
🌷🌷🌷
Sebuah mimpi yang aku khayalkan...
Pengeran berkuda putih akan datang...
Membawaku pergi ke althar pernikahan...
Namun na'as kudapatkan...
Ketika si asing datang melamar...
Aku hanya diam, tunduk pada keadaan...
🌷🌷🌷
Begitu anggun gadis yang ada di pantulan cermin itu. Berbalut kebaya putih elegan dengan riasan sederhana. Cantik alami, tampak memesona.
Itulah aku!
Aku di hari pernikahanku. Namaku ... Rhesa Dayana Putri.
Jum'at sore, diiringi gemericik hujan, aku berjalan meninggalkan rumah yang penuh kenangan indah bersama keluarga. Mobil berwarna putih ini membawaku semakin menjauh meninggalkan lambaian tangan kerabat. Membawaku keluar dari kampung halaman.
Aku seka netra yang basah dengan tisu. Kulihat maskara mulai luntur karena bulir bening menetes tanpa henti dari manik kelamku.
"Nak, kamu akan memulai hidup barumu sekarang. Jadi, jangan bersedih, ya!" kata Om Mahesa yang duduk di kursi kemudi.
"Kami adalah keluarga barumu, Sayang." Tante Dessy tersenyum ramah padaku.
Ya ... meraka mengambilku sekarang. Menjadikan aku sebagai menantu di keluarga mereka.
***
Menikah di usia sembilan belas tahun bukanlah inginku. Kisah yang menurutku tragis ini berawal dari percakapan antara aku, Paman, dan juga Bibiku.
"Apa maksudnya ini, Paman?!" Aku berteriak histeris saat melihat berkas surat untuk keperluan pernikahan yang diserahkan paman padaku. "Aku bahkan baru masuk ke universitas. Sekarang aku tiba-tiba dinikahkan? Aku nggak mau menikah!" teriakku.
"Rhes, kamu, kan bisa kuliah meski sudah menikah," kata paman. "Mereka keluarga baik-baik. Mereka bahkan sahabat almarhum ayah dan ibumu."
"Rhesa, sini sebentar! Bibi mau bicara!" Bibi membawaku masuk ke kamar. "Rhes, kamu tahu, kan sebelum ibumu meninggal, beliau menyerahkan hak walimu pada nyonya Dessy."
"Bibi, saat itu ibu hanya meminta Tante Dessy untuk mengadopsiku, bukan malah menikahkan aku dengan anaknya!" Aku berteriak pada bibiku dengan suara bergetar.
Adik dari mendiang ayahku ini pun, menatap nanar padaku. Dia mengelus lembut ujung kepalaku.
"Nak, ibumu adalah orang yang selalu memikirkan segala hal dengan matang. Jika dia memilih keluarga Mahesa sebagai tempatmu, maka Bibi yakin bahwa itulah yang terbaik untukmu. Kamu percaya pada keputusan ibumu, kan?"
***
Itulah sebabnya, aku ada di mobil Om Mahesa sekarang. Dengan berbalut kebaya putih dan riasan pengantin sederhana.
Seusai akad nikah sederhana di rumahku, mereka langsung memboyongku sebagai mantu. Om Mahesa, Tante Dessy, dan Dirga--suamiku, yang ada di kursi belakang--di sampingku.
Dirga Mahesa Rizaski.
Seorang pemuda dua puluh lima tahun. Wajahnya cukup tampan, badannya pun tinggi. Tak heran sewaktu akad nikah tadi, banyak kerabatku berbisik, betapa beruntungnya aku. Seorang gadis yatim piatu yang diambil mantu oleh orang kaya. Dapat suami muda, ganteng, tajir melintir. Pemikiran sederhana masyarakat desa. Aku tak suka.
Sepanjang perjalanan, Dirga hanya diam. Melikrikku pun tidak. Dia hanya sibuk dengan gawai di tangannya. Kurasa, dia juga tak menginginkan pernikahan ini. Sama sepertiku.
