
(pov ARGA)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
💖💖💖
Sebut namaku tiga kali ...!
💖💖💖
---------------------------------------------------------------------
"Yak ... kita saksikan! Apakah tim jurusan bisnis dan manajemen berhasil membalik kedudukan? Uwoooh ... seorang pemain nampak mendribel bola. Berkelit lincah menghindari lawan. Dia berdiri tiga meter di depan ring, dia melompat dan ... shoot!"
"Yeeeeeay ...!"
"Akhirnyaaaa ... akhirnya kedudukan bisa dibalikkan di menit terakhir. Triple point yang luar biasa dari tim mahasiswa jurusan bisnis dan manajemen. Luaaar biasaaaaa ...!"
"Arga ... Arga ... Arga ...!"
Selalu jadi nomor satu di pelajaran. Nomor satu di olahraga. Nomor satu dalam pertemanan. Nomor satu soal wanita.
Akulah seorang mahasiswa semester empat jurusan bisnis dan manajemen. Seorang pemuda tampan dengan IQ di atas rata-rata.
Hidupku sempurna.
Mereka selalu menyebutku ... 'Sang Pangeran Keluarga Mahesa'.
ARGA MAHESA RIZASKI.
Itulah namaku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
☉☉☉
Karena hidupku ...
Begitu menyilaukan ...
Bagai matahari ...
☉☉☉
---------------------------------------------------------------------
"Hah ... hah ... hah ...!"
TIT ... TIT ... TIT ...!
"Huft ...!"
Kutekan tombol 'off' pada mesin treadmill kesayangan papa yang ada di dekat kolam renang.
Aku kembali ke kamar dengan keringat yang masih bercucuran di sekujur tubuhku.
Kugeser pintu kamar mandi dan mengguyurkan air dari shower ke tubuhku.
Segar!
Aku bisa merasakan aliran darahku yang mulai mendingin karena guyuran air itu. Kepalaku yang terasa lebih ringan karena rambut yang mulai basah. Menyejukkan sekali rasanya.
------------
Sebuah jeans hitam yang kupadukan dengan kaos press body lengan panjang berwarna navy. Kusisir rambutku yang sedikit menjuntai di atas alis.
"Coba lihat dirimu! Sungguh berdosanya dirimu ini. Puluhan gadis telah patah hati karena ketampananmu. Sungguh sangat berdosa," gumamku, sambil merapikan rambutku di depan cermin.
--------------
DAPUR
07.00 WIB
"Morning, Mom! I love you so much. Emmuach ...!" Kupeluk dan kuhadiahkan ciuman hangat di pipi wanita cantik yang telah melahirkan aku ke dunia ini.
"Morning, Honey," kata mama, sambil mengusap lembut pipiku. "Ayo, sarapan!"
"Papa nggak dapat pelukan dan ciuman juga, nih?" Papa menyahuti.
"Apaan? Masa' aku udah gede gini mau peluk and cium papa, sih? Enggak, ah!" tolakku.
"Emang kenapa?" tanya Papa, dengan wajah kecewa. "Masa' mama doang yang dapat perlakuan istimewa? Bagi papa, kamu tetap pangeran kecil yang masih berumur empat tahun."
"Haiiiish ...!" desisku, dengan sedikit terkekeh.
"Emang kamu nggak inget, sewaktu kamu baru kembali dari Amerika, kamu panggil papa bagaimana?" tanya papa.
"Gimana?"
Papa nampak tersenyum, meletakkan sendok di tangannya dan berkata.
"Hai, Uncle. Are you okey? Hahaha ...!"
"Apaan sih, Pa! Bikin malu, ih!" kilahku.
"Kamu tahu? Saat itu ... kamu benar-benar menggemaskan. Uhm ... lucu banget!" kata papa.
----------
Dirga Mahesa Rizaski.
CEO dari Mahesa Corporation generasi kedua. Pria tampan dan berkharisma. Dialah papaku yang selalu aku banggakan. Dan satu lagi, papa selalu memanjakanku.
Rhesa Dayana Putri.
Wanita cantik bermata tajam ini adalah mamaku. Seorang psikolog yang bekerja di sebuah rumah konseling remaja. Meski terkadang cerewet, tapi dia adalah wanita yang penuh cinta. Itulah kenapa papaku tergila-gila padanya.
Dan aku ...! Aku putra mahkota mereka.
Namaku Arga!
Arga Mahesa Rizaski.
------------------------
------------------
KAMPUS
"Ini CV saya, Kak," kataku, seraya menyerahkan berkas pada asdos.
"Kamu ikutan program beasiswa keluar negeri juga?" tanyanya.
"Iya," jawabku.
"Mengherankan sekali," katanya. "Harusnya dengan uang keluargamu, kamu nggak perlu bersusah payah belajar begini," katanya.
"Hahaha ... Kakak bisa aja," tawaku. "Testnya kapan?"
"Oke, deh! Makasih, ya, Kak," kataku, sambil berlalu dari ruang dosen.
------------
---------
Meski aku terlahir dari keluarga yang sangat berkecukupan, meski aku bisa mendapatkan apapun tanpa aku meminta terlebih dulu ... tapi soal pendidikan ... itu harga mati untukku.
