
(pov ARGA)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=🍀🍁🍀
Siapa dia ...
Keberadaannya ...
Kenapa begitu menggangguku ...
🍀🍁🍀
---------------------------------------------------------------------
"Mas Arga kenapa, sih beberapa hari ini mukanya kecut gitu? Bikin sayur asem buatan mama jadi semakin asem," gerutu Jesika, saat kami sedang sarapan bersama.
Mama dan papa nampak terkekeh mendengar perkataan polos adikku itu. Dan aku semakin kesal.
Entahlah! Kalau mengingat kegagalanku mendapatkan beasiswa itu, rasanya duniaku yang penuh warna, berganti jadi abu-abu semua.
"Arga, nggak apa-apa, lupain aja!" kata papa.
"Kamu bisa mencobanya lagi tahun depan."
Aku diam. Malas rasanya menanggapi omongan papa.
"Kamu syok, karena ini kegagalan pertamamu? Karena ini adalah pertama kalinya kamu lengser dari peringkat satu?" tanya papa.
Pertanyaannya membuatku semakin frustasi.
"Ini baru di dunia sekolah, lho. Jatuh sekali kamu udah down begini," lanjut papa. "Kalau di dunia bisnis kamu kayak gini, udah pasti bangkrut perusahaanmu."
Kali ini, aku melempar pandanganku pada lelaki yang aku hornati itu. Papa nampak tersenyum tanpa kehilangan aura ketegasannya sedikit pun.
"Arga," panggilnya. "Terkadang, kita harus terjatuh berkali-kali saat kita ingin berlari. Nggak masalah jatuh, terperosok dalam. Asal jangan sampai down dan terpuruk. Kalau itu sampai terjadi, semua jalanmu akan tertutup. Hancurlah semuanya."
"Apa Arga terlihat menyedihkan?" gumamku.
"Iya, sangat menyedihkan," sahut Jesika.
"Apaan, sih? Mas Arga nggak nanya kamu," geramku.
"Honey," panggil mama. "Jadilah orang yang kuat, yang sabar, yang tenang! Kamu punya mama, punya papa. Kami akan selalu mendukungmu dan mendoakanmu."
Hah! Inilah kata-kata yang aku nantikan.
Sangat menyejukkan.
"Love you, Mom," kataku.
"Love you too, Honey," jawab mama.
"Jadi, mobilnya urung, nih?" sahut Jesika.
Mama dan papa nampak menatapku penuh tanda tanya.
"Nggak perlu," jawabku. "Sepertinya Arga belum pantas mendapatkannya."
Begini lebih baik. Aku akan memulainya dari awal dan kembali membuat bangga kedua orang tuaku yang begitu menyayangiku ini.
-------------------
--------------
"Ayo, Mas Arga!"
Sore itu, mama menyuruh kami membeli beberapa kue untuk arisan.
Jesika membawaku ke sebuah toko roti yang tak jauh dari sekolahnya. Dia bilang roti di sini enak. Karenanya, dia sering 'nongkrong' di sini sambil numpang wifi gratis bersama teman-teman sekolahnya.
"Selamat datang," suara pegawai menyambut kedatangan kami.
"Hai, Mbak Luna," sapa Jesika.
"Halo, Jesi. Kamu sendiri? Nggak sama teman-temanmu?"
"Oh, hari ini aku sama ... woy, cepetan pilihin kuenya!" Jesika memanggilku.
Aku terhenyak kaget saat melihat seseorang yang berdiri di belakang etalase kue.
Mahasiswi psikologi itu.
Astaga! Aku sungguh merasa tak enak. Hari itu, sepertinya aku sudah sangat keterlaluan padanya.
Sebenarnya tak ada niat untuk menyakitinya. Tapi saat itu, hatiku sedang kesal-kesalnya karena gagal dapat beasiswa dan mobil. Tanpa sadar, aku jadi melampiaskan amarahku padanya.
---------
"Mas, mau rasa apa?" Pertanyaan Jesika membuyarkan lamunanku.
"Apa ajalah, terserah kamu," jawabku, dengan terus memalingkan wajahku dari Luna.
"Mbak Luna, enakan mana ... yang topping wijen atau kacang?" tanya Jesika.
"Ehm ... kalau aku, sih suka yang topping wijen," jawab Luna.
"Oke, deh. Bungkusin yang wijen dan pandan. Masing-masing sepuluh. Sama tambahin yang keju ... yang kejunya banyak spesial buat aku. Hehehe ...!"
"Oke. Tunggu, ya!"
Luna pun nampak masuk ke dalam untuk menyiapkan pesanan kami.
