WILL YOU MARRY ME?

WILL YOU MARRY ME?
Part 14


(pov RHESA)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🎨🎨🎨


Bulan itu terlihat biru ...


Justru langit yang terlihat merah ...


Itulah yang kurasa ...


Saat hati manusia menjadi keruh ...


Mau berwarna apa dunia kita ...


Pikiranlah yang pengaruhinya ...


Hitam ... abu-abu ... atau berwarna cerah ...


Hati kitalah ... sebagai porosnya ...


🎨🎨🎨


---------------------------------------------------------------------


"Kamu kenapa, sih seharian ini mukanya abu-abu terus?" tanya Cindy, saat kami sedang makan di kantin kampus.


"Pertengkaran suami istri?" sahut Karina.


Aku hanya menghela nafas dan menjatuhkan kepalaku di atas meja.


"Eh ... beneran, Rhes?" Cindy nampak tak percaya.


"Memang apalagi yang bikin galau wanita yang sudah bersuami, kalau bukan pertengkaran di antara mereka?" Karina menyahuti.


Aku mendongakkan kepalaku. Kulihat kedua sahabatku itu nampak menatapku seakan menungguku bercerita.


"Wanita itu datang lagi," gumamku.


"Wanita?!" tanya Cindy.


"Clara," jawabku.


Aku pun akhirnya menceritakan soal Clara pada mereka.


"Wah ... gila!" seru Cindy. "Aku nggak percaya ada kejadian seperti itu di hari pernikahanmu."


"Aaargh ... menyebalkan sekali!" keluhku.


"Kalau udah menyangkut wanita itu, Mas Dirga udah kayak robot yang dilengkapi remote control, tahu nggak?!"


"Hei!" Karina menepuk-nepuk pundakku.


"Harusnya dari awal kamu sadar, kalau suamimu itu bukan orang biasa!"


"Maksudmu?" Aku mengernyit bingung.


"Sudah menjadi hal wajar kalau seorang Dirga Mahesa bisa dengan mudah mendapatkan apapun yang diinginkannya," kata Karina.


"Kamu lihat saja pada kasus Lady Escort waktu itu! Kejadian besar dan berbahaya seperti itu, bahkan media pun tak mampu mengendusnya. Apalagi soal mendapatkan wanita. Tanpa mencari pun ... akan datang ribuan wanita untuk menunggunya menjadi duda."


"Kariiiin!" teriak Cindy.


"Kenapa? Aku, kan ngomong yang sebenernya."


"Huwaaaaaa ... kata-katamu bikin aku tambah baper, tahu nggak!" rengekku.


"Udahlah, Rhes gak usah dengerin dia! Lagian sepertinya suamimu itu tipe setia, kok!" kata Cindy.


"Kalau yang mengganggumu hanya wanita bernama Clara itu, kita cukup menyingkirkannya saja!" kata Karina.


"Caranya?" Aku dan Cindy jadi antusias.


"Gampang," sahut Karina. "Tinggal suntik mati saja."


"Karinaaaaaaa ...!"


"Hanya bercanda," katanya, dengan muka datar.


-----------------------


-----------------------


KANTOR DIRGA


Kalau memang Clara tidak mau menyerah pada suamiku, maka akulah yang harus membawa Mas Dirga menjauh darinya.


Sesetia apapun suami pada istrinya, kalau terus digoda, apa tak bakal runtuh itu pertahanannya?


Karena itulah aku ada di kantor ini sekarang.


Aku melangkah dengan penuh semangat memasuki ruangan Mas Dirga. Kudorong pintu itu dengan memasang wajah berseri-seri.


"Mas Dirga, gimana kalau kita ..."


"Rhesa?!"


Iiiih ... sialan! Wajah nenek lampir itu jadi merusak moodku aja. Aku melihat Clara ada di ruangan suamiku.


Kesal? Tentu saja! Tapi aku akan kalah darinya kalau aku langsung memprotes suamiku di sini.


Wanita gila ini sudah terang-terangan mengibarkan bendera perang padaku. Tak akan aku biarkan dia melangkah lebih jauh!


Kuhampiri suamiku yang tengah berdiri di samping Clara sambil memeriksa lembaran-lembaran berkas. Aku gapit lengannya dengan memasang wajah cerah ceria.


"Kita makan malam bareng, yuk!" kataku.


"Apa?! Kenapa tiba-tiba?" tanya Mas Dirga, heran.


Mas Dirga nampak bingung dengan ekspresiku. Dia pasti heran. Aku yang biasanya langsung anarkis saat melihat Clara, kali ini malah bersikap sebaliknya.


"Mas Dirga, masih sibuk, ya?" tanyaku.


"Memangnya kamu nggak bisa lihat kami masih bekerja?" sahut Clara.


"Aku, sih nggak peduli kalau kamu sibuk atau enggak. Aku, kan mau makan malam dengan suamiku, bukan denganmu," ketusku, pada Clara.


Itu muka si Clara sudah persis udang rebus karena menahan kesal padaku.


"Gimana?" Aku menatap Mas Dirga.


"Tinggal periksa satu dokumen lagi. Tunggu, ya!" kata Mas Dirga.


"Okey. Aku tunggu di lobi,ya. Eemmmmuuach ...!"


Sengaja, aku mencium pipi Mas Dirga dengan mesra. Biar sekalian sakit mata itu si Clara melihatnya.


----------------------


----------------------


WARUNG PENYETAN


"Ada apa? Apa sesuatu yang baik terjadi?" tanya Mas Dirga.


"Enggak juga," jawabku, sambil memasukkan bebek goreng ke mulutku.


"Hari ini kamu kelihatan aneh, deh!"


"Bukannya tiap hari juga aku kelihatan aneh?" ucapku, sedikit kesal.


Andai pun ada banyak wanita di sekelilingku ... Aah ... ayolah, aku bukan lelaki seperti itu!"


"Mas Dirga!" Kutatap lekat suamiku itu. "Apa kamu tahu betapa bahayanya seorang wanita saat mereka jatuh cinta?"


Mas Dirga nampak mengernyitkan dahinya.


"Mereka bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan orang yang dicintainya. Kalau perlu, mereka akan menghancurkan kebahagiaan wanita lainnya."


"Ayolah, Rhes ... hal seperti itu tak akan terjadi padaku!" katanya.


"Ya, semoga saja begitu," sahutku. "Kalau Mas Dirga berbuat macam-macam seperti itu, aku akan langsung minta cerai darimu."


"Haha ... kamu nggak mau dapat hadiah surga kalau dimadu?" godanya.


"Aku nggak pernah merindukan surga yang seperti itu," kesalku. "Kalau pun aku bisa berjalan ke surga, aku hanya ingin bersamamu. Bukan dengan madumu! Kamu paham?!"


"Iya, Nyonya Dirga Mahesa Rizaski. Saya sangat paham," katanya, sambil tertawa.


-------------------


-------------------


Beberapa bulan berlalu dengan cepat. Termasuk kehidupan kuliahku. Aku pun memasuki masa magangku.


"Jadi, kamu akan mulai praktek kerja lusa?" tanya Mas Dirga saat membantuku beberes untuk persiapan praktek di rumah sakit.


"Cepat sekali, ya ... seperti baru kemarin kamu masuk kuliah, bentar lagi udah mau lulus aja."


"He'em. Mas Dirga gak ikut ngerasain, sih ... makanya terasa cepet."


"Kalau gitu, bisa coba sekarang, dong?" katanya.


"Coba apa?"


"Coba dijadiin anak," katanya, dengan mata berkilauan penuh harap.


Aku mengusap ujung kepalanya dan mengecup lembut keningnya.


"Sabar, ya, Sayang ... nunggu aku lulus sebentar lagi!"


Sesaat aku melihat raut kecewa di wajahnya. Tapi kemudian senyum manis mulai diperlihatkannya dan memelukku erat.


"Beri aku malaikat kecil yang banyak, ya!" bisiknya.


"Apaan, sih?!"


-----------------


-----------------


RUMAH SAKIT JAYA MEDIKA


Hari dimana kami praktek kerja pun dimulai. Beruntungnya ... aku, Karina dan Cindy ... nilai kami mencapai target. Jadi kami mendapat tempat praktek di rumah sakit pilihan pertama ... yaitu rumah sakit keluarganya Karina.


Aku dan Cindy masuk di poli kejiwaan. Sedangkan Karina masuk di poli bedah.


"Selamat pagi." Aku dan Cindy memberi salam pada para perawat dan dokter di poli tempat kami akan praktek.


"Kalian anak magang itu? Masuklah, akan aku jelaskan tugas-tugas kalian!"


Beruntungnya kami dapat para senior yang enak diajak bicara. Kami pun jadi tak merasa canggung untuk bertanya.


"Pasien no.235," panggil seorang perawat.


Seorang ibu muda, mungkin berusia sekitar 27 tahun masuk ke dalam ruangan bersama dengan suaminya.


"Halo, Bu Rara ... sudah makan siang?" sapa dokter Vian.


Ya ... ini sudah jam makan siang tapi pasiennya masih sangat banyak.


"Suster, bawa ibu Rara ke kamar periksa dulu, saya ingin berbicara sedikt dengan bapak!" kata dokter Vian.


"Baik, Dok! Mari, Bu ... kita duduk-duduk di sana dulu, ya!" kata si Mbak perawat.


"Apa istri Anda berbuat ekstrim lagi?"


Ekstrim?! Ekstrim yang bagaimana maksudnya? Memangnya wanita itu kenapa? Begitulah pikirku.


"Dua hari lalu dia menenggelamkan bayi kami di bak mandi, Dok! Untung saya memergokinya waktu itu," jawab si suami.


Aku terperanjat mendengar kata-kata lelaki itu. Tubuhku langsung gemetar saat menatap wanita yang duduk diam seakan tak berdaya itu.


"Apa alasannya kali ini?" tanya dokter Vian.


"Dia merasa sulit tidur karena bayinya nangis terus. Saat bayi itu dimasukkannya ke dalam air, bayi itu langsung diam dan dia bisa tidur dengan pulas. Begitulah penjelasannya, Dok!"


"Baby Bluesnya masih belum hilang sepenuhnya, ya?!" Dokter Vian nampak manggut-manggut.


Aku tahu semua ini akan berkaitan dengan pekerjaanku. Tapi, rasanya aku sedikit tak suka ada di tempat seperti ini. Ini terlalu mengerikan.


----------------


PERJALANAN PULANG


"Kenapa wajahmu kelihatan lesu begitu?" tanya Mas Dirga. "Ada apa?"


"Pasien yang datang ke poli, mereka semua membuatku takut," kataku, sembari menyandarkan kepala ke jendela mobil.


"Apa yang terjadi?"


"Banyak kasus yang menurutku sangat impossible," kataku. "Ada seorang ibu yang mengalami baby blues bahkan sampai mencoba membunuh bayinya. Ada juga anak kecil yang mendorong temannya dari tangga karena dia penasaran apa temannya itu akan langsung mati atau enggak. Parahnya ... hal seperti itu, sering dia lihat di film-film dan dia penasaran ingin mempraktekkannya. Astaga! Aku jadi teringat pada sebuah drama korea yang pernah aku tonton beberapa waktu lalu. Aku pikir semua itu hanya karangan penulis, ternyata memang benar ada, ya."


Mas Dirga meraih tanganku dan berkata,


"Ayo pergi ke suatu tempat! Kelihatannya kamu perlu udara segar."


---------------


---------


Akhirnya dia pun membawaku ke pantai tak jauh dari kota. Sebuah pantai yang masih sepi. Sepertinya belum banyak orang yang tahu tempat ini.


"Aaah ... hangatnya udara pantai di sore hari!" kataku, sembari meregangkan badan.


"Ayo kita sewa sepeda dan berkeliling!"


Kami pun menyusuri jalanan pantai dengan sepeda. Mas Dirga mengayuhnya dengan santi sambil menikmati hembusan angin sepoi-sepoi. Dan aku duduk di boncengan sambil melepas semua penat yang nempel di pundakku.


"Rhes, kamu tahu?" Mas Dirga membuka suara. "Saat kita masih sekolah, kita pasti berharap cepat lulus dan bekerja. Tanpa tahu bahwa dunia kerja itu terkadang sangat menakutkan. Kita bahkan akan bertemu dengan hal-hal atau pun orang-orang yang ingin kita hindari. Seperti pekerjaanmu saat ini. Mungkin terlihat menakutkan. Tapi saat kamu berniat untuk membantu orang lain, kamu nggak akan merasa terbebani."


Kulihat punggung suamiku dari balik kemeja navinya. Entah kenapa kadang punggung itu tetlihat lebar untukku bersandar.


"Kamu masih ingat kata-kataku dulu, kan?" lanjutnya. "Kamu nggak perlu memaksakan diri untuk memberikan kata-kata penghiburan ataupun motivasi! Cukup gunakan telinga dan juga hatimu. Karena seorang yang mengalami depresi, terkadang mereka hanya membutuhkan tempat untuk berbagi."


"Iya, Mas Dirga benar. Terima kasih. Aku akan selalu mengingatnya," kataku, sembari melingkarkan kedua lenganku di pinggangnya.


"Yupz ... sekarang, ayo kita berkeliling sampai sunset datang!" serunya.


Kurasa sekarang aku sedikit memahami kenapa suamiku ini begitu mangkhawatirkan Clara.


Aku memang sedikit cemburu. Tapi jika ada di posisinya, aku pun takut jika rasa depresi itu akan benar-benar merenggut nyawa orang-orang di sekelilingku dengan tragis.


Karena justru terkadang, orang yang paling dekatlah yang membuat seseorang menjadi depresi.


Hangatnya! Aku ingin terus bersandar seperti ini padanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=