WILL YOU MARRY ME?

WILL YOU MARRY ME?
Part 18


(pov RHESA)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


⚘⚘⚘


Sebuah hal ...


Yang tak lagi bisa terulang ...


Penyesalan ...


Dengan ribuan kegundahan ...


Tak berguna ...


Tak ada artinya ...


Saat semuanya mulai dijauhkan ...


Hilang ... entah kemana ...


⚘⚘⚘


---------------------------------------------------------------------


"Apa ini, Rhes?"


Deja vu, kan?!


Sama seperti saat aku memberinya surat perjanjian dulu. Saat aku sudah tak sanggup lagi menahan semua tekanan yang aku rasakan.


"Itu surat gugatan cerai dariku ... untukmu!"


"Apa?!"


Mas Dirga menelusuri setiap kata di kertas itu. Kulihat tangannya mulai bergetar meremas kertas yang dipegangnya. Sorot matanya tajam menghujamku.


"Kamu sudah nggak waras, hah?!" teriaknya.


"Aku nggak mau menceraikanmu. Buang jauh-jauh pikiran gilamu itu!"


Dirobeknya kertas itu menjadi serpihan kecil.


Aku tahu dia akan bereaksi seperti itu dan aku pun siap menerima kemarahannya.


"Mas Dirga!" Kubuka suara saat dia sudah mulai mengendalikan emosinya. "Apa kamu masih ingat? Dulu kamu pernah bilang padaku. Saat aku mulai merasa jengah ... saat aku semakin merasa tersiksa hidup bersamamu ... saat aku minta cerai ... saat itu juga Mas Dirga akan melepaskanku. Kamu masih ingat itu, kan?"


Mas Dirga terus berpaling dariku. Beberapa kali kulihat dia menyeka air mata di sudut matanya.


"Mas Dirga!" Kukatupkan kedua telapak tanganku di hadapannya. "Saat ini ... aku merasa jengah. Aku sangat tersiksa. Aku udah nggak bisa lagi mencoba melapangkan hatiku. Hatiku ini ... semakin hari semakin menyempit. Sakit sekali."


Air mata yang berusaha aku tahan, akhirnya meluncur juga di pipiku.


"Kenapa kamu seperti ini, Rhes!" Tangis pun terdengar darinya. "Kamu yang memaksaku menikahi Clara. Kenapa sekarang kamu yang meminta cerai dariku? Sedikit pun, perasaanku padamu nggak pernah berkurang. Enggak sama sekali!


Jika kamu merasa cemburu karena aku lebih perhatian pada Clara ... itu bukan berarti aku mencintainya. Aku hanya peduli dengan bayinya."


"Aku tau," sahutku. "Dan aku ... aku nggak sanggup lagi bersaing dengan calon bayimu. Aku bukan wanita dengan hati lapang yang bisa ikhlas membagi suamiku dengan wanita lain. Jika bukan karena ada bayi itu, aku sungguh tak ingin menjalani pernikahan seperti ini. Aku nggak sanggup."


"Sudah hentikan omong kosong ini! Aku muak mendengarnya!" bentaknya. "Kita nggak akan bercerai! Titik!"


Aku meraih tangannya. Mengatupkannya dengan tanganku.


"Mas Dirga ... aku sungguh sudah nggak sanggup lagi! Jika rasa sakitku ini dibiarkan semakin lama, aku takut ... lama-lama aku bisa membencimu."


"Rhes ..."


"Aku mohon ... aku mohon lepaskan aku, Mas Dirga!"


Mata itu ... mata yang sering aku lihat penuh keteduhan. Senyum yang biasanya terpancar manis untukku. Kini ... entah hilang kemana semua itu.


Aku hanya dapat melihat ribuan kesedihan dan kabut air mata yang penuh di pelupuk matanya. Di mata pemilik seluruh hatiku ini.


"Nggak adakah sisa cinta untukku, Rhesa? Nggak adakah kesempatan untukku? Nggak adakah kesabaranmu untukku?"


Aku mencintainya.


Aku sungguh mencintainya. Tapi, aku tak sanggup hidup dengan membagi cintanya.


"Kamu sungguh ingin kita bercerai?" tanyanya dengan suara bergetar.


