WILL YOU MARRY ME?

WILL YOU MARRY ME?
Part 41


(pov ARGA)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌾🌾


Hari di mana angin bertiup kencang ...


Takdir bertitah padaku ...


Pergi ... pergi ... dan terus pergi ...


Itulah garis kehidupanku ...


🌾🌾


-------------------------------------------------------------------


"Sudah hentikan!" seru papa sambil mematikan mesin treadmill yang aku pakai.


"Mau sampai kapan kamu terus berlari di atas situ? Sudah lebih dari tiga jam kamu seperti ini. Mau pingsan, kamu?"


Aku turun dari mesin itu dan menyambar sebotol air mineral 500 ml. Kuteguk beberapa dan kubiarkan sisanya membanjiri leherku.


"Sial!" geramku sambil membanting botol yang masih berisi separuh air itu ke lantai.


"Kalau mau marah ... marah saja! Jangan menyiksa dirimu seperti ini!" kata papa.


Marah katanya? Kalau pun aku ingin marah, aku harus marah pada siapa?


"Arga, kita harus bicara!"


"Arga nggak ingin bicara, Pa."


"Arga!"


Aku tak ingin bicara pada siapa pun. Aku tak ingin membagi perasaanku pada siapa pun. Aku ingin sendiri. Aku hanya ingin sendiri tanpa ada yang menggangguku.


"Aaaaaaaaargh!"


Suara teriakanku beradu dengan gemericik air shower yang mengguyur sekujur tubuhku.


Bagaimana bisa jadi serumit ini?


Kami yang tidak berbuat, kenapa kami yang dapat imbasnya?


Masa lalu yang memuakkan itu, kenapa harus kami yang dipaksa menanggung semua akibatnya?


Kuhempaskan tubuhku di atas kasur. Kupejamkan mataku dan mencoba mencari ketenangan.


Di saat seperti ini, dialah yang selalu muncul di benakku. Hatiku yang terus tergores, mungkin sama juga dengannya. Suatu hal yang lebih menyakitkan, aku bahkan tak bisa ada di sisinya, di saat-saat yang menyedihkan seperti ini.


"Mas."


"Ada apa?"


Aku melihat Jesika melangkah gontai menghampiriku. Wajahnya terlihat sendu menatapku.


"Apa Mas Arga sudah putus dengan Mbak Luna?"


"Sudahlah, aku nggak ingin membahasnya." Aku beralih memunggunginya.


"Kemarin aku dari toko roti tempat Mbak Luna kerja dan dia memberiku ini."


Aku segera bangkit dan meraih sebuah benda kecil yang ada di telapak tangan Jesika.


"Apel?" gumamku.


Sebuah gantungan kunci berbentuk apel merah kecil.


"Luna yang memberimu ini?" tanyaku.


"He'em," angguknya.


"Apa dia bilang sesuatu?" tanyaku penasaran.


"Iya."


"Bilang apa?" Aku semakin tak sabar.


"Dia bilang, apelnya sudah busuk dan harus dibuang. Mas Arga nggak boleh mengambil apel itu lagi! Itu yang dia katakan."


"Aku pergi sebentar, Jesi."


"Mas, mau ke mana malam-malam begini? Mas Arga!"


Persetan dengan semua hal ini. Aku sudah muak. Aku tak tahan lagi. Aku juga punya keinginan. Mereka semua tak ada yang mau mengerti, apalagi bertanya.


Luna ... aku tak ingin kehilangan dia. Aku dan Luna tak ada hubungannya dengan masa lalu mereka. Kami tak perlu ikut berkorban. Tidak perlu melakukan pengorbanan yang sia-sia dan menyakiti hati kami.


Luna! Aku ingin selalu menggenggam tangannya.


***


21.15 WIB


Langkahku terhenti saat gadis berambut panjang itu terlihat keluar dari dalam toko roti. Dia berjalan sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya.


Malam itu udara terasa cukup dingin. Dedaunan nampak bergerak saling bergesekan. Aku percepat langkah dan meraih tangannya.


"Arga?!" serunya.


Ada apa dengannya?


Kenapa matanya terlihat begitu dalam?


Pergelangan tangannya pun terasa kian mengecil dalam genggamanku.


"Kenapa kamu kembalikan ini padaku?" Aku menaruh gantungan kunci apel itu di telapak tangannya. "Apa maksudnya?"


