WILL YOU MARRY ME?

WILL YOU MARRY ME?
Part 42


(pov ARGA)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=⚘🌺⚘


*Gelapnya setiap malam ...


Mengikis habis sinar rembulan ...


Redup ... menghilang ...


Garis merah itu ...


Kini tak lagi terlihat ...


Benang takdir yang terikat ...


Putus ...


Lenyap dan terlepas* ...


⚘🌺⚘


-------------------------------------------------------------------


"Wah ... kalian datang barengan?"


Sebuah acara arisan dan kumpul-kumpul yang dilakukan mama, Tante Cindy dan Tante Karina. Kebetulan hari itu, acaranya diadakan di rumah kami.


"Alan ... Alana!" Jesika berlari menghampiri si kembar--anak Om Sony dan Tante Karina yang duduk di bangkus kelas 2 SMP itu. "Ayo, ikut aku! Aku punya rancangan terbaru yang pas di badan kalian."


Adikku yang mahir soal desain baju itu, selalu menikmati saat si kembar Alan dan Alana menjadi model baju-baju couple buatannya.


"Mas Arga! Kaaaaaangen, deh!"


Ada juga seorang gadis yang selalu berlari memelukku setiap kali kami bertemu.


"Kalian berdua sekarang satu kampus, kan?" tanya Om Sony.


"Binggo," jawab Viona.


"Kenapa kangen-kangenan begitu?" goda Om Sony.


"Meski satu kampus juga jarang ketemu. Kan beda jurusan," kata Viona.


"Ayo, deh ke ruang tengah! Makanannya udah nungguin," ajak mama.


Sebuah perjamuan khusus yang dibuat untuk para sahabat yang bagai keluarga dekat.


Aku sedikit merasa lega. Aku kembali melihat senyuman ada di wajah mama. Aku pun kembali melihat tangan mama yang melingkar manja di lengan papa. Meski terasa begitu berat, tapi begini lebih baik. Aku tak mungkin merenggut semyuman mereka demi egoku. Meski aku sendiri tak tahu, sampai kapan aku akan bisa bertahan di situasi ini.


"Kuliahmu sudah masuk tahun ketiga, ya, Arga?" tanya Dokter Vian.


"Iya, Dok," jawabku.


"Lagi sibuk-sibuknya cari tempat magang itu."


"Begitulah," jawabku.


"Nggak usah cari!" sahut Om Sony. "Magang aja di perusahaan papamu! Pasti langsung diterima."


"Enggak. Nggak semudah itu," jawab papa. "Semua yang mengajukan kontrak magang, harus melewati tes, termasuk anakku sendiri."


"Wah, benar-benar ayah yang kejam!" celetuk Om Sony yang diikuti tawa lainnya.


"Rhes, aku kemarin ketemu Clara," kata Tante Karina.


Ah! Kenapa kata-kata itu muncul? Kami bertiga berusaha untuk tak membahasnya lagi. Soal Luna pun, kami menyembunyikan segala hal tentang dia dari teman-teman mama ini.


"Wanita gila itu muncul lagi?" tanya Tante Cindy. "Dia gangguin kamu nggak, Rhes? Kalau dia macem-macem, kamu harus bilang ke kita! Iya, kan, Karin?"


"He'em," angguk Tante Karina. "Jangan sampai dia seenaknya lagi!"


Mama hanya tersenyum menimpali ucapan teman-temannya itu.


"Kami sudah ketemu dan nggak ada yang terjadi. Kalian nggak perlu khawatir!" kata mama.


Sebuah persahabatan yang terjalin kokoh. Aku bahkan baru tahu kalau dua wanita hebat ini telah banyak membantu mama saat kami hidup di Amerika. Mereka yang membantu menyembunyikan keberadaanku dari papa. Sebuah cerita hidup yang bagaikan sebuah fiksi karya penulis dengan tingkat imajinasi tinggi. Sungguh kehidupan yang begitu absurd.


"Tante Rhesa," panggil Viona.


"Ya, Sayang?"


"Bolehkah aku menikah dengan Mas Arga?"


"Uhuk ... uhuk ... uhuk ... uhuk ...!" Sebiji anggur hujau tiba-tiba tersangkut di tenggorokanku.


"Hahaha ...." Mereka yang ada di ruangan mendadak meledakkan tawa mendengar ucapan Viona.


