
(pov DIRGA)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌺
Ini bukan tentang Rhesa ...
Tapi ini ...
Tentang Arga ...
🌺
---------------------------------------------------------------------
"Kalau aljabar gini caranya gimana, Mbak?" tanya Jesika.
"Kamu harus buat persamaan dulu, Jesi! Kayak gini misalnya," kata Luna. "Nah ... mudah, kan?"
"Oke-oke aku paham." Jesika nampak manggut-manggut mendengar penjelasan Luna. "Mbak Luna lebih pinter daripada guruku. Kalau menerangkan lebih gampang diterima."
"Halah! Kamunya aja yang nggak konsen," sahut Arga. "Soal mudah gini aja nggak bisa."
"Astaga ... benar-benar, nih orang!" geram Jesika. "Berasa lebih pinter, ya?"
"Kenyataan," sahut Arga.
"Iih ... bikin kesel!"
----------------------
Aku dan Rhesa hanya tersenyum memandangi tingkah pola anak-anak yang sedang belajar bersama di depan TV itu.
"Mas Dirga kenapa? Beberapa hari ini kelihatannya bingung gitu," tanya Rhesa.
Aku pandangi wajah istriku itu. Masih terlihat wajah cantiknya dengan jelas, meski usianya tak lagi muda. Dia selalu terlihat menawan di mataku.
"I love you so much, honey." Aku meraihnya ke dalam pelukanku.
"Wah ... kalau udah ngomong cinta-cinta gini, pasti ada maunya, nih. Iya, kan?" selidiknya.
"Masih pengen punya anak lagi?"
"Hahaha ... kalau kamu memberi acc, aku oke aja, Sayang."
"Dasar, ih!"
Dan sampai saat ini, aku tak punya keberanian untuk mengatakan siapa Luna yang sebenarnya kepada Rhesa. Aku tak yakin kalau dia akan bisa menerima keadaan ini dengan tenang. Aku saja, berusaha cukup keras untuk mengendalikan emosiku.
-----------------------
----------------
"Kamu habis nganter Luna pulang?" tanyaku saat melihat Arga turun dari mobil.
"Papa sedang apa di luar malam-malam begini?" tanyanya seraya duduk di sampingku.
"Kamu mau?" Aku menyodorkan secangkir kopi padanya.
"Aku nggak suka kopi hitam," tolaknya.
Aku hanya tersenyum melihat reaksinya. Dia sudah dewasa tapi masih terlihat seperti anak-anak di mataku. Dia tetaplah pangeran kecilku yang dulu berusia empat tahun.
"Luna bilang, beberapa hari lalu papa menemuinya saat dia pulang kerja. Itu benar?"
"He'em," anggukku.
"Kenapa?"
"Untuk memastikan sesuatu."
"Memastikan sesuatu? Apa maksudnya?" tanya Arga penasaran.
Kuletakkan secangkir kopiku di atas meja. Kualihkan pandanganku pada dedaunan di halaman rumah yang nampak berwarna gelap di malam hari.
"Arga, seandainya mama dan papa nggak merestui hubunganmu dengan Luna, apa yang akan kamu lakukan?"
"Papa, kok ngomong gitu, sih? Papa nggak suka, nih aku jalan sama Luna?"
"Bukan begitu."
Tanggapan yang penuh emosi. Dia sedikit mirip dengan Rhesa. Keras kepala dan meledak-ledak.
"Kan, hanya seandainya. Nggak apa, kan sedikit berandai-andai?"
Kulirikkan ekor mataku padanya. Arga terlihat kesal dengan mengerucutkan ujung bibirnya.
"Arga, kita nggak akan pernah tahu apa yang sudah dituliskan Tuhan di depan sana. Entah itu sesuai dengan keinginan kita atau justru sangat bertentangan. Sebagai manusia, kita hanya punya dua pilihan. Mau terus melangkah atau berhenti di tengah jalan. Itu terserah keputusan kita. Apapun keputusan kita, setidaknya ... pilihlah yang paling tidak menyakiti orang banyak!"
"Papa ngomong apa, sih? Aku nggak ngerti."
"Jadi orang dewasa itu sangat rumit. Semakin kamu dewasa, kamu akan semakin sering menjumpai banyak masalah. Di sinilah kamu akan dituntut menjadi seorang yang bijak. Apalagi kamu seorang pria. Kamu harus selalu berpikir dengan kepala dingin! Kamu mengerti?"
"Enggak."
"Hahaha ... ya ampun!" Aku terkekeh mendengar jawaban polos anakku itu.
"Arga, jadilah orang yang tenang, yang sabar dan kuat! Itu saja intinya."
"Tentu saja. Aku akan jadi sebijak papa," katanya dengan tersenyum padaku.
"Baguslah kalau begitu. Papa merasa lega."
Untuk saat ini, aku memang sedikit lega. Belum tahu ke depannya akan seperti apa.
Aku hanya berharap, segalanya tak akan menjadi rumit seperti dulu. Aku tak ingin ada yang tersakiti lagi. Aku juga tak ingin ada yang terpisah lagi. Seperti aku dan Rhesa dulu. Aku tak ingin Arga merasakan rasa sakit yang sama sepertiku dulu.
