
(pov ARGA)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌼🌺🌼
Aku telah memilihnya ...
Sebagai pemilik ...
Sepatu kaca itu ...
🌼🌺🌼
---------------------------------------------------------------------
"Arga ... apa kamu ... jatuh cinta ... pada seorang Cinderella?"
"Apa?"
"Ah ... tidak. Lupakan!" sahut mama. "Aku ini mikir apa, sih?"
-----------------
-----------------------
RUMAH ARGA
"Pa, Arga ingin bicara sebentar."
"He'em. Masuklah!"
Sejujurnya, pertanyaan mama di mobil tadi sangatlah menggangguku. Entah kenapa, aku kian ragu untuk mengungkap segala hal tentang Luna dan aku padanya.
"Mama sudah pulang?" tanya papa yang duduk di ruang kerjanya.
"Iya."
"Ada apa? Kenapa mukamu abu-abu begitu?"
Papa nampak mengamatiku. Diletakkan buku yang dibacanya dan berjalan ke sofa yang ada di tengah ruang kerjanya.
"Ada yang mengganggu pikiranmu?" tanyanya.
"Soal Luna," kataku. "Papa, nggak memberi tahu mama, kan?"
"Belum," jawabnya.
"Jangan diberi tahu! Biar nanti aku sendiri yang menjelaskannya," kataku.
"Terus?"
"Hem?"
"Hubungannya dengan sikap aneh kamu saat ini apa?" tanya papa.
Aku masih berpikir. Rasa bingung tiba-tiba menyapa benakku. Aku hanya menunduk sambil memainkan jemariku.
"Kamu takut mama akan menolaknya?"
"He'em," anggukku.
"Kenapa?"
"Entahlah," gelengku. "Serasa ada yang mengganjal saja."
"Apa menurutmu, mama seorang yang akan bersikap jahat seperti itu?" tanya papa.
"Tidak. Mama orang yang baik," jawabku.
"Jadi?"
"Ehm ... aku mengkhawatirkan keadaan Luna, jika mama tak bisa menerimanya."
"Kan, belum dicoba," kata papa. "Kamu bahkan belum ngomong apa pun pada mama. Kenapa berburuk sangka begitu?"
"Papa benar. Aku harus mengakuinya pada mama agar aku merasa lega."
"Betul itu. Dan kamu harus kembali konsentrasi belajar! Sebentar lagi semester baru akan dimulai. Jangan sampai nilaimu turun!" kata papa.
"Iya. Aku tahu."
"Tidurlah, sudah malam!"
Aku pun melangkah menuju pintu kayu berukiran klasik itu.
"Papa!" Kuhentikan langkahku dan berbalik menatapnya. "Kenapa papa bisa menerima keadaan Luna?"
"Ehm ... kenapa, ya?" ucapnya seraya menggaruk-garuk janggutnya. "Mungkin karena kamu sedikit mirip dengan papa dulu."
"Mirip? Apanya?"
"Bukan ... bukan apa-apa. Sudah, pergi tidur, gih!"
--------------------
-------------
Ujian akhir semester pun mulai kami jalani. Penerimaan mahasiswa baru pun dimulai. Dan sampai saat itu pun, bibirku masih bungkam soal Luna pada mama. Pada akhirnya, aku tak punya keberanian untuk mengatakannya.
Dan soal hubunganku dengan Luna?
"Sudah selesai?" tanyaku.
"Beres semua. Aku yakin IPKku akan sempurna," jawab Luna dengan senyum terkembang di bibirnya.
"Kamu memang saingan terberatku, ya?"
"Iya. Dan aku pasti akan mengalahkanmu, Pangeran," katanya.
"Wah ... kita lihat saja! Akulah yang akan menjadi pemilik IPK tertinggi dan membuatmu bangga karena punya pacar yang ganteng dan pintar sepertiku. Hahaha ...."
"Apaan, sih? Hahaha ...."
Kami masih menjalani kehidupan kami dengan normal. Berangkat dan pulang kuliah bersama. Makan dan nonton di akhir pekan. Berjalan bergandengan tangan dan berbagi tawa bersama.
Aku ... masih sangat mencintainya.
-------------
----------------------
RUMAH ARGA
"Tunangan?!" pekikku.
"Kenapa ekspresimu terkejut begitu? Itu hanya rencana. Apa salahnya tunangan dulu? Nikahnya entar kalau kalian udah lulus, udah kerja."
"Kamu menolak?" sahut mama.
"Iyalah," kataku meyakinkan.
"Kenapa? Apa kamu sudah punya pacar? Ada gadis yang kamu suka?" selidik mama.
Aku melempar pandanganku pada papa yang sedang duduk mengamati reaksiku di samping mama.
Aku harus mengungkapkan keberadaan Luna sekarang juga. Aku tak mau bertunangan dengan Viona.
Tapi ... bagaimana kalau mama menolaknya?
