
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
☕🍰☕
Seperti secangkir kopi ...
Yang harumnya tercium setiap pagi ...
Menghangatkan ...
Menyejukkan ...
Membuatku ingin mengganggumu ...
Yang sedari tadi terdiam ...
🍰☕🍰
---------------------------------------------------------------------
"Kalau kamu cemas, mending segera ditelpon!" kata Sony. "Istrimu pasti juga khawatir karena kamu nggak pulang semalam."
"Khawatir apanya? Dia bahkan nggak ngirim chat apa pun padaku," gerutuku sembari menatap layar ponsel.
"Astaga, Dirga! Nggak usah sok-sokan baper, deh! Malu tahu sama umur!" geram Sony. "Aku mau lihat persiapan di luar. Sebaiknya kamu juga bersiap-siap! Rapikan rambutmu itu!"
Ujung dari perdebatan antara aku dan Rhesa soal Clara di kantor kemarin adalah, aku tidak pulang ke rumah. Untungnya, aku punya cafe yang kukelola bersama temanku--Sony. Jadi, kabur pun aku masih punya tempat.
Yang menyebalkan adalah ... Rhesa sama sekali tak menanyakan keberadaanku. Gadis itu benar-benar berhati dingin.
-----------------
-----------------
"Wah! Jadi ini cafe yang lagi viral itu?" Cindy berdecak kagum, saat berdiri di depan cafe.
"Ayo masuk!" ajak Karina.
Bunyi lonceng klasik terdengar begitu mereka membuka pintu.
"Selamat datang di Flower Next Door Cafe."
"Uwaaah!"
Mereka semakin terkagum-kagum saat beberapa waiters dengan ketampanan maksimal, mempersilakan mereka ke tempet duduk dan memilih menu.
"Ini pertama kalinya aku bersyukur jadi temanmu, Karin," celetuk Cindy dengan mata berbinar. "Dari mana kamu dapatkan golden ticket untuk makan gratis di sini?"
"Hadiah dari kakakku karena aku akhirnya berhasil memasukkan benang ke lubang jarum setelah berbulan-bulan belajar," jawab Karina santai.
"Orang kaya bener-bener santuy, ya!" cibir Cindy dengan muka kesal.
Rhesa nampak terbahak-bahak mendengar ocehan dua sahabatnya itu.
"Kenapa namanya Flower Next Door, ya?" Rhesa membuka suara.
"Lho, kamu nggak lihat tadi?" Cindy tampak serius. "Begitu kita masuk, kita disambut oleh waiters ganteng-ganteng, kan? Semua waiters ganteng itu selalu tampak seperti bunga yang baru mekar saat kita membuka pintu. Apa kamu tahu? Kabarnya, pemilik cafe ini juga sangat ganteng. Tapi belum ada yang pernah melihat wajahnya. Ada yang bilang, dia itu seorang alien yang menyamar."
"Haish! Kamu kebanyakan nonton drakor, deh, Cindy." Kembali Rhesa nampak cekikikan.
Tak lama, seorang waiters membawa beberapa menu istimewa untuk mereka, yang diikuti Sony.
"Selamat datang untuk tamu VVIP hari ini," kata Sony memberi hormat.
"Wah! Semua makanan ini gratis untuk kami?" Cindy tampak keheranan.
"Iya. Khusus tamu dengan golden ticket," jawab Sony dengan memasang senyum terbaiknya.
"Apa Anda pemilik cafe ini? Ganteng banget, sih!" celetuk Cindy.
"Bukan. Saya hanya manager di sini."
"Boleh kami bertemu dengannya? Kami ingin berterima kasih." Cindy nampak memasang wajah penuh harap.
"Ehm ... soal itu---"
Sony melirik ke arah Rhesa. Dia tahu kalau gadis itu adalah istriku dan saat ini, kami sedang bertengkar. Karenanya, dia punya niat jahil untuk mempertemukan kami.
"Tunggu sebentar, akan saya panggilkan!"
-------------
---------
"Gila, kamu! Enggak! Nggak mau!" tolakku.
"Ayolah, Ga! Ini kesempatanmu untuk minta maaf pada istrimu," bujuk Sony.
"Minta maaf apa?!" seruku. "Dia yang salah paham, dia, dong yang harusnya minta maaf! Kenapa jadi aku? Ogah!"
"Dih! Benar-benar kekanakan!" geram Sony.
