
(pov DIRGA)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=🍂🍂🍂
Jika manusia ...
Boleh menulis takdirnya sendiri ...
Mereka pasti ...
Akan menulis dengan egois ...
Jika manusia ...
Boleh memilih sekehendak hati ...
Mereka pasti ...
Akan lebih sering menyakiti ...
🍂🍂🍂
---------------------------------------------------------------------
"Siapa wanita itu?" tanya Rhesa, sembari menatap penasaran pada wanita di samping Sony.
"Livy. Ceweknya Sony," jawabku.
"Ooh, aku baru tahu Kak Sony punya pacar. Dia kelihatan dewasa dan cantik."
"Kamu lebih cantik."
"Hem?"
Aku hanya tersenyum. Sepertinya dia tak mendengar apa yang aku katakan.
"Kelihatannya Kak Sony sangat mencintainya."
"Emang kelihatannya begitu?" Aku jadi ikut memperhatikan Sony.
"Coba aja Mas Dirga lihat!" Rhesa menatap Sony dengan serius. "Dari tadi Kak Sony terus tersenyum saat bersama wanita itu. Wajahnya kelihatan sumringah. Dari sorot matanya saja kelihatan kalau Kak Sony itu sedang jatuh cinta."
Kutempelkan kedua telapak tanganku di pipi Rhesa dan mendekatkan wajahku padanya.
"Mas Dirga sedang apa?" Rhesa nampak salah tingkah
"Aku hanya ingin memastikan apa di matamu juga ada cinta untukku?"
"Iish ... nggak lucu tahu!" gerutunya.
"Hahaha ... perkataanmu itu sok puitis tahu nggak?"
Rhesa yang sedang libur ke kampus, mengikutiku ke cafe.
Kalau ditanya bagaimana hubungan kami? Ya, kami makin akur dan akrab. Sayangnya bukan sebagai suami-istri. Tapi lebih mirip sebagai saudara. Dia selalu memandangku sebagai kakak laki-lakinya, bukan suaminya.
-----------------
--------------
"Kamu habis nganter Livy?" tanyaku saat Sony masuk ke ruanganku.
"Iya." Sony mentarik kursi di depanku. "Istrimu sudah pulang?"
"He'em. Tadi Cindy menjemputnya. Mau ke toko buku katanya," jawabku.
Jika aku perhatikan, apa yang dikatakan Rhesa memang benar. Sony selalu nampak bahagia kalau bersama Livy. Padahal mereka sudah pacaran hampir 4 tahun. Heranku, mereka masih sering kasmaran alay layaknya remaja 17 tahun.
"Apa kamu serius sama Livy?" tanyaku.
"Kalau kamu serius, menikahlah! Keburu kamu tua."
"Apa? Kamu yang nikah hampir setahun tapi masih perjaka aja sok ngasih nasehat," ejeknya, dengan tertawa menyebalkan.
"Hei! Itu beda urusannya!" teriakku kesal.
"Berani mengejekku lagi, aku pecat kamu!"
"Mana bisa? Saham kita di sini 50:50. Sembarangan aja maen pecat! Haha ...!" kata Sony, dengan tertawa terbahak-bahak.
"Tapi, malam ini aku berencana pulang. Aku ingin menemui ayahku."
"Kenapa tiba-tiba?"
"Seperti katamu, aku berencana menikahi Livy," katanya. "Tapi aku nggak yakin dia akan langsung setuju. Mengingat keluarga Livy hanya orang biasa."
Kuhampiri sahabat karibku yang memasang wajah frustasi dan kutepuk-tepuk punggungnya. "Semoga beruntung, Brother." kataku.
"Thanks, Brother!"
------------------
------------------
RUMAH KELUARGA HERMANSYAH
"Kak Sony!" Sofia langsung menghambur ke pelukan kakaknya begitu melihatnya di mulut pintu. "Sofi kangen banget sama Kakak," kata gadis kelas 3 SMP itu. "Apa malam ini, Kakak akan menginap di rumah?"
