
(POV DIRGA)
🍀🍁🍀
Dia cantik hari ini ...
Kurasa, aku suka ...
Tapi hati itu masihlah terkunci ...
Entah kapan aku bisa membukanya ...
Dia cantik hari ini ...
Dia nampak menyejukkan mata ...
🍀🍁🍀
---------------------------------------------------------------------
"Ma--mau apa, kamu?"
Rhesa terlihat salah tingkah. Sengaja aku mendekatkan wajahku padanya hingga jarak kami hanya beberapa centi saja. Rhesa mencoba menjauh dariku tapi kembali aku menariknya.
"Rhesa, apa kamu ... jatuh cinta padaku?"
------------
"Se--sepertinya ... ada tamu. A--aku akan membuka pintunya." Gadis itu pun beringsut menjauh dariku.
"Haiiiish! Siaaaal!" geramku.
Bunyi bel itu membuat Rhesa berhasil melepaskan diri dariku. Padahal aku sangat penasaran dengan reaksi yang akan dia tunjukkan padaku.
"Honey ... Bunny ... Sweety ... My Handsome ... My Little Boy. Emmmuuuach!" Ciuman mama mendarat tepat di pipiku.
"Iiiish ... Mama! Udah aku bilang, jangan lakukan hal itu lagi padaku!" kesalku.
"Memangnya kenapa? Kamu, kan anak mama yang terhandsome, terhoney-honey." Mama terkekeh melihat reaksiku.
"Aku bukan anak kecil lagi. Menyebalkan!"
Rhesa nampak cekikikan melihat perlakuan mama padaku.
"Ada apa pagi-pagi ke sini?" tanyaku dengan muka masam.
"Tentu saja untuk bertemu anak-anakku, dong," katanya. "Terima kasih, Sayang," kata mama, saat menerima secangkir teh dari Rhesa. "Kamu nggak ke kampus?"
"Iya. Nanti siang, Ma," jawab Rhesa, sembari duduk di sebelahku.
"Mama punya sesuatu untukmu, Rhes."
Mama mengeluarkan majalah dari dalam tasnya dan memberikannya pada Rhesa.
"Lho ... Ini Mas Dirga, kan?!" pekik Rhesa.
Aku segera meraih majalah fashion itu dari tangan Rhesa.
"Mamaaaaa!" teriakku.
"Bagaimana menurutmu, Rhes? Apa Dirga terlihat keren di foto itu?" Mama tak menggubris kemarahanku sama sekali.
"Mas Dirga terlihat seperti model beneran. Kayak oppa-oppa di drama Korea. Keren banget!"
Duh Gusti! Kenapa dia mengatakan itu dengan polos? Rasanya wajahku panas menahan malu.
"Dirga, kamu dengar istrimu tadi bilang apa? Dia suka kamu jadi model, lho!" rayu mama.
"Apaan? Dia cuma bilang aku keren kayak artis korea, bukannya cocok jadi model," kataku kesal. "Udah, deh aku tahu rencana mama yang sebenarnya. Mendingan pergi aja dari sini! Aku nggak bakal mau ngelakuin permintaan Mama."
"Dirga, ayolah, sekali ini saja! Mama bener-bener butuh bantuan," ucap mama memelas.
"Model pria mama mengalami kecelakaan. Dan pameran busananya udah besok malam. Mama nggak punya pengganti lagi, Dirga! Kamulah satu-satunya harapan mama, Honey-ku."
"Bodo amat! Itu bukan urusanku." Aku pun beranjak meninggalkan mereka.
"Okey. Kamu akan menyesal karena telah menolaknya!" Ancaman mama mulai keluar.
"Mama akan dapatkan model pria yang keren dan lebih tampan darimu. Dia pasti akan cocok sekali bersanding dengan Rhesa."
"A--apa maksudnya? Kok, Rhesa dibawa-bawa?" Aku terhenyak kaget.
"Iya, dong! Karena model wanitanya adalah ... Rhesa!"
"Aku?!"
"Apa?!"
***
PAMERAN BUSANA PERNIKAHAN MODERN MAHESA FASHION
By: Dessy Ariana
Dengan segala bujuk rayu mama, pada akhirnya ... di sinilah kami sekarang
"Baju ini terlihat pas di badanmu," kata mama sembari mendandaniku.
"Dari awal Mama memang berencana menjadikan aku dan Rhesa sebagai modelnya, kan?"
Mama hanya tertawa mendengar pertanyaanku.
"Kamu ada masalah dengan istrimu?" tanyanya tiba-tiba. "Nggak usah heran dari mana mama tahu! Ini insting seorang ibu. Kenapa kamu nggak jujur aja, sih sama dia?"
"Itu karena dia nggak tahu yang sebenarnya," kata Mama. "Dirga, dalam suatu hubungan, yang terpenting itu kejujuran. Kalau kamu nggak mau jujur, hubunganmu nggak akan bertahan lama, Sayang."
"Dia akan membenciku kalau tahu yang sebenarnya."
"Kamu, kan belum mencobanya!"
Ah, entahlah! Rasanya aku belum merasa siap untuk memberitahu dia yang aebenarnya.
"Pengantin wanitanya sudah siap," kata asisten mama, yang membawa Rhesa keluar dari kamar ganti.
"Wah!"
Dari pintu yang berdecit karena dibuka, mataku seakan terhipnotis untuk menatap pada sosok yang berdiri di sana.
