WILL YOU MARRY ME?

WILL YOU MARRY ME?
Part 47


💓 Jika cinta adalah keutuhan ...


Maka aku akan menunggu ...


Menunggunya menjadikan aku utuh ...💓


--------------------------------------------------------------------


"Arga, jangan bicara sembarangan!" Mama berteriak sambil menggebrak meja makan.


Seketika suasana menjadi hening. Suara sendok dan piring yang sedari tadi beradu pun tak terdengar lagi.


"Jika kamu ingin menikahi Luna, lalu bagaimana nasib Viona, Arga?"


Mulutku ini hanya bisa mengatup, diam. Tak ada sedikit pun perihal soal Viona terlintas di benakku. Segala ketakutan dan pikiran negatifku tantang Luna, benar-benar menghapus memori tentang calon istriku itu.


"Arga, apa yang mendasarimu berpikiran seperti ini?" tanya Papa.


"Arga, apa kamu berpikiran gila seperti ini karena kasihan pada Luna?" Emosi masih menguasai Mama. "Tidak. Mama tak akan mengijinkannya."


"Arga mencintainya, Ma," kataku. "Sungguh sangat mencintainya."


"Arga!" Teriakan Mama kembali terdengar melengking memekakkan telinga.


"Ma, bisakah Luna sembuh? Bisakah?" Mata ini terasa amat panas, sampai aku tak kuasa menahan perihnya. "Jika tidak, maka ijinkan Arga bersamanya! Setulus hati, Arga hanya mencintainya. Tidakkah dia berhak bahagia? Aku pun juga ingin bahagia bersamanya."


Jika saja mereka bisa melihat ke dasar hatiku, sungguh mereka akan melihat betapa aku tak ingin kehilangan dia. Betapa takut diriku membayangkan kepergiannya.


"Lakukan!" Ucapan papa membuat kami terhenyak kaget. "Datangi Viona dan keluarganya! Katakan apa yang ingin kamu katakan pada mereka!"


"Mas!" seru Mama.


"Rhes, tidakkah kamu bisa memahami perasaan anakmu ini? Perasaan saat dia kehilangan seseorang yang begitu dicintainya. Bukankah harusnya kamu bisa merasakannya juga?"


"Mas Dirga juga harus memikirkan soal reaksi Cindy dan suaminya! Lalu bagaimana dengan Viona? Gadis itulah yang paling menderita nantinya."


"Arga, bagaimana?" tanya papa.


Aku tak berpikir sampai sejauh itu. Keegoisanku telah menutup rapat rasa peduliku, bahkan pada Viona. Saat ini, aku merasa sebagai seorang pengkhianat untuk wanita yang sepunuh hati mencintaiku.


Kembali aku pandangi wajah Mama. Kedua mata yang selalu menatap padaku dengan segenap kasih sayang itu, kini tengah menatap iba padaku. Genangan air mata yang siap jatuh di atas pipinya ketika melihat ketidak berdayaan dari seorang putra yang begitu dicintainya.


"Baiklah." Mama menyeka sudut matanya. "Kita pergi ke tempat Cindy!"


***


Inilah alasan yang membawaku datang ke sini. Sebuah pengakuan yang mungkin akan menghancurkan segala hubungan yang terjalin di antara kami. Baik mama dan Tante Cindy maupun aku dan Viona. Semua ikatan itu akan dipertaruhkan di sini.


"Tante, saya ingin menikahi ... Luna."


"Apa? Apa katamu?!"


Tangan gadis di sampingku itu, langsung lunglai terlepas dari lenganku ketika seruan Tante Cindy terdengar.


"Apa maksudnya ini?" Semburan emosi mulai bercampur dengan nada suara Tante Cindy. "Rhes, apa maksudnya ini?"


Mama mengambil kertas test laboratorium milik Luna dan memberikannnya pada sahabatnya itu. Ekspresi yang sama, seperti saat aku melihat tulisan di dalamnya.


"Karena ini? Karena inikah kamu ingin menikahi gadis itu, hah?!" Dilemparkannya kertas itu padaku dan Viona pun memungutnya dengan cepat.


"Cindy, kita bicara sebentar!" kata Mama.


"Enggak," sahut tante Cindy. "Anakmu inilah yang harus menjelaskan semuanya pada kami!"


"Tante, saya datang untuk menyampaikan pada kalian semua, bahwa saya berkeinginan untuk menikahi Luna. Saya sungguh tak bermaksud mempermainkan pertungan saya dan Viona, hanya saja, saya pun tak bisa mengabaikan Luna dan pura-pura tak peduli dengannya."


"Menggelikan sekali," sergah tante Cindy. "Haha ... haha ... hahahaha .... Wah ... wah ... haruskah aku bertepuk tangan karena sikapmu yang bak pahlawan kesiangan ini, wahai Arga Mahesa Rizaski?"


"Cindy, atas nama Arga, aku sungguh minta maaf!" Bulir air mata mengalir deras dari pelupuk Mamaku itu.


"Rhesa, tidakkah kejadian ini mengingatkanmu pada masa lalu?" Tante Cindy memicingkan matanya pada mama dengan emosi yang semakin membuncah. "Apa aku harus menempatkan anakku di posisi sebagai korban sepertimu dulu, Rhesa? Jawab!"


Sejatinya, aku selalu merasa bahwa hidupku adalah suatu kebanggaan dari kedua orang tuaku. Tapi hari ini, aku bahkan meluluh-lantakkan kehormatan mereka.


Seorang Dirga Mahesa Rizaski yang selalu membusungkan dada dengan segala pencapaian yang luar biasa.