Sony tersenyum sambil mengusap ujung kepala adiknya. "Apa Papa di rumah?"
"Iya. Ada di ruang kerja," jawab Sofia.
----------
Sony berjalan memasuki sebuah ruangan yang berpintu klasik dengan ornamen kuno. Sesaat, sahabatku itu nampak menghela nafas dan memegangi dadanya. Dengan mengumpulkan keberanian, dibukanya pintu ruang kerja ayahnya.
Seorang pria berusia 55 tahun nampak sedang duduk di kursi dengan mengutak-atik keyboard komputernya.
"Selamat malam, Papa."
Hermansyah! Seorang direktur sebuah Bank swasta.
"Oh, sudah hampir dua tahun kamu pergi dari rumah dan ingin hidup mandiri. Apa yang membawamu datang ke sini sekarang? Apa kamu merindukan segala fasilitas mewah dari keluarga ini?"
"Tidak. Aku ke sini untuk meminta ijin padamu," kata Sony.
"Ijin?"
"Aku ... minta ijin untuk menikah!"
"Menikah katamu?" Pak Hermansyah beringsut dari kursinya dengan wajah yang nampak terkejut. "Siapa dia? Dari keluarga mana? Apa pekerjaan orang tuanya?"
Sony hanya menghela nafas mendengar pertanyaan sang ayah.
"Pa, apa status sosial itu begitu penting?"
"Tentu saja!" sahut Pak Hermansyah cepat.
"Seorang Sony Hermansyah, pewaris dari Global Bank tidak boleh menikah dengan wanita sembarangan!"
Sony mengepalkan erat tangannya, seakan berusaha menahan emosi yang tiba-tiba menyeruak keluar ke ubun-ubunnya.
"Tidak bisakah aku menentukan pilihanku sendiri?"
"Tidak!" jawab Pak Hermansyah.
"Tadinya aku kira, Papa bisa diajak bicara baik-baik. Ternyata aku salah. Papa bahkan nggak berubah sama sekali. Aku jadi semakin yakin bahwa keputusanku untuk meninggalkan rumah ini adalah benar."
---------------------
------------------
2 MINGGU KEMUDIAN
"Maaf ya, Rhes kita jadi mampir ke cafe dulu. Proposal untuk rapatku besok, sepertinya ketinggalan di meja."
"Nggak apa-apa. Belum terlalu malam juga."
Aku dan Rhesa pun masuk ke dalam cafe yang sudah mulai sepi.
---------
"Sudah aku katakan padamu, jangan temui aku lagi!"
Langkahku terhenti saat terdengar suara Sony berteriak dari dalam ruangannya.
"Kamu nggak pernah membalas pesanku, telponku pun kamu abaikan." Kali ini suara perempuan. "Ada yang harus kita bicarakan, Sony!"
"Nggak ada lagi yang perlu kita bicarakan, Livy! Semuanya udah nggak ada gunanya sekarang."
"Kamu harus dengar penjelasanku dulu, aku mohon!" Suara Livy terdengar memelas.
Bersamaan dengan suara pintu yang terbuka dan terbanting keras, gadis itu pun berlari keluar dengan berurai air mata. Sesaat kemudian Sony keluar mengejarnya. Tapi kemudian dia terhenti saat melihat aku dan Rhesa ada di depannya. Sony terlihat menunduk dengan mata berkaca-kaca.
--------------
--------------
3 HARI KEMUDIAN
"Taraaaa ...! Kami sudah siap!"
Aku dan papa kompak melihat ke arah dua wanita cantik yang ada di hadapan kami.
Mama dengan dress panjang warna hitam yang nampak elegant.
Dan istriku, dia nampak mengagumkan dengan dress navy yang senada dengan jas abu muda yang kukenakan.
Ah, Rhesa! Rasanya setiap hari dia semakin terlihat dewasa dan menggoda.
"Ayo berangkat, nanti kita terlambat!" kata Papa.