Bagaimana kalau Luna semakin terpuruk karenanya?
"Arga," panggil papa. "Katakan saja, apa yang ingin kamu katakan! Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari!"
Benar.
Terserah bagaimana reaksi mama nanti. Aku tak mungkin menyembunyikan hal ini lagi.
"Mama," kataku. "Ada seorang gadis yang sedang dekat denganku. Dan aku ... aku ingin menjalani hubungan yang serius dengannya."
"Oh ya? Siapa dia?" tanya mama.
"Dia ...."
"Siapa?" sahut mama.
"Besok ... akan kubawa dia ke sini," kataku. "Setelah itu, mama boleh mengambil keputusan mama sendiri. Tapi aku ... aku harap ... mama menghentikan rencana mama untuk menjodohkan aku dengan Viona!"
Aku pun melangkah meninggalkan kedua orang tuaku itu.
"Dia benar-benar keras kepala, sama sepertimu, Sayang," kata papa.
"Dia sangat menggemaskan. Hahaha ...."
----------------------
----------------
"Arga ... kamu bercanda?!" seru Luna. "Bagaimana mungkin kamu berniat membawaku ke hadapan Bu Rhesa? Bunuh diri aku namanya."
Begitulah reaksinya. Dan aku sudah menduganya.
Pasti sangat berat saat dia harus bertemu mama, apalagi dia adalah pasiennya. Wajahnya mendadak pucat saat aku memintanya untuk ikut denganku menemui keluargaku.
"Luna ... nggak apa-apa." Aku meraih tangannya. "Aku melakukan ini, karena aku ingin serius denganmu. Aku nggak ingin hubungan kita sekedar main-main."
Gadis itu masih menatapku dengan tatapan bingung. Keraguan terpancar jelas dari sorot matanya yang sayu.
"Kamu sudah pernah bertemu papaku, kan? Bagaimana menurutmu? Orang seperti apa dia?"
"Ehm ... kelihatannya orang yang sabar dan baik," jawabnya.
"Kalau mama?"
"Bu Rhesa juga baik. Tapi ...."
"Nggak ada tapi," sahutku. "Mereka berdua adalah orang yang baik."
"Arga ... kenapa kamu nggak berpikir dari posisisku?" tanyanya dengan wajah sendu.
"Keadaanku, kondisiku dan bahkan ... aku gadis bermasalah yang sedang melakukan terapi psikologis dengan mamamu. Kamu pikir, keluargamu akan menerimaku dengan welcome? Itu mustahil, Arga."
"Kenapa mustahil?"
"Karena kamu hidup di dunia yang sangat berbeda denganku," jawabnya. "Kamu hidup seperti seorang pangeran, sedangkan aku ...."
"Nggak ada bedanya!" seruku. "Sudahlah, berhenti bicara omong kosong! Aku tanya padamu sekali lagi. Kamu mau ikut denganku ... atau tidak? Jawab sekarang juga!"
Mata itu nampak berkaca-kaca menatapku. Terlihat dia sedang menarik nafas berat untuk menenangkan dirinya.
"Baiklah," katanya.
"Sungguh?!"
"He'em," angguknya. "Tapi ...."
"Apalagi?"
"Jika semua berjalan di luar keinginan kita, bagaimana denganmu?" tanyanya.
"Kenapa masih tanya? Aku pasti akan tetap ada di sisimu."
Ya ... aku harap begitu. Semoga saja tak terjadi apa-apa. Semoga mama bisa menerimanya.
-------------------------
------------------
"Huft ...!"
Aku sedikit terkekeh melihat wajah tegang Luna, saat kami sampai di depan rumahku. Berkali-kali kulihat dia menarik dan menghembuskan nafas berat. Terlihat sekali kalau dia sedang gugup.
"Nggak apa." Aku menggenggam tangannya. "Kan, ada aku."
"Hah ...! Inikah rasanya diajakin pacar main ke rumahnya dan bertemu keluarganya? Astaga ... aku gugup sekali."
"Hahaha ...! Lucu banget, sih." Aku megusap ujung kepalanya dengan gemas. "Ayo, masuk!"
--------------------------
------------------
"Mas Arga beneran mau bawa ceweknya ke sini, Ma?" tanya Jesika, yang duduk di ruang tengah dengan mama dan papa. "Sejak kapan dia punya pacar? Jesi nggak pernah dengar."
"Entahlah. Mama juga nggak tahu," jawab mama. "Masmu itu sulit ditebak. Kadang juga suka semaunya sendiri."
"Ya, kan sama seperti mamanya. Hahaha ...." Papa menimpali.
------------
"Mama ... Papa ...!"
Kedua orang tuaku itu, bersamaan melempar pandang padaku.
"Mbak Luna?!" pekik Jesika.
Mama langsung terhenyak dari duduknya. Menatap heran dengan telapak tangan yang mengatup menutup mulutnya.
"Astaga!" seru mama. "Luna?!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=