WILL YOU MARRY ME?

WILL YOU MARRY ME?
Part 8


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


πŸŒΎπŸ€πŸŒΎ


Kadang aku melihatnya berbeda ...


Bukan kawan ...


Bukan juga saudara ...


Kadang aku melihatnya berbeda ...


Hatiku yang bimbang ...


Begitu sulit menafsirkan sebuah rasa ...


πŸŒΎπŸ€πŸŒΎ


---------------------------------------------------------------------


"Cindy ... anak itu---" Karina membuka suara.


"Sepertinya dia bekerja sebagai Lady Escort ilegal."


"Apa?!" Mas Dirga dan Kak Sony terlihat amat terkejut.


"Aku yakin ada yang nggak beres di sini. Cindy nggak mungkin dengan suka rela bekerja kayak gini." Karina terlihat berapi-api.


"Apa kamu tahu siapa yang membawanya?" tanya Mas Dirga.


"Menurut informan yang aku sewa, orang yang bersama Cindy adalah Tanto Wijaya. Pemilik toko emas tujuh cabang terbesar di kota ini." Karina menjelaskan. "Kalian berdua pasti punya kartu akses untuk masuk ke dalam, 'kan?"


Kedua lelaki itu nampak saling menatap. Kebingungan mulai terlihat dari air muka mereka.


"Okey! Aku yang akan masuk ke dalam," kata Mas Dirga tiba-tiba.


"Ga, kamu nggak akan bisa masuk tanpa membawa Lady Escort," kata Kak Sony.


"Apa aku harus ikut bersamamu?" tanya Karina.


"Jangan!" larang Kak Sony. "Jika ketahuan kalau kamu wanita dari keluarga JAYA, kita akan dapat masalah."


Mereka kembali nampak berpikir. Akulah yang paling tak mengerti dengan situasi yang terjadi saat ini.


"Aku yang akan masuk ke sana."


"Rhes!" pekik Mas Dirga. "Jangan bercanda! Di dalam mungkin berbahaya."


"Terus, apa kita akan kebingungan di sini sampai sesuatu yang buruk terjadi pada Cindy?" Mereka tak bergeming. "Mas Dirga, ijinkan aku ikut bersamamu! Aku percayan, kamu akan melindungiku."


Suamiku itu masih menatapku dengan penuh kekhawatiran.


"Son, hubungi satuan keamanan Mahesa Corp! Jika dalam satu jam kami nggak keluar, bawa mereka masuk!" perintah Mas Dirga.


"Oke, aku mengerti!" jawab Kak Sony.


"Karina, ambulance dan paramedis Rumah Sakitmu harus siaga jika ada sesuatu yang nggak diinginkan terjadi!"


"Oke, Dirga! Aku paham," jawab Karina.


"Rhesa, kamu siap?"


"He'em."


---------------------


Kami pun menuju gedung VVIP STORE. Dari depan pun tempat ini terlihat menyeramkan.


"Sebenarnya, apa itu Lady Escort?" tanyaku, saat kami menuju pintu gedung tersebut.


"Di kalangan pengusaha, sering mereka menggunakan jasa wanita yang berpenampilan menarik dan lincah untuk memoderatori mereka dengan klien, untuk mempermudah mendapatkan kontrak," kata Mas Dirga. "Akan tetapi, ada pengusaha nakal dan penjudi yang malah menggunakan Lady Escort untuk ditukarkan dengan saham atau pun dipertaruhkan di atas meja judi."


"Apa?!" Aku sungguh terkejut mendengarnya.


"Maksudmu, saat ini Cindy sedang jadi bahan taruhan?"


"Semoga saja tidak. Karena itulah kita di sini untuk menolongnya."


---------------


Ketika kami sampai di ambang pintu, seorang penjaga tiba-tiba menghadang kami.


"Kalian tidak bisa masuk! Ini bukan tempat bermain anak-anak," kata si penjaga.


"Astaga! Apa aku kelihatan seperti remaja 17 tahun saat memakai baju santai begini?"


