WILL YOU MARRY ME?

WILL YOU MARRY ME?
Part 27


(pov ARGA)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌺Kamu cantik hari ini ...


Dan aku ... suka 🌺


---------------------------------------------------------------------


22.30 WIB


Akhirnya, aku malah berdiam di rumah kost Luna malam itu. Kami hanya duduk merangkul kedua lutut. Bersandar di tembok yang terasa dingin di ruangan kecil itu. Aku ingin pulang, tapi aku mengkhawatirkannya.


"Kamu ... mau makan sesuatu?" Aku berbasa-basi untuk memecah keheningan.


Luna hanya diam dan menggeleng.


"Lagi-lagi, aku berhutang nyawa padamu, Arga," ucapnya. "Aku nggak merasa mampu untuk membalas semua kebaikanmu padaku."


"Sudahlah! Aku nggak merasa sedang memberimu hutang apapun," kataku.


"Lupakan saja semuanya!"


Sejak awal bertemu dia, aku sudah merasa bahwa dia punya kehidupan yang cukup sulit. Tapi aku tak pernah menyangka, bahwa hidupnya akan sesulit ini.


"Kamu ... pasien mamaku?" Aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya padanya.


"Awalnya, aku pasien dr.Rony. Tapi, dua bulan terakhir ini, aku dipindahkan ke Bu Rhesa, karena beliau sedang tugas ke luar negeri."


"Begitu."


Kami kembali diam. Aku ingin tanya banyak hal, tapi lidahku keluh rasanya. Aku takut menyinggung perasaannya.


"Kenapa kamu bisa sampai menyusulku? Apa Bu Rhesa memberitahumu tentang masalahku?"


"Ah ... itu ... jangan salah paham!" sahutku.


"Akulah yang memaksa mama mengatakannya karena aku khawatir padamu. Aku melihatmu menangis tadi."


Luna kembali diam dan meletakkan dagunya di atas lutut.


"Saat usiaku tujuh tahun, ayah dan ibuku bercerai," katanya. "Dari awal, hubungan mereka memang nggak baik. Mereka sering bertengkar tanpa alasan. Dan entah kenapa, ibuku selalu melampiaskan kemarahannya padaku. Dia selalu bilang, kalau nasib buruknya, semua karena keberadaanku."


Kulirikkan ekor mataku padanya. Gadis itu nampak beberapa kali menyeka sudut matanya.


"Saat usiaku sepuluh tahun, ibuku dipindah kerja ke luar negeri. Dan dia memasukkan aku ke panti asuhan. Sebuah panti yang jauh dari pusat kota, bernama Kei Cecillia."


"Jadi ... namamu ..."


"Itu bukan nama pemberian orang tuaku. Aku mendapatkannya saat aku tinggal di panti," jawabnya. "Tiga bulan lalu ibuku kembali di tugaskan di sini dan aku senang sekali. Apalagi saat dia menemuiku. Aku sudah kuliah, aku juga sudah hidup mandiri. Aku pikir, dia akan bangga padaku, tapi ternyata ... semua masih sama. Aku masih tetap sumber masalah baginya. Hidupku ini ... terasa sulit sekali."


Rasa sakit tiba-tiba muncul di sudut hatiku. Air mata Luna yang terus menetes di wajahnya, membuat dadaku sedikit teremas. Begitu pilu mendengar cerita hidupnya.


DRRRT ... DRRRRTT ...!


Ponsel yang ada di depanku nampak bergetar. Nama mama muncul bersamaan dengan lampu layar yang terus bsrkedip.


"Pulanglah, Arga! Bu Rhesa pasti mencarimu," suruhnya.


Kulempar pandanganku padanya.


Rasanya berat.


Tatapan sayunya semakin membuat kekhawatiranku mencuat.


"Aku nggak akan berbuat macam-macam. Janji," katanya, sembari melempar senyum padaku.


"Baiklah. Sampai di rumah, aku akan menelponmu."


"He'em."


Kutinggalkan dia di sudut ruangan kecil itu. Dia nampak sedikit menyunggingkan senyum mengantar kepergianku.


---------------------


----------------


"Halo ... Luna."


"Kamu sudah sampai rumah?" tanyanya, saat aku menelponnya.


"He'em"


23.45 WIB


00.30 WIB


02.30 WIB


03.15 WIB


"Luna ... kamu sudah tidur?" tanyaku.


Tak ada jawaban darinya.


"Selamat tidur, Luna."


Dan sepanjang malam itu, kami bercerita banyak hal. Dari mulai hal penting sampai yang tak penting.


Dari sebuah tangis, sampai sebuah tawa.


Malam itu, kami sama-sama membaginya lewat sebuah signal yang tidak terlihat arusnya.


-------------------


----------------


KANTIN KAMPUS


"Kamu bisa, ya melakukan tiga hal sekaligus? Makan, baca buku, denger musik."


"Arga?!"


Luna nampak terkejut melihatku yang tiba-tiba duduk di depannya. Diletakkan sendoknya dan dicabutnya headset dari telinganya.


"Selamat siang, Wahai Rembulan," kataku, dengan memasang senyum manis.


"Rembulan?" Dikernyitkan dahinya.


"Dalam bahasa Spanyol, kan Luna berarti bulan."


"Hahaha ... baru nyadar," tawanya.


Leganya! Hari ini, wajahnya terlihat cerah dengan senyuman lebar itu. Padahal semalaman aku begitu mangkhawatirkannya.


"Kamu ada kelas lagi?" tanyaku.


"Enggak. Ini mau pulang."


"Kerja?"


Luna menggeleng. "Hari ini aku libur."


"Oke, baguslah!" seruku. "Ayo, pergi ke suatu tempat!"


