
(pov DIRGA)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌾🌾🌾
Ketika manusia ...
Hanya bisa berjalan lurus ...
Melewati garis takdir ...
Takdir itu pun ...
Akan membawanya kembali bertemu ...
Dengan masa-masa kelam ...
Yang membawa penyesalan ...
🌾🌾🌾
---------------------------------------------------------------------
FLOWER NEXT DOOR CAFE
"Ada apa? Ada masalah besar apa maksudmu?!"
Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru cafe. Aku buru-buru datang karena Sony menelponku dengan suara yang terdengar sangat cemas.
"Son, ada apa? Malah bermuka bingung begitu," geramku.
"Dirga, ikut aku!"
Sony menarik tanganku dengan setengah berlari. Dia menggiringku ke taman samping cafe.
----------
"Ada apa, sih? Jangan bikin aku cemas, deh, Son!"
"Lihat itu!"
Aku melempar pandanganku pada dua orang yang sedang duduk di kursi, yang ditunjuk Sony.
"Luna. Ada apa dengannya?" tanyaku.
"Bukan dia. Itu--pria yang di sampingnya. Lihat dia baik-baik, Dirga!" seru Sony dengan wajah serius.
Aku kembali menelisik sosok pria yang ditunjuk Sony. Seseorang yang kira-kira seusia denganku.
"Dia ... kenapa nggak asing, ya?" gumamku.
"Kamu nggak ingat dia?" tanya Sony.
Kuperhatikan pria itu. Siluetnya terasa tidak asing. Sepertinya, aku pernah bertemu dengannya.
Dia nampak seperti ...
"Astaga!" seruku. "Dia ... kenapa dia ada di sini?"
"Dirga ... dia ... dia adalah ... ayah kandungnya Luna."
"Apa?!"
-------------------------
----------------
RUMAH DIRGA
21:30 WIB
"Mas, tadi mama telpon. Mas Dirga disuruh mampir ke sana! Katanya ada yang harus dibahas soal launching model pakaian baru atau apa gitulah," kata Rhesa.
Aku diam tanpa menanggapi omongannya.
"Kalau Mas Dirga ke sana, ajakin anak-anak juga! Mama dan papa pengen ketemu mereka. Mas ... Maaaaaas ...!"
"Hem? Kamu ngomong apa, Sayang?"
"Astaga! Dari tadi aku ngoceh nggak didengerin," gerutunya. "Ada apa? Ada sesuatu terjadi? Ada masalah di kantor?"
Rhesa menarik selimut dan berbaring di sampingku.
"Kenapa? Mas Dirga terlihat khawatir begitu," katanya sambil melingkarkan lengannya di pinggangku.
"Enggak. Nggak ada apa-apa," jawabku. "Hanya sedikit lelah saja."
"Mau aku pijetin nggak?" tanyanya.
"Nggak usah." Aku mengusap ujung kepalanya. "Kamu tidur saja dulu! Aku mau ambil minum ke bawah."
"He'em."
---------------
Aku berdiri terpaku di ruang tengah. Menatap potret diri dan keluarga.
Sebuah figura besar yang di dalamnya nampak fotoku, istriku dan juga kedua anakku. Kami yang terlihat tersenyum bahagia.
Betapa selama ini, aku selalu bersyukur dengan apa yang aku dapat. Istri, anak, keluarga, bisnis, teman. Semuanya terasa sempurna. Tak sedikit pun kepahitan mampir untuk singgah di hidupku, sejak aku memulai kembali kehidupan rumah tanggaku bersama Rhesa.
Tapi hari ini ...
------------
"Apa yang papa lakukan di sini? Nggak tidur?"
"Ooh ... kamu belum tidur?" Kulihat Arga yang datang menghampiriku.
"Aku juga suka melihat foto itu," katanya sambil mengamati foto keluarga kami.
"Papa terlihat keren."
"Hahaha ... itu, sih nggak perlu diomong lagi. Udah fakta," kataku.
Arga nampak terkekeh mendengar ucapanku.
"Suatu hari nanti, aku ingin menjadi seperti papa," katanya. "Lelaki yang hebat, berkharisma dan nggak pernah membuat istrinya menangis."
Kulirikkan ekor mataku padanya. Dia nampak memandangi fotoku dengan wajah penuh kebanggaan.
Tak pernah membuat istrinya menangis. Itu yang dikatakannya dengan polos. Aku tak ingin membuat istriku menangis. Aku pun juga tak ingin mebuat anakku menangis.
"Arga, kamu sungguh berniat serius dengan Luna?" tanyaku.
"Ke--kenapa papa bertanya seperti itu?" Arga menanggapi pertanyaanku dengan malu-malu.
"Hanya penasaran saja," jawabku. "Seberapa serius? Pacaran saja? Atau ... sudah ada pikiran untuk menikahinya?"
"Ah ... itu---" Arga terlihat sedikit bingung.
"Arga, kalau kamu hanya sekedar ingin jalan saja dengannya ... atau hanya sekedar ingin pacaran saja ... papa sarankan padamu, akhiri saja!"
"Apa?!" pekiknya. "Kenapa papa ngomongnya gitu? Papa nggak merestui kami?"
"Bukan begitu. Papa hanya bilang, kalau kamu nggak ada niat yang lebih serius, sebaiknya kamu akhiri sampai di sini! Jangan memberikan dia harapan palsu!"
"Arga serius, kok," sergahnya. "Sangat serius. Dan suatu hari nanti, Arga ingin menikahinya."
Kupandangi anak sulungku yang terus menundukkan kepalanya itu. Aku mengenalnya dengan baik. Dan dia tak akan semudah itu mangambil sebuah keputusan tanpa berpikir panjang.
"Ya sudah, tidurlah! Selamat malam," kataku.
"Pa ...," panggilnya.
"Terima kasih karena papa bisa menerima keadaan Luna."
"He'em."
Ya ... sebelumnya memang bisa. Tapi sekarang, aku bahkan tidak yakin kalau semua akan berjalan lancar.
--------------------
--------------
FLOWER NEXT DOOR CAFE
08:30 WIB
Aku masih diam dan menerawang suasana ramai jalan raya lewat kaca jendela cafe.
"Apa kabