WILL YOU MARRY ME?

WILL YOU MARRY ME?
Part 13


(pov DIRGA)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🍁🍁🍁


Adalah sebuah komitmen ...


Adalah yang tersulit ...


Dari menjalin hubungan ...


Menjaganya ...


Agar tak sampai hancur ...


Agar tak saling menyakiti ...


Karena sebuah komitmen ...


Lebih mudah untuk dihancurkan ...


Daripada dipertahankan ...


🍁🍁🍁


---------------------------------------------------------------------


"Kamu belum tidur?"


Kulihat Rhesa masih duduk di depan meja rias saat aku masuk ke dalam kamar. Saat itu, hampir jam dua belas malam.


Rhesa berdiri menatapku dengan pandangan penuh amarah. Aku tahu ini akan terjadi. Sekarang dia bisa menunjukkan perasaannya terang-terangan padaku.


"Sayang, aku..."


Rhesa langsung menepis tanganku saat aku hendak menyentuhnya.


"Mas Dirga nggak perlu menjelaskan apapun! Aku udah pernah mengalami hal ini sebelumnya ... di malam pernikahan kita!"


Benar. Saat itu juga begini. Aku yang meninggalkannya di malam pertama kami karena Clara mencoba bunuh diri. Yang berujung pada surat perjanjian pernikahan kami.


"Aku dan Clara ... hubungan kami, nggak seperti yang kamu bayangkan."


"Aku tahu!" sergahnya. "Mas Dirga sudah berulang kali mengatakan itu ... dari dulu!" ucapnya, dingin.


Kali ini Rhesa benar-benar terlihat marah. Aku belum pernah melihatnya berekspresi seperti ini sebelumnya.


"Kamu nggak percaya padaku?" tanyaku.


"Apa yang bisa kamu jaminkan agar aku percaya padamu?"


"Rhesa ..."


"Mas Dirga!" sahutnya. "Bisakah kamu bayangkan, gimana perasaan seorang istri yang melihat suaminya menemui wanita lain? Dan wanita yang dia temui itu, jelas-jelas menyukainya. Kamu bisa bayangkan bagaimana rasanya, hah?!" teriaknya padaku.


Kulihat nafasnya naik turun. Dia berusaha menahan emosi yang bergejolak di dadanya.


Kuraih tangannya dan kupeluk dia erat. Kurasakan tubuhnya masih bergetar menahan amarah.


"Ada hal-hal yang belum bisa aku katakan padamu soal Clara. Ini masalah pribadinya. Aku nggak mau kamu masuk ke dalamnya."


"Lepaskan!" Rhesa berusaha mendorongku menjauh tapi aku semakin erat memeluknya.


"Kamulah satu-satunya wanita yang mengisi seluruh hatiku. Nggak ada tempat lagi untuk wanita lain ... siapapun itu. Dengan segenap hatiku, Rhesa ... aku sungguh mencintaimu. Aku mohon, percaya padaku!"


Kutatap wajahnya yang nampak sedih. Kuseka bulir bening di sudut matanya.


"Bagaimana aku bisa mengkhianatimu, jika setiap detik dalam hidupku, aku selalu jatuh cinta padamu?" bisikku.


Air mukanya mulai menghangat. Amarah itu perlahan meninggalkan hatinya, ketika dihadiahkan sebuah kecupan di puncak kepalanya.


-----------------------------


-----------------------------


CAFE


"Ngapain, sih aku mesti ikutan ke cafe?" tanya Rhesa, saat kami ada di pintu masuk.


"Sebentar saja! Aku ingin kamu melihat sesuatu!" bujukku.


Akhirnya aku berhasil membawanya ikut bersamaku ke acara pernikahan Tante Heny di cafe.


---------------


"Kenapa dia ada di sini?!" Rhesa terperanjat saat melihat Clara ada di ruanganku.


"Memangnya kenapa kalau aku ada di sini?!" kata Clara sinis. "Dirgalah yang membawaku ke sini tadi malam!"


Rhesa menatap Clara dengan pandangan berapi-api. Sesaat dia beralih melempar pandang padaku. Melihatku dengan wajah penuh kemarahan.


"Aku mau pergi dari sini!" kata Rhesa, berlalu dari ruanganku.


"Sayang, tunggu!" Aku menarik tangannya. "Kita bicara sebentar, okey?"


----------


Aku pun membawa Rhesa ke ruang belakang cafe dan memceritakan semua hal tentang Clara. Juga masa lalunya bersama ibunya.


"Aku membawanya ke sini karena cafe ini buka 24 jam," kataku. "Di sini banyak orang, jadi dia nggak akan berbuat macam-macam."


"Kenapa Mas Dirga nggak bilang padaku soal ini sejak awal?!" serunya.


"Maaf! Tapi aku merasa ini privasi Clara. Aku nggak mau menceritakan ini pada sembarang orang. Aku takut dia semakin depresi dan ... bunuh diri."


