WILL YOU MARRY ME?

WILL YOU MARRY ME?
Part 11 AKU MILIKMU


💖💖💖


Jika dengan melihatmu ...


Dunia seakan tunduk padaku ...


Maka aku akan terus melihatmu ...


Jika dengan memelukmu ...


Dunia seakan menjadi milikku ...


Maka aku akan terus memelukmu ...


Karena kamu ...


Adalah duniaku ...


💖💖💖


---------------------------------------------------------------------


"Mas Dirga kemana, Mbak Siti? Kok nggak ada dimana-mana?"


"Sudah berangkat tadi, Mbak," jawab Mbak Siti.


"Kerja?" tanya Rhesa heran. "Jam lima pagi begini?"


"Buru-buru tadi, Mbak. Mempersiapkan rapat dadakan katanya."


"Kok dia nggak bilang-bilang, sih? Nggak biasanya," gumam gadis itu.


Pagi itu, Rhesa melenggang sendiri memasuki area kampus. Biasanya langsung disambut teriakan Cindy. Tapi, sudah hampir sepuluh hari ini Cindy belum kembali ke kampus.


Sebuah mobil mewah keluaran terbaru tiba-tiba berhenti di sampingnya.


"Rhesa!" Karina melongokkan kepalanya dari bangku kemudi.


"Kamu ada kuliah pagi juga?" tanya Rhesa.


"Enggak. Aku ke sini cuma mau nganter penumpang," jawab Karina.


Rhesa nampak mengernyit mendengar ucapan sahabatnya itu.


Pintu sisi kiri mobil itu pun terbuka. Seorang gadis berkulit putih dengan rambut berkuncir kuda tiba-tiba keluar dari mobil Karina.


"Rhesaaaa ...!"


"Cindy?!"


"Rhesaaa ... sini ... peluk ... peluk!" Cindy membentangkan kedua tangannya pada Rhesa.


Mereka berdua pun nampak melompat-lompat kegirangan. Seperti anak kecil yang diberi ijin untuk bermain di luar rumah.


"Kamu datang untuk kuliah, kan?" tanya Rhesa.


"Iya."


"Wah ...! Cindy ... aku seneng banget!" Rhesa kembali memeluk sahabatnya itu. "Aku seneng banget kamu kembali."


Meski begitu, suara-suara sumbang tetaplah ada.


"Hei, itu gadis yang fotonya di mading, kan?" Terdengar suara-suara nyinyir begitu melihat Cindy. "Iih ... nggak tahu malu banget, ya? Masih berani masuk kuliah, lho!"


"Masih punya muka dia, ya?"


"Hei!" Karina menghampiri dua gadis yang sedang bergunjing itu. "Aku baru saja mendapatkan pelajaran menjahit dari dokter bedah. Apa kalian mau aku mempraktekkannya pada mulut kalian, hah?!"


"Iih ... apaan, sih dia?! Galak amat! Pergi yuk!" seru gadis-gadis tukang nyinyir itu.


"Ya ... pergi sana jauh-jauh! Dasar, homo sapiens ber-IQ jongkok!" geram Karina.


"Udahlah, nggak usah diladeni!" kata Cindy.


"Lagian aku tahu hal seperti ini bakal terjadi. Jadi aku sudah mempersiapkan mentalku.


Nggak peduli gimana orang lain memandangku. Yang penting, aku masih punya kalian. Ayook ... ke kantiiin!"


Terkadang, sebagai manusia, kita tak pernah menyadari. Kita dianugerahi mulut hanya satu agar kita tak terlalu banyak bicara. Kita dianugerahi dua mata agar kita tak hanya melihat dari satu sisi saja. Tapi terkadang, bagi manusia itu sendiri, fungsi mulut dan mata seringkali tertukar.


***


"Rhes, maaf nggak bisa menemanimu ke toko buku. Hari ini malam minggu. Jadi cukup ramai di restaurant. Aku harus membantu di sana," kata Cindy.


"Nggak apa-apa. Sampai jumpa hari senin, ya!"


"Aku juga harus kembali ke kelas. Aku ada kuliah sore ini," kata Karina.


***


("Rhes ... kamu jangan pulang dulu ke rumah! Ada penyemprotan nyamuk DBD di kompleks kita")


Aku mengirim pesan pada istriku itu.


("Jam berapa selesainya?")


("Sepertinya jam tujuh malam baru selesai")


("Ya udah aku nunggu di toko buku aja kalau gitu")


Sementara itu ... aku, Sony, Cindy, dan Karina sedang mempersiapkan pesta kejutan untuk Rhesa.


Seharian ini kami memang sengaja membuatnya jauh dari kami agar kami bisa leluasa melakukan persiapan.


Sekitar jam tujuh malam, kulihat Rhesa nampak turun dari taxi online. Kuperhatikan dari balik tirai jendela. Rhesa nampak bingung melihat mobil Karina dan Sony terparkir di halaman rumah kami.


"Surprise ...!"


Rhesa nampak melongo di depan pintu. Dia hampir membatu saat melihat kami meniup terompet, memakai topi ulang tahun dan membawa kue kecil bertuliskan namanya.


"HAPPY BIRTHDAY TO YOU ...


HAPPY BIRTHDAY TO YOU ...


HAPPY BIRTHDAY TO RHESA ...


WE LOVE YOU RHESAAAAA ..."


"Make a wish!" ucapku, seraya menyodorkan kue dengan lilin menyala kepadanya.


Rhesa memejamkan matanya, berdoa, lalu meniup lilinnya.


