
(pov RHESA)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
πππ
Aku tak ingin sendiri ...
Karena aku takut ...
Aku ingin bersamanya ...
Karena aku ingin bahagia ...
Aku tak bisa bahagia ...
Jika aku seorang diri ...
Itulah sebuah alasan ...
Padanya ... cinta ini telah kutitipkan ...
πππ
---------------------------------------------------------------------
"Rhesaaa ...!" teriak Cindy.
"Cindy?!"
"Rhesaaa ... aku kangen banget. Kaaangen banget!" katanya, sambil memelukku erat.
"Kamu terlihat cantik dengan gaun pengantin itu. Ibu mertuamu benar-benar seorang perancang profesional."
"Kamu datang dengan dokter Vian?" tanyaku.
"He'em. Suamiku itu nggak pernah membiarkan aku pergi kemana-mana sendiri. Gara-gara perutku ini," katanya, sambil menunjuk kandungannya yang beusia 5 bulan.
Ingat dokter Vian? Dia dokter poli kejiwaan tempat kami praktek magang dulu. Rupanya dokter ganteng itu jatuh cinta pada sahabatku yang super heboh ini.
Sayangnya, aku tak bisa datang ke pernikahan mereka karena masih di luar negeri waktu itu.
-------
"Brother ...! Congratulation ... my love-love, Brother!" Sony memeluk erat Mas Dirga.
"Duh ... berhenti memanggilku alay kayak mama! Malu-maluin tahu!" geram Mas Dirga.
"Dia memang selalu bikin malu," sahut Karina, yang muncul dari belakang Sony.
"Kariiiin ...!" Aku pun langsung merangkulkan tanganku padanya.
"Hai ... Lady Dayana!" Karina memanggilku.
"Aku ikut bahagia melihat gaun pengantin ini menempel di tubuhmu."
"Aku juga ikut bahagia atas pertunanganmu dengan Direktur Utama Global Bank ... Sony Hermansyah," godaku.
"Duh ... berhenti bicarakan itu! Kalau nggak karena papa yang maksa, aku nggak bakal mau, tuh sama lelaki aneh kayak dia."
"Apa?! Akulah yang harusnya bilang begitu," sahut Sony. "Mana mau aku sama cewek bar-bar kayak kamu ... kalau nggak dipaksa."
"Udah ... udah ...! Ini, kan karma," sahut Cindy.
"Aku dulu, kan pernah bilang ke kalian ... orang yang sering bertengkar itu tandanya jodoh."
"Berisiiiiik ...!" teriak Sony dan Karina.
"Hahaha ...!"
Melihat kelakuan mereka berdua membuat kami tertawa.
Tak menyangka, kan? Kalau si jutek Karina bakal menikah sama si pecicilan Sony. Meski saling melempar ejekan ... tapi terlihat dari mata mereka bahwa mereka sedang jatuh cinta.
----------
Pada akhirnya, kami semua ... berada di tempat kami masing-masing. Setelah perjalanan panjang yang kami lewati.
Seperti aku dan Mas Dirga.
Sebuah pernikahan yang aku jalani. Hidup bersama suami yang masih asing bagiku. Perlahan, hubungan yang asing itu barubah jadi pertemanan ... lalu berubah jadi persaudaraan. Sampai akhirnya ... kami saling jatuh cinta dan mulai membangun bahtera bersama.
Tapi saat bahtera itu mulai berlayar, sebuah badai besar membuatnya karam. Hingga kami pun terpisah sangat lama.
Takdir yang tak pernah kami sangka, ternyata mempertemukan kami kembali. Hingga kami sampai di titik ini. Dimana bahtera yang dulu sempat karam, kini kami coba membangunnya kembali.
Kami coba berlayar lagi dengan cinta yang baru di antara kami.
------------------------
----------
22.50 WIB
Kulihat lelaki dengan tubuh jangkung itu berjalan memasuki kamarku. Sambil berjalan, dia melipat lengan kemeja panjangnya yang berwarna putih. Matanya yang nampak terlihat lelah dan sayu. Tapi senyuman itu, entah kenapa selalu menempel manis di bibirnya.
"Apa Mas Dirga sudah mematikan ponsel sebelum masuk ke kamar pengantin ini?" tanyaku.
"Hem? Apa?!" Mas Dirga terlihat bingung menatapku.
"Kalau sampai ponselmu berbunyi dan membuatmu pergi meninggalkan aku di malam pernikahan kita ... aku benar-benar akan membuatmu tidur di halaman rumah," godaku.
"Haha ... hahaha ...!" Tawanya langsung pecah begitu mendengar ucapanku.
Diraihnya tubuhku mendekat padanya. Sebuah ciuman hangat mendarat di keningku dengan lengannya yang terus mendekapku dengan erat.