Kedua orang tuaku tak pernah mengijinkn aku lengah sedikit saja. Standart nilai sudah mereka patok untukku. Dan beasiswa prestasi, harus selalu ada digenggamanku.
Bukan karena mereka tak mampu membayar. Jelas sangat mampu.
Tapi mereka ingin membuatku pantas untuk menyandang nama 'Mahesa' di belakang namaku.
Sebuah hal yang cukup berat memang. Saat aku dipaksa bersaing dengan kemampuan papa dan mama yang bukan orang biasa.
Tapi aku tak akan kalah.
Jika papa dan mama adalah orang jenius dengan IQ rata-rata atas, maka aku adalah anak jenius dengan IQ di atas rata-rata. Karena aku terlahir dari perpaduan gen mereka berdua.
-------------
----------
15.30 WIB
FLOWER NEXT DOOR CAFE
"Taraaaaa ...!" Reyhan memamerkan sebuah tiket padaku.
"Apa itu?" tanyaku.
"Tiket gratis masuk ke House Song, tempat karaoke itu. Gratis selama satu minggu. Luar biasa, kan? Hahaha ...!"
"Dapat dari mana, kamu?" tanyaku.
"Hadiah menang basket antar jurusan kemarin," jawabnya. "Ketua jurusan ngajak kita bareng-bareng ke sana. Tapi belum tahu kapan, sih."
"Oke, deh! Kelihatannya seru. Aku nantikan."
------------
-------
CRING!
"Arga ... Mahesa ... Rizaskiiiii ...!"
Seorang gadis tiba-tiba muncul dari pintu cafe. Dia berdiri dengan wajah memerah. Nafasnya terlihat naik turun seakan memahan amarah.
Aku pandangi lekat gadis itu. Dia nampak semakin memicingkan matanya padaku. Sosoknya ... aku kenal. Dan bahkan aku sangat mengenalnya.
"Hari ini, kamu akan mati di tanganku, sialan!" geramnya.
"Haiiish ... gawat! Rey ... aku kabur dulu, ya!" Aku pun melesat keluar lewat pintu belakang.
"Jangan lariiii ...! Tanggung jawab, kamu!" teriaknya.
Ya ampun ...!
Dia terus saja berlari mengejarku sambil terus melontarkan sumpah serapah.
"Berhentiiii ...! Berhenti kamu, Argaaaa ...!" teriaknya, sambil terus berlari mengejarku.
"Aku pastikan kamu akan habis hari ini!"
"Argh ...!"
Sebuah high heels 10 cm mendarat tepat di punggungku.
Sakitnya ...!
Nyeri di punggungku benar-benar membuatku lumpuh.
"Tahu rasa, kamu sekarang, hah?!" Dia nampak berkacak pinggang, menertawakan rintihanku. "Habislah, kau!"
---------------
-----------
"Ayolah, jangan ngambek terus! Aku, kan sudah minta maaf," kataku, mengiba.
"Maafmu nggak diterima," ketusnya.
"Terima, dong! Aku beneran nggak mau bsrantem sama kamu. Punggungku sakit banget, nih kena heelsmu," kataku mengiba.
Dia berbalik menatapku. Wajah putihnya nampak merah menahan kesal padaku.
"Kamu tahu nggak, seberapa lama aku berdiri di bandara menunggumu menjemputku?!" teriaknya.
"Sa--satu jam?" terkaku.
"Empat jam!" serunya, berapi-api.
Haduh ...!
Okelah, memang aku yang salah. Aku benar-benar lupa kalau aku harus menjemputnya hari ini.
"Oke ... oke! Kamu minta apa untuk menebus kesalahanku? Aku kasih apapun yang kamu mau. Asal jangan ngambek lagi, ya!" bujukku.
"Bodo, ah!" Dia pasang wajah juteknya padaku.
Aku berjalan mendekatinya. Kurangkulkan kedua lenganku padanya.
"Sedang apa, kamu? Jangan sok ngerayu, ya!" katanya dengan ekspresi makin kesal.
"Ayolah, adikku tersayang! Maafkanlah kakakmu yang ganteng ini, ya!" Aku memeluknya semakin erat. "Aku bener-bener lupa tadi. Mas Arga minta maaf, ya! Jangan cemberut gitu, dong!"
"Aku bakalan ngadu ke mama dan papa. Biar uang jajan Mas Arga dipotong," ancamnya.
"Duh ... Jesika! Jangan gitu, dong!" rengekku.
"Mas Arga bakalan ngelakuin apa aja, deh yang kamu mau. Asal jangan ngadu ke mama dan papa!"
"Beneran, nih? Boleh minta apapun?" Adikku itu nampak menyeringai jahil.
"Iya, deh. Apapun," jawabku, pasrah.
"Asyiiik!" soraknya, sembari merangkulkan lengannya di leherku. "Kita lihat saja nanti! Kira-kira, apa yang akan aku minta pada kakakku tersayang ini? Hahaha ...!"
Feeling bad!
Aku merasakan firasat yang sangat buruk saat melihatnya menyunggingkan senyum penuh kemenangan.
JESIKA MAHESA PUTRI ...!
Dialah adikku tercinta.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=