"Hei, kok kamu kayaknya akrab banget, sih sama dia?" bisikku.
"Ya, kan aku langganan di sini," jawab Jesika.
"Ya tapi, kok akrab gitu sama pegawainya?"
"Si mbak tadi maksudnya?" tanyanya. "Habisnya orangnya baik. Suka bantuin kami ngerjain tugas sekolah juga. Hahaha ..."
-----------
"Ini pesanannya, Jesi." Luna menyerahkan beberapa kotak kue pada adikku.
"Oke. Thanks, Mbak. Mas Arga yang bayarin, ya!" katanya sambil berlalu keluar dari toko.
"Jes ... Jesika! Haiiish ... anak itu!" geramku.
Ya ampun, situasi macam apa ini?!
Awkward banget!
"Be--berapa ... aku harus bayar?"
Duh ... ampun! Lidahku tiba-tiba jadi keluh.
"Dua ratus tiga puluh ribu," jawabnya.
Aku mengambil tiga lembar uang seratus ribuan dari dompetku dan kuberikan padanya.
"Ini, kembaliannya."
Aku pun mengambil sisa kembalian darinya, dengan amat sangat canggung.
"Ehm ... soal kejadian di kantin waktu itu. Aku ..."
"Aku akan mengingatnya," sahutnya.
"Apa?!"
"Arga Mahesa Rizaski. Aku akan mengingat nama itu dan juga kejadian itu," katanya, dengan menyunggingkan senyum di wajahnya.
"Aku ... aku hanya ingin ..."
"Untuk laptopmu yang kamu pinjamkan padaku waktu itu, aku akan kembalikan di kampus ... besok," katanya.
"Ah ... soal laptopmu yang jatuh waktu itu. Aku akan ..."
"Aku nggak mau berhutang apapun lagi padamu, Arga Mahesa Rizaski," katanya.
"Cukup bantuan laptop itu saja. Aku nggak mau punya hutang lagi. Aku nggak mau berhutang pada lelaki arogan sepertimu."
"Apa?!"
Wah ... apa-apaan ini?!
Padahal tadinya aku imgin minta maaf. Aku imgin bicara baik-baik dan mengganti laptop miliknya yang sudah aku rusak.
-----------------------
---------------
HOUSE SONG CAFE
20.30 WIB
Tempat karaoke ini dibooking seluruhnya oleh anak-anak jurusan bisnis. Sebagai hadiah yang kami menangkan saat perlombaan basket antar jurusan kemarin.
"Arga, kamu, kan yang berhasil mempersembahkan gelar juara di jurusan kita, ayo minum sedikit untuk merayakannya!" kata Dony, yang memang senior di jurusanku.
"Enggak. Aku nggak minum," tolakku.
"Wah ... sayang banget! Belum dewasa kamu, kalau belum coba ini," katanya.
Sejujurnya, aku paling malas diajak kumpul-kumpul model begini. Aku lebih suka duduk sambil main game di rumah. Aku hanya keluar sesekali untuk menghormati mereka. Meski sebenarnya aku tak menikmatinya juga.
---------------
"Oh?! Luna ...!"
Aku melempar pandanganku pada sosok gadis yang berdiri di ambang pintu. Dia berjalan ragu menghampiri Dony yang memanggilnya.
"Ini." Luna menyodorkan beberapa lembar uang seratus ribuan pada Dony.
"Oke, bagus sekali," kata Dony, seraya mengambil uang tersebut dari tangan Luna.
"Masih kurang delapan ratus ribu lagi. Kapan kamu akan membayarnya?"
"Nanti, kalau aku sudah gajian," jawab Luna.
"Sudah, kan? Aku permisi."
"Hei ... mau ke mana?" Dony meraih tangannya. "Ayo, gabung sama anak-anak jurusan bisnis! Kami sedang berpesta untuk merayakan kemenangan kami di pertandingan olahraga antar jurusan kemarin."
"Tidak. Aku harus pergi," tolak Luna.
"Duduk! Duduk, sini!" Dony kembali menarik Luna ke sampingnya.
Gadis itu nampak menunduk dengan wajah sayu. Terlihat dia ingin kabur tapi tak berani melawan Dony.
-----------
"Kenapa dia memberi uang pada si Dony itu?" tanyaku, pada Reyhan.
"Kamu ingat saat dia menumpahkan makanan ke sepatu Dony di kantin waktu itu? Sepatu yang katanya import itu, dia minta Luna untuk mengganti rugi. Meski aku sangat yakin kalau sepatunya itu cuma barang KW," kata Reyhan.
Dony nampak sedang mengerjai gadis itu. Aku lihat dia merangkulkan lengannya di pundak Luna dengan paksa. Dan anak-anak yang lain hanya tertawa tanpa ada yang berusaha membelanya.