-------------------------
------------------
"Sama-sama, Pak Dirga. Sayalah yang harus berterima kasih, karena bisa menjalin kerja sama dengan Mahesa Corporation. Sungguh suatu hal yang luar biasa. Baiklah, kalau begitu, saya undur diri dulu."
"Baik. Hati-hati."
-------------------------
"Akhirnya ketemu juga. Mau kabur ke mana lagi, kamu?"
"Ampun, Ma! Maaf!"
------------------
Aku menoleh ke asal suara yang tak asing di telingaku itu.
Di depan toko buku, tak jauh dari resto tempat aku berdiri, seorang wanita sedang menarik lengan seorang gadis.
Aku melangkah setengah berlari menuju dua wanita itu. Aku merasa mengenalnya. Gadis yang ditarik paksa itu, dia nampak seperti Luna.
---------------
"Jangan teriak-teriak di sini, Luna! Bikin malu, kamu."
"Tapi tangan Luna sakit, Ma. Jangan ditarik begini!"
"Makanya nurut, dong! Berani-beraninya kamu kabur dan mengganti nomormu. Kamu pikir, kamu lahir dari mana, hah?! Dari batu?"
"Luna nggak akan kabur kalau mama nggak mukulin Luna terus. Luna juga pengen hidup tenang."
"Anak kurang ajar!"
"Hentikan!" Aku meraih tangan yang terangkat hendak menyambar wajah Luna itu. "Kamu nggak pernah berubah. Hatimu tetap sebusuk itu ... Clara."
"Dirga?!"
Aku sungguh tak menyangka akan bertemu dengannya lagi. Bertemu dalam situasi memuakkan seperti ini. Aku benci sekali.
"Om." Luna bersembunyi di belakangku.
"Wah ... apa-apaan ini? Kalian saling mengenal?" Clara menyunggingkan senyum sinis padaku.
"Ayo, Luna!"
Aku menarik tangan Luna dan membawanya pergi dari hadapan Clara.
"Wah ... Dirga! Apa sekarang kamu menyukai gadis-gadis yang jauh lebih muda darimu?!" teriak Clara.
Langkahku tercekat mendengar ucapannya. Dari dulu, dia benar-benar menguji kesabaranku.
"Apa itu kata yang pantas untuk diucapkan oleh seorang ibu?" Aku kembali menghampirinya. "Dia anakmu dan kamu bisa berpikir gila seperti itu tentangnya?"
"Apa urusanmu?"
"Sudah gila, kamu!" geramku.
"Ahaha ... hahaha ... astaga!" tawanya. "Aku sungguh tak menyangka akan bertemu denganmu lagi. Long time no see, Dirga Mahesa Rizaski. Atau harus kusebut, mantan sua---"
"Diaaaam!" bentakku. "Sejak hari itu, aku sudah menganggapmu mati."
"Hahaha ... dan orang mati ini, kini ada di hadapanmu lagi, Dirga," katanya. "Takdir kita benar-benar seperti di dalam dongeng, ya? Sangat menakjubkan."
"Aku peringatkan padamu. Jangan coba-coba melakukan kekerasan lagi pada Luna! Jika tidak---"
"Kenapa?" sahutnya. "Punya hak apa kamu atas Luna? Kamu ... bukan ... ayah ... kandungnya."
Clara!
Aku tak habis pikir kalau dia akan jadi wanita mengerikan seperti ini. Dia benar-benar seperti monster.
"Ayo, Luna! Ikut denganku!" Clara kembali menarik tangan Luna.
"Om ... Om ...!"
Dan bodohnya ... aku hanya diam terpaku menatap kepergian mereka dari hadapanku. Pikiranku sungguh buntu. Aku tak tahu harus bagaimana. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang.
-----------------------
------------------
FLOWER NEXT DOOR CAFE
"Dirga, aku sarankan padamu, ya. Sebaiknya kamu jujur, deh sama istrimu!" kata Sony.
"Gila, ya!" seruku. "Aku bisa menebak dengan pasti bagaimana Rhesa akan bereaksi."
"Hei, kamu nggak ingat kejadian di masa lalu?" Sony menatap tajam padaku. "Karena kamu terus menyembunyikan segala hal soal Clara, karena kamu tak berkata jujur soal kejadian penjebakanmu di hotel itu, semua hal itulah yang membuatmu akhirnya kehilangan anak dan istrimu. Kamu mau seperti itu lagi?"
"Masalahnya sekarang nggak semudah itu, Son. Persoalan ini nggak cuma melibatkan aku, Rhesa dan juga Clara. Tapi juga anak-anak. Arga dan juga Luna."
Sony nampak menghembuskan nafas dengan ekspresi kesal padaku.
"Dengar, Dirga!" ucapnya dengan wajah serius. "Sekarang kamu hanya punya dua pilihan. Pertama, kamu berusaha memberi pengertian pada istrimu, agar dia bisa menerima keadaan Luna. Kedua, kamu harus memaksa Arga untuk mengakhiri hubungannya dengan Luna!"
Benar. Memang hanya itulah pilihan yang paling masuk akal sekarang.
"Kalau menurutku, yang paling mudah untuk dilakukan adalah mengambil pilihan yang kedua."
"Son!" seruku.
"Dirga, mumpung hubungan Arga dan Luna belum terlalu jauh, kamu harus segera membuat keputusan! Kamu mau merubah pilihan anakmu atau kembali mempertaruhkan pernikahanmu?"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=