
🍁🍁🍁
Jika hidup adalah pilihan ...
Bolehkah manusia memilih ...
Ingin hidup seperti apa ...
Bolehkah sekehendak hati ...
Bukan pada sebuah pilihan ...
Kita gantungkan ...
Tapi sebuah keyakinan ...
Kita harapkan ...
🍁🍁🍁
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
FLOWER NEXT DOOR CAFE
"Selamat datang, Bu Rhesa." Seorang waiters ganteng menyambut kedatangan kami di ambang pintu cafe.
"Kalian di sini?"
Mas Dirga menghampiri kami dan menyuruh pegawainya untuk mengantar beberapa makanan dan minuman ke meja kami.
"Kok, Mas Dirga di sini? Nggak ke kantor?" tanyaku.
"Mana bisa aku ke kantor dalam situasi seperti ini? Lihat aja, tuh si keong racun! Auranya gelap, bikin cafe jadi sepi," keluh Mas Dirga, sembari menatap Sony.
"Apa dia belum bisa move on?" Cindy menimpali. "Padahal pernikahan ayah dan mantan pacarnya udah lewat dua bulan, lho."
Kak Sony terlihat murung. Kelihatanmya dia benar-benar terpukul. Aku bisa mengerti kenapa dia sampai seperti itu. Kehilangan orang yang dicintai saja sudah pasti sadih, bagaimana kalau ditinggal kawin sama bapak kandung sendiri? Pasti Kak Sony sedihnya tingkat dewa.
"Hei, Sony!" panggil Karina. "Sony Hermansyaaaah!"
Kak Sony diam, tak menggubris teriakan Karina.
"Hei, anak direktur utama Global Bank, Tuan Hermansyah!" teriak Karina.
Sekonyong-konyong, Kak Sony menghambur ke arah Karina dengan muka berapi-api.
"Jangan berani-berani sebut nama pria jahat itu di depanku!" teriak Kak Sony.
"Kenapa? Dia, kan ayahmu tersayang," ejek Karina.
"Diaaaaam!" teriak Kak Sony.
Sahabat suamiku itu pun menelungkupkan wajahnya di meja kami.
"Huwaaaa ... kenapa hidupku jadi menyedihkan seperti ini?" keluhnya.
"Berhentilah merengek seperti anak kecil! Benar-benar nggak tahu malu," gerutu Karina.
"Astaga! Kenapa mulutmu pedes begitu?" Kak Sony mulai meradang.
"Berisik!" sahut Cindy. "Kalian berdua ini ngapain, sih? Merusak nafsu makanku aja tahu nggak?" cerocos Cindy,sembari memasukkan kue sus kering ke mulutnya. "Kalian nggak pernah denger pepatah, ya? Orang yang sering bertengkar itu biasanya jodoh."
"Amit-amit!" Kak Sony dan Karina kompak menjawab.
Kami bertiga 'ngakak' saja melihat reaksi lucu mereka berdua.
"Oh ya, Rhes ... ini berkas pengajuan beasiswamu. Tadi AsDos menitipkannya padaku."
"Oh makasih, Cindy."
"Beasiswa?" Mas Dirga tampak terheran.
"Beasiswa apa?!"
"Ah ... sebenarnya aku mengajukan beasiswa S2 ke luar negeri. Akan tetapi ini masih pengajuan, kok belum di-ACC."
"Rhes!" Mas Dirga berteriak padaku.
Benar, 'kan dugaanku? Aku tahu reaksinya akan seperti itu. Makanya aku tidak memberi tahunya soal ini.
"Kenapa kamu mengajukan beasiswa segala?" Mas Dirga terlihat emosi. "Kalau untuk S2 ke luar negeri pun, aku bisa membiayaimu."
"Mas Dirga, dengarkan aku dulu!"
"Apa kamu pikir sku nggak bisa memenuhi semua keinginanmu?"
"Mas Dirga."
"Dengan melakukan hal ini, kamu membuatku merasa jadi pria yang nggak bertanggungjawab. Atau kamu menggunakan alasan beasiswa ke luar negeri ini untuk lepas dariku? Hah?!"
Dia kesal sampai tak mau melihatku. Sampai bilang ini alasan untuk lepas darinya segala. Dia benar-benar salah paham padaku.