Sekitar dua jam perjalanan, pada jam setengah sepuluh malam, kami sampai di tujuan. Rumah yang besar. Tiga kali lebih besar dari rumahku. Halaman luas dengan tanaman perdu dan bunga hias. Cat putih tampak menyala di malam hari. Kukuh tiang berdiri dengan gaya Eropa. Keluarga Mahesa memang berada. Aku masih ingat cerita almarhumah Ibu tentang kejayaan mereka.
Aku berjalan mengikuti langkah lelaki yang sekarang sah sebagai suamiku. Masih terasa kesunyian di antara kami. Asing dan dingin. Tak ada sepatah kata pun terucap dari bibirnya.
Ah! Hatiku terasa kian sakit.
"Masuklah!" Dirga membuka pintu kamar pengantin kami.
"Halo." Dirga menjawab panggilan dari gawainya. "Jangan berbuat macam-macam! Aku akan segera ke sana, jangan coba lakukan hal gila!" teriaknya.
"Ada apa?" tanyaku.
"Ada hal mendesak, aku harus pergi sekarang!" kata Dirga, dengan wajah yang tampak pucat.
Diraihnya kunci mobil di atas meja dan berlalulah dia dari hadapanku dengan tergesah-gesah.
Kulempar pandang pada gawai yang berdering di meja. Sepertinya Dirga tak sengaja meninggalkannya karena terburu-buru. Penasaran, aku pun melihat siapa yang menelpon malam-malam begini.
Clara.
Itulah nama yang muncul di layar. Entah penasaran atau bagaimana, tiba-tiba tanganku bergerak meraih ponsel itu dan menekan tombol jawab yang ada di layar.
"Dirga! Jika kamu mengabaikan aku, maka aku akan benar-benar bunuh diri! Aku nggak akan rela kamu menikah dengan orang lain!"
Tubuhku lunglai seketika. Mendengar jeritan wanita dari telepon itu membuat kakiku lemas dengan deru jantung luar biasa. Sesak sekali. Jadi, karena inilah Dirga berubah pucat setelah menerima pamggilan?
Karena inilah dia meninggalkan aku. Bahkan di malam pertama pernikahan kami.
Siapa Clara?
Pacarnyakah?
Apa aku telah menikah dengan orang yang salah?
Lewat tengah malam. Aku masih terjaga dan suamiku pun belum kembali. Tak dipungkiri jika aku pun ikut risau mengingat suara ancaman wanita dari telepon itu. Apa yang sebenarnya tengah terjadi? Sulit kupahami.
Di salam terakhir subuhku, Dirga berdiri di ambang pintu kamar dengan mata sayu, wajah lelah, dan terlihat khawatir.
"Kamu baik-baik saja?" tanyaku.
"He'em," angguknya. "Aku mau subuhan dulu dan tidur sebentar."
Aku pun meninggalkannya dan memulai aktifitasku di dapur bersama Tante Dessy.
"Wajahmu terlihat pucat, Sayang," kata Tante Dessy.
"Nggak apa-apa, kok, Tante."
"Tante?!" pekiknya. "Hei, cepat ganti panggilan itu, aku ibumu sekarang!"
Aku sedikit terkejut dan malu mendengar ucapannya. "Baiklah, Ma--ma!"
"Ohw ... manis sekali." Dicubitnya pipiku dengan gemas.
Syukurlah! Setidaknya, aku punya ibu mertua yang baik. Aku pun sudah cukup mengenal Tante Dessy. Mengingat beliau adalah rekan kerja sekaligus sahabat mendiang ibuku.
"Di mana suamimu?" tanya Om Mahesa, seraya menarik kursi di meja makan.
"Sehabis subuhan tadi, dia kembali tidur, Pa," jawabku.
"Ah, dasar anak itu!" gerutu ayah mertuaku.
Tak mungkin aku mengatakan kalau suamiku pergi menemui wanita lain di malam pertama kami dan baru pulang menjelang pagi.