Di hari akad nikah kami, aku memang melihatnya berdandan dan memakai kebaya sederhana. Dia kelihatan cantik waktu itu. Sampai untuk meliriknya saja, aku merasa malu.
Tapi gadis di hadapanku kali ini, dia terlihat sangat cantik. Dengan gaun warna peach menjuntai ke ujung kakinya. Dia terlihat elegant dan bercahaya.
"Dirga ... Dirgaaa ...!"
"Y--ya?!" Panggilan mama menyadarkanku dari lamunan.
"Sini! Kita ambil foto untuk majalahnya dulu!" kata mama. "Mas, tolong ambil yang bagus, ya! Fokuskan pada keeleganan gaunnya!"
"Coba, tangan model cowoknya dilingkarin ke pinggang model ceweknya, ya!" Si abang fotografer memberi instruksi. "Coba, deh saling pandang! Jangan terlalu tegang! Yang natural biar kelihatan bagus!"
Ya salam! Bagaimana bisa aku tidak tegang? Ini pertama kalinya aku menyentuhnya sedekat ini. Jatungku seperti mau lompat keluar.
Duh! Kalau suara detak jantungku kedengeran Rhesa bagaimana? Bikin malu.
"Ini modelnya suami istri, kan? Nggak apa-apa, dong ambil pose satu lagi? Cowoknya coba ngerangkul pinggang ceweknya dari belakang!"
"A--apa?!" pekikku. "Aduh, Mas nggak usah berlebihan, deh!"
"Hei, cepat lakukan! Kalau pameran ini berhasil yang untung, kan perusahaanmu juga!" ancam mama.
Nenek tua ini! Dia benar-benar berniat mengerjaiku rupanya. Awas saja! Akan aku peras dia nanti. Dia harus membayar mahal untuk pekerjaanku ini.
"M--maaf!" kataku saat aku melingkarkan tanganku di pinggang Rhesa.
Kurasakan Rhesa sedikit terkejut saat kami saling berhimpitan. Dia pasti merasa tak nyaman. Kenapa hidupku tiba-tiba terasa menyedihkan, sih?
"Okey, bagus! Tahan di pose itu!"
Si abang fotografer nampak semangat sekali mengambil gambar kami. Bahkan dia sampai berjungkir balik. Rasanya justru dialah yang banyak melakukan pose ketimbang kami. Lucu sekali.
---------------
---------------
"Selanjutnya, rancangan terbaru dari perancang ternama Dessy Ariana. Persembaha dari Mahesa Corporation. Bertemakan ... SHINY WEDDING!"
Ini kedua kalinya aku ada di atas panggung catwalk karena bujuk rayu mama. Tapi bagi Rhesa, ini adalah pengalaman pertama.
Kulihat dia nampak gugup. Tangannya yang melingkar menggapit lenganku pun terasa gemetar.
"Nggak apa!" Aku genggam tangannya. "Kita akan jalan bersama-sama!"
Kami pun menyusuri catwalk dengan disambut sorot lampu yang tajam menyilaukan. Dan juga tepuk tangan para penggemar rancangan gaun mama.
"Kamu cantik ... cantik sekali!" gumamku.
Rhesa nampak melirikku. Mungkin dia mendengar gumamanku. Terserahlah! Mau dengar atau enggak, dia memang wanita tercantik di mataku.
----------------
----------
"Ini bayaran untuk kalian." Mama menyodorkan dua amplop pada kami. "Terima kasih untuk bantuannya. Mama untung besar hari ini. Hahaha ...."
"Kenapa pakek dibayar? Nggak usah, Ma!" kata Rhesa.
"Apaan, sih?" Aku meraih amplop Rhesa yang hendak dikembalikan pada mama. "Kita udah bekerja, ya harus dibayar, dong! Mama udah bayar kami dengan pantas, kan? Nolnya banyak, kan?
"Iiiih ... kamu, kan cowok! Kenapa matre begitu, sih?" Mama memukul lenganku. "Pulanglah, ini sudah malam! Sekali lagi, mama sangat berterima kasih atas bantuan kalian. Hati-hati di jalan, ya!"
----------------
----------------
23.15 WIB
Di malam yang mulai sunyi, aku memacu mobilku di jalanan yang cukup lengang.
"Lain kali kamu nggak usah termakan tipu daya mama untuk jadi modelnya lagi!" kataku saat kami di perjalanan.
"Menyenangkan, kok!" sahutnya. "Awalnya emang aku sedikit gugup, ini pertama kalinya bagiku. Tapi karena Mas Dirga ada di sampingku, memegang tanganku, aku jadi merasa tenang." Sebuah senyum manis dia lempar padaku.
Aku tak suka ekspresi itu. Dia tak seharusnya berekspresi penuh cinta begitu, kalau ujung-ujungnya hanya PHP saja.
Beberapa bulan berjalan sejak pernikahan kami, aku bahkan tak bisa sama sekali menyentuhnya.
Sekuat tenaga, sekuat iman, aku berusaha menjaga mata dan pikiranku darinya. Namun kadang, aku sendiri juga berkilah.
Memangnya kenapa jika aku memandangnya dengan syahwat yang kadang-kadang muncul tanpa aku bisa mengontrolnya? Toh, dia istriku. Halal untukku.
Tapi lagi-lagi aku merasa tertampar saat mengingat bahwa Rhesa tak pernah menginginkan pernikahan ini.
Hidup bersama seorang wanita, bohong ... kalau tak merasa resah.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=