WILL YOU MARRY ME?

WILL YOU MARRY ME?
Part 31


(pov ARGA)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌷⚘🌷


Dia ...


Seperti Cinderella bagiku, Mama ...


🌷⚘🌷


---------------------------------------------------------------------


FLOWER NEXT DOOR CAFE


"Jadi, siapa gadis itu?"


Sepulangnya aku keluar bersama Luna, aku bertemu papa di cafe. Tentu saja hal itu di luar dugaanku. Karena biasanya, papa tak akan muncul di cafe saat hari libur. Papa akan lebih memilih berdiam di rumah atau menemani mama belanja.


Tapi hari ini ... sungguh sebuah kejutan tak terduga.


"Arga, kok diam? Papa sedang bertanya padamu," tanya papa ketika kami hanya berdua di ruangannya.


"Dia ... Luna," jawabku. "Teman kuliah Arga," lanjutku sambil terus menunduk.


"Hanya teman?" selidiknya.


"Ah ... itu ..."


Hah ...!


Sungguh aku tak pernah berbohong pada orang tua seumur hidupku. Rasanya lidahku mendadak keluh saat ingin beralasan.


"Arga?"


"Dia ... lebih dari sekedar teman," jawabku.


"Pacar?" tanya papa.


"He'em," anggukku. "Tapi ... baru dua hari."


Jika dimarahi, aku pasrah. Aku memang punya banyak teman wanita selama ini, tapi tak ada yang serius. Dan papa tahu soal itu.


Tapi soal Luna ... entah kenapa aku masih ragu untuk mengungkapkannya pada mereka.


"Kenapa dia bisa tinggal di sini?" tanya papa.


"Arga yang memaksanya."


"Agar kamu bisa leluasa menemui dia?"


"Enggak," sahutku. "Enggak, Pa. Bukan seperti itu."


"Lalu?"


Lelaki yang begitu aku hormati itu, nampak menatap dalam padaku. Ditunggunya jawaban yang akan terlontar dari mulutku.


"Dia ... sering dipukuli ibunya. Aku membawanya ke sini agar ibunya nggak bisa menemukannya."


Papa hanya diam. Kudongakkan sedikit kepalaku untuk memastikan reaksinya atas jawabanku.


Duh ...!


Aku makin tegang. Ini pertama kalinya dia berwajah serius begitu di depanku.


"Arga ..."


Papa bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiriku.


"Papa nggak mau mencampuri duniamu, asal kamu nggak membuat masalah," katanya sambil menepuk-nepuk pundakku. "Tapi, alangkah baiknya jika kamu mengatakan semua ini pada mama."


"Papa nggak marah?" tanyaku.


"Daripada marah, papa justru lebih khawatir," jawabnya. "Kamu sudah berani membawa kabur anak orang, itu sangat mengkhawatirkan. Nggak ada jaminan kalau kamu nggak bakal melampaui batas."


"Astaga, Papa!" seruku. "Arga nggak ada pikiran sampai sejauh itu."


"Oh ya?" selidiknya.


"Iyalah," jawabku kesal.


"Haha ... Papa tahu. Dan Papa percaya padamu, Pangeran kecil," katanya sembari melempar senyum padaku. "Jangan menghancurkan kepercayaan mama dan papa! Kamu paham?"


"Iya, paham."


"Nggak nyangka, perasaan baru kemarin kamu berumur empat tahun. Sekarang udah gede aja. Udah berani bawa kabur anak orang lagi," godanya.


"Hentikan, Pa! Arga nggak bawa dia kabur, kok," kilahku. "Arga hanya ingin menjaganya."


"Bentar lagi berubah jadi pengen nikahin dia. Begitu, kan?"


Aku hanya terkekeh mendengar candaan papa.


"Ayo, keluar! Papa harus cepat pulang," ajaknya.


-------------------


----------------------------


Aku mengikuti langkahnya. Dia selalu terlihat sempurna di mataku. Sosok ayah yang begitu aku kagumi.


Suatu hari nanti, aku ingin menjadi sebijak dirinya. Menjadi lelaki setia seperti kesetiaannya pada mama.


"Sudah mau balik?" tanya Om Sony.


"Iya. Aku harus mengantar Rhesa keluar," jawab papa.


Papa nampak mengamati Luna yang berdiri di samping Om Sony dengan terus menundukkan kepalanya.


"Luna ...," panggil papa.


"I--iya ... Pak," jawab Luna yang terlihat tegang.


"Hahaha ...," tawa papa. "Kamu dipanggilnya apa, Son?"


"Aku? Mereka panggil aku Om-lah," jawab Om Sony.


"Wah ... kenapa aku malah dipanggil Pak? Apa aku terlihat setua itu?" tanya papa sambil melirikkan ekor matanya pada Luna.


"Ah ... ma--maaf," kata Luna. "Saya ... hanya ..."


"Ya ampun ... menggemaskan sekali," kata papa. "Luna ..."


"I--iya?"


"Hahaha ... manis sekali."


"Apa?!" seru Luna.


"Sampai jumpa lagi," salam papa seraya menepuk pundak Luna dan berlalu pergi.


--------------------


-------------


"Haaaah ...!" Gadis itu menghembuskan nafas dengan berat. "Apa papamu marah dengan hubungan kita? Aku bisa terima, kok kalau kita harus ..."


"Ssssttt ...! Nggak ada yang menyuruhmu berargumen. Jadi ... diam!" kataku seraya menempelkan telunjukku di bibirnya. "Papa nggak marah, kok."


"He'em," anggukku. "Luna, kamu mau nggak kalau aku ceritakan tentangmu pada mama dan keluargaku?"


"Apa?! Ta--tapi ... Arga ..."


