WILL YOU MARRY ME?

WILL YOU MARRY ME?
Part 34


(pov LUNA)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


💝☈💝


Sebuah kesalahan ...


Tak sepatutnya ...


Dijadikan sebuah hukuman ...


💝☈💝


---------------------------------------------------------------------


"Coba lihat, deh! Itu, kan cewek yang namanya Luna? Yang katanya jadian sama Arga?"


"Ya ampun! Cewek kayak gitu? Yakin, tuh si Arga? Cewek kayak upik abu gitu?"


"Nasab juga nggak jelas. Katanya dia pernah tinggal di panti asuhan."


"Huh ... udah diguna-guna pasti si Arga itu. Masa' dia dikelilingi sama cewek cantik terhormat, jadiannya sama cewek yang nggak jelas gitu?"


"Dilihat dari pakaiannya aja, nggak bermerk gitu."


"Bentar lagi juga dibuang, tuh sama Arga."


"Eh ... nggak usah nunggu Arga yang buang. Dia pasti bakalan dipandang sebelah mata sama keluarganya Arga. Secara, ya ... Pangeran Keluarga Mahesa gitu. Nggak bakalanlah disandingkan dengan gadis rendahan begitu."


--------------


Oke ...!


Aku pikir semua itu benar. Aku tak marah mendengar semua komentar-kometar penuh 'nyinyir' dari para netizen.


Sejak Arga terang-terangan mengungkap kedekatan kami di depan umum, hal-hal seperti itu sudah membuatku sangat kenyang. Dan aku harus tetap menelannya.


Mau bagaimana lagi?


Ini adalah pilihanku. Bukan hal yang mudah saat gadis sepertiku berjalan beriringan dengan pangeran seperti dia.


Yang bisa kulakukan, hanya mengulurkan headset ke telingaku dan memutar musik dengan kencang.


-----------------


------------


"Apa yang didengar pacarku ini, sampai tak merespon panggilanku?"


"Arga?!"


Dia nampak melempar senyum manis padaku. Duduk di depanku dan melepas headset yang menyumbat telingaku.


"Nggak usah dengar mereka! Kamu hanya perlu mendengar apa yang aku katakan!" katanya.


"Apa yang ingin kamu katakan?" tanyaku.


Arga mendekatkan wajahnya padaku. Dia nampak melirik kanan dan kirinya sebelum akhirnya berbisik padaku.


"I love you so much."


Seperti itulah dia.


Dia selalu membuatku merasa dicintai, kapan pun dan di mana pun.


-----------------------


--------------


"Liburan akhir semester udah mulai senin depan. Mau pergi liburan?" tanya Arga, saat kami berjalan meninggalkan kampus.


"Nggak bisa. Aku harus kerja," jawabku.


"Ah ... benar!" Dia nampak memasang wajah kecewa.


"Tapi aku dapat libur tiga hari dari tempat kerja, lho."


"Serius?!" pekiknya.


"He'em."


"Asiiiik!" serunya, kegirangan.


----------------


-------------------------


Dan hari itu, Arga dan keluarganya, membawaku berlibur ke sebuah pegunungan.


Ini pertama kalinya bagiku. Sebuah kebersamaan bersama seluruh keluarga. Menikmati hari-hari libur yang panjang dengan bahagia. Aku menyukai perasaan damai ini. Sangat menenangkan.


"Sejuuuuk ...!" seru Jesika, saat kami tiba di sebuah villa yang di kelilingi banyak pepohonan.


"Ayo, bereskan barang-barang kalian! Setelah itu kita cari makan!" kata Om Dirga.


---------------------


--------------


"Aku mau sate kelinci dua porsi," kata Jesika, sambil membaca menu.


"Arga juga, Ma," kata Arga.


"Papa mau rawon aja," kata Om Dirga.


"Luna, mau makan apa?" tanya Bu Rhesa.


"Ah ... aku ..."


"Apa aja. Asal jangan makan hati, Ma. Hahaha ...," goda Arga.


