
(pov LUNA)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
💗 Karena dia ...
Â
Segalanya ... bagiku💗
Â
---------------------------------------------------------------------
Namaku Luna Putri Aryasa.
Sebuah nama yang diberikan oleh ayahku.
Namun, saat usiaku sepuluh tahun, nama itu lepas dariku. Orang tuaku bercerai dan aku hidup di sebuah panti asuhan. Mereka seakan membuangku bersamaan terbuangnya cinta di antara mereka.
Dan kini, nama baru telah tersandang olehku.
Luna Kei Cecilli.
Sebuah nama yang diberikan oleh pengasuhku saat aku tinggal di panti.
Hari-hari yang asing dan kulewati sendiri. Hanya berteman dengan buku-buku cerita dongeng dan puisi. Semua berjalan sama, hingga aku beranjak remaja.
Aku selalu menghayalkan saat dongeng-dongeng itu nyata terjadi padaku.
Saat di mana pangeran berkuda putih datang menjemputku dan membawaku pergi dari panti. Saat dia membawaku menikmati indah dunia yang berwarna-warni, hingga terhempas segala pedih di hatiku ini.
Dia ... seorang pangeran yang akan mengatakan padaku,
"You Are The Apple Of My Eyes"
Sebuah ungkapan Inggris yang dijadikan judul sebuah novel karya Giddens Ko.
Sebuah ungkapan yang terlihat sangat sederhana dengan arti yang nampak biasa saja. Tapi di balik kalimat sederhana itu, sungguh terdapat sebuah makna yang begitu dalam.
'You Are The Apple Of My Eyes'
'Kamulah segalanya bagiku, Kamulah yang paling berarti dalam hatiku'
Kenapa 'Apple' bukan 'Rose'?
Bukankah mawar selalu menjadi lambang sebuah cinta?
Entahlah ...!
Sampai saat ini pun aku tak paham maksud si penulis menggunakan kata 'Apple' dalam ungkapannya.
Mungkin karena bentuk buah apel yang mirip hati.
Mungkin saja.
Indahnya ...!
Ingin sekali aku dengar dia mengatakan itu.
Pangeran berkuda putih itu. Entah di mana sekarang dia menungguku.
-----------------------------------------
---------------------
"You Are The Apple Of My Eyes. Inikah yang ingin kamu nyatakan padaku?"
Hatiku mendadak terasa panas saat kubaca sebaris kalimat dalam kertas berwarna pink, yang diberikan Arga padaku.
"Kamu ... sedang mempermainkanku, Arga?"
"Enggak," jawabnya. "Nggak ada sedikit pun niatan untuk mempermainkanmu. Aku serius, Luna. Sangat serius."
Mata itu, nampak tajam menatapku. Wajahnya terlihat begitu serius saat menunggu reaksiku.
"A ... aku ... aku nggak bisa."
"Apa?!"
"Kamu ... kita ini ... berbeda."
"Apanya yang berbeda?" serunya.
"Arga ... aku nggak ingin membahasnya."
"Tapi aku ingin membahasnya." Diraihnya lenganku dan membuatku mendekat padanya.
"Apanya yang berbeda? Katakan!"
Kamu masih bertanya?
Tentu saja keadaan kita.
Aku dan segala kerumitan hidupku. Sedangkan kamu ... kamu dengan segala kemudahan hidupmu.
Ingin sekali bibirku bergerak dan mengucapkan sepenggal kalimat itu. Tapi lidahku terasa keluh dan membuat bungkam mulutku.
"Aku ... aku mau pulang. Ini sudah malam." Aku mencoba mengalihkan perhatian. "Lepaskan tanganku!"
"Akan aku lepaskan saat kamu menjawabnya. Saat kamu menjawab perasaanku."
Pandangan kami saling beradu. Diremasnya pergelangan tanganku. Tapi hatikulah yang justru terasa sesak karenanya.
"Aku menolak," kataku. "Aku menolak perasaanmu ... Arga."
Perlahan, dia menarik tangannya dariku. Tatapannya berubah sayu. Langkahnya ditarik mundur dariku.
"Selamat malam, Arga."
Aku pun memanggil taksi dan meninggalkan dia begitu saja.
--------------------------
-----------------
KAMPUS
"Kamu kenapa lemas begitu?" tanya Sofi, saat kuletakkan kepalaku di meja.
"Sedikit pusing saja," jawabku.
Sudah lewat tiga hari sejak pertemuanku dengan Arga malam itu. Dia sama sekali tak menghubungiku, juga menemuiku di cafe. Tidak ada kabar darinya sama sekali.
Ah ...!
Kenapa aku jadi segalau ini?
Aku, kan bukan remaja tujuh belas tahun lagi. Lebih baik, aku lupakan saja. Aku juga tak ingin terlalu jauh terlibat dengannya.
-----------------
"Apa semua perwakilan jurusan sudah hadir?" tanya ketua BEM, yang memimpin rapat.