"Iya."


Kulihat air mata semakin deras mengalir dari mata teduhnya. Hatiku sungguh berat. Kenapa harus seperti ini akhir dari cinta kami? Kenapa begitu sulit untuk menjaga keteguhan hati ini?


"Baiklah! Akan aku lakukan apapun ... apapun yang akan membuatmu senang, Rhesa!"


Hawa panas seakan mengalir cepat di aliran darahku, saat Mas Dirga meletakkan telapak tangan kanannya di atas ubun-ubunku.


"Rhesa Dayana Putri ... aku ..." Suaranya terhenti saat tangisnya mulai pecah. "aku ... aku menjatuhkan ..."


Hatiku semakin bergemuruh. Aliran oksigen seakan berhenti masuk ke dalam paru-paruku, saat aku merasakan tangan Mas Dirga gemetar di atas kepalaku.


"Aku menjatuhkan ... talak tiga padamu!"


Bersamaan dengan air mata yang terus mengalir dari matanya, Mas Dirga menarik tangannya dari atas kepalaku.


Dan aku pun mundur beberapa langkah darinya.


Raga kami yang mundur menjauh. Mata kami yang masih saling terpaut ... memandang pilu. Air mata mengalir semakin deras tanpa bisa kami bendung.


Sebuah ijab qobul yang menjadi benang merah di antara kami. Kini berubah jadi kata talak yang bagaikan lautan luas ... yang menenggelamkan bahtera rumah tangga kami.


Tak bisa lagi kami saling menghapus air mata.


Tak bisa lagi kami saling memeluk untuk saling menenangkan.


Kini ... semua kembali ke awal.


Dimana kami sama-sama menjadi orang asing.


"Selamat tinggal, suamiku."


-------------------------------------


-------------------------------


------------------------


Dua bulan berlalu. Sidang perceraian kami pun selesai.


Aku menumpang di kontrakan Cindy sambil mengurus keberangkatanku ke luar negeri untuk S2-ku.


"Maaf, ya, Cindy ... dua bulan ini aku terus merepotkanmu!"


"Hei ... ayolah! Aku, kan udah bilang, apapun yang terjadi padamu, aku dan Karina adalah tempat yang harus kamu datangi! Kamu mengerti?" kata Cindy.


"Iya. Terima kasih," kataku. "Baiklah ... aku akan lanjutkan berkemas untuk keberangkatanku besok pagi," kataku sembari bangkit dari duduk.


BRUK!


"Rhesaaa ...! Kamu kenapa?!" seru Cindy.


"Sa ... sakit! Sakit sekali!" rintihku.


Pusing yang teramat sangat tiba-tiba menyergap kepalaku. Cindy pun akhirnya membawaku ke tempat Karina bekerja di Rumah Sakit Jaya Medika.


-------------


-------------


"Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia terlihat kesakitan begitu?" cercah Cindy, khawatir.


"Apa aku punya penyakit serius?" tamyaku.


"Enggak. Kamu baik-baik aja, kok! Bahkan sangat baik," kata Karina.


"Aah ... syukurlah!" Kuhembuskan nafas lega.


"Tapi kenapa tiba-tiba kepalaku begitu pusing?"


Karina nampak menggigit bibir bawahnya. Terlihat keraguan di guratan wajahnya.


"Karina, katakan! Ada apa denganku?" desakku.


"Rhesa ..." Karina terlihat ragu. "Ada janin ... di rahimmu."


"Apa?!" Aku dan Cindy berseru bersamaan.


"Ka--Karina ... kamu bercanda, kan?"


Temanku itu hanya menggeleng menanggapiku.


"A--aku ...! Nggak mungkin!"


"Usianya sudah dua belas minggu," lanjut Karina. "Itu artinya ... kamu sudah hamil empat minggu saat bercerai dengan suamimu."


Tumpah sudah!


Lagi-lagi air mataku ini tumpah. Di saat seperti ini ... aku bahkan tak tahu harus merasa bahagia atau bersedih.


"Rhes, kamu nggak apa-apa?" Cindy memandang khawatir padaku. "Apa kita harus memberitahu Dirga soal ini?"