"Aku keluar dulu, Rey. Mau cari angin sebentar."
---------------------
Hah! Aku tak suka tempat ini. Apa aku pulang saja?
-------
"Lepaskan aku, Kak! Aku mau pulang!"
"Pulang bagaimana? Kamu masih harus.melunasi hutangmu padaku! Ikut aku!"
Aku lihat Dony menarik paksa lengan Luna. Dia membawanya masuk ke sebuah motel yang ada dua ruko di samping tempat karaoke kami tadi.
Gadis itu sempat melempar pandangannya padaku, sesaat sebelum Dony menariknya masuk ke gedung bercat abu-abu itu.
-----------
"Bodo, ah! Apa pun yang akan mereka lakukan, itu bukan urusanku," gumamku.
"Haiiiish ... siaaaal ...! Kenapa wajah gadis itu terus menggangguku? Menyebalkan!"
Dan bodohnya, aku malah mengikuti mereka masuk ke dalam motel itu.
---------
Kutempelkan telingaku di pintu kamar tempat mereka masuk.
Kamar motel murah begini. Aku bisa dengan jelas mendengar suara mereka dari luar.
--------
"Kamu mau hutangmu lunas, kan?" tanya Dony. "Habiskan malam bersamaku, akan aku anggap lunas semuanya!"
"Jangan macam-macam!" teriak Luna. "Aku pasti akan melunasi semuanya. Jangan berpikir gila!"
"Ke sini, kamu!" bentak Dony.
"Enggaaaak! Lepaskan aku! Lepaaaaas!"
-----------
BRAK!
"Arga?!" seru Dony.
Tak aku sangka, kalau bela diri yang aku pelajari dari papa akhirnya ada gunanya juga. Tanganku sudah sangat gatal, saat melihat wajah Dony yang sinting itu.
"A--Arga?! A--apa ... apa yang ... kamu lakukan di sini?"
"Yang aku lakukan di sini?" Aku menghampiri dan mencengkeram krah bajunya. "Aku ke sini untuk memberimu pelajaran, br*ngs*k!"
Jangan tanya, berapa kali kepalan tanganku melayang ke wajahnya. Lebam dan memar langsung terlihat jelas di wajah Dony.
"Aku ... aku akan menuntutmu," teriaknya.
"Coba saja!" tantangku. "Kalau kau berani menuntutku, akan kupastikan ... pihak kampus akan membuatmu diDO."
Seniorku itu nampak meringis kesakitan sambil memegangi lebam di wajahnya.
"Ambil ini!" Kulempar sepuluh lembar uang seratus ribuan ke mukanya. "Itu lebih dari cukup untuk membayar sepatu KWmu itu, kan?"
Dia nampak menatapku dengan wajah berapi-api.
"Jangan coba-coba menyentuhnya lagi, atau aku akan berbuat lebih dari ini!" ancamku.
"Ayo, Luna ... kita pergi dari sini!"
---------------------
---------------
Selama hampir sepuluh menit, kami hanya duduk diam di dalam mobil yang aku pinjam dari mama. Rasanya dadaku masih bergemuruh panas. Belum puas rasanya, ingin meremukkan tulang-tulang senior gila itu.
"Di mana rumahmu? Aku akan mengantarmu," kataku sembari menginjak pedal gas.
--------------------
---------------
Sekitar dua puluh menit, kami sampai di depan sebuah rumah kost yang tak jauh dari toko roti tempatnya bekerja.
"Terima kasih," katanya. "Sekali lagi, kamu menyelamatkan hidupku."
Aku hanya menghela nafas untuk menurunkan emosi yang masih sedikit terasa di ubun-ubunku.
"Soal kejadian di kantin waktu itu ... aku sungguh minta maaf," kataku.
Luna nampak sedikit terkejut saat melempar pandangannya padaku.
"Saat itu, suasana hatiku sedang kacau. Tanpa sadar, aku malah melampiaskannya padamu. Maaf!" kataku.
"Nggak apa. Perlakuan seperti itu sudah biasa aku terima," katanya.
Kulirikkan ekor mataku padanya. Gadis itu nampak menunduk sambil tersenyum kecut.
"Kamu ... baik-baik saja?" tanyaku.
"He'em," angguknya. "Seperti katamu, aku akan selalu mrngingat namamu."
"Apa?!"
"Bukan sebagai seseorang yang menjahatiku di kantin," katanya. "Arga Mahesa Rizaski ... aku akan selalu mengingatmu sebagai seseorang yang selalu datang untuk menyelamatkan nyawaku."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=