Gadis yang duduk di sampingku itu nampak tersenyum lebar. Sangat santai dengan terus mengunyah kue kacang di tangannya.


"Hei, kamu membuat Arga salting, lho," kata Tante Karina. "Ucapanmu membuat katup kerongkongan dan tenggorokannya terbuka bersamaan sampai dia tersedak begitu."


"Kenapa? Aku hanya mengatakan yang ada di otakku saja," jawab Viona santai.


"Kamu harus belajar yang bener, jangan mikirin Arga mulu!" Tante Cindy mengusap punggung anak gadisnya itu.


"Gimana, Tante? Diterima atau enggak, nih lamaranku?" Viona nampak 'cengar-cengir' menatap mama.


"Wah, gimana, ya?" Mama melirik padaku. "Kenapa nggak tanya orangnya sendiri? Hahaha ...."


"Gimana, Mas?" tanya Viona padaku.


"Hah?!"


Astaga, apa-apaan ini? Mereka semua ingin mengerjaiku rupanya.


Aku pandangi satu per satu wajah para orang tua itu. Aku pandangi juga Viona yang sedang mengangkat sedikit alisnya untuk menunggu reaksiku.


"Sudahlah, jangan bercanda, Adik kecil!" kataku sembari mengusap ujung kepalanya.


"Huh, nyebelin! Masih kena adek zone ternyata," gerutunya.


"Hahaha .... Jangan ngambek gitu, dong! Cantikmu ilang nanti," godaku.


"Bodo, ah!"


Sejak awal pun, dia sama seperti Jesika di mataku. Tak ada yang lebih. Tak semudah itu membuka hatiku.


Aku tinggalkan mereka yang sedang bercengkramah berbagi cerita. Aku langkahkan kakiku ke halaman samping rumah.


Riak air kolam yang terdecak karena hembusan angin yang lumayan kuat. Akhir-akhir ini hawa dingin mulai terasa menusuk tulang. Sebuah alarm yang menandakan musim hujan akan segera tiba.


Ah! Lagi-lagi aku mengingatnya.


Dia yang akan berjalan pulang dari tempat kerjanya. Melangkah sendiri sambil terus meniup kedua telapak tangannya yang mulai berubah biru.


Apa dia baik-baik saja?


Apa dia memakai baju yang tebal?


Malam ini, rembulan mulai meredup karena awan yang terus menggumpal dan menghitam.


"Bagaimana kelanjutan hubunganmu dengan Luna?" Om Sony tiba-tiba muncul di sampingku. "Dirga dan Rhesa yang terlihat tenang, sepertinya kamu yang berkorban."


"Entahlah." Aku menghembuskan nafas berat.


"Arga, kehilangan orang yang dicintai itu sungguh sangat menyakitkan. Aku sangat mengerti bagaimana perasaanmu saat ini."


"Emangnya Om Sony pernah ada di posisiku?" Aku sedikit terkekeh mendengar ucapannya.


"Iya. Bahkan lebih miris. Hahaha ...," jawabnya. "Paling tidak, hubunganmu dengan Luna masih beru permulaan. Semoga kamu bisa cepat melupakannya."


"Lupa? Semudah itukah?" Aku menengadahkan pandangan pada rembulan yang nampak temaram.


"Kamu harus mengisinya dengan orang yang baru agar perasaan itu cepat menghilang!"


Mana bisa? Seluruh hatiku masih dipenuhi olehnya. Setiap detik di tarikan nafasku pun, selalu ada dia.


"Aku nggak nyangka kalau Dirga akan punya anak sedewasa ini." Om Sony menepuk-nepuk punggungku. "Kamu nggak tahu, seberapa dia merasa bersalah dan menyesali kebodohannya saat dia melepas mamamu. Apalagi saat tahu bahwa ada kamu. Dia benar-benar merutuki dirinya sendiri."


"Begitukah?"


"Dari kisah Dirga dan Rhesa, harusnya kamu bisa belajar satu hal," ucap Om Sony sambil menatap dalam padaku. "Ketika Tuhan sudah menarik garis jodoh di antara mereka, berapa lama pun terpisah, berapa banyak pun rintangan yang muncul, pasti akan ada jalan untuk kembali bersama. Seperti kamu dan Luna. Jika memang ada benang merah dalam takdir kalian, pasti akan selalu ada jalan."