"Enggak!" sahutku cepat. "Kalian harus berjanji padaku! Keluarga Mahesa nggak boleh tahu soal anak ini ... termasuk ayah kandungnya!"


"Rhes, jangan bodoh!" kata Karina, mulai beremosi. "Apa kamu pikir ... kamu akan bisa membesarkannya sendirian?!"


Kedua sahabatku itu menatapku nanar. Rasa iba terpancar dari sorot mata mereka.


"Karina, terakhir kalinya ... aku mohon bantuanmu!" kataku. "Dengan kekuasaan ayahmu, tolong tutup semua informasi tentangku! Baik kampus maupun tempat tinggalku nanti. Aku nggak ingin Mas Dirga menemukan aku, juga anakku."


"Kamu yakin?" tanya Karina.


"Iya. Aku sangat yakin."


Anak ini adalah hal terakhir yang aku milikinya. Aku akan membawanya kemana pun aku pergi. Dengan begitu ... aku tak akan merasa sendirian lagi.


Terima kasih untuk hadiah terakhir yang kamu berikan padaku ini, Mas Dirga.


Aku akan menjaganya dengan baik.


-------------------------


-------------------------


(POV DIRGA)


RUMAH DIRGA


"Sudah aku bilang, jangan pernah injakkan kakimu di sini!"


Suara teriakan Clara dari dalam rumah membuatku urung membuka pintu.


"Aku sudah memberimu uang tutup mulut. Aku juga sudah membantumu untuk mendapatkan kontrak dengan Mahesa Corporation, Rudy. Jangan coba macam-macam sekarang!"


"Aku nggak bisa terus-terusan membohongi Dirga, Clara. Dia orang baik. Lagipula ... aku sudah bilang padamu kalau aku akan bertanggung jawab dan menikahimu. Kenapa kamu malah menjebak Dirga dan bilang seolah-olah dialah ayah dari anak yang kamu kandung?! Kenapa kamu bisa sejahat itu, Clara?!"


"Apa maksud kata-katamu, Rudy?" Aku masuk di tengah-tengah perdebatan mereka.


"Dirga?!" pekik Clara dan Rudy.


"Apa maksudmu?! Apa maksud kata-katamu itu?!" teriakku, pada Rudy.


Clara dan Rudy nampak pucat menatapku.


"Apa hubunganmu dengan Clara? Kenapa kamu ada di rumahku sekarang?!"


"Dirga, biar aku jelaskan!" kata Clara.


"Diam! Aku tak sedang bicara padamu," geramku. "Rudy ... kamu harus menjelaskan semuanya padaku sekarang jugaaa ...!" teriakku.


"Dirga ... Rudy ke sini untuk membicarakan soal pekerjaan," kata Clara.


"Aku nggak mau dengar apapun darimu. Aku mau dengar semuanya dari lelaki itu! "Katakan, Rudy ... katakan yang sebenarnya!"


"Aku ..." Rudy membuka suaranya dengan ragu. "Aku dan Clara ... kami lebih dari sekedar teman biasa."


"Apa?!"


"Bohong! Jangan percaya, Dirga! Dia menipumu!" seru Clara.


"Tidak. Aku sama sekali tak menipumu, Dirga," sahut Rudy. "Clara bahkan membantuku mendapatkan kontrak dengan Mahesa Corporation. Dan sebagai gantinya ... Clara menggunakan anakku untuk menjebakmu."


"A--apa maksudmu?!"


"Kejadian di hotel waktu itu ... semua sudah direncanakan. Akulah yang memasukkan obat tidur ke dalam minumanmu, Dirga."


"Tidaaak ...!" teriak Clara. "Tidak, Dirga! Jangan percaya dia!"


"Sudah kubilang, tutup mulutmuuu ...!" bentakku.


"Tidak terjadi apapun antara kamu dan Clara di hotel itu. Akulah saksinya," lanjut Rudy.


"Dan anak yang dikandung Clara ... itu bukan anakmu!"


"Apa?! Apa maksudmu, hah?!" Aku mencengkeram krah baju Rudy dan mendorongnya ke tembok.


"Kalau kamu tak percaya ... coba saja kamu tanyakan sendiri pada Clara! Jika usia kandungannya tujuh bulan ... artinya itu adalah anakmu. Tapi jika usia kandungannya sudah delapan bulan ... itu artinya anak itu adalah anakku."