"Maaf, aku terlambat. Tadi ada kelas."
Arga?!
Dia masuk panitia Prom Night juga?
"Oke, ayo kita mulai rapatnya!"
--------------------
Dia berjalan ke arahku. Pandangan kami saling bertemu, tapi kemudian dia nampak berpaling. Ditariknya kursi di belakangku yang memang masih kosong. Dan duduklah dia di situ.
"Arga, habis rapat mau makan bareng nggak? Atau ngopi gitu di cafe depan?" Seorang mahasiswi menghampirinya.
"He'em. Boleh," jawab Arga.
"Wah ... serius, nih? Oke, deh. Aku tunggu, ya!"
Hah ...!
Apa peduliku?
Mau dia makan atau ngopi dengan siapa, itu bukan urusanku. Dia mendiamkan aku pun, tak ada soal bagiku.
---------------------------
-------------------
PROM NIGHT
"Luna, Arga ... kalian nganggur, kan?" Ketua acara menghampiri kami.
"Minta tolong untuk menata buah dan meletakkannya di meja para dosen di barisan depan, ya!"
"Iya," jawabku.
-----------------
Astaga ...!
Apa-apaan ini?
Biasanya kami akan bicara panjang lebar, kenapa tiba-tiba jadi canggung begini?
"Apple," gumamnya, sambil mengamati apel merah yang dipegangnya.
Sesaat, dilirikkan ekor matanya padaku. Dan aku pun segera berpaling darinya. Tangan kembali kusibukkan dengan menata buah-buahan di setiap piring yang disiapkan.
"Menurutmu, kenapa harus apel? Kenapa bukan mawar?" tanyanya.
"A--apa maksudmu?"
"You are the apple of my eyes," katanya.
"Kenapa bukan, You are the rose of my eyes?"
"Entahlah. Aku nggak ngerti maksudmu. Cepat selesaikan sebelum para dosen menempati kursinya!"
"Kamu nggak ngerti atau pura-pura nggak ngerti?" Ditariknya tanganku yang hendak beranjak dari hadapannya.
"Sudahlah, jangan diteruskan lagi!" kataku.
"Bukankah kemarin, aku sudah memberimu jawaban yang sangat jelas?"
"Iya," sahutnya. "Aku bilang kalau aku mencintaimu dan kamu menolakku."
Aku cukup terperanjat mendengar perkataannya. Dia bahkan mengatakannya tanpa ragu sedikit pun. Lagi-lagi dia menghujamku dengan sorot matanya yang begitu tajam.
----------------------
----------------
"Mas Argaaaaaa ...! Akhirnya ketemu juga."
Seorang gadis tiba-tiba menghambur memeluk Arga.
"Kalian di sini?" tanya Arga.
"Ah ... halo, Jesi," sapaku.
Aku kenal gadis remaja ini. Dia yang jadi langganan di toko roti tempatku bekerja. Namanya Jesika. Aku baru tahu kalau dia adalah adiknya Arga. Tapi gadis yang masih bergelayut memeluk Arga itu, aku belum pernah melihatnya.
"Kenapa kamu ke sini?" tanya Arga.
"Viona, tuh yang maksa," jawab Jesika.
"Aku kangen, dong sama calon suamiku ini," ucap Viona, manja.
"Haha ... apaan, sih?" Arga nampak mengusap kepala gadis itu.
Mereka terlihat akrab.
Calon suami?
"Di sini ada stand cafetarianya, kan? Makan dulu, yuk! Laper, nih!" ajak Jesika, seraya menggait lenganku.
------------------
---------------
"Cobain, Mas Arga! Ini enak, lho." Viona menyuapkan sesendok es krim pada Arga.
Pada akhirnya, aku malah terjebak dengan mereka bertiga. Dan aku harus melihat Arga dan Viona berbagi kemesraan di depanku.
Rasanya dadaku sedikit nyeri.
"Kak Luna, ambil psikologi, ya?" tanya Viona.
"Iya."
"Wah ... aku juga pengen ambil jurusan psikolog," katanya. "Biar nanti bisa nyambung kalau ngobrol sama tante Rhesa, saat aku dan Mas Arga udah nikah."
"Hahaha ... dasar, kamu ini!" tawa Arga.
Arga nampak memperlakukan gadis itu dengan lembut. Mereka serasi. Apalagi dari keluarga yang sederajat.
"Kak Luna, udah ada pacarkah?" tanya Viona.
"Ah ... itu ..."
Arga nampak menatap dingin padaku. Dan aku semakin bingung harus bersikap bagaimana.
"Kak Luna cantik. Pasti banyak yang suka," puji Viona.
"Iyalah. Cantik dan baik." Jesika merangkulkan lengannya ke pundakku.
"Mas Arga harus cariin Kak Luna pasangan biar nggak jomblo! Cariin yang serasi kayak kita berdua!" Viona melingkarkan lengannya ke pinggang Arga.
