
(pov DIRGA)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌺🌾🌺
Akankah ada kesempatan ...
Jika harapan terus kukobarkan ...
Meski segala pintu takdir ...
Kini telah tertutup rapat ...
Akankah sebuah pertemuan ...
Akan membuka sebuah jalan ...
Meski hanya sebatas angan ...
Bisakah dijadikan kenyataan ...
🌺🌾🌺
---------------------------------------------------------------------
5 TAHUN KEMUDIAN
"Jam berapa ada meeting lagi?" tanyaku pada Bagas, sekretarisku.
"Jam delapan malam, Pak."
"Oke. Ini masih jam 4. Aku mau jalan-jalan dulu di pantai."
"Siap, Pak! Selamat menikmati udara pantai," katanya, dengan memberi sikap hormat padaku.
------
-------------
Udara yang hangat.
Sudah lama sekali aku tak ke sini. Mungkin sekitar lima atau enam tahun lalu ... bersama dia.
Pantai ini sudah ramai sekarang. Padahal dulu masih sangat sepi. Belum banyak yang tahu tempat ini. Beruntungnya, aku berhasil dapat kontrak bagus di sini. Jadi aku bisa sedikit bernostalgia.
---------------
DUK!
"Ohw ... sorry, Uncle! Are you okey? Ehm ... itu bolaku."
Seorang anak lelaki berusia sekitar empat tahun, tanpa sengaja menendang bola sepaknya ke arahku. Bahasanya agak kebule-bulean. Tapi wajahnya seperti orang Jawa.
"Uncle, are you okey? Tidak luka?" Wajahnya nampak ketakutan.
"Yes. I'm oke," kataku, sembari mengusap ujung kepalanya. "Kamu bisa berbahasa Indonesia?"
"Iya. Little-little," jawabnya, sembari tertawa.
"Are you alone? What's your name?" tanyaku.
"Arga," jawabnya, polos.
"Arga? Wah ... it's the good name."
"Thank you, Uncle."
"Namaku Dirga. Mirip, kan nama kita? Salam kenal."
Anak itu tersenyum manis sembari menjabat tanganku.
"Tapi nama panjangku lebih bagus, Uncle," ucapnya begitu lugu.
"Oh, ya? Siapa nama panjangmu?"
"Arga Rizaski."
"Ri--Rizaski?!" pekikku.
"Bagus, kan? Hehe ...! Eh, mana bolaku? Sebentar lagi mama pasti ke sini buat jemput aku!"
"Ooh ... ini ambillah!"
Arga mengulurkan tangan kecilnya padaku. Dan saat itulah aku melihat sesuatu ada di tangannya.
"Tu--tunggu! Ini ... dari mana kamu dapatkan benda ini?!" seruku.
Sebuah arloji silver buatan Mahesa Corporation berkode MR melingkar di pergelangan tangannya. Benda ini hanya ada satu di dunia. Dan aku memberikannya pada Rhesa dulu.
"Sssttt ... jangan bilang-bilang, ya, Uncle!" kata Arga, dengan meletakkan jari telunjuknya di bibir. "Ini punya mamaku. Aku sering memakainya diam-diam. Habisnya ... aku suka. Nih, lihat! Berkilau-kilau ... bagus banget."
"Si--siapa ... mamamu?"
--------
"Argaaaa ... ayo pulang! Udah mau maghrib ini!"
"Oke, Mom!"
Anak kecil itu berlari ke arah wanita yang memanggilnya.
Wanita itu ... rambut panjang tergerai dengan ujung sedikit ikal. Wanita dengan senyum manis menghiasi bibirnya yang berwarna nute. Wanita itu ... aku sangat mengenal parasnya.
"Rhesa?!"
Bola matanya yang membesar karena terkejut melihatku.
"Mas Dirga?!"
-----------------------
"Bagaimana kabarmu?" tanyaku.
"Baik," jawabnya, singkat.
Rasa canggung menyeruak di antara kami. Meski saat ini kami duduk di pasir dan memandang laut yang sama seperti dulu ... tapi terasa sangat berbeda. Kami benar-benar orang asing sekarang.
"Bagaimana kabar om dan tante Dessy?" tanyanya.
"Mereka baik-baik saja. Kapan kamu kembali ke Indonesia?"
"Sekitar dua bulan lalu."
"Kamu tinggal di sini? tanyaku.
"Iya. Aku juga mengajar di salah satu kampus di kota ini. Ehm ... bagaimana kabar Clara?"
Kulirik dia. Nampak guratan sayu di wajahnya. Mungkin dia merasa tak nyaman untuk menyebut nama Clara.
"Apa?! Cerai?!" Rhesa nampak terperangah.
"Kenapa ekspresimu berlebihan begitu?" kataku, dengan sedikit terkekeh. "Hal wajar, kan kalau suami istri bercerai. Dulu kita juga cerai, kan?"
"Bu--bukan begitu. Hanya saja ..."
"Clara menjebakku. Anak yang dikandungnya ... bukan anakku."
"Hah?! Serius?!" Kini bola matanya seperti hendak melompat keluar. "Bagaimana bisa ... Clara?!"
Apa yang dirasakan Rhesa sekarang? Apa sebuah penyesalan seperti yang dulu aku rasakan? Atau saat ini dia sedang mengirim sumpah serapah pada Clara?
"Aah ... Rhes!" Aku membuyarkan lamunannya. "Arga tadi memanggilmu mama. Apa ... dia anakmu?".