Seorang Rhesa Dayana Putri dengan intelektualnya sebagai seorang psikolog ternama.


Semua kehormatan dan sanjungan itu, kini lenyap tanpa sisa. Bahkan untuk mengangkat kepala pun, tiada sedikit pun kuasa. Sungguh aku merasa diriku begitu hinanya karena telah membuat mereka terperosok rendah serendah-rendahnya.


"Tante!" sergahku.


"Kenapa? Bukankah begitu kenyataannya? Kamu sedang mengulang kebodohan papamu di masa lalu. Mohon maaf! Aku tak mau anakku menjadi korban dari keegoisanmu itu."


Inilah saat di mana kapak takdir telah memangkas habis ikatan persaudaraan dan persahabatan. Tak bisa kupercaya, bahwa akulah orang bodoh yang telah mengayunkan kapak itu.


"Pergi dari sini! Aku tak mau melihat wajahmu lagi! Akhiri pertunangan ini!" Teriakan Tante Cindy semakin keras terdengar olehku.


"Cindy, tidak bisakah kita bicara baik-baik?" Mama mengiba pada sahabat karibnya itu.


"Apa yang perlu dibicarakan, Rhesa? Aku hanya seorang ibu yang tak ingin melihat anaknya menderita."


Aku perhatikan Viona yang tengah duduk di sampingku. Wajahnya berurai air mata tanpa mau melihatku.


"Vee, maafkan aku! Aku sungguh minta maaf."


Setidaknya, aku sudah berusaha untuk jujur. Meski ada banyak orang yang dikorbankan di sini, aku tak punya pilihan.


"Kenapa Mas Arga nggak bertanya apa pun padaku?"


Langkah kaki itu menyusul kami yang sampai di ambang pintu.


"Aku ada di sini, aku korban dari keegoisanmu. Kenapa sedikit pun aku tak ditanya?" Viona berdiri di hadapanku dengan berurai air mata. "Kenapa nggak tanya padaku, apa aku mau pertunangan ini dihentikan atau tidak?"


"Viona!" seru Tante Cindy.


"Mas, coba tanyakan padaku, bagaimana perasaanku saat ini?" Viona meraih tanganku.


"Cepat tanyakan!" teriaknya.


"Maaf!"


"Kenapa terus mengatakan maaf? Mas Arga membuatku seperti orang bodoh. Kamu tahu, seberapa lama aku suka padamu? Lama ... sangat lama. Bahkan sebelum wanita itu muncul di hidupmu. Kamu tahu, seberapa aku bersabar agar aku bisa mendapatkan cintamu? Lama ... sangat lama. Bahkan jauh lebih lama dibanding dia yang jatuh cinta padamu. Sekarang, di saat pernikahan sudah direncanakan, di saat aku sudah membayangkan betapa aku akan hidup bahagia dengan orang yang sangat aku cintai ini, kamu justru menghempasku ke tanah yang penuh bebatuan hingga koyak seluruh dagingku."


Wajah yang selalu tersenyum ceria di hadapanku itu, kini berurai air mata. Penuh duka dan kesedihan, juga ribuan rasa kecewa. Dia membuatku seperti orang brengsek yang hanya bisa diam mematung tanpa tahu harus berbuat apa.


"Aku tak ingin melepasmu," ucapnya. "Sedikit pun aku tak punya niat untuk melepasmu, Mas Arga."


"Vee ...."


"Sungguhkah tak ada kesempatan bagiku untuk memohon padamu agar tidak memilihnya?"


Sebuah gelengan kepala aku persembahkan padanya, sebagai bentuk penyesalanku.


"Menikahlah dengannya dan aku akan menunggumu!"


"Apa?"


"Viona!" bentak Tante Cindy. "Sudah gila, kamu!"


"Akulah calon istrimu dan padakulah kamu harus minta ijin, bukan pada orang tuaku."


"Sudah gila, kamu rupanya!" Tante Cindy menarik lengan Viona menjauh dariku. "Kamu mau menghancurkan dirimu, hah?!"


"Mama sendiri? Apa mama mau melihat anakmu ini hancur?"


"Viona, kamu benar-benar keterlaluan!" geram Tante Cindy.


"Mas Arga, jika aku harus berperan sebagai seorang Sarah yang mengantarkan Hajar pada Ibrahim, maka aku akan melakukannya. Kenapa? Mas Arga tahu kenapa?"


Dia berjalan mendekat padaku. Diraihnya kedua pipiku dengan telapak tangannya yang terasa dingin.


"Karena aku ingin melihatmu bahagia. Karena kamu harus merasa bahagia ketika aku ingin hidup bahagia denganmu. Jika orang lain bisa membuatmu bahagia, maka aku akan merelakannya. Aku akan menunggu sampai Ibrahimku kembali padaku dan mencintaiku dengan sepenuh hatinya."


Sungguh, saat itu aku bisa merasakan. Betapa besar cintanya saat aku merasakan tubuhnya bergetar menahan tangis di dalam pelukanku.


Aku pun tak ingin menyakitinya. Aku pun tak pernah ingin menguji kesabaran cintanya untukku. Suatu hari nanti, aku pun berharap ada cinta yang tumbuh di hatiku untuknya.


"Maafkan aku, Vee! Terima kasih karena telah mencintaiku dengan begitu besar. Maaf!"


Viona, semoga aku punya kesempatan untuk mengganti kesedihanmu atas diriku.


"Berdoalah selalu untukku, wahai calon imamku! Semoga hatiku selalu lapang untuk menunggumu."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=