"Hei, Tuan Dirga Mahesa Rizaski yang terhormat." Karina membuka suara. "Istrimu itu punya otak yang encer, sayang sekali kalau disia-siakan. Lagipula dari ratusan mahasiswa yang daftar hanya lima yang masuk seleksi akhir. Istrimu ini termasuk di dalamnya. Harusnya kamu itu bangga. Malah sok-sokan gengsi gitu. Nggak ada gunanya sama sekali."
Aku bangkit dari dudukku dan ku raih tangan suamiku itu.
"Mas Dirga, aku sudah belajar keras untuk mendapatkan nilai sempurna. Jika aku berhasil mendapatkan beasiswa ini, aku akan merasa sangat bangga dengan hasil kerja kerasku selama ini."
Mas Dirga masih tak mau menatapku. Aku letakkan dua tanganku di pipinya dan menghadapkannya padaku.
"Aku tahu Mas Dirga bisa memberi apa pun yang aku mau. Aku juga ingin berhasil dengan kemampuanku sendiri. Mas Dirga, tolong berikan ijinmu padaku! Lagi pula, ini bukanlah alasanku untuk melepaskan diri darimu."
Mas Dirga beralih menatapku. Pandangan matanya yang tadi penuh emosi kini mulai melunak. Perlahan bibirnya mulai dihiasi senyum manisnya.
"Asal hal itu nggak membebanimu, kamu boleh melakukannya!" katanya, sambil mengusap ujung kepalaku.
"Huwaaaa ... kalian bikin aku makin baper tahu nggak?!" seru Kak Sony.
"Daripada kamu hamburkan uangmu itu, lebih baik kamu menabungnya!" kata Karina. "Istrimu juga perlu biaya untuk persalinan nanti"
"A--apa?!" Mas Dirga terperanjat mendengar ucapan Karina. "Ma--maksudnya? Rhesa, kamu hamil?!"
"Hah?!" Aku jadi ikut gelagapan.
"Anak siapa yang kamu kandung?!" seru Mas Dirga.
"Iih .. Mas Dirga apaan, sih?! Mana mungkin aku hamil. Enggaklah!" Aku mulai kesal.
"Apa-apaan, sih pertanyaanmu itu?" Karina ikutan bingung. "Tentu saja dia nanti akan hamil anakmu. Anak siapa lagi? Reaksimu seperti seorang suami yang belum pernah menyentuh istrinya saja."
"Pffftttt ... wuahaha ... hahahahaaa ...!" Suara tawa Kak Sony langsung meledak memenuhi ruangan begitu mendengar ucapan terakhir Karina. "Aaargh!"
Sebuah sendok teh terlempar dari tangan suamiku menuju dahi Kak Sony.
Tepat sasaran!
***
"Ini kelengkapan CV saya, Kak!" kataku, pada asisten dosen.
"Apa ini?"
"Berkas yang perlu dia isi untuk berhenti kuliah."
"Cindy berhenti kuliah?!"
Aku segera mencari Karina. Beberapa hari ini Cindy memang tak muncul di kampus, tapi aku tak sampai berpikir kalau dia akan berhenti kuliah.
"Ada apa, sih dengan dia? Nggak bisa dihubungi sama sekali. Bikin frustasi!" geram Karina, sambil terus mencoba menghubungi nomor ponsel Cindy.
"Ada apa, sih? Kenapa di depan mading rame banget?" kataku
Kami pun menghampiri beberapa mahasiswa yang nampak berjubel di depan mading.
"Wah ... bukannya dia anak psikologi?"
"Keren! Dia jalan sama om-om tajir."
Tanpa basa-basi, Karina langsung mengambil semua foto yang tertempel di mading itu.
Karina masih terus mencoba menghubungi Cindy, tapi sama sekali tak ada respon.
"Menurutmu, ini foto asli?" tanyaku, sembari memperhatikan beberapa foto yang diambil Karina dari mading kampus.
"Iya. Ini asli."
"Nggak mungkin!" Aku masih belum bisa percaya. "Cindy nggak mungkin ngelakuin hal kayak gini."
"Kita harus segera menemukannya!"
Aku dan Karina pun menuju tempat kost Cindy.
"Sudah sekitar tiga hari ini dia nggak pulang ke kost," kata salah satu teman kostnya.
"Apa dia pindah?" tanyaku.
