
(pov ARGA)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌵🌵
Ini adalah dongeng masa lalu ...
Yang mengikat ...
Melekat di masa depan ...
Lalu siapa yang salah ...
Jika generasi selanjutnya ...
Yang hanya melihat ...
Mulai terlibat ...
🌵🌵
---------------------------------------------------------------------
"Rhes, apa Luna masih konseling di tempatmu?" tanya papa saat kami sarapan bersama.
"Iya."
"Apa kemarin dia datang untuk konseling? Bagaimana kondisinya?" tanya papa yang terlihat penasaran.
"Kemarin dia nggak datang, belum jadwalnya. Sekarang dia hanya datang dua kali seminggu karena kondisinya sudah jauh lebih baik. Kenapa? Kok, Mas Dirga kelihatan cemas begitu?"
"Ah, enggak. Hanya sekedar bertanya saja," jawab papa.
Aku jadi sedikit terganggu dengan sikap papa barusan. Air mukanya juga terlihat cemas. Lagipula, tumben sekali papa bertanya-tanya perihal konseling Luna. Aku jadi penasaran. Kelihatannya ada yang papa sembunyikan.
-----------
"Pa, aku bareng, ya." kataku seraya menarik pintu mobil papa.
"Nggak bawa motor?"
"Enggak. Lagi malas aja," jawabku.
"Pulangnya nanti gimana? Papa nggak bisa jemput, ya. Papa ada rapat."
"Gampang itu. Santai aja!"
Papa menyalakan mesin dan mulai melajukan mobilnya. Sebenarnya bukan malas bawa motor sendiri ke kampus, tapi aku ingin mencari jawaban dari rasa penasaranku.
"Pa, kenapa tadi tanya ke mama soal jadwal konseling Luna?" tanyaku.
"Oh? Hanya ingin tahu saja."
"Nggak biasanya Papa kepo begitu."
CEO Mahesa Corporation itu nampak tersenyum menanggapi ucapanku yang bernada kesal.
"Arga, kalau kamu ketemu Luna, coba kamu tanya padanya!"
"Tanya apa?"
"Tanya apa dia baik-baik saja?" kata papa.
"Memanga ada apa dengannya?" Aku balik bertanya.
"Nggak ada apa-apa, hanya saja ... ehm ... ya, hanya ingin tahu saja," jawab papa.
"Papa mencurigakan, tahu nggak?" sungutku.
Lagi-lagi papa hanya tertawa tanpa mengindahkan perkataanku.
--------------------
---------
KAMPUS
"Sampai nanti, Pangeran."
"He'em." Aku melambai saat mobil berwarna putih itu menjauh dari hadapanku.
Segera kurogoh kantong celanaku, dan mengambil benda pipih pintar milikku. Kuscrol kontak ke alfabet 'L' dan kutekan tombol pemanggil.
"Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif. Silakan coba beberapa saat lagi."
Aku mendengus kesal. Kucoba sampai tujuh kali pun yang menjawab hanya si Mbak Operator. Pergi ke mana sebenarnya pemilik nomor ini?
--------------
Setengah berlari aku menaiki anak tangga menuju ruang kelas psikologi. Kuhampiri Sofi, yang merupakan teman akrab Luna.
"Luna, ada nggak?"
"Belum datang kayaknya," jawab Sofi.
"Belum?" Aku melihat arloji silver yang melingkar di pergelangan tanganku.
Ini sudah hampir jam kelasnya masuk. Tidak biasanya dia telat begini.
"Kalau dia datang, suruh hubungi aku, ya!" kataku.
"Oke."
--------------
Hingga akhir jam kuliah pun, masih tak ada kabar darinya.
Perasaanku makin tak tenang. Aku pun menuju ke cafe untuk mencarinya.
"Dia nggak pulang? Serius, Om?"
"Iya," jawab Om Sony.
"Barang-barangnya masih ada nggak?" tanyaku.
"Masih. Kunci kamar juga dia yang bawa."
"Terakhir sebelum pergi, dia bilang apa?" selidikku.
"Siang itu dia keluar mau beli buku katanya."
"Buku? Pergi ke mana dia?"
----------------
------------
Berkali-kali aku masih berusaha menghubungi nomornya, tapi tak ada jawaban. Aku makin cemas dan risau.
Ada di mana dia?
Kenapa tak bisa dihubungi?
Apa sesuatu terjadi padanya?
Ah, sial! Pikiran-pikiran negatif mulai mengisi kepalaku.
-----------------
------------------------
Sudah lewat tiga hari dan tak ada satu petunjuk pun.
"Sofi, ada lagi nggak tempat yang kira-kira akan dia datangi, selain tempat kost lamanya? Aku udah dari sana dan dia nggak ada."
"Aku juga nggak tahu, Ga," kata Sofi.
"Sebenarnya ke mana dia? Kenapa tiba-tiba menghilang begitu saja?"
"Tempat apa?" tanyaku tak sabar.
"Rumah ibunya."
---------------------------
--------------------
Sebuah apartement single room yang cukup mewah. Aku sedikit menggeleng heran. Jika benar ibunya tinggal di tempat mewah seperti ini, kenapa Luna hidup susah begitu?
"Semoga dia ada di sini." Aku tak henti bergumam saat menaiki lift menuju lantai tiga.
Kuulurkan tanganku untuk menekan bel di apartement yang ditunjukkan Sofi padaku itu.
"Arga?!"
Ada! Gadis itu tengah berdiri di hadapanku dengan ekspresi yang amat sangat terkejut.
"Ba--bagaimana kamu bisa ada di sini?"
"Siapa yang datang, Luna?" Terdengar suara teriakan dari dalam.
"Bukan siapa-siapa, Ma," sahut Luna. "Arga, pergi dari sini! Nanti aku akan menghubungimu."