"Apaan, sih?" Aku jadi ikutan tertawa dibuatnya.


"Soto mau nggak? Enak, lho. Favoritku ini," kata Bu Rhesa.


"Boleh," jawabku.


----------


Tak lama, segala pesanan kami pun datang. Dan ini adalah sebuah pengalaman pertama bagiku. Makan di tempat wisata bersama seluruh keluarga.


"Cobain!" Arga menyodorkan setusuk sate kelinci padaku.


"Enggak, ah!" tolakku.


"Enak, kok. Ayo, deh cobain!" paksanya.


"Aduh ... aku bayangin kelincinya aja kasihan. Nggak tega aku makannya," kataku.


"Ya ampun ... hatimu halus banget, sih."


"Woy ... woy ... woy ...!" seru Jesika. "Kalau mau mesra-mesraan pindah sana! Bikin yang jomblo makin iri. Masa' cuma aku doang yang nggak ada pasangannya di sini. Papa dan mama pilih kasih, nih!"


"Hahaha ... sabar, ya, Sayang!" kata Om Dirga.


"Ini ujian."


"Hahaha ...."


Indahnya ...!


Beginikah Arga dan Jesika hidup selama ini?


Makan bsrsama, berdebat bersama dan tertawa bersama. Mereka terlihat begitu saling menyayangi. Jauh di dasar hatiku, aku sungguh iri. Mereka punya kehidupan yang begitu sempurna.


--------------------


---------------


"Uwaaaaah ... indahnyaaaa!"


Sebuah perbukitan yang terhampar hijau. Begitu memukau dan menyejukkan pandangan. Langit yang terhampar begitu luas. Terlihat sempurna dengan awan putih yang bergerak beriringan, terdorong hembusan angin.


"Kamu senang?" tanya Arga.


"Sangat."


"Aku jauh lebih senang," katanya.


"Kenapa?"


"Karena melihatmu yang nampak senang."


"Astaga." Aku terkekeh mendengar gombalannya.


"Apa yang kamu pikirkan?"


"Kamu bisa membaca pikiranku?" Aku mengalihkan pandanganku padanya.


"Arga ... kenapa kamu memilihku?"


Dia nampak menarik nafas panjang. Dilemparkan pandangannya ke arah perbukitan yang nampak tinggi menjulang.


Kupandangi sedikit rambutnya yang terlihat menjuntai ke keningnya. Hembusan angin yang menerpa wajahnya, membuatnya sedikit memicingkan mata.


Pandangannya sayu, namun menyejukkan. Air mukanya selalu memancarkan ketegasan, tapi hatinya terasa begitu menghangatkan.


"Kalau kamu?" tanyanya, membuyarkan lamunanku. "Kenapa kamu memilihku?"


"Ah ... itu ...."


Arga ...!


Kalau saja kamu tahu, kamu sungguh mampu menutup semua lubang di dalam hatiku.


Sejak aku bertemu denganmu, hidupku berubah.


Aku merasa punya seseorang untuk bersandar.


Aku merasa punya orang yang menganggap keberadaanku berharga.


Aku merasa ... aku menemukan sebuah keluarga.


Kenapa aku memilihmu?


Tentu saja ... karena kamu yang paling berharga dalam hidupku, Arga.


-------


"Karena aku yang paling berharga dalam hidupmu. Iya, kan?"


"Apa?!" pekikku.


"Kenapa terkejut begitu? Saat kamu memandangku, aku bisa melihat tulisan itu berkelebat di mata indahmu. Hahaha ...," tawanya.


"Haiiish ... menggombal lagi," gerutuku.


"Ya ampun, di sini dingin sekali!" serunya. "Mau aku peluk nggak?"


"Modus."


"Hahaha ... kali aja kamu mau dimodusin."


Kenapa aku memilihmu?


Karena kamu ... kamulah satu-satunya orang yang bisa membuatku tertawa dengan bahagia, Arga.


-----------------------


--------------


VILLA


21.30 WIB


"Huh ... aku mau daging yang paling gede," kata Jesika.