--------
Sekitar 30 menit kami pun sampai di kediaman keluarga Hermansyah. Rumah besar dengan taman yang luas.
Inilah sebabnya, pesta pernikahannya bertemakan garden party.
"Rhesa ...!"
"Oh ... Karina!"
Jangan heran kalau keluarga JAYA juga ada di sini. Dari pada disebut menjalin hubungan silaturahim, berkumpulnya para orang tua kami lebih tepat jika disebut sebagai "Menjalin Hubungan Bisnis."
--------
"Selamat atas pernikahannya, Pak Hermansyah. Semoga langgeng, ya!" kata Papa.
"Terima kasih karena sudah menyempatkan datang, Pak Mahesa," jawab ayah Sony.
Rhesa segera menarik lenganku dan menjauh dari kerumunan.
"Ada apa?"
"Istri Pak Hermansyah! Bukankah dia ... pacarnya Kak Sony?"
"Iya, kamu benar!"
"Astaga!" Rhesa nampak syok mendengar jawabanku.
"Kamu di sini sama Karina, ya! Aku mau cari Sony sebentar."
Aku pun masuk ke dalam rumah besar itu dan langsung menuju kamar Sony.
"Son ...!" Aku cari dia ke setiap sudut kamar, tapi tak kutemukan jejaknya sama sekali.
"Di mana anak itu? Ponselnya juga nggak aktif. Sonyyyy ...!" teriakku.
"Apa Kak Dirga mencari Kak Sony?" Tiba-tiba Sofia muncul di depanku.
"Di mana kakakmu?"
"Entahlah. Dia pergi sejak tadi pagi." Sofia terlihat khawatir.
"Jangan khawatir, aku akan mencarinya!"
Aku segera menuju parkiran dan mengambil mobil. Aku datangi apartementnya ... kosong!
Aku pun terpikirkan satu tempat yang mungkin akan didatanginya.
CAFE!
---------
--------------------
"Son ...!"
Benar dugaanku. Aku lihat tiga botol alkohol kosong di atas meja. Dan segelas lagi ada di genggamannya.
"Hentikan ini! Kamu ingin membunuh dirimu sendiri?!" Aku merampas gelas berisi alkohol darinya.
"Apa pernikahannya sudah selesai?"
Sony nampak mabuk berat. Matanya memerah dan sembab. Dia nampak lusuh dan berantakan.
"Dirga, apa yang harus aku lakukan sekarang?" katanya dengan suara serak.
"Aku mencintainya, Dirga. Aku sangat mencintainya. Bagaimana dia bisa sekejam itu padaku? Bagaimana dia bisa menikah dengan ayahku? Ayah kandungku, Dirga! Dia lebih memilih uang ayahku daripada perasaanku. Kenapa dia kejam sekali padaku?"
Sony membenamkan kepalanya di meja. Suara isak tangisnya terdengar jelas di telingaku.
--------------
--------------
Sementara itu, di acara pernikahan tersebut, seorang wanita nampak berusaha menyembunyikan kesedihannya di balik gaun pengantin yang menjuntai indah di tubuhnya.
"Kamu istrinya Dirga, kan?" Livy duduk di sebelah Rhesa. "Aku dan Sony adalah sepasang kekasih sampai dua minggu yang lalu." Livy tiba-tiba membuka suara.
"Hubungan kami langsung hancur, begitu Pak Hermansyah memperkenalkanku sebagai ibu tirinya."
Livy nampak menarik nafas panjang. Mencoba mengisi paru-parunya yang terasa sesak.
"Ayahku adalah salah satu karyawan Pak Hermansyah. Untuk biaya pengobatan ibuku, Ayahku menggelapkan uang nasabah. Meski pada akhirnya ibuku meninggal saat operasi. Ayahku ketahuan dan terancam masuk penjara."
Livy meneguk soda yang ada di tangannya.
