untuk mencabik* ...


🌾🌸🌾


---------------------------------------------------------------------


"Rhesa Dayana Putri. Luar biasa!" Wanita itu menepuk-nepukkan kedua telapak tangannya dengan tersenyum sinis. "Long time no see, Nyonya Dirga Mahesa Rizaski."


"Clara?!"


"Hahaha ... astaga, lucu sekali! Rupanya anak-anak kita punya hubungan spesial, ya? Aku baru tahu, lho. Sepertinya kita ini memang berjodoh, ya, Rhes."


Ada yang tak beres di sini. Sepertinya mereka saling mengenal. Tapi kelihatannya hubungan mereka tidaklah baik. Itu terlihat jelas dari ekspresi wajah mama. Kulitnya yang putih itu mendadak memerah dengan nafas yang mulai terlihat memburu menahan emosi.


"Apa maksudnya ini?" Suara mama terdengar bergetar.


"Kamu masih belum mengerti juga rupanya?" Wanita itu berjalan mendekat ke arah mama.


"Anak tercintamu itu sepertinya telah jatuh ke genggaman putriku. Bukannya begitu? Sudah paham sekarang?"


"Apa-apaan ini?" lirih mama.


Dipandanginya Luna yang ada dalam rangkulannya. Tubuh mama terlihat gemetar saat melepaskan tangan Luna yang melingkar di pinggangnya.


"Dia ... anakmu?" tanya mama dengan menatap tak percaya pada Luna.


"Tentu saja. Kamu nggak lihat betapa dia mirip denganku?" kata tante Clara. "Arga, kamu dan Dirga benar-benar punya tipe wanita yang sama, ya."


"Tutup mulutmu!" bentak mama.


"Hei, kenapa marah begitu? Santai saja, Rhes! Hahaha ...."


"Arga, ayo pergi dari sini!" perintah mama.


"Ayo, Luna! Kamu juga ikut dengan kami!" Aku meraih tangan Luna.


"Lepaskan dia!" seru mama.


"Apa? Tapi, Ma---"


"Arga, cepat pergi!"


Langkah kaki mama yang terhentak keras, sungguh menggambarkan betapa hatinya sedang dipenuhi amarah.


"Masuk, kamu!" Tante Clara nampak menarik tangan Luna kembali ke dalam.


"Arga!"


Itulah panggilan minta tolong darinya yang membuatku seperti orang bodoh karena tak mampu berbuat apa-apa.


Mama menyambar kunci mobil dari tanganku. Dikemudikannya mobil itu dengan kecepatan tinggi. Ada banyak pertanyaan yang terselip di kepalaku, tapi kutahan untuk melontarkannya. Aku tak mau berdebat dengan mama di jalan seperti ini. Apalagi pikirannya terlihat begitu kacau.


***


RUMAH DIRGA


"Kalian dari mana? Kenapa malam begini baru pulang?" tanya papa yang melihat kami memasuki rumah.


"Ma, ada apa sebenarnya?" Aku mulai membuka suara. "Kenapa mama seperti ini? Kenapa mama meninggalkan Luna bersama ibunya di sana? Dia bisa dipukuli lagi, Ma."


"Itu bukan urusan kita," jawab mama ketus.


"Kok, Mama gitu? Mama yang memaksa datang ke sana untuk menolong Luna. Kenapa sekarang jadi seperti ini? Ada apa sebenarnya? Mama, Arga perlu penjelasan!"


"Diam, kamu!" bentak mama. "Putuskan gadis itu! Tinggalkan dia!"


"Apa?! Kok, Mama ngomong gitu?"


"Mama nggak mau tahu, pokoknya kamu harus mengakhiri semuanya! Jangan terlibat lagi dengannya!"


"Ma ...!"


Tanpa mengindahkan perkataanku, mama terus melangkah menaiki anak tangga dengan suara hentakan kaki yang begitu kerasnya.


"Rhes, tunggu!" Papa berlari menghampiri mama. "Jangan marah-marah begitu, kita bicarakan dengan kepala dingin!"


"Jangan marah katamu?!" pekik mama.


"Ya, tapi ini bukan salah anak-anak. Kamu nggak boleh, dong melibatkan urusan pribadimu dengan urusan pribadi mereka!"


"Mas Dirga, bilang apa? Tunggu ... tunggu! Kenapa, Mas Dirga bicara seolah-olah sudah tahu segalanya?" selidik mama.


"I--itu---"


"Mas Dirga, sudah tahu?" tanya mama. "Sejak kapan? Sejak kapan, Mas Dirga tahu kalau Luna adalah anak dari wanita gila itu? Sejak kapan?!" teriak mama.


"Rhes, aku nggak bermaksud menyembunyikan ini darimu, hanya saja aku---"


"Selalu saja seperti ini!" seru mama. "Jika menyangkut wanita gila itu, Mas Dirga selalu seperti ini. Selalu berbohong ... berbohong ... dan terus berbohong padaku. Mau membuatku hancur lagi? Apa Mas Dirga mau membuatku hancur lagi, hah?!"