Mas Dirga pun mengeluarkan sebuah kartu berwarna emas dari dalam dompetnya dan memberikannya pada si penjaga.


"Maaf, Tuan saya tidak mengenali Anda!" Tiba-tiba penjaga itu menghormat pada suamiku. "Silakan masuk, Tuan Dirga Mahesa Rizaski!"


Amazing! Apa itu tadi? Sebenernya kartu ajaib apa yang dibawa suamiku sampai membuat penjaga itu menghormat padanya?


------------


Aku berdecak keheranan begitu melihat pemandangan di dalam.


Banyak pria-pria berdasi sedang bermain judi. Dan di sisi setiap mereka, ada wanita cantik yang menemani. Inikah yang dimaksud Mas Dirga dengan Lady Escort?


"Mas Dirga, tempat apa ini?" bisikku.


"Perjudian ilegal," katanya, sembari menarik tanganku mendekat. "Jangan jauh-jauh dariku!"


Aku pun mengikuti arah langkahnya.


----------


"I--itu Cindy!" tunjukku, saat kami ada di ruangan bertuliskan GOLDEN ROOM.


"Ayo!" Mas Dirga kembali mempercepat langkah kakinya.


---------


"Ada lagi yang mau melawanku?!" teriak pria yang berada di sebelah Cindy.


"Anda menang telak hari ini, Pak Bos," kata salah seorang penjudi lain.


"Hahaha ... semua berkat Lady Escortku yang cantik ini. Dia membawa banyak keberuntungan untukku."


Geram rasanya melihat pria itu mencoba mengelus lengan Cindy.


"Bagaimana jika kita bermain bersama, Tuan Tanto Wijaya?" kata Mas Dirga, pada pria tua yang bersama Cindy.


Kali ini semua mata tertuju padanya. Cindy pun nampak terkejut melihat kami berdua ada di hadapannya.


"Siapa, kau? Berani sekali anak kecil menantangku," geram pria itu.


Mas Dirga menyodorkan kartu nama pada pria yang dipanggilnya Tanto wijaya itu.


"Dirga Mahesa Rizaski?" gumam Tanto Wijaya. "Ohw ... jadi, kau pewaris tunggal Mahesa Corporation?"


"Suatu kehormatan, Anda bisa langsung mengenali saya, Tuan!" Mas Dirga sedikit membungkukkan kepalanya.


"Hahaha ... menarik sekali!" Pria itu nampak mamandang remeh suamiku. "Bukan Direktur Mahesa yang datang, melainkan putra mahkotanya. Luar biasa!"


Mas Dirga hanya mengulum senyum mendengar ucapan pria itu.


"Apa yang akan dipertaruhkan oleh sang pangeran?" Kembali pria itu berusaha menyindir Mas Dirga.


Suamiku itu mengeluarkan setumpuk uang Dolar USA. Entah berapa nilainya. Tapi tumpukan uang itu membuat mata orang di sekitarnya seperti hendak keluar pupilnya.


Sepertinya, dia benar-benar sudah melakukan persiapan sebelum datang ke tempat ini.


"Ayo, kita mulai permainannya!" Tanto Wijaya memberi instruksi.


--------


Pekerja di tempat itu pun mengocok kartunya dan membaginya pada Mas Dirga dan pria tua itu.


Putaran pertama pun dimulai. Pria tua itu terlihat santai dengan senyum menyebalkan.


Herannya, Mas Dirga pun terlihat biasa saja, seperti sudah terbiasa.


--------


15 Menit Kemudian


"Sial!" seru Tanto Wijaya.


Pekerja itu mengambil uang yang dipertaruhkan Tanto Wijaya dan dipidahkannya ke meja Mas Dirga.


"Sepertinya saya hanya beruntung. Ini kali pertama saya bermain," kata Mas Dirga, dengan senyum menghias wajahnya seperti biasa.


"Tentu saja. Ayo kita lanjutkan lagi! Aku hanya belum serius tadi. Kali ini akan aku pertaruhkan seluruh emas batangan yang aku bawa. Aku yakin pasti akan menang. Hahaha ...." Pria itu benar-benar tak ingin dipermalukan.