"Aku merasa takut ayah akan dipenjara. Dan tiga adikku pun masih sekolah. Aku beranikan diri menemui Pak Hermansyah dan memohon belas kasihannya. Tapi pada akhirnya, bagi orang miskin seperti kami, melunasi uang yang tak bisa dibayar sama dengan menjual harga diri. Dengan bodohnya, aku pun menerima pernintaan Pak Hermansyah untuk menjadi istrinya. Dengan alasan agar ayahku selamat dari penjara dan pendidikan adik-adikku pun terjamin."
Livy nampak tertunduk pilu.
"Aku ini benar-benar sudah gila, ya? Sudah tahu bahwa dia adalah ayah dari pacarku sendiri, tapi demi uang aku bahkan rela menjadi seorang ibu tiri."
"Apa Kak Sony tahu alasan Kak Livy melakukan semua ini?" tanya Rhesa.
Gadis itu hanya menggeleng. "Nggak ada gunanya juga dia tahu."
"Tapi setidaknya, jangan biarkan Kak Sony salah paham padamu!"
"Biarkan saja dia salah paham!" Livy meremas gaun pengantinnya dengan tangan bergetar.
"Akan lebih baik jika dia membenciku. Tidak bisa memiliki orang yang dicintai itu terasa sangat menyakitkan. Biar saja dia membenciku, sampai dia tak bisa mengingat lagi siapa aku."
------------
------------
Sepanjang malam, aku dan Rhesa duduk di beranda sambil menikmati hembusan angin yang terasa dingin itu. Langit yang nampak gelap, bulan yang nampak sendu tertutup awan. Mengingatkan kami pada kisah antara Sony dan Livy.
"Ketika Kak Livy bercerita tentang apa yang dialaminya, sebagai mahasiswi psikologi aku merasa sangat payah!" Rhesa membuka suara. "Tak satu pun kata penghiburan atau pun motivasi yang keluar dari mulutku untuk menenangkannya. Na'as sekali!"
"Pemikiranmu itu salah," sahutku. "Ada kalanya seseorang itu nggak memerlukan penghiburan atau kata-kata motivasi. Mereka hanya memerlukan telinga orang lain untuk mendengarkan mereka. Jadi, jika nanti kamu jadi psikolog, kamu hanya perlu menggunakan telinga dan juga hatimu untuk bisa mengerti mereka!"
"Aneh rasanya mendengar kata-kata ini darimu." Rhesa terlihat tersenyum sendu. "Kak Livy yang membuang cinta dan harga dirinya demi kasih sayangnya pada keluarga.
Kak Sony yang mengorbankan perasaannya demi ayah dan orang yang dicintainya. Tidakkah mereka sama seperti kita? Kita yang hidup bersama, membuang ego kita demi janji yang dibuat orang tua kita. Tidakkah di dunia ini ada banyak sekali ketidak adilan?"
Kukirikkan ekor mataku padanya. Rhesa terlihat menengadah, menerawang menatap langit yang semakin gelap.
"Jika saja orang tua kita nggak membuat perjanjian gila dengan menikahkan kita, mungkin saat ini, kita akan menjalani hidup masing-masing dengan bebas tanpa ada rasa tertekan di hati. Iya, kan?"
Aku bangkit dari dudukku.
"Rhesa, apa kamu pernah berpikir kalau kita harus mengakhiri pernikahan ini?" tanyaku.
"Apa?!"
"Maaf, sudah menempatkanmu di situasi sulit seperti ini." Aku menghela nafas panjang. "Rhesa, aku nggak akan memaksamu untuk benar-benar menjadi pasanganku. Semua terserah padamu. Jika suatu hari kamu merasa jengah dan memaksa bercerai dariku, saat itu, aku pasti akan melepaskanmu."
"Mas Dirga, apa yang ..."
"Masuklah! Udaranya sudah semakin dingin."
Aku berlalu meninggalkannya.
Rasanya harapanku runtuh. Mendengar kata-katanya, aku seakan tak punya keberanian lagi untuk menatapnya.
Entah sampai kapan aku bisa menahannya. Segala keputusan, kubiarkan dia yang memilihnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=