"Kalian ngobrol aja! Aku permisi dulu. Sampai nanti, Jesi," pamitku.
"Sampai nanti, Mbak."
---------------------
--------------
Ada apa denganku?
Kenapa perasaanku mendadak kacau begini?
Kakiku melangkah gontai ke sisi samping kampus. Sebuah kolam renang tempat berkumpulnya mahasiswa jurusan pendidikan jasmani dan olahraga. Aku bisa melihat riuhnya acara Prom Night dari tempat sepi ini.
Arga ...!
Dia bilang suka padaku, tapi gadis itu terlihat begitu intim dengannya. Ternyata aku benar, kan?
Apanya yang serius dari perkataannya? Dari awal, dia memang berniat mempermainkanku. Harusnya aku tak percaya ucapannya.
---------------------
-----------------
Lagi-lagi, aku hanya sendiri. Dari awal sendiri dan aku tak perlu peduli.
Jadilah kuat, Luna! Tak perlu bergantung pada orang lain.
Dingin ...!
Air kolam renang kampus ini terasa dingin. Membuat kakiku yang terjulur ke dalamnya nampak berkerut. Dan membuat hatiku kian sesak rasanya.
------------------
"Apa yang kamu lakukan sendirian di sini?"
"Arga?!"
Aku terhenyak, berdiri dari dudukku. Betapa kaget, saat dia tiba-tiba muncul di hadapanku.
"Ba--bagaimana kamu ada di sini?"
"Luna ...!" Ditariknya aku mendekat padanya.
"Kenapa tadi pergi begitu saja? Kamu cemburu?"
"Apa?!"
"Kamu cemburu melihatku dan Viona?"
"Eng--enggak. Ngapain aku harus cemburu?" kilahku.
"Kamu menyukaiku?"
"Hah?!"
Jangan diam saja, Luna!
Kenapa mulutku ini tak bisa membantahnya?
"Kamu menyukaiku, kan?" tanyanya.
"Enggak. Aku nggak suka. Lepas!" Kuhempaskan tangannya dari lenganku.
"Aku nggak percaya." Kembali dia meraih tanganku.
"Lepaskan aku, Arga! Lepas!"
BYUR!
"Ya Tuhan! Argaaaaa ...!"
Tanpa sengaja, aku mendorongnya ke dalam kolam.
"To--long," ucapnya, sambil berusaha menggerakkan tubuhnya.
"Kamu ... kamu nggak bisa berenang? Argaaa ... bagaimana ini? Aku ... aku ..."
Terserahlah!
Aku tak mungkin membiarkannya tenggelam. Aku harus menolongnya.
Dan ... melompatlah aku ke dalam kolam itu tanpa pikir panjang.
"Hah ... hah ...!"
Sesak!
Nafasku ... sesak sekali.
"Luna? Lunaaaa ...!"
---------------------------------
Kurasakan tubuhku ditarik keluar dari air. Sesuatu terasa kuat menekan dadaku.
"Luna ... maaf! Luna ... sadar, dong!"
Arga?!
Dia selamat. Syukurlah!
"Uhuk ... uhuk ...!"
"Syukurlah ... syukurlah!"
Kurasakan tubuh itu memelukku dengan erat. Rasa sesak yang tadi kurasakan, perlahan mulai menghilang.
----------------------
-------------
RUANG BEM
"Kamu bisa berenang?" tanyaku. "Jadi tadi ... hanya bercanda?"
Arga nampak menunduk dan mengangguk.
"Syukurlah. Aku takut tadi kamu akan tenggelam. Karena aku nggak bisa berenang, aku nggak bisa menolongmu."
"Jika nggak bisa berenang, kenapa melompat ke dalam air? Gadis bodoh!" teriaknya.
Aku hanya tersenyum mendengar umpatannya.
"Aku takut terjadi apa-apa denganmu. Takut sekali," kataku.
Dia melempar pndanagnku dengan nanar. Dia terlihat sangat mengasihaniku. Aku tak suka.
"Kamu takut kehilanganku?" Dia bergerak mendekat padaku.
"Apa?"
"Kamu ... bahkan rela masuk ke dalam air, meski nggak bisa berenang, demi aku?"
Aku pun mengangguk dengan air mata penuh di pelupuk mataku.
"Kamu mencintaiku?"
"A--aku ..."
"Di hatimu ... ada aku, kan?" tanyanya.
"Iya. Tapi ..."
"Nggak ada tapi." Diraihnya tubuhku ke dalam pelukannya. "Aku hanya ingin dengar kalau kamu mencintaiku. Itu saja. Aku nggak perlu kata tapi."
Arga ...!
Kamu membuat air mataku jatuh, tapi terasa begitu damai.
Dongeng yang selalu aku baca saat aku kecil itu ... apakah sungguh menjadi nyata?
Apa kamu sang pangeran itu, Arga?
"You are the apple of my eyes. And I will give you all of my life. Aku mencintaimu, Luna. Dengan seluruh hatiku."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=