Melihat kemarahan mama yang semakin menjadi-jadi, papa melempar pandangannya padaku dan Jesika yang berdiri mematung melihat heran pertengkaran mereka.


"Kita bicara di dalam!" Papa menarik tangan mama dan membawanya masuk ke dalam kamar.


-------------


"Mas, Jesi nggak suka melihat mama dan papa berantem seperti itu. Jesi takut."


"Nggak apa-apa. Nggak ada apa-apa." Aku memeluk adikku yang tengah menangis itu.


Dia syok, aku pun begitu. Ini pertama kalinya kami melihat papa dan mama seperti itu. Bertengkar dan berteriak. Sebelumnya mereka tak pernah seperti itu. Tak pernah sama sekali.


Ada apa sebenarnya?


Kenapa mama bisa semarah itu?


Masa lalu seperti apa yang kami tak tahu, sampai mereka terlihat meluapkan begitu banyak kemarahan seperti itu?


***


Suasananya terasa aneh. Terlihat jelas jika perasaan mama kian memburuk.


Saat-saat sarapan di mana kami selalu bercengkeramah dan berisik, kini sunyi. Hanya dentingan suara sendok beradu dengan piring yang terdengar di telinga.


Mama diam, papa pun sama. Jesika melirikkan ekor matanya padaku dengan wajah sedihnya. Aku pun hanya bisa menghela nafas tanpa berani membuka suara.


------


Masih tersisa separuh nasi di piringnya, mama bangkit dan menyambar tas kerja di kursi sebelahnya. Mama berlalu dari hadapan kami tanpa kata.


Kulihat papa nampak memperhatikan sikap mama, namun kemudian kembali menyeruput jus jeruk di depannya.


"Jesika, cepat ambil tasmu! Papa akan mengantarmu ke sekolah," kata papa.


Adikku itu pun segera meninggalkan meja makan dan setengah berlari menuju kamarnya.


Kuperhatikan lelaki di hadapanku itu. Matanya berkantong dengan sedikit lingkaran hitam di bawah pelupuknya.


"Papa, aku ingin bertanya soal---"


"Arga, papa nggak mau membahasnya sekarang," sergah papa.


Diraihnya jas hitam yang tersampir di sandaran kursi dan berlalu dari hadapanku.


Ada apa ini? Aku sungguh tak suka suasana rumahku jadi seperti ini.


---------------


-----------------------


Aku memutar jalanku dan mendatangi suatu tempat di mana mungkin aku bisa mendapat jawaban dari segala pertanyaanku ini.


-------------------


--------------------------


"Arga?!"


"Grandma, kangen banget, deh!" Kuhadiahkan sebuah pelukan hangat pada nenekku tercinta itu.


-------


"Wah, beruntung sekali! Aku datang di saat yang tepat rupanya." Aku menuju dapur karena mencium aroma pancake durian.


"Kenapa pagi-pagi ke sini?" tanya nenek.


"Kenapa? Nggak suka, ya cucunya datang main ke sini?" Aku balik bertanya.


"Bukan begitu. Tentu saja suka. Suka sekali," katanya, sembari mengusap ujung kepalaku.


"Hanya saja, ini adalah jam kuliah. Apa yang membuatmu bolos dan datang ke sini?"


"Mungkin karena mencium bau cake buatan Grandma yang enak ini," candaku, seraya memasukkan sepotong cake ke mulutku.


"Iiiish ... mana ada!" sergah nenek. "Kamu itu persis seperti papamu, nggak pandai menyembunyikan sesuatu."


"Apaan? Grandma, kayak detektif aja, ih!"


"Sudahlah, jangan muter-muter gitu! Ayo, ngomong sama nenek! Ada apa? Masalah apa yang membawamu datang kemari?"


Kadang aku heran. Apa semua wanita peka seperti ini? Mama juga selalu bisa dengan mudah menebak isi hatiku. Nenek juga begitu. Apa mereka punya bakat menjadi seorang detektif?


"Malah bengong. Ayo, ngomong!" kata nenek.


Aku taruh separuh gigitan cakeku di piring, meneguk air putih di depanku dan kembali menata hatiku untuk menanyakan semuanya pada nenek.


"Grandma, jawab yang jujur, ya!" pintaku.


"He'em," angguknya.


"Grandma kenal nggak dengan wanita yang bernama Clara?"


"Apa?!"


Dia kenal. Dari ekspresi terkejutnya, aku bisa langsung tahu kalau nenek juga mengenalnya. Tinggal bagaimana aku memaksanya untuk menceritakan semuanya padaku.


"Siapa dia? Ada hubungan apa dengan mama dan papa?" tanyaku.


Nenek terlihat bingung. Beberapa kali dia memalingkan wajah dariku. Sekilas, reaksi syok diperlihatkannya padaku.


"Grandma, tolong katakan yang sebenarnya!" Aku memohon dengan penuh harap. "Aku benar-benar ingin tahu."