"Karena itulah aku membawanya ke sini. Aku ingin dia datang ke pernikahan ibunya. Aku ingin dia memperbaiki hubungan dengan ibunya. Agar dia nggak terus bergantung padaku," kataku, menjelaskan. "Aku mohon, Rhesa! Tenangkan sedikit dirimu!"


Rhesa memalingkan wajahnya dariku dengan penuh kekesalan.


"Pestanya bentar lagi dimulai, ayo kita ke sana!" ajakku.


--------------------


"Terima kasih kamu mau datang ke sini, Clara," kata Tante Heny.


Clara masih tak bergeming. Malah terus memalingkan wajahnya.


"Maaf!" kata Tante Heny. "Tolong maafkan mama, Nak!"


Air mata mulai menetes dari mata ibu Clara itu.


"Ini hari pernikahanmu, jangan menangis!" Clara tiba-tiba membuka suara.


"Mama ingin memperbaiki semua. Maukah ... kamu memberi Mama kesempatan?"


Clara menatap nanar wanita di depannya.


"Apa kamu tak membenciku lagi?" ucap Clara, dengan suara bergetar.


"Sesungguhnya ... aku sangat takut ... bahkan untuk melihatmu."


Wanita nampak mengamati ekspresi Clara. Perlahan menggerakkan tangannya untuk menggapai tubuh anaknya itu.


Sesaat Clara terlihat melangkah mundur. Tapi kemudian, dia tiba-tiba mencekat langkahnya. Tante Heny pun segera menghambur memelukmya erat.


"Maafkan, Mama! Maafkan Mama, Clara! Maafkan manusia yang seperti monster ini, Nak! Maafkan!" Air mata wanita itu mulai mengalir menganak sungai.


"Mama ..."


Kata-kata maaflah yang terus keluar dari mulut Tante Heny dengan diiringi isak tangis yang menjadi-jadi.


Clara pun terlihat menangis karena ibunya saat ini. Tapi berbeda dengan dulu, kali ini ada raut wajah bahagia di balik air matanya.


Aku merasa lega untukmu, Clara.


-----------------


-----------------


"Aku ingin bertanya satu hal padamu," kata Rhesa pada Clara, saat mereka duduk menikmati pesta.


Soal apa?" tanya Clara, dingin.


"Di hari pernikahanku malam itu, kenapa kamu mencoba bunuh diri?"


Clara nampak tersentak mendengar pertanyaan Rhesa.


"Apa kamu menyukai suamiku?" tanya Rhesa.


"Dirga adalah temanku," jawab Clara.


"Aku tahu!" sergah Rhesa. "Apa kamu menyukai temanmu itu?"


"Kamu!" geram Clara.


"Clara!" sahut Rhesa. "Aku emang nggak ngerti gimana rasanya ada di posisimu. Tapi, bukankah nggak pantas bagimu untuk selalu berlari ke suamiku saat masalah datang menghampirimu."


"Apa saat ini, kamu sedang memperingatkanku?!" Clara nampak emosi.


"Tidak! Aku hanya sedang berusaha menjaga suamiku dari wanita yang ingin mencurinya dariku," ucap Rhesa, dengan nada mengejek.


"Jika kamu ingin teman, maka tak harus suamiku. Kamu pun bisa berteman denganku."


"Hah?! Haha ...haha ...!" Clara tertawa


"Dari awal, aku sama sekali tak punya niat untuk berdamai denganmu. Apalagi menjalin pertemanan. Jangan konyol! Asal kamu tahu saja. Dirga itu satu-satunya tempat yang akan aku datangi. Kamu bahkan tidak tahu seberapa dekat hubungan kami, kan?"


"Ohw ... jadi dari awal kamu memang ingin masuk di antara kami?" Rhesa mulai emosi.


"Jika memang ada kesempatan. Tunggu saja!"


"Wah! Aku tak percaya ada wanita gila sepertimu," cibir Rhesa.


"Lebih baik, kamu jaga baik-baik suamimu itu, sebelum aku benar-benar mengambilnya darimu!"


"Dasar, sinting!" geram Rhesa.


Clara pun meninggalkan Rhesa dengan hati yang berkecamuk ingin meremas wajahnya.


--------------


PERJALANAN PULANG


"Mas Dirga!"


"Hem?"


"Aku harap, Mas Dirga bisa menjaga diri dengan baik dari wanita-wanita sinting yang nggak punya otak!" katanya, geram.


"Kamu kenapa, sih?" Aku sedikit tertawa mendengar gerutuannya. "Aku hanya akan mencintaimu. Nggak ada yang lain!"


"Ya, semoga saja!"


Aku tahu saat ini dia masih cemburu dengan Clara. Biarlah! Aku suka saat dia cemburu seperti ini. Aku jadi merasa benar-benar dicintai.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=