Gadis itu menengadahkan pandangannya padaku. Dia menatapku dengan mata sayunya.


"Aku tak berhak memilikinya lagi," jawabnya sambil menggenggamkan benda kecil itu padaku. "Apelnya sudah busuk dan harus dibuang."


"Bukan apelnya, tapi hatimu," sergahku. "Haruskah aku membuangmu dari hatiku? Haruskah?"


Cobalah jawab, Luna! Aku akan menentukan sikapku.


"Buanglah!"


"Apa?!" pekikku.


"Arga, ada sebuah kisah lagi selain Cinderella. Itu adalah Snow White. Saat penyihir memberi sang putri buah apel, maka matilah dia. Sejak awal, apel itu memang diberikan pada sang putri untuk membunuhnya. Itulah kenyataannya, Arga."


"Berhenti bicara omong kosong!" teriakku. "Cinderella ... Snow White! Aku nggak peduli. Yang aku pedulikan hanya---"


"Tapi aku peduli!" seru Luna. "Sebuah masa lalu yang kelam akan tetap menjadi segitiga bermuda yang akan menenggelamkan jika kita memaksa untuk melewatinya. Kamu tahu siapa yang akan tenggelam?"


Luna menatap tajam padaku. Pupil hitamnya bergetar dengan peluluk mata yang mulai berembun.


"Bu Rhesa," lanjutnya. "Mamamu yang akan tenggelam jika kita terus memaksa untuk menyeberang."


Sudut matanya mulai mengeluarkan bulir bening. Ditariknya tangan kecil itu dari genggamanku.


"Mamaku sudah pernah membuat orang taumu tenggelam sampai ke dasar, Arga. Aku tak ingin melakukan hal yang sama. Aku memang putrinya, tapi aku tak ingin jadi sepertinya."


"Lalu aku? Bagaimana denganku?"


"Kembalilah! Kembalilah ke masa di mana kamu belum bertemu dengan Cinderella ini!"


Sebuah mata yang menatapku tanpa keraguan sedikit pun. Seakan dia sedang mengatakan bahwa dia baik-baik saja tanpa aku. Akan tetapi, akulah yang merasa begitu hancur setiap kali melihatnya.


"Lebih baik, kapal kita yang karam daripada orang tua kita yang tenggelam. Selamat tinggal, Arga."


Dalam keheningan malam itu, saat bayangannya kian menjauh, dia terlihat bagai benteng yang begitu kokoh.


Angin yang bertiup kencang mengitarinya ... seakan percuma. Dia melangkah tanpa sekali pun menoleh padaku. Dia jadikan lukanya sebagai pasukan yang menjaga harga dirinya.


Luna! Aku bahkan tak mampu lagi untuk menggapainya.


***


06.30 WIB


Suasana di rumahku masih sama. Kediaman antara mama dan papa masih belum berakhir. Sikap mereka semakin membuatku merasa terbebani.


"Aku mohon, berhentilah bersikap seperti ini!" Kuadukan sendok dan piringku hingga timbul suara yang cukup keras. "Sampai kapan kalian akan terus diam? Sampai kapan suasana rumah ini jadi kelam seperti ini? Kalian bukan anak kecil lagi. Jika kalian nggak bisa melihatku, maka lihatlah adikku! Sikap kalian ini membuatnya sedih. Ada apa sebenarnya dengan kalian? Keterlaluan sekali!"


"Arga, jaga bicaramu!" bentak mama.


"Apalagi, Ma?" lirihku. "Arga sudah berusaha menjaga sikap. Arga juga sudah menahan diri untuk tidak bicara. Arga pun sudah membuang cinta Arga demi kalian. Sekarang apalagi? Apalagi yang mau kalian minta dariku?"


"Arga!" teriak mama.


"Rhes!" Papa menarik lengan mama.


"Setidaknya, berusahalah bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa! Aku juga akan berpura-pura tidak pernah terjadi apa-apa."


Sial! Mataku terasa panas. Sudut mataku terasa mulai berair.


"Aku mengorbankan perasaanku, karena aku tak ingin melihat mama dan papa seperti ini. Jadi, aku mohon ... jangan sia-siakan pengorbananku ini!"


Aku telah merelakan dan meninggalkan segalanya di belakang. Aku harap, setelah ini akan ada sebuah kisah baru yang tak akan menyakiti siapa pun ... termasuk mereka.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=