"Mereka ... orang-orang yang baik. Aku ingin kamu merasakan, bagaimana rasanya punya keluarga yang damai."


Gadis itu nampak mengembangkan senyum padaku. Matanya nampak berkaca-kaca menatapku. Dan hatiku terasa amat damai melihatnya.


---------------------


--------------


KANTOR KONSELING REMAJA


15.30 WIB


"Ayo, Ma ... udah malam, nih!" Aku mendorong pintu ruang kerja mama. "Luna?!"


Aku terperangah saat pandanganku beradu dengan mata indah yang selalu aku rindukan itu. Dia terlihat terkejut melihat kedatanganku, namun kemudian, sebuah semyuman nampak menghiasi wajahnya.


"Tunggu sebentar, Honey! Mama selesaikan konselingnya Luna dulu, ya!" kata mama.


"O--oke."


Dengan rasa sedikit canggung, aku pun duduk di kursi tamu ruangan mama. Aku buka-buka majalah di depanku untuk mengalihkan perhatianku dari mereka.


"Arga, bisa buatkan mama teh hangat tanpa gula? Tenggorokan mama sedikit gatal, nih. Sepertinya agak flu."


"He'em."


Aku pun berjalan ke arah dispenser dan melakukan apa yang mama minta.


----------------


"Sebulan terakhir ini perkembanganmu bagus, Luna," kata mama. "Apa kamu sering tertawa akhir-akhir ini?"


"Ah ... itu ..."


"Tertawa itu bagus. Kamu harus lebih sering bersenang-senang untuk mengurangi stres! Ya ... misalnya saja, jalan-jalan bersama pacar mungkin."


"Aaaargh ... aduh ... panas!" teriakku.


"Kamu kenapa, Honey?!" seru mama.


"I--ini ... kena air panas," jawabku.


"Astaga ... hati-hati, dong! Nggak apa-apa?" tanya mama khawatir.


"Iya. Nggak apa," jawabku sambil mengguyur tanganku dengan air dari washtafel.


Kulirikkan ekor mataku pada Luna. Dia nampak mengernyitkan dahi padaku, sebelum kemudian terlihat sedang terkekeh memperhatiakan salah tingkahku.


Itu si mama kenapa juga tanya hal-hal seperti itu pada Luna. Membuatku canggung saja.


-----------


-----------------


"Untuk beberapa obatnya sudah aku kurangi, ya. Yang lainnya tetap diminum," kata mama.


"Baik. Terima kasih, Bu," angguk Luna. "Kalau begitu, saya permisi dulu."


"Luna, kamu mau ke tempat kerja, kan?" tanya mama.


"Iya."


"Ya udah, bareng aja!"


"Apa?!" Luna nampak melempar pandang padaku.


"Kita, kan searah. Arga bawa mobil papanya, kok. Ayok!"


--------------------


------------


Dan jadilah Luna ikut satu mobil bersama kami. Bayangkan saja betapa canggung kami berdua.


"Kalian satu kampus, kan?" tanya mama. "Apa kalian dekat?"


"Dekat?!" seruku. "Ah ... itu ... ehm ... kami ..."


"Saya tahu Arga karena dia cukup populer di kampus," sahut Luna.


"Benarkah?" Mama nampak memicingkan matanya padaku. "Apa Arga punya pacar?"


"Apa?!" pekik Luna. "So--soal itu ..."


"Apaan, sih, Ma?" sahutku. "Kepo amat jadi ibu-ibu."


"Ya ... mama, kan pengen tahu aja. Gadis seperti apa yang kamu suka, kalau umpama kamu ada pacar," kata mama.


Sejak aku kepergok papa jalan dengan Luna waktu itu, aku benar-benar memohon padanya agar tidak memberi tahu mama. Aku perlu menyiapkan mental dan waktu yang tepat untuk bicara dengan wanita keras bermata tajam, yang menjadi istri papaku ini.


"Memang Bu Rhesa berharap Arga dekat dengan gadis yang bagaimana?"


Spontan, aku mengarahkan pandanganku pada Luna yang ada di bangku belakang.


Ada apa dengannya?


Kenapa melempar pertanyaan seperti itu pada mama?


"Seandainya, Arga jatuh cinta pada gadis biasa bagaimana? Gadis yatim piatu yang tak punya apa-apa? Apa ... hal itu tak jadi masalah?"


Mama nampak terhenyak menatap Luna. Namun segera menguasai dirinya kembali.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya mama.


"Hanya berandai-andai saja, Bu," jawab Luna.


"Saya sangat penasaran dengan sebuah dongeng yang selalu saya baca saat kecil. Sebuah dongeng yang bercerita tentang Cinderella. Seorang pangeran yang jatuh cinta pada gadis miskin. Lalu ... mereka hidup bahagia selamanya. Adakah hal seperti itu di dunia ini? Akankah keluarga sang pangeran merestui dan bisa menerima gadis yang bukan dari kalangan terhormat seperti mereka? Atau justru ... nasib malang yang akan diterima gadis itu? Jika benar seperti itu, maka cerita Cinderella hanya sebuah kebohongan belaka. Hanya sebuah mimpi semu yang tak bisa diwujudkan di dunia nyata."


----------------------


--------------


"Terima kasih atas tumpangannya."


---------------


Setelah menurunkan Luna di toko roti tempat dia bekerja, aku pun kembali menyusuri jalan menuju rumah.


"Nggak mampir ke tempat lain, kan, Ma?" tanyaku. "Langsung pulang?"


Tak ada jawaban dari mama. Dia hanya diam dengan wajah bingung.


"Ma! Mama ...!"


"Ya?"


"Ngelamun? Kenapa?" tanyaku.


"Arga ... kamu nggak sedang jatuh cinta pada seorang Cinderella, kan?"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=