WILL YOU MARRY ME?

WILL YOU MARRY ME?
Part 20


(pov DIRGA)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌻🌸🌻


Jika memang aku masih pantas ...


Aku ingin mendapatkan kesempatan itu ...


Saat kembali dipertemukan denganmu ...


Aku harap ...


Bisa kugenggam lagi masa lalu ...


🌻🌸🌻


---------------------------------------------------------------------


"Rhesaaa ...! Ini bukan saatnya untuk menyembunyikan apapun dariku.


Katakan ...! Arga ... dia anakku, kan?!"


"He'em," angguknya, dengan ragu.


"Sungguh?! Dia sungguh anakku?!"


"Iya. Dia anakmu," jawabnya, dengan diiringi bulir air mata yang mulai jatuh.


"Ya Tuhan, Rhesaaaa!" desisku. "Bagaimana bisa?! Bagaimana bisa kamu menyembunyikan ini dariku, hah?! Arga ...! Bahkan sampai dia sebesar ini ... aku nggak tahu apapun tentangnya."


Aku berusaha menahan emosiku sampai jantungku serasa terhimpit dan sesak.


"Apa ini sebabnya kamu menyuruh Karina untuk menutup semua informasi tentangmu? Agar aku nggak tahu soal Arga?!" Aku mulai berapi-api.


"Maaf ... maafkan aku!" Air matanya semakin bercucuran. "Aku nggak punya pilihan lain saat itu. Aku nggak mau menghancurkan kebahagiaanmu yang sedang menunggu kelahiran anak Clara."


"Astagaaa ...! Kenapa kamu lebih memilih hidup menderita sendirian?! Kamu sudah membuatku seperti orang paling brengsek sekarang ini, kamu tau?!" bentakku.


"Keterlaluan sekali kamu, Rhes!"


"Apa gunanya? Apa gunanya kalau talak sudah jatuh padaku," gumamnya.


"Itu karena kamu yang memaksaku!" teriakku.


"Saat itu ... aku sudah berulang kali menolak keinginanmu. Tapi kamu terus saja ...!


Hah ... siaaaal ...! Benar-benar gila aku rasanya!"


----------------------


"Kenapa kalian saling berteriak?" Tiba-tiba Arga menghampiri kami. "Kenapa mama dan uncle menangis? Kalian bertengkar?"


Aku meraih tubuh kecil itu ke dalam pelukanku.


"Enggak, Sayang! Kami nggak bertengkar, kok!" kataku. "Arga ... anakku!"


Kenapa hidupku jadi serumit ini? Dosa apa yang sudah aku lakukan sampai semua terasa sulit begini?!


"Arga, mau bertemu kakek dan nenek?" tanyaku.


"Kakek dan nenek? Memang aku punya?"


"Tentu saja kamu punya. Mereka pasti akan sangat senang bertemu denganmu."


"Mas Dirga ... tapi ini ..."


"Rhes, berhenti bersikap egois! Aku juga punya hak atas diri Arga!"


-------------------------


------------------


HOTEL


"Ma ... Pa ...!"


"Dirga? Bukannya kamu ada survey lokasi sore ini? Kenapa malah ada di sini?" tanya Papa.


"Ada seseorang yang harus kalian temui!"


Kedua orang tuaku memgernyit bingung.


Raut wajah mereka nampak memucat dan terkejut saat Rhesa muncul dari belakangku.


"Rhesaaa?!" pekik mama.


"Ini ... ini benar kamu, Nak?"


"Iya, Tante. Ini Rhesa."


"Rhesaaa ... anakku!"


Mama menghambur memeluk Rhesa. Seorang anak yang mungkin lebih disayanginya daripada aku, putranya sendiri.


"Kemana saja kamu selama ini, Nak? Kamu baik-baik saja? Kamu hidup dengan baik?" Mama menghujami Rhesa dengan banyak pertanyaan.


"Iya, Tante."


"Rhesa, maafkan kami! Maafkan kami, Sayang! Maaf!" Air mata bercucuran dari mata yang mulai terlihat menua itu.


Dua wanita di hadapanku itu saling menumpahkan seluruh air mata yang selama ini mungkin berusaha mereka tahan.


"Dirga, siapa anak yang bersamamu?" tanya Papa, saat melihat Arga di sampingku.