"Kalau gadis cantik seperti itu diambil orang, baru tahu rasa, kamu!"
Aku pun memperhatikan Rhesa yang sedang 'ketawa-ketiwi' dengan kedua temannya. Rasanya jadi semakin kesal. Seharusnya dia sedikit cemas karena aku tidak pulang semalam. Dia justru santai sekali bercanda dengan para sahabatnya.
Dengan segala bujuk rayu Sony, akhirnya aku pun mau diajaknya untuk menemui mereka bertiga.
Aku sedikit berdebar saat langkahku mulai mendekat padanya. Aku pun berusaha se-cool mungkin di hadapannya. Jangan sampai aku terlihat sedang galau karena perdebatan kami di kantor kemarin.
"Mas Dirga?!" Rhesa nampak terperanjat begitu melihatku.
"Dialah pemilik tempat ini." Sony tersenyum penuh kemenangan.
"Lho! Bukannya kamu yang datang ke kampus waktu itu?" Cindy nampak bingung. "Kamu yang membawa Rhesa pergi waktu itu, kan?"
Aku hanya mengangguk dan mengulum senyum untuk menjawab rasa penasaran Cindy.
"Dirga Mahesa Rizaski. Itu namamu, kan?" Karina membuka suaranya.
"Maksudmu, dia adalah Dirga anak pemilik Mahesa Corporation?" Cindy kembali terkejut.
Karina pun mengangguk kepada Cindy. "Pantas saja, saat melihatmu waktu itu, aku merasa nggak asing. Ternyata benar itu kamu."
"Apa kita pernah bertemu sebelumya?" tanyaku pada Karina.
Karina mengulurkan tangannya padaku dan berkata, "Karina Salsabila Jaya."
"Oh! Jadi kamu putri Pak Satya Jaya." Aku menerima uluran tangannya. "Senang bertemu denganmu."
Keluarganya cukup terkenal. Pemilik salah satu rumah sakit terbesar di kota ini.
"Ah ... itu---"
Aku lirikkan ekor mataku pada Rhesa. Dia tampak bingung sembari terus menundukkan kepala. Dia mungkin merasa tak nyaman dengan pertanyaan Karina yang terkesan 'blak-blakan' seperti ini.
"Rhesa adalah ad--"
"Dia suamiku!" sahut Rhesa.
"Apa?!" pekik Cindy dan Karina, bersamaan.
Aku terkejut bukan kepalang. Padahal aku akan bilang bahwa dia adalah adikku. Tapi Rhesa justru mengakui semuanya di depan kedua temennya ini.
"Rhesa, kamu serius?" Cindy mencoba memastikan, tapi Rhesa hanya menunduk diam.
"Sepertinya itu benar," sahut Karina. "Dirga Mahesa Rizaski hanya anak tunggal. Akan aneh jika dia bilang kalau Rhesa adalah adiknya. Hanya ada dua kemungkinan. Kalau bukan pacar ... berarti istri."
"Iya. Rhesa adalah istriku," kataku.
"Maafkan aku!" Rhesa membuka suara. "Aku punya alasan untuk tak mengatakan semua ini."
Cindy meraih pundak Rhesa dan merangkulnya. "Hey, ayolah! Jangan anggap kami orang asing! Kami adalah temanmu. Kamu bisa membagi semua bebanmu pada kami."
"Apa pun statusmu juga kondisimu, itu masalah pribadimu. Kami pun nggak akan masuk ke zona itu, jika kamu nggak mengijinkan. Apa pun yang terjadi, kami tetap menjadi sahabat baikmu," sahut Karina.
"Terima kasih, teman-teman. Kalian yang terbaik," ujar Rhesa dengan senyum lega di wajahnya.
Melihatnya tampak bahagia bersama teman-temannya, rasanya seperti akulah sumber masalah dalam hidupnya. Setidaknya, aku merasa lega karena dia dikelilingi orang-orang yang baik.
Malam itu, aku pun pulang ke rumah bersama Rhesa. Sepanjang perjalanan kami hanya diam. Keluar dari mobil pun dia langsung 'ngeluyur' ke kamar. Mungkin dia masih kesal.
"Tunggu!" Kutarik tangannya saat hendak membuka pintu kamar. "Apa pun salahku, aku minta maaf! Tapi tolong, jangan terus mendiamkan aku seperti ini! Aku merasa nggak nyaman."
Rhesa menatap tajam padaku sebelum akhirnya menarik tangannya dariku.