Beberapa menu terhidang di meja makan. Aku yang sudah terbiasa membantu Bibi di dapur pun rasanya nyaman saja memasak bersama ibu mertua. Tak semenakutkan yang orang ceritakan.
"Selamat pagi." Dirga pun turun ke ruang makan dan menarik kursi di sebelahku.
"Dirga, kamu harus datang ke kantor mulai senin lusa!" kata Om Mahesa.
"Iya," jawab Dirga, dengan nada malas.
"Untuk masalah cafe, biarkan Sony yang urus! Kamu nggak perlu datang lagi ke sana! Fokus saja dengan kerjaan di kantor! Kamu mengerti, Dirga?"
Ini pertama kalinya aku makan bersama seluruh keluarga semenjak orang tuaku meninggal. Terselip sedikit rasa sejuk di sudut hati saat ada di suasana seperti ini.
"Setelah ini kami akan pulang," kata Tante Dessy, di sela-sela makannya. "Kalian baik-baik di rumah, ya!"
"Pulang?!" pekikku. "A--apa maksudnya?"
"Sayang, kami tidak tinggal di sini. Ini rumah Dirga." Tante Dessy tampak hati-hati menjelaskannya padaku. "Kami akan sering mampir ke sini. Ya, kan, Pa?"
Om Mahesa pun menggangguk sembari melanjutkan makan.
Usai sarapan, kedua mertuaku itu pun mulai mengemasi barang dan memasukkannya ke dalam mobil.
"Rhesa." Tante Dessy memelukku. "Jangan pernah bersedih! Ingatlah bahwa kami keluargamu sekarang! Dirga .. dia anakku yang sangat baik. Dia pasti akan selalu menjagamu, Sayang."
Air mataku mulai meleleh mngantar kepergian mereka. Tiba-tiba rasa sedih menyeruak memenuhi hati. Aku pun beringsut menuju ke dapur dan menyibukkan diri dengan membereskan piring di meja makan.
"Biar aku bantu!" kata Dirga, yang tiba-tiba muncul di sampingku.
"Nggak usah! Aku bisa melakukannya sendiri," kataku, dengan sedikit canggung.
"Santai saja! Selama ini, aku tinggal sendiri. Jadi aku udah terbiasa melakukan hal ini," katanya, seraya melempar senyum padaku.
Ah! Ini kali pertama aku melihatnya tersenyum. Dia cukup manis.
***
Kuletakkan secangkir kopi di atas meja kerja suamiku. Dia tampak sibuk berkutat dengan laptopnya tanpa menyadari kedatanganku. Kali ini kami hanya berdua. Canggung rasanya.
"Maaf. Ada yang ingin aku tanyakan. Ba--bagaimana sebaiknya aku memanggilmu?" tanyaku, ragu-ragu.
"Hem?"
"Maksudku, nggak sopan jika aku harus memanggil namamu."
Dirga menatapku dan sedikit menyunggingkan senyum di bibirnya.
"Kamu ingin memanggilku apa?" tanyanya, seraya menatap ke arahku.
"Ehm ... entahlah."
"Kamu boleh panggil aku apa saja. Terserah kamu." Lagi-lagi dia melempar senyum manis padaku.
"Mas ... Dirga."
"Apa?!"
Sontak saja lelaki di depanku ini langsung menatap tajam padaku, dengan muka terheran-heran.
"Ka--kamu nggak suka?"
"Ti--tidak. Bukan begitu. Y--ya! Kamu boleh panggil aku begitu."
Entah perasaanku saja atau bagaimana. Sekilas, aku seperti melihat Dirga tersipu dengan wajah memerah. Dia terlihat sedikit malu saat aku berikan gelar 'Mas' padanya.
***
"Kamu sudah gila?! Apa yang kamu lakukan di sini, Clara?!"
"Aku nggak akan pergi dari sini kalau kamu nggak ikut bersamaku."