"Dia ... anak Rhesa dan juga Dirga, Pa," jawabku. "Dia cucu kalian."


Papa dan mama menatap Rhesa. Seakan minta penjelasan ucapanku darinya.


"Iya. Dia anakku dan Mas Dirga," kata Rhesa.


Aku menyuruh Arga untuk menghampiri mama dan papa. Anak kecil itu nampak ragu, sebelum akhiirnya Rhesa memberi anggukan kepala padanya.


"Hallo, GrandMa ... Hallo, GrandPa!" Arga mencium tangan mama dan papa.


"Siapa namamu, Nak?" tanya Papa.


"Arga," jawabnya lugu.


"Arga? Nama yang bagus."


"Terima kasih." Arga nampak tersenyum senang. "Nama panjangku juga bagus, lho!"


"Benarkah? Siapa?" tanya Papa.


"Arga Rizaski," jawabnya, penuh kebanggaan.


"Rizaski?" seru Papa. "Hahaha ... iya. Itu terdengar lebih bagus. Mau Kakek tambahkan satu kata lagi biar lebih dan lebih bagus nggak?"


"Boleh. Apa?" tanya Arga.


"Arga ... Mahesa ... Rizaski."


"Hahaha ...! Kamu keren sekali, Little Boy!"


Untuk pertama kalinya, setelah bertahun-tahun ... aku melihat suasana ramai seperti ini. Papa dan mama yang terlihat bahagia dengan kedatangan Arga.


Dan akupun melihat senyum bahagia itu dari wajah Rhesa.


-----------


"Maaf ... karena selama ini aku telah menyembunyikan keberadaan Arga dari kalian," kata Rhesa, saat kami sedang duduk minum kopi di meja makan berdua.


Sambil melihat Arga yang sedang bermain bersama kakek dan neneknya.


"Tidak ... akulah yang harus minta maaf," kataku. "Kamu dan Arga pasti sudah mengalami banyak kesulitan selama ini. Aku nggak tahu bagaimana caraku menebus dosaku pada kalian."


"Aku nggak merasa kesulitan sama sekali, kok! Justru karena ada Arga, aku jadi lebih semangat untuk terus melanjutkan hidupku. Aku juga nggak pernah merasa kesepian. Satiap kali aku melihat Arga ... rasanya aku melihat seluruh keluarga Mahesa ada di hadapanku. Aku bersyukur ... aku telah mengandungnya saat itu."


--------


"Papaaaa ..." Arga berlari ke arahku.


"A--apa?! Kamu panggil aku apa tadi?!" Aku terperanjat mendengar ucapannya.


"Kakek dan nenek bilang ... uncle adalah papaku. Jadi aku disuruh panggil papa!"


"Sini!" Aku menggendongnya. "Ayo ... panggil sekali lagi!"


"Papa ... papaaaaa ...!"


"Pangeran kecilku."


"Jadi selama ini mama nggak bohong, ya?" katanya tiba-tiba.


"Hem? Memang mamamu bilang apa?"


"Mama bilang ... papaku itu orang yang saaaangat baik. Dia tinggal di istana yang beeeesar seperti raja. Dan katanya papaku itu orang yang saaangat tampan."


"Tampan?!"


Aku melirik Rhesa. Dan mantan istriku itu pun mengalihkan pandangannya dariku dengan muka memerah.


"Tapi aku jauh lebih tampan," kata Arga.


"Hahaha ... iya. Kamu lebih tampan dan lebih pintar sepertinya, ya."


"Asiiik ... kalau aku punya papa ... nanti aku bisa kayak temen-temen sekolahku, dong. Berangkat sekolah dan pulang sekolah bareng. Holiday dan nonton sepak bola sama papa. Aku bakal tinggal bareng sama mama dan papa. Asiiik!"


Sontak saja aku dan Rhesa saling melempar pandang. Hati ini rasanya sedikit tersentil dengan ucapan anak sekecil ini. Tanpa kami sadari, kami telah menyakitinya dengan keegoisan kami.


---------------------


------------------


ESOK HARINYA


SELEPAS DHUHUR


MASJID AL AKBAR DI DEKAT PANTAI


Aku yang memakai sepatu hendak meninggalkan masjid ... tiba-tiba teringat akan kata-kata polos Arga tadi malam.