"Aku selalu penasaran. Jika Mas Dirga nggak menyukaiku, kenapa nggak menolak saja pernikahan ini? Meski ini demi keluarga, bukankah terasa menyiksa?"
"Apa kamu merasa tersiksa?"
"Ya, aku tersiksa! Aku merasa tertekan dan terombang-ambing."
Rhesa pun membanting pintu kamar dan meninggalkanku dalam keadaan hati tak karuan. Pada akhirnya, pertengkaran kami masih belum terselesaikan.
***
08.30 WIB
"Kamu?! Sedang apa kamu di sini?!" Terdengar suara Rhesa meninggi saat membuka pintu.
"Masuklah, Clara! Kita ke ruang kerjaku!" kataku dengan santai.
Clara langsung menggapit lenganku dan kami meninggalkan Rhesa yang tampak kesal.
Rhesa meletakkan dua cangkir kopi di atas meja. Tanpa menghiraukannya, kami terus berkutat dengan laptop dan berkas kantor.
"Hei! Apa yang kamu lakukan?!" teriak Clara.
"Nggak bisa lihat, ya? Aku sedang nyapu kolong meja," jawab Rhesa ketus, seraya mengarahkan sapunya pada kaki Clara.
"Apa lagi sekarang?!" teriak Clara.
"Ruangan ini banyak sampahnya. Aku sedang menge-pel-nya. Ruangan ini harus bersih bahkan dari sampah masyarakat!" Kali ini Rhesa mengarahkan alat pelnya yang basah pada sepatu Clara.
"Astaga! Sepertinya gadis ini sudah gila!" geram Clara.
Rhesa pun duduk di sofa, di depan kami.
"Ada apa, Rhes?" tanyaku.
"Dua orang bukan mukhrim berduaan, orang ketiga adalah setan. Aku akan duduk di sini biar nggak ada setan yang datang," jawabnya dengan wajah kesal.
"Apa, sih kamu ini? Nggak lihat, ya kami lagi kerja?!" Clara mulai emosi.
"Ya, udah, teruskan! Aku nggak bakalan ganggu, kok." Rhesa terus duduk mengawasi kami dengan ujung bibir yang kian mengerucut.
"Ini desain arloji yang akan launcing bulan depan. Coba kamu pakai! Desainnya bagus banget." Clara menarik tanganku dan memasangkan arloji itu di tanganku.
"Ehm ... aku suka desainnya," kataku.
"Benar, kan! Kamu terlihat keren memakainya, Dirga."
Rhesa berpindah duduk di sampingku dan menarik tanganku yang dipegang Clara.
"Lihat jamnya, kan cukup pakek mata aja. Enggak perlu pegang-pegang!" katanya jutek.
"Ya ampun! Kamu ini bener-bener ngelunjak, ya!" Clara semakin dibuat berapi-api olehnya. "Udah berasa jadi istrinya Dirga beneran, kamu?!"
"Iyalah!" sahut Rhesa. "Aku emang istrinya, kok! Istrinya yang sah!"
Oh, astaga!
Terperanjatlah aku mendengar ucapan Rhesa dengan mata berapi-api menatap Clara.
"Dirga, kita lanjutkan di kantor!" Clara beranjak dari duduknya. "Aku nggak tahan lihat gadis kampung ini."
Rhesa tampak nyengir puas melihat Clara pergi meninggalkan rumah kami dengan emosi yang luar biasa hebat.
"Sampai kapan kamu akan terus menggandeng lenganku seperti ini?"
Gadis itu buru-buru menjaga jarak dariku dengan wajah yang terlihat malu.
"Kamu ngapain, sih segitunya ke Clara? Sudah aku bilang, hubungan kami nggak seperti yang kamu pikirkan," kataku.
"Jangan salah paham, ya! Aku sama sekali nggak cemburu, kok," kilahnya.
"Terus?!"
"Y--ya ... aku cuma nggak mau aja kalian pacaran dan berbuat maksiat di sini. Ini, kan rumahku juga," kilahnya.
Aku tarik lengannya dan kupepetkan tubuhnya padaku.
"Ma---mau apa, kamu?"
Rhesa terlihat salah tingkah. Sengaja aku mendekatkan wajahku padanya hingga jarak kami hanya beberapa centi saja. Rhesa mencoba menjauh dariku tapi kembali aku menariknya.
"Rhesa, apa kamu ... jatuh cinta padaku?"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=