"Ke mana?"


"Ikut ajalah!"


------------------------


------------------


Aku pun membawanya ke sebuah mall di pusat kota. Kami menuju sebuah toko elektronik.


"Saya mau laptop AS*S dengan kapasitas ram yang gede, ya, Mbak!" kataku, pada si Mbak pegawai.


"Boleh bayar pake' credit card nggak?"


"Boleh. Langsung ke kasir saja, Mas! Barangnya akan segera saya siapkan."


"Oke. Terima kasih."


----------------------------


---------------------


"Silakan pesanannya!"


Dua porsi salad buah plus yogurt terhidang di meja kami.


"Sebenarnya, kamu nggak perlu ganti yang baru juga," kata Luna.


"Kan, bisa diservis saja."


"Apanya yang diservis? Laptopmu itu udah sakit parah. Nggak bisa diapa-apain lagi," kataku.


Luna nampak cekikikan sambil memasukkan sesendok salad ke mulutnya.


"Aku heran, ya," ucapku. "Sepanjang yang aku tahu, di antara mahasiswa seangkatanku, aku ini nggak terkalahkan. Tapi, kok bisa aku gagal test dengan nilai tipis denganmu. Waktu itu, aku benar-benar kesal sekali."


Lagi-lagi Luna hanya tersenyum menimpaliku.


"Kamu benar-benar membuatku malu, tahu nggak?"


"Haha ... maaf, deh!" tawanya. "Tapi ... aku ini bukan seangkatan denganmu, lho."


"Apa?! Maksudnya?!"


Gadis itu meletakkan sendoknya, melipat kedua tangannya di meja dan menatap tajam padaku.


"Aku ini ... seniormu."


"Apa?!" pekikku.


"Iiiish ... apa-apaan muka terkejut itu?"


"Se--senior? Kamu?!"


Lagi-lagi dia hanya mengangguk dengan terus tertawa melihat ekspresi terkejutku.


"Kok, bisa?!" seruku.


"Aku cuti satu semester tahun lalu. Untuk kerja tentunya. Aku harus cari biaya kuliahku sendiri soalnya," jawabnya. "Aku merasa lega saat aku berhasil mendapatkan beasiswa itu. Semua ini berkat laptopmu."


Ah ... begitu! Jadi merasa sangat menyesal karena waktu itu aku sudah begitu kasar padanya.


"Jadi ... panggil aku 'kakak' atau 'senior'!" godanya.


"Nggak mau, ah!" tolakku. "Masa' aku harus jalan bareng kamu terus panggil kamu 'kakak'?"


"Hahaha ... kenapa mukamu kecut begitu?" ejeknya.


"Apa ... perbedaan usia kita jauh?" tanyaku.


"Enggak juga sepertinya. Melihat datamu yang muncul di pengumuman hasil test kemarin, sepertinya usia kita hanya beda empat atau lima bulan."


"Oh, begitu. Baguslah," kataku.


"Apanya yang bagus?"


"Nggak apa. Kamu terlihat imut dan manis ... juga cantik."


"Apaan, sih? Kamu lagi ngegombalin aku, Arga?"


"Hahaha ...."


-----------------------


------------------


"Arga, ngapain, sih kita ke tempat ini?" gerutunya.


"Udahlah, masuk aja!" Kudorong tubuh kecilnya melewati pintu kaca itu.


Sebuah salon.


Aku membawanya ke sebuah salon langganan Jesika.


"Mbak, aku ingin rambut ikal yang acak-acakan itu dijadiin lurus, ya!" pintaku, pada si Mbak pegawai.


"Siap, Mas Arga," jawabnya, yang memang sudah mngenal aku dan Jesika.


-------------


Biasanya, aku selalu bosan dan 'ngedumel' sendirian saat Jesika memaksaku menemaninya ke salon.


Sebenarnya, sih 'ogah'. Tapi dia selalu mengancam akan membuat papa memotong uang jajanku kalau aku tak mau menemaninya.


Tapi kali ini beda.


Aku menunggu dengan berdebar-debar. Aku sangat penasaran.


Akan jadi seperti apa dia jika aku sedikit meremake penampilannya?


Apa dia akan secantik Jesika?


Atau justru lebih cantik dari Jesika?


Duh ...!


Membayangkannya, aku jadi 'blushing' sendiri.


--------------------


-------------


"Mas Arga ... sudah selesai," kata si Mbak pegawai.


"Waaaah ...!"


Amazing ...!


Indah sekali ...!


Cantik ...!


Bercahaya ...!


"Arga ... Argaaaa ...!"


"Ya?!" panggilannya, membuyarkan lamunanku.


"Kenapa melotot begitu? Apa ... aku terlihat aneh?" tanyanya, dengan muka memerah.


"Enggak. Kamu ... cantik sekali."


"Apa?!"


Aku pun terkekeh melihat ekspresi salah tingkahnya.


"Kamu terlihat berbeda, Luna. Sangat cantik," pujiku.


Gadis itu nampak sedikit memunduk, menghindari tatapanku. Kulit putihnya terlihat bersemu merah.


Sangat menggemaskan.


-------------------------


-----------------


19.30 WIB


DEPAN KOST LUNA


"Terima kasih untuk hari ini. Terima kasih untuk laptop barunya. Dan terima kasih untuk make over rambutnya."


"Kamu suka?" tanyaku.


"He'em. Kepalaku jadi terasa ringan. Haha ..."


Rambutnya terlihat lebih panjang dari saat ikal. Wajah yang dihiasi mata yang lentik dengan iris kecoklatan jadi terlihat jelas.


"Luna ...," lirihku.


"Hem?"


"Maukah ... kamu tinggal bersamaku?"


"Apa?!"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=