"Kayaknya enggak. Barang-barangnya masih ada di sini. Tapi beberapa hari lalu aku melihatnya masuk ke dalam mobil seorang pria. Agak tua, mungkin ayahnya."
"Kamu yakin nggak salah lihat?" Karina nampak emosional.
"Aku yakin sekali. Dia bahkan sempat melihat ke arahku."
"Baiklah. Kalau dia pulang, suruh hubungi kami, ya! Ayo, Karina!"
***
"Sial ... sial ... sial! Sebenarnya apa yang dilakukan gadis bodoh itu?"
Karina memukul-mukul setir kemudi mobilnya. Dia terlihat sangat khawatir. Apalagi setelah mendengar cerita dari teman satu kostnya Cindy. Sebenarnya apa yang terjadi padanya?!
***
Sekitar jam sembilan malam, aku segera berlari menuju pintu begitu kudengar bunyi klakson mobil. Betapa aku kaget, ternyata bukan suamiku yang datang tapi sahabatku--Karina.
"Rhes, aku tahu di mana Cindy berada."
"Serius kamu?"
"Ayo naik, kita harus segera menyusulnya!"
Tanpa pikir panjang, aku langsung masuk ke dalam mobil Karina. Kami menyusuri jalanan malam itu dengan hati was-was.
"Sebenarnya, kita ini ada di mana? Aku belum pernah lewat jalan sepi seperti ini," kataku.
Karina tak menggubrisku sama sekali. Dia terus memacu mobilnya mengikuti instruksi google maps. Sekitar empat puluh lima menit kami pun sampai di daerah sepi jauh dari jalanan kota.
"Itu dia tempatnya!" seru Karina, saat kami berhenti di sebuah gedung bernama VVIP STORE.
"Tempat apa ini, Karin? Kenapa di sini gelap sekali?" Aku mulai gelisah. "Di mana Cindy?"
"Dia pasti ada di dalam."
"Ya udah, ayo masuk dan bawa dia pergi dari sini! Aku nggak suka tempat ini," kataku.
"Rhes, hubungi suamimu!" perintahnya.
"Apa?!" Aku terperanjat. "Untuk apa menghubungi Mas Dirga?"
"Saat ini, hanya suamimu yang bisa membawa kita masuk ke sana."
"Apa? Bagaimana bisa?"
"Udahlah! Nggak ada waktu menjelaskannya. Cepat hubungi dia dan suruh dia cepat datang ke sini!" serunya, dengan wajah serius.
"Ba--baiklah!"
Aku segera merogoh ponsel di saku cardiganku dan menekan tombol panggil di nomor suamiku.
"Hallo, Rhes .... ada apa?"
"Mas Dirga, aku perlu bantuan. Bisakah Mas Dirga datang ke sini?!"
"Ada apa? Kamu di mana?"
Nada suara Mas Dirga terdengar cemas.
"Aku bersama Karina sekarang. Kami ... kami ada di VVIP STORE."
"Apa?! Apa yang kalian lakukan di sana? Cepat pulang sekarang juga!" Mas Dirga makin terdengar panik.
"Cindy dalam bahaya. Kami butuh bantuanmu untuk menolongnya."
"Cindy?! Apa yang terjadi?"
"Nanti kami jelaskan. Pokoknya Mas Dirga cepetan ke sini! Kami tunggu di parkiran."
"Oke, aku segera ke sana! Jangan coba-coba keluar dari mobil sebelum aku sampai!"
***
Dengan terus mengamati pintu masuk VVIP STORE, kami menunggu kedatangan Mas Dirga dengan cemas.
Sekitar dua puluh menit berlalu, sebuah mobil putih berhenti di depan kami. Mas Dirga dan Kak Sony keluar dari dalamnya dan langsung masuk ke dalam mobil Karina.
"Kalian nggak apa-apa?" Suamiku itu nampak sangat cemas.
"Apa yang terjadi? Bagaimana kalian sampai di tempat ini?" Kak Sony tak kalah khawatirnya.
Aku masih penasaran, sebenarnya tempat apa ini? Apa yang ada di dalam sana? Kenapa mereka terlihat sangat khawatir dan ketakutan?
"Cindy ... anak itu ...." Karina membuka suaranya. "Sepertinya dia bekerja sebagai Lady Escort ilegal."
"Apa?!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=