"Yaey! Ayo, berpesta!" teriak Cindy dan yang lainnya.


Kami menghias ruang tengah layaknya ulang tahun anak-anak. Lampu pun dibuat remang-remang syahdu. Kalau soal lampu, sih Sony saja yang 'alay'. Semuanya, mereka yang merancang. Sebagai tuan rumah ... aku, sih ... yes!


"Sampai jumpa di kampus, Rhes!" Cindy nampak melambai dari jendela mobil Karina.


"Nice dream, Brother!" Sony berlalu dengan mengerling jahil padaku.


Semua pun pulang setelah malam semakin larut. Tinggal aku dan Rhesa yang mengamati kepergian mereka dari mulut pintu.


"Terima kasih untuk pesta kejutannya," kata Rhesa, dengan senyum lebar di wajahnya.


"Kamu senang?"


"Sangat."


"Kamu memiliki teman-teman yang baik."


"Iya. Aku juga punya seorang suami yang sangat baik." Ucapannya membuatku sedikit merasa bangga. "Mas Dirga nggak melupakan sesuatu?"


"Hem? Memang apa yang aku lupakan?" Aku mengernyit, bingung.


"Kado untukku!" Serunya dengan wajah kesal.


"Kado? Aku, 'kan sudah buat pesta ini sebagai kado untukmu."


"Iiish ... dasar pelit!" gerutunya, sambil berlalu meninggalkanku.


"Hei ... masa' gara-gara kado kamu ngambek, sih?"


Aku mengikutinya dari belakang. Langkah kakinya yang menaiki anak tangga terdengar keras. Dia tampak kesal.


"Tunggu!" Aku meraih tangannya saat dia hendak membuka pintu kamar. "Aku, kan belum selesai bicara. Kenapa kamu ngeluyur gitu aja, sih?"


Aku merogoh saku celanaku. Kukeluarkan kotak hitam bertuliskan MAHESA CORPORATION di atasnya.


Kubuka tutupnya. Sebuah arloji berwarna silver nampak mencuat indah ke permukaan.


"Uwaaah!" Matanya berbinar--terkesima.


Kuraih tangannya dan kupasangkan arloji itu di tangannya.


"Ini desain terbaru yang akan keluar dua bulan lagi," kataku. "Aku memesannya khusus untukmu. Jadi, hanya ada satu di dunia."


"Cantik sekali," katanya, sembari mengamati benda yang melingkar di pergelangannya itu.


"Kok MR? Bukannya MC? MAHESA CORPORATION?" tanyanya, saat melihat huruf yang terukir di dalam arloji itu.


"Tadi, kan aku udah bilang kalau yang ini aku pesan khusus untukmu," kataku.


"Apa MR?" tanya Rhesa.


"Itu nama belakangku. MAHESA RIZASKI."


Gadis itu tampak tersenyum menatapku.


"Biar semua orang tahu kalau kamu ini istri dari Dirga Mahesa Rizaski," candaku.


"Jadi, dengan benda ini, Mas Dirga bermaksud mengikatku?"


Aku pun hanya tersenyum menanggapi pertanyaannya.


Mengikatnya? Mungkin. Aku memang tak pernah ingin melepaskannya.


"Terima kasih, aku suka hadiahnya."


Rhesa tiba-tiba melingkarkan kedua lengannya di leherku. Tentu saja aku merasa sedikit tak nyaman dengan sikapnya. Tak biasanya dia seperti ini. Bahkan, tidak pernah.


Ditariknya kepalaku sampai agak menunduk ke arahnya.


"Ucapan terima kasih dariku," katanya, seraya mendaratkan ciuman di bibirku.


"A--apa yang kamu lakukan?!" Refleks aku langsung melepaskan diri darinya.


Gadis itu hanya mengulum senyum dan kembali menarikku kepadanya.


"Terima kasih, karena Mas Dirga sudah menghentikan proses adopsiku dan meminta izin pada ibuku untuk menikahiku."


"A--apa?!"


Aku terperanjat mendengar ucapannya. Bagaimana dia tahu soal itu?


"Kenapa sejak awal nggak jujur padaku? Jika aku tahu yang sebenarnya, aku nggak akan salah paham padamu. Jika sejak awal aku tahu semuanya, aku juga nggak pernah ingin jadi orang asing ataupun saudara bagimu.


Aku ingin ... benar-benar jadi istrimu!"


Ya Tuhan! Aku hanya berdiri mematung menatapnya. Aku masih berusaha keras untuk mencerna ucapannya. Benar-benar syok. Sungguh.


"Iih, Mas Dirga, kok diem aja, sih! Aku berasa kecentilan sendiri, kan jadinya. Keterlaluan!" geramnya.


"Ka--kamu ... nggak sedang bercanda, 'kan?" Aku masih menatap tak percaya padanya.


"Haiiish! Mana mungkin aku bercanda untuk hal serius seperti ini!" katanya, kesal.


"Ja--jadi ... kita bukan lagi teman? Bukan lagi sebagai saudara? Bo--bolehkah ... aku menganggapmu sebagai ... istriku?"


Gadis itu tersenyum manis padaku dan menganggukkan kepalanya.


"Rhesa!" Aku menariknya ke dalam pelukanku. "Wah ... kamu yang ulang tahun, kenapa aku yang jadi dapat kado seindah ini?"


"Apaan, sih?"


"Pokoknya malam ini kamu milikku, ya? Hanya milikku!" kataku, dengan memeluknya semakin erat.


"Iya. Aku milikmu."


"Yes!"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=