"Soal wanita itu, dari mana kamu mendengar namanya?"


"Aku bertemu dengannya."


"Apa?!" pekik nenek. "Bagaimana ... bagaimana bisa kamu ..."


"Aku sedang dekat dengan seorang gadis dan gadis itu ternyata anak dari wanita yang bernama Clara."


"Astaga!" seru nenek dengan mengatupkan jemari di mulutnya.


"Saat mama dan papa mengetahui itu, mereka bertengkar hebat. Mama sangat marah. Benar-benar sangat marah. Ada apa sebenarnya? Kenapa papa dan mama sampai seperti itu?"


Lagi-lagi nenek diam. Wajahnya terlihat mulai memucat dan kebingungan.


"Grandma, jujur padaku! Aku sungguh ingin tahu."


"Arga, lepaskan gadis itu!"


"Apa?!" pekikku. "Kenapa begitu? Kenapa ucapan kalian semua sama?"


Aku mulai beremosi dan terhenyak dari dudukku.


"Mama, papa dan bahkan grandma pun begini. Kalian menyuruhku melepasnya tapi nggak memberiku alasan pastinya," kataku, dengan menahan kesal. "Enggak. Aku nggak akan melepaskannya. Aku mencintainya. Aku nggak akan meninggalkannya hanya karena situasi nggak jelas dan nggak masuk akal ini. Yang aku sendiri pun bahkan nggak mengerti apa yang sebenarnya terjadi."


Sepertinya percuma saja aku datang ke sini. Nenek pun sama saja. Aku beranjak dari dudukku dan melangkah dari hadapan ibu dari papaku itu.


"Clara--dia mantan istri Dirga."


Apa? Apa itu barusan?


Aku kembali menghampiri nenek dan menatap tajam padanya.


"Mantan ... istri? Dia dan ... papa?"


"Iya."


"Enggak. Nggak mungkin."


Tubuhku lemas seketika. Pikiranku melayang entah kemana. Aku kembali meraih kursi di depanku dan berusaha menguasai kembali diriku.


"Clara adalah teman sekolah Dirga. Dia tak punya teman selain Dirga. Keluarganya mencampakkannya. Saat Dirga menikah, dia mulai kehilangan kendali. Dia berusaha keras menghancurkan pernikahan Dirga dan Rhesa, sampai dia mengancam akan bunuh diri."


"Apa?!"


"Sampai suatu hari, dia menjebak papamu. Dia mengatakan bahwa anak yang dikandungnya adalah anak Dirga dan akhirnya papamu menikahinya."


"Bagaimana dengan mama?" tanyaku.


"Dirga menikahi Clara sebagai istri kedua atas ijin Rhesa," kata nenek. "Tapi segala tekanan yang Rhesa rasakan, akhirnya membuat dia menyerah. Rhesa pun akhirnya meminta cerai."


"Cerai?!" pekikku.


Nenek mengangguk dengan sesekali meneguk air putih di hadapannya.


"Saat Rhesa pergi ke Amerika untuk melanjutkan S2, saat itulah dia mengandungmu. Dia menyembunyikan keberadaanmu dari kami selama empat tahun."


"Jadi, selama empat tahun aku hidup di Amerika itu karena mama dan papa bercerai?"


"He'em."


"Apa-apaan ini? Kenapa aku tak tahu apa-apa?"


Kurasakan sebuah bulir hangat mengalir di pipiku. Deras dan semakin deras. Hatiku terasa begitu sakit, amat sakit sampai nafasku sesak.


Jadi semua cerita yang papa dan mama katakan padaku itu bohong. Aku yang selalu penasaran alasan aku ikut mama tinggal di Amerika tanpa papa. Mereka selalu beralasan papa mengurus kerjaan dan mama harus menyelesaiakan pendidikannya. Mereka berbohong padaku. Mereka menutupi kisah menyedihkan ini dariku selama puluhan tahun.


***


21.15 WIB


RUMAH DIRGA


Aku melangkah berat memasuki rumah. Kulempar ransel dan hoodieku ke sofa ruang tamu. Langkahku tercekat saat pandanganku terhenti pada sosok wanita yang berdiri menatap bunga-bunga kesayangannya di taman samping rumah.


Hatiku sedikit nyeri saat melihat punggungnya yang nampak kecil dari kejauhan. Mataku kembali terasa panas dan berembun.


"Mama." Aku memeluk tubuh kecil itu dari belakang. "Maaf! Maafkan Arga, Ma!"


"Arga?"


Dia wanita yang mengandungku sendirian tanpa didampingi suaminya.


Dia wanita yang menahan sakit saat melahirkanku seorang diri, tanpa keluarga yang menemaninya.


Dia yang bekerja dan menjagaku sendiri dan itu pasti sebuah beban berat untuknya.


Selapang apa hatimu, Mama?


Mama bahkan menyimpan segala duka itu sendirian tanpa membaginya denganku.


Mama, aku tak pernah tahu ada sejuta kepedihan di balik setiap senyummu untukku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=