Tinggal bersama dengan mama dan papa. Sebuah keinginan sederhana bagi anak-anak. Tapi hal yang sangat sulit bagi kami yang sudah bercerai.


"Lho ... kamu Dirga dari jurusan management bisnis, kan?"


"Ohw ... kamu? Frisqi dari club Rohis kampus? Apa kabar?"


Tak disangka tiba-tiba bertemu teman semasa kuliah. Gini-gini aku dulu sempat ikutan club rohis juga, lho.


"Kok kamu di sini, Ga?" tanya Frisqi.


"Ada proyek di sini. Kamu sendiri?"


"Aku ngajar di pesantren. Ada sekitar 1 km dari sini."


"Wah ... jadi pak kyai kamu sekarang, ya?"


"Kamu udah nikah? Udah punya anak?" tanyanya.


"Udah. Tapi udah cerai, sih," jawabku, lemas dan Frisqi nampak manggut-manggut mendengarku.


"Eh ... kamu harusnya paham banget ilmu agama dong, ya? Boleh aku tanya beberapa hal padamu?"


"Tentu. Monggo ... Insya Alloh aku jawab sesuai syari'at!" kata Frisqi.


"Ehm ... ini soal nge-jatohin talak 3 ke istri."


Duh ...!


Rasanya agak risih sebenernya cerita masalah rumah tangga ke orang lain. Tapi aku ingin mendapat jawaban atas sesuatu yang mengganjal pikiranku.


"Aku nge-jatohin talak ke istriku saat dia hamil. Apa talak yang aku ucapkan itu tetep jatuh?"


Frisqi nampak menggaruk-garuk janggutnya, sebelum akhirnya menjawab.


"Allah Ta'ala berfirman, *Dari perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya (QS.ATH-THOLAQ:4).*


Ayat ini menunjukkan bahwa masa iddah wanita hamil adalah sampai ia melahirkan kandungannya. Jika masa hamil dikatakan memiliki masa iddah berarti tidak diragukan lagi ... bolehnya mentalak wanita saat hamil.


Dari Ibnu Umar RA bahwa ia pernah menalak istrinya dalam keadaan haid. Kemudian Umar bin Khattab RA menceritakan kejadian tersebut kepada Nabi. Lantas Beliau pun berkata kepada Umar bin Khattab RA *Perintah kepada dia (Ibnu Umar RA) untuk kembali kepada istrinya, baru kemudian talaklah dia dalam keadaan suci atau hamil (HR. MUSLIM)"


"Jadi ... talak yang aku ucapkan tetap jatuh, ya?" Entah kenapa aku merasa sedikit sedih mendengar penjelasannya. "Lalu ... bagaimana jika dinikahi lagi?"


"Ya nggak boleh, Ga! Kan udah jatoh talak."


"Ooh ... begitu," sahutku, lemas.


"Tapi ...," lanjut Frisqi. "Kalau si istri sudah pernah menikah lagi lalu bercerai atau suami keduanya meninggal ... maka halal bagimu untuk menikahinya kembali."


"Se--serius?!" pekikku. "Kamu nggak lagi bercanda, kan?!"


"Iya. Ini, kan soal fiqih. Masa' aku bercanda, sih!"


"Alhamdulillah," seruku. "Terima kasih, Frisqi ... aku bersyukur dipertemukan denganmu hari ini." Aku menepuk-nepuk punggung teman lamaku itu.


"Sama-sama. Kelihatannya kamu masih cinta sama mantan istrimu, ya?"


Aku pun hanya mengulum senyum mendengar pertanyaan teman lamaku itu.


Cinta ...? Entahlah ...!


Hanya saja ... rasanya seperti hidup di tempat yang gelap gulita. Lalu tiba-tiba ada listrik yang membuat semua terasa lebih terang.


Ya ... semacam itulah perasaanku saat ini.


Sejujurnya ... awal aku mendengar Rhesa telah menikah lagi ... aku merasa agak kecewa. Tapi sekarang ... aku justru bersyukur akan hal itu.


Mungkin ... inilah cara DIA memberi kesempatan padaku.


Aku ... ingin secepatnya ... bertemu denganmu, Rhesa!


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=