Putaran kedua pun dimulai. Kali ini pria tua itu nampak lebih serius. Namun, Mas Dirga masih terlihat biasa saja.


---------


10 Menit Kemudian


Pria itu menjabar kartunya di meja.


Mas Dirga pun meletakkan kartunya di meja.


"Straight?!" Semua orang nampak berseru.


Kulihat sebuah sunggingan senyum sinis di bibir suamiku.


"Sepertinya saya beruntung lagi," kata Mas Dirga.


"Br*ngs*k!" Pria itu pun beringsut dari kursinya dan menarik lengan Cindy.


"Anda mau ke mana? Kita masih punya satu putaran lagi," kata Mas Dirga.


"Kau bercanda? Apa kau sedang mengejekku sekarang?!" Pria itu nampak dipenuhi emosi.


"Kau sudah mengambil semua yang aku punya. Aku sudah tak punya apapun lagi untuk dipertaruhkan."


"Tidak," sergah Mas Dirga. "Anda masih punya sesuatu yang bisa Anda pertaruhkan."


Pria tua itu mengernyit bingung.


"Dia!" Mas Dirga menunjuk ke arah Cindy.


"Pertaruhkan Lady Escort Anda!"


Apa katanya? Kenapa dia ingin Cindy dipertaruhkan? Apa yang dia rencanakan?


"Tidak. Dia masih ada urusan denganku. Aku tak bisa mempertaruhkannya," Pria itu bersikukuh.


"Bagaimana jika saya pertaruhkan semua yang saya dapat sekarang dan ... 20% saham saya di Mahesa Corporation?!"


"Wah ... fantastis! Terima saja!"


"Kau bisa hidup enak tanpa bekerja!"


Suara-suara riuh itu mulai membuat bimbang Tanto Wijaya.


"Baiklah, akan aku pertaruhkan Lady Escort milikku," jawab Tanto Wijaya.


"Bagus!" Mas Dirga menyeringai puas.


Kali ini, baik Tanto Wijaya maupun Mas Dirga, mereka sama-sama terlihat serius. Wajah Cindy pun terlihat amat cemas. Entah bagaimana alur permainan ini, aku tak mengerti. Aku hanya berharap, Mas Dirga bisa memenangkannya dan menyelamatkan Cindy.


-------------


Mas Dirga menjabar kartunya di meja.


"Wah lihat, itu Full House!" teriak orang-orang yang sedang menyaksikan.


"Br*ngs*k!" Pria itu menggebrak meja dengan menatap tajam pada suamiku. "Kau pasti curang. Aku tak mungkin kalah dari anak kecil sepertimu."


"Curang?" Mas Dirga tersenyum sinis. "Aku nggak perlu curang untuk melawan orang sepertimu," katanya mulai beremosi.


"Sialan!" umpatnya, dengan wajah meradang.


"Berikan!" Mas Dirga mengulurkan tangannya.


"Berikan Lady Escortmu padaku, sekarang juga!"


Cindy pun langsung melepaskan diri dari genggaman pria itu dan berlari memelukku.


"Nggak apa, Cindy. Ini sudah berakhir. Ayo, kita keluar dari sini!" kataku, sambil membawa Cindy menuju pintu keluar.


-----------


"Aaaarghhh ... lepaskan!" Seorang pria menjambak dan menarik rambut Cindy dan dihempaskannya Cindy ke tembok.


"Cindy! Lepaskan dia! Akh!" Body guard bertubuh besar itu pun juga menghempaskanku begitu saja.


"Rhesa, kamu nggak apa-apa?"


"Aku nggak apa-apa, tapi Cindy---"


"Dia benar-benar licik!" geram Mas Dirga.


Mas Dirga menerobos para body guard Tanto Wijaya untuk melepaskan Cindy.


Aku dibuat heran sekali lagi. Suamiku yang selalu bersikap lembut dengan senyumnya yang manis, sekarang dia malah sedang berkelahi sampai sebegitunya.


"Cindy, cepat pergi dari sini dan cari bantuan!" seru Mas Dirga.