"Nggak akan! Nggak akan aku ulangi semua hal-hal bodoh yang akan menyakitimu, Sayang," bisiknya.
"Benarkah?"
"He'em. Tentu saja! Aku, kan sudah susah payah berdoa agar dipertemukan lagi denganmu. Masa' aku mau ngulang kesalahan yang sama?!"
"Boleh aku tahu, gimana Mas Dirga berdoanya?"
"Ehm ... gini ... Tuhan, bila masih kudiberi kesempatan. Ijinkan aku untuk mencintainya.
Namun bila waktuku telah habis dengannya.
"Apaan?! Itu, kan lirik lagunya Glenn Fredly," kataku sambil menahan tawa.
"Oh ya?! Padahal itu isi hatiku banget, lho!" dia pun ikutan tertawa.
"Eh ... di mana Arga? Sedari usai pesta, aku sama sekali tak melihatnya."
"Papa dan mama membawanya pulang bersama mereka."
"Lho ... kenapa?!"
"Kenapa?!" seru Mas Dirga. "Rhes ... kamu, kok nggak peka banget, sih di situasi seperti ini?!" kesalnya.
"Situasi seperti apa maksudnya?" godaku.
"Kamu benar-benar ingin mempermainkan aku, ya?"
Ditariknya tubuhku ke padanya. Dan menarikku jatuh ke atas kasur.
"Ma--mau apa?"
"Menurutmu? Apa yang akan aku lakukan padamu?"
Mas Dirga semakin mendekatkan wajahnya padaku. Hembusan nafasnya sampai terasa hangat kurasakan. Jantungku mulai berdetak tak karuan saat dia mengecup sedikit bibirku dengan lembut.
"Masih sama," gumamnya.
"A--apanya?!" kataku salah tingkah.
"Rasanya masih sama," katanya. "Kenapa semua yang ada di dirimu nggak ada yang berubah? Wajahmu ... senyummu ... marahmu ... bibirmu ... semua terasa sama.
Aku penasaran ... apa rasa yang lainnya juga masih sama?" katanya, sambil mengerling jail.
"Iih ... dasar mesum!"
Ditariknya aku ke dalam pelukkannya.
"Nggak ada yang berubah. Termasuk perasaanku kepadamu. Semua masih sama seperti yang dulu. Bahkan perasaan cinta ini semakin bertambah dan terus bertambah.
Aku sangat mencintaimu, Sayang! Sangat!"
--------------------------
-------------
04.00 WIB
KRIIING ...! KRIIING ...!
Kutekan tombol "off" pada alarm di atas kepala dipan.
Kulihat ke sisi kananku.
Suamiku ... dia masih tertidur dengan pulas.
Syukurlah ... ini bukanlah mimpi. Kami sungguh menghabiskan malam bersama.
Kenapa rasanya deja vu, ya?!
"Mau kemana?" Mas Dirga tiba-tiba menarikku ke padanya saat aku hendak beranjak dari tempat tidur.
Dia kembali menutupi tubuhku dengan selimut dan memelukku erat.
"Habis subuhan, kita tidur lagi, ya, Sayang!" katanya.
"Emang Mas Dirga nggak kerja?"
"Enggak! Aku udah ijin ke papa. Aku mau bolos kerja sampai kamu hamil. Biar Arga cepet dapet adek."
"Apaan, sih?!"
Benar ...!
Tak ada yang berubah.
Perasaan yang aku rasakan saat membenamkan tubuhku dalam pelukannya pun masih terasa sama.
Dan aku ... ingin selamanya merasakan rasa yang seperti ini.
"Aku mencintaimu, Mas Dirga."
"Aku lebih mencintaimu, Sayang," sahutnya.
"Aku ingin hidup selamanya ... hanya denganmu, Mas Dirga."
"Keinginanku untuk itu ... lebih besar darimu, istriku."
"Terima kasih ... sudah memberi banyak cinta padaku," kataku.
"Terima kasih ... karena kamu selalu membuatku jatuh cinta padamu."
"Aku sangat mencintaimu, Mas Dirga."
"Aku juga sangat mencintaimu, Rhesa."
"Aku sangat ... sangat ... dan sangat mencintaimu, Mas Dirga."
"Ya ampun ... sekali lagi kamu katakan itu ... kamu pasti dapat hadiah piring keren tahu!"
"Nggak perlu. Aku udah dapat suami yang saaangat keren!"
"Hahaha ...!"
Beberapa orang ... mungkin memiliki jalan hidup seperti sabuah drama. Hidup kami ... lebih dramatis daripada drama.
Kami pun selalu berdoa ... agar hidup kami yang bagai drama ini ... juga bisa berakhir bahagia ... seperti sebuah drama.
------------------
-------------------------------------
Salam Sejuta Cinta
β€RHESA dan DIRGAβ€
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=