Sore itu, aku yang baru kembali dari mini market, tiba-tiba langkahku tercekat di halaman rumah. Aku mendengar suara Mas Dirga yang sedang berdebat dengan seseorang. Aku buru-buru lari menuju ke arah pintu, hingga semua belanjaanku jadi tercecer tak karuan.
Aku membanting pintu dengan keras.
"Rhesa?!" Mas Dirga tampak terperanjat melihatku, yang tiba-tiba muncul di ambang pintu.
"Oh, jadi dia? Gadis desa yang merusak hubungan kita?" Wanita itu menatapku dengan berapi-api.
"Berhenti bicara sembarangan dan pergi dari sini, Clara!" Mas Dirga menarik tangannya.
"Enggak! Hei, dengar, gadis desa! Kamu pikir pernikahan ini akan membuatmu bisa memiliki Dirga? Nggak bakalan! Sampai kapanpun Dirga cuma milikku. Ingat itu baik-baik!"
"Ayo, pergi! Aku akan mengantarmu!" Suamiku menarik lengan wanita itu dan membawanya berlalu dari hadapanku.
Wanita gila. Bahkan sampai Mas Dirga membawanya pergi dari rumah ini pun, aku tak sanggup menjawab kata-katanya. Menyebalkan. Aku merasa berada di situasi yang memuakkan sekarang.
***
Jarum jam bergerak mendekati angka dua belas dan sembilan. Bel pintu terdengar mengiringi gelisah hati. Aku berjalan meraih gagang pintu dan membukanya.
"Kamu belum tidur?"
Malam itu, Mas Dirga pulang dengan wajah lelah setelah mengantar wanita gilanya. Astaga! Rasanya aku sedang diselingkuhi terang-terangan.
"Mas Dirga, ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan."
"Katakan!" katanya, sembari berbaring di atas tempat tidur. "Apa ini?" tanyanya, saat aku menyodorkan selembar kertas.
"Itu perjanjian pernikahan kita."
"Apa?!" pekikknya. "Apa maksudnya ini, Rhes? Jika kamu marah karena Clara, aku bisa menjelaskannya."
"Aku tak menginginkan pernikahan ini," sahutku.
Mas Dirga menatapku nanar, berusaha memahami perkataanku.
"Sejujurnya, aku merasa tak nyaman. Jika bukan karena perjanjian aneh yang dilakukan orang tua kita, aku pun nggak mau ada di situasi seperti ini. Aku tak punya perasaan apa pun padamu."
"Jadi pernikahan ini membuatmu tertekan?" Mas Dirga membuka suara.
Aku pun hanya mengangguk tanpa berani menatapnya.
"Baiklah. Kita lakukan semua yang tertulis di kertas ini!"
Kali ini, akulah yang dibuatnya terkejut. Mudah sekali dia menyetujuinya. Sudah kuduga, dari awal dia pun tak pernah inginkan pernikahan ini.
Suamiku itu menyibakkan selimutnya, bangkit dari tempat tidur, dan beranjak meninggalkan aku. Ditariknya gagang pintu lemari dan diambilnya beberapa helai pakaian.
"Apa yang kamu lakukan?" tanyaku, heran. "Mas Dirga mau ke mana?"
"Aku akan pindah ke kamar sebelah. Aku nggak mungkin berada satu kamar denganmu, 'kan?"
"I--ini kamarmu." Aku merasa bersalah.
"Jadi, kamu ingin kita tidur satu kamar?"
"Bu--bukan begitu." Aku jadi bingung semdiri.
Mas Dirga berdiri menatapku. Meraih ujung kepalaku. Lagi-lagi senyuman manis itu tersemat di bibirnya.
"Kalau kamu perlu sesuatu, aku ada di kamar sebelah, okey!"
Rasanya, dia seperti orang baik yang mengerti perasaanku. Namun, mengingat wanita itu, aku langsung tersadar bahwa pernikahan kami tidaklah normal.
Harusnya aku senang dengan situasi seperti ini, bukan? Surat perjanjian dan pisah kamar.
Anehnya, aku merasa ada yang tidak benar di sini.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=