Aku mengalihkan pandanganku pada Clara. Wanita itu nampak pucat tanpa berani menatapku.


Aku mencengkeram erat kedua lengannya.


"Jangan coba-coba berbohong padaku, Clara! Katakan! Siapa ayah dari bayi yang kamu kandung itu?!"


Aku sudah sekuat tenaga menahan amarahku. Aku berharap kamu tak menghancurkan kepercayaanku, Clara!


Aku berharap ... kali ini Rudylah yang berbohong.


"Katakan ... siapa ayah dari bayimu itu, Clara?!" teriakku.


"Di--dia ... Ru--Ru--dy."


Tanganku yang tadi mecengkeramnya dengan kuat, serasa dicabut semua otot-otot di dalamnya.


Bisa-bisanya ...!


Bisa-bisanya seseorang yang selama ini aku anggap teman baik. Seseorang yang selama ini aku lindungi.


Bisa-bisanya kamu sekejam ini padaku, Clara!


"Kalian ... pergi dari sini!" kataku, dingin.


"Dirgaaa ...!" Clara bersujud di kakiku sambil bercucuran air mata. "Aku mohon maafkan aku! Aku melakukan ini karena aku sungguh mencintaimu!"


"Cinta?! Hah ... menjijikkan! Kamu sama sekali tak pernah mencintaiku. Kamu hanya terobsesi padaku, kamu tahu?!"


"Tidak, Dirga! Jangan seperti ini padaku! Aku adalah istrimu. Aku istrimu yang sah, Dirga!"


"Istri katamu?!" Aku menatapnya dengan sinis. "Detik ini juga ... aku menceraikanmu!"


"Dirgaaaa!"


"Pergi dari sini! Jangan pernah perlihatkan wajahmu lagi di hadapanku!"


---------


Hancur sudah!


Hancur sudah seluruh hidupku.


PYAR! PRANG!


"Aaaaaaargh ... siaaal ...! Br*ngs*k ... br*ngs*k!"


Suara kegaduhan dari kaca-kaca pecah di setiap sudut rumahku, bahkan tak bisa lagi terdengar oleh telingaku.


"Rhesa," gumamku. "Sekarang kamu di mana, Rhesa?"


------------------


------------------


RUMAH SAKIT JAYA MEDIKA


"Kamu tahu dimana Rhesa, kan? Katakan padaku, dimana dia, Karina?!"


"Untuk apa?!" Karina bernada sinis.


"Agar kamu bisa menyakitinya lagi, hah?!


Dirga Mahesa ... kamu nggak pantas mendapatkan wanita seperti Rhesa."


Kamu lihat?


Aku bahkan sampai berlutut pada seorang manusia, hanya untuk mencarimu, Rhesa.


Harga diriku sudah benar-benar aku buang agar aku bisa menemukanmu.


"Aku mohon, Karina!" Aku berlutut di hadapannya. "Aku sudah mencari tahu semua hal tentang Rhesa. Tapi semua akses seakan diblokir dengan sengaja. Kamu pasti ada di balik semua ini, kan?! Beritahu aku dimana dia! Aku harus menemukannya."


"Maaf, Dirga! Rhesa sudah hidup bahagia sekarang. Dia tak mau kamu masuk di kehidupannya lagi!"


-------------


----------


Seakan langit dan bumi tak merestuiku untuk menemukanmu kembali. Bahkan untuk minta maaf pun rasanya sangat sulit.


Mungkin ini adalah sebuah karma karena aku telah melepaskanmu dengan begitu mudah.


Sesulit inikah untukku bisa menemukanmu, Rhesa?


Tak pantaskah bagiku untuk berdiri di hadapanmu lagi?


---------------


---------------


Hari-hari yang aku lewati ...


Bulan-bulan yang terlalui ...


Tahun-tahun yang terus berganti ...


Tak pernah bisa aku menghapus siluetmu dari benakku.


Aku masih tetap berharap ... suatu hari ... Tuhan akan mempertemukan kita kembali dalam keadaan yang lebih baik.


Aku merindukanmu, Rhesa!


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=