"Enggak. Kita bicara sekarang!" tolakku. "Ada apa? Kenapa kamu pergi dari cafe? Kenapa kamu bolos kuliah? Kenapa kamu tak menjawab telponku? Ada apa? Apa terjadi sesuatu padamu?"
"Aku mohon, Arga. Cepat pergi dari sini!" pintanya dengan wajah ketakutan.
"Ikut denganku!"
"Apa?!"
"Aku nggak mau kamu ada di sini," kataku.
"Ta--tapi---"
"Siapa kamu?"
Seorang wanita tiba-tiba menghampiri kami. Garis wajahnya sedikit mirip dengan Luna. Hanya saja, dia punya sorot mata yang tajam dan terlihat sedikit menakutkan.
"Siapa kamu? Mau apa?" tanyanya.
"Mama, dia teman kuliah Luna. Dia sudah mau pergi, kok," kata Luna dengan wajah pucat.
Ibunya? Jadi dia orang yang sudah membuat hidup Luna jadi menyedihkan seperti ini. Gadis itu benar-benar terlihat ketakutan di hadapan ibunya sendiri.
"Saya datang untuk menjemput Luna," kataku.
"Apa?" Wanita itu menatap heran padaku.
"Tunggu dulu! Kenapa aku merasa tidak asing dengan wajahmu, ya? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Sepertinya tidak, Tante."
"Siapa namamu?" tanyanya.
"Arga," jawabku. "Arga Mahesa Rizaski."
"Ma--Mahesa katamu?!" pekiknya.
Apalagi sekarang? Tatapannya padaku berubah. Dia terlihat begitu terkejut sampai menutup mulut dengan jemarinya. Mata tajamnya menelisikku dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Wah! Ini sangat menakjubkan. Haha ... hahaha ...." Dia tertawa dengan mata yang begitu tajam mengintimidasiku. "Jadi, kamu dari keluarga Mahesa? Apa kamu anak Dirga dan Rhesa?"
"Ya?!"
Dia mengenal papa dan mama. Dia menyebutkan nama mereka tanpa ragu sedikit pun.
"Apa hubunganmu dengan Luna?" tanyanya.
"Ma, sudah aku bilang, aku dan Arga hanya---"
"Kami dekat," sahutku. "Kami lebih dari sekedar teman."
"Pacar?" selidiknya. "Gila ... gilaaa ... ini sungguh gila! Hahaha ...."
Lagi-lagi dia tertawa dan menatap aneh padaku.
"Apa ibumu tahu kalau kalian pacaran?"
"Iya," jawabku.
"Begitu," angguknya. "Apa dia tahu kalau Luna adalah anakku?"
"Maksudnya?"
"Sepertinya belum tahu, ya?" Sebuah sunggingan senyum dia perlihatkan padaku. "Pulang dan katakan pada ibumu tercinta itu, bahwa Luna adalah anakku! Katakan padanya, Luna adalah putri tersayang dari wanita bernama Clara!"
Suara bantingan pintu yang terdengar keras itu mengiringi berlalunya mereka dari hadapanku. Tak ada hasil yang aku dapat dengan datang ke tempat ini. Yang ada, aku makin khawatir dengan keadaan Luna dan juga rasa penasaran yang muncul tentang ibu Luna yang ternyata mengenal mama dan papa.
------------------
--------------------------
RUMAH DIRGA
"Mama, ada yang ingin aku tanyakan."
"Ada apa, honey?"
"Ini soal Luna," kataku.
"Hem? Ada apa dengannya?"
"Ma, tadi aku bertemu ibunya Luna dan dia---"
"Ibunya? Kamu bertemu ibunya?" Mama terlihat amat terkejut dan aku pun hanya mengangguk bingung.
"Bagaimana keadaan Luna? Apa terjadi sesuatu dengannya? Apa ibunya melakukan kekerasan padanya?" Mama mencercahku dengan berbagai pertanyaan.
"Entahlah. Tapi aku merasa nggak tenang," jawabku.
"Ambil mobil! Cepat antar mama ke sana!"
"Hah?! Ta--tapi---"
"Arga, meski kondisi Luna sudah mulai membaik, tapi jika dia bertemu dengan sumber sakitnya, dia bisa bertindak ekstrim lagi. Mama harus membawanya menjauh dari ibunya. Setidaknya, untuk sementara."
------------------------
------------------
Malam itu juga, aku membawa mama ke apartement milik ibunya Luna. Melihat air muka mama yang nampak cemas, pikiranku pun ikut melayang ke mana-mana.
Mama mengangguk padaku, seakan memberiku perintah untuk menekan bel pintu berwarna silver itu.
"Kenapa kamu masih juga menemui papamu? Sudah mama bilang untuk tidak menemui laki-laki pembuat masalah itu!"
"Luna nggak pernah menemui papa, Ma." Terdengar suara Luna dari dalam.
"Berani kamu menemui dia lagi, bakal mama kirim kamu ke rumah sakit jiwa."
---------------
"Buka pintunya!" Mama tiba-tiba berteriak dan menggedor pintu itu. "Luna, kamu di dalam, kan? Cepat buka! Jika tidak, akan aku panggil polisi."
Tak lama, wajah Luna yang basah berurai air mata itu muncul di ambang pintu dan menghambur memeluk mama.
"Bu Rhesa!" tangisnya.
"Kamu baik-baik saja, Sayang? Tenang! Nggak apa-apa." Mama mencoba menenangkan Luna yang menangis histeris di pelukannya.
"Rhesa Dayana Putri. Luar biasa!" Wanita itu menepuk-nepukkan kedua telapak tangannya sambil tersenyum sinis. "Long time no see, Nyonya Dirga Mahesa Rizaski."
"Clara?!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=