Cindy yang berhasil melepaskan diri, langsung berlari ke arah pintu keluar. Sementara itu, Mas Dirga masih terus berkelahi dengan para body guard Tanto Wijaya.


"Berhenti sampai di situ atau pisau ini akan mengukir kulit indah wanitamu!"


"Mas Dirgaaa!" teriakku.


"Rhesa?!"


Pria tua ini benar-benar bejat. Dia menggunakan aku untuk menghentikan pergerakan Mas Dirga.


"Br*ngs*k! Lepaskan dia!" teriak Mas Dirga.


"Hahaha ... sepertinya kau juga sangat menyukai Lady Escortmu ini, ya?" Tanto Wijaya menyeringai. "Lady Escortku pun sama berharganya. Dia tak bisa aku lepaskan sebelum hutang-hutang ayahnya padaku lunas. Kalau perlu, aku akan menjualnya."


"Tua bangka gila!" hardik Mas Dirga.


"Jangan berani-berani mendekat atau gadis ini akan mengucurkan banyak darah!"


"Jangan berani-berani menyentuhnya, sialan!" teriak Mas Dirga.


"Kalian!" Tanto Wijaya memanggil para bodyguardnya. "Hajar dia!"


"Tidak. Mas Dirga! Hentikaaan!"


Demi aku, dia menerima semua pukulan dan tendangan orang-orang jahat itu tanpa melawan sedikit pun. Mas Dirga semakin terlihat kesakitan. Kemeja putihnya sudah menampakkan noda-noda darah.


Tidak. Aku tak sanggup melihatnya. Suamiku itu, aku tak mau melihatnya diperlakukan seperti itu.


"Hentikan ... hentikaan ...!" teriakku.


----------------


"Dirgaaa!" seru Kak Sony.


Tiba-tiba Kak Sony datang diikuti beberapa pria berbaju hitam dengan tubuh tinggi besar. Mereka menghajar Tanto Wijaya beserta para body guardnya dengan sangat cepat. Tanpa tersisa.


----------------------------


----------------------------


RUMAH SAKIT JAYA MEDIKA


"Aku akan berjaga di sini. Cindy masih belum siuman. Kelihatannya dia masih sangat syok," kata Karina.


"Son, urus semuanya! Jangan sampai ada media yang tahu!" kata Mas Dirga.


"Serahkan saja padaku! Sekarang kamu pulang saja! Sudah aku pesankan taxi online di depan," kata Kak Sony.


"Guys, terima kasih untuk bantuannya," Karina nampak berkaca-kaca.


Aku pun menepuk-nepuk pundak sahabatku yang nampak khawatir itu dan berlalu meninggalkan rumah sakit.


"Mas Dirga, mau aku pinjamkan kursi roda?" tanyaku, saat melihatnya meringis menahan sakit di bagian perutnya.


"Nggak usah. Aku lebih suka bersandar ke kamu seperti ini. Hehe ...," katanya, seraya merangkulkan tangannya ke pundakku.


"Aku beneran khawatir, tahu! Malah bercanda!" geramku.


"Aku nggak apa, Rhes! Tenang aja!"


-----------------------


-----------------------


RUMAH DIRGA


"Mas Dirga, minum obatnya dulu!" kataku, seraya masuk ke kamarnya.


Tidak ada jawaban. Sepertinya dia tertidur.


Aku duduk di sisi dipannya. Melihat wajahnya yang nampak sangat lelah. Hatiku terasa amat sesak mengingat kejadian tadi. Saat dia dipukuli demi aku.


Kuletakkan tanganku di atas kepalanya. Kusibakkan rambut yang menutupi sebagian wajahnya. Ada sedikit luka di ujung dahinya.


"Ehm?" gumamnya.


"Apa aku membangunkanmu? Kamu harus minum obatnya!"


"Besok sajalah. Mataku berat sekali," keluhnya.


Mas Dirga meraih tanganku yang ada di ujung kepalanya. Menggenggamnya dan meletakkan di atas dadanya.


Sambil terus memejamkan mata dia berkata,


"Begini saja, sampai aku tertidur!"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=