"Nggak bisa, dong! Kan, Mas Arga yang panggang," kata Arga.


"Tapi aku yang irisin tadi, Mas!" rengek Jesika.


"Bodo amat. Pokoknya aku yang panggang, ya jadi punyakulah."


"Iiih ... Mas Arga maruk!" seru Jesika. "Papa ... belain, dong! Mas Arga seenaknya, tuh!"


"Udahlah, Ga ... jangan digangguin adikmu itu!"


-------


Pertengkaran sesama saudara seperti ini pun, baru pertama kali. Betapa ramai dan penuh warna kehidupan mereka.


-----


"Kamu nggak ikut panggang barbeque bersama mereka, Luna?" Bu Rhesa duduk di sebelahku.


"Saya di sini saja, mengamati mereka," kataku. "Mereka terlihat akrab. Saya tak mau mengganggu keakraban mereka."


Bu Rhesa nampak sedikit tertawa mendengar ucapanku, sambil mengamati keributan suami dan anak-anaknya.


"Apa Arga bersikap baik padamu?"


"Ya?"


Lagi-lagi Bu Rhesa menimpali dengan tertawa saat ekspresi terkejut muncul di wajahku.


"Arga itu ... cukup manja pada papanya."


"Benarkah?"


"He'em," angguknya. "Tapi dia selalu bersikap sok 'cool' di depan para gadis. Hahaha ...! Dia sangat menggemaskan. Bebeda dengan Jesika. Dia itu gadis yang mandiri dan sedikit susah diatur."


"Kalihatnya Bu Rhesa sangat menyayangi Arga."


"Iya. Karena Arga punya kehidupan masa kecil yang sedikit istimewa dibandingkan Jesika. Mungkin karena itulah, aku sedikit merasa bersalah padanya."


"Arga adalah pria yang baik. Baik sekali ... seperti Bu Rhesa."


"Begitukah? Astaga ... kamu manis sekali," katanya dengan sedikit tertawa. "Sepertinya kamu nggak perlu meneruskan terapimu lagi, ya?"


"Lho ... kenapa, Bu?" tanyaku, bingung.


"Karena kamu sudah punya obat untuk masalah psikologismu."


"Obat? Obat apa, Bu?"


"Arga," jawabnya. "Sepertinya, dialah obat dengan dosis paling tepat untukmu."


"Haha ... astaga!"


Sebuah liburan yang singkat bersama keluarga mereka. Dan aku pasti akan sangat merindukan saat-saat ini.


Kehangatan yang tercipta saat sebuah keluarga berkumpul bersama. Aku ingin terus bisa merasakan perasaan seperti ini.


--------------------------


-----------------


FLOWER NEXT DOOR CAFE


"Baru pulang liburan, ya?" tanya Om Sony saat Arga mengantarku kembali ke cafe.


"Ini untuk tante Karina, dari mama." Arga memberikan sebuah bungkusan pada Om Sony.


"Oh ... makasih, Little boy."


"Luna, aku langsung balik, ya!" pamit Arga.


"Iya. Hati-hati," kataku.


"Bye, Om."


"Oke. Be Carefull, Boy!" kata Om Sony.


"Luna masuk dulu, Om," kataku.


"Oke."


------


Lelah ... dan aku ingin istirahat seharian.


----------------


"Pak Manager, ada seorang pria yang mencari mbak Luna di luar." kata seorang waiters.


"Siapa? Arga?" tanya Om Sony.


"Bukan."


Om Sony pun segera melangkah keluar untuk memastikan apa yang dikatakan pegawainya itu.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Om Sony.


"Ah ... saya mencari ...."


"Kamu?!" pekik Om Sony. " Se--sedang apa ... kamu di sini?"


"Papa?!" seruku.


"Luna."


"Lu--Luna ... di--dia ..." Om Sony nampak bingung dengan melempar pandang padaku.


"Dia ... papaku, Om."


"Apa?!"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=