"Iya. Dia anakku," jawabnya, tanpa ragu.
"Jadi ... apa kamu ... sudah menikah?"
"Iya. Aku sudah menikah."
Lagi-lagi dijawab tanpa pikir panjang.
Apa, sih yang kamu pikirkan, Dirga?!
Hanya karena nama belakang Arga yang sama dengan namamu dan arloji silver itu ada di tangannya ... bukan berarti dia anakmu, kan? Pikiran gila macam apa ini?!
"Mas Dirga sendiri sedang apa di sini?"
"Ohw ... aku ada beberapa pekerjaan. Mama dan papa juga ada di sini. Aku rasa, mereka akan senang kalau bertemu denganmu."
"He'em," angguknya. "Aah ... udah hampir malam. Aku harus pulang. Arga ... ayo pulang ... udah maghrib!"
"Oke, Mom! Bye-bye, Uncle!" Arga melambai padaku.
"Bye."
Rhesa terlihat bahagia.
Tidak ...! Berhenti berpikir gila, Dirga!
Dia sudah punya kehidupan sendiri sekarang. Dia sudah bahagia dengan suami dan anak mereka.
------------------------------- ----------------------------------
PAGI HARI DI TOKO BUNGA
"Tolong tulis \=SELAMAT DAN SUKSES DIREKTUR UTAMA GLOBAL BANK BPK. SONY HERMANSYAH dari MAHESA CORPORATION\=!" kataku, pada penjaga di toko bunga itu.
"Ditunggu sebentar ya, Pak!"
-----
"Bu Rhesa ...!"
Aku menoleh saat nama yang tak asing di telingaku itu dipanggil.
Kulihat Rhesa sedang berdiri di depan meja kasir di toko yang sama denganku.
"Tolong dikirim kilat, ya, Mbak! Ini alamat dan ongkirnya."
"Baik, Bu. Terima kasih."
Aku segera menghampiri petugas kasir itu saat Rhesa meninggalkan toko.
"Maaf. Boleh saya tahu ... wanita yang baru saja keluar, dia pesan karangan bunga untuk apa, ya? Aah ... dia kenalan saya. Baragkali kami akan mengirim ke alamat yang sama." Aku mencoba mencari alasan.
"Oh ... Bu Rhesa, ya? Tadi pesan karangan bunga yang diawetkan untuk di kirim kilat ke Amerika."
"Ke Amerika? Untuk apa?" tanyaku, heran.
"Untuk peringatan kematian."
"Kematian? Si--siapa yang meninggal?"
"Suaminya."
"Su--suami?!"
-------------------------------
---------------------
SORE HARINYA DI PANTAI
"Goool ...! Ye ... ye ... ye ... ye ..! Aku menang lagi. Uncle payah nih mainnya. Kalah mulu," gerutu Arga.
"Kamu, tuh yang larinya gesit banget. Sampai ngos-ngosan gini Uncle ngejar kamu. Mana larinya di atas pasir lagi. Ya ampun!"
Baru sadar kalau aku sudah bertambah tua. Baru lari sedikit saja ... nafas serasa hilang entah kemana. Untung saja wajahku masih tetap ganteng.
"Sepertinya Arga membuatmu kuwalahan, ya?" Tiba-tiba Rhesa muncul di hadapanku dengan senyum indahnya. "Kenapa Mas Dirga ada di sini lagi?"
"Kebetulan aja. Jalan-jalan untuk melepas lelah," kilahku. "Ehm ... tadi pagi aku melihatmu di toko bunga."
"Oh, ya? Maaf, aku tak melihatmu," katanya, sembari duduk di sampingku.
"Jadi ... suamimu sudah meninggal?"
"Jadi ... Mas Dirga menginterogasi mbak-mbak kasir, ya? Hahaha ...!"
"Bu--bukan! Mana mungkin aku melakukan hal itu. Enggaklah. Haha ...!" Aku jadi salah tingkah sendiri.
"Iya. Suamiku udah meninggal, kecelakaan mobil. Besok keluarganya akan melakukan peringatan kematiannya. Jadi, aku kirimkan bunga."
"Dia ... orang yang baik?" tanyaku.
"Iya. Baik sekali. Dia seorang mualaf yang aku temui dua tahun lalu. Dia juga psikiater yang bekerja di tempatku bekerja dulu. Kami bertemu di sana. Tapi sayang ... usia pernikahan kami hanya sebentar. Ehm ... sekitar lima bulan."
"Oh begitu," lirihku. "Dua tahun?! Kamu bilang dua tahun?!" seruku. "Ja--jadi ... Arga bukan anak dari suami keduamu?"
Sepertinya Rhesa juga baru menyadari kesalahan dari ucapannya. Dia nampak pucat, seolah berusaha mencari alasan untukku.
"Rhes ... siapa Arga sebenarnya?" tanyaku.
"Tunggu ... jika ... jika saat ini usianya sekitar empat tahun. Itu artinya ... dia lahir beberapa bulan setelah perceraian kita, kan?"
Rhesa masih diam dengan raut muka yang semakin tegang.
"Rhes ... lihat aku!" Aku menarik lengannya dan menghadapkannya padaku. "Apa Arga ... anakku?"
Tak ada jawaban dari mulutnya. Tapi air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Rhesaaa ...! Ini bukan saatnya untuk menyembunyikan apapun dariku. Katakan. Arga ... dia anakku, kan?!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=