"Om Sony bijak sekali," ucapku menahan tawa.


"Hei, begini-begini papamu selalu curhat padaku."


"Hahaha ...."


"Masuklah, hawanya dingin!" ajak Om Sony seraya beranjak masuk ke dalam.


Benar. Mungkin aku hanya perlu diam dan termenung. Meski ragaku terasa terapung-apung di atas hamparan luas lautan yang mungkin akan menenggelamkan aku, terserah saja.


Benar. Aku memang sangat menyukainya. Tapi aku pun tak ingin terbang tinggi dan menunggu sayapku patah.


Dia masih tetap ada di sana. Aku harap, benang merah takdir itu masih mengikatku dengannya.


"Mau kopi hangat?" Viona menyodorkan kopi cup padaku.


"Terima kasih," kataku sembari meraih kopi cup dari tangannya.


"Kelihatannya musim hujan akan segera tiba," katanya.


"He'em."


"Mas Arga sedang ada masalah, ya?"


"Hem?"


Dengan melempar senyum padaku, gadis itu nampak menelisik wajahku. Seakan dia sedang mencari jawaban dari pertanyaannya untukku.


"Sebuah masalah itu nggak boleh disimpan sendiri. Harus dibagi-bagi biar cepat berkurang. Itulah gunanya ada seorang psikolog."


"Hahaha ... begitu?" tawaku melihat muka pe-denya.


"Nggak mau berbagi, nih? Mumpung ada psikolog pintar dan gratis di sini."


"Siapa?" tanyaku.


"Aku, dong," jawabnya.


"Hahaha ...."


Seperti itulah dia. Gadis manis yang selalu terlihat ceria. Dia benar-benar punya perbendaharaan kata yang banyak, sampai bicaranya pun bisa menjadi panjang kali lebar. Hampir sama seperti Jesika.


"Nggak mau membaginya denganku?" tanya Viona menatap dalam padaku.


Aku hanya tersenyum dan meneguk kopi di tanganku.


"Kalau nggak mau berbagi kesedihan denganku, biar aku yang membagi kebahagiaanku. Kalau bahagia yang dibagi, justru akan semakin bertambah," ujarnya.


"Oke. Bagi sedikit kebahagiaanmu padaku!" kataku setengah bercanda.


Viona meletakkan kopi cupnya di meja dan beralih menatapku dengan serius.


"Aku punya seseorang yang aku suka," katanya. "Hanya dengan melihatnya saja, rasanya duniaku terasa sempurna. Seakan aku punya tujuan hidup. Aku suka melihat dia tersenyum dan aku nggak suka melihat wajah sedihnya. Karena saat rasa sedih itu terlihat olehku, hatiku sedikit terluka."


Langkahnya mulai bergerak ke sisi kolam. Wajahnya menunduk dan memperhatikan bayangan dirinya yang terpantul dari air.


"Mencintai seseorang itu cukup rumit, ya?" lanjutnya. "Saat kita peduli, tapi dia nggak peduli. Saat kita khawatir, tapi dia terlihat bagai benteng yang kokoh. Saat kita berharap dia ada di samping kita, tapi dia justru melangkah semakin menjauh. Itu sedikit menyakitkan."


Dia kembali memutar badannya dan berjalan ke arahku.


"Saat ini, aku tak bisa melihat cinta di matanya. Tak ada sedikit pun cinta untukku," katanya sambil menengadahkan pandangannya padaku.


"Di sini mulai dingin. Ayo masuk!" kataku sembari melangkah ke dalam rumah.


"Suatu hari aku pasti akan membuatmu jatuh cinta padaku!" serunya.


Langkah kakiku tercekat dan berbalik menatapnya.


Aku kembali memperhatikan gadis yang selalu aku anggap sebagai adik kecilku itu. Dia nampak sudah dewasa ternyata. Aku bahkan tak pernah memperhatikannya sedekat ini.


"Mas Arga," panggilnya sambil melangkah mendekat padaku. "Aku nggak akan memaksamu untuk mencintaiku. Tapi aku hanya ingin kamu membiarkan aku untuk menunjukkan kalau aku mencintaimu."


"Vee, apa yang kamu katakan? Aku hanya---"


"Enggak!" sergahnya. "Mas Arga cukup diam dan melihat saja! Tapi suatu hari, aku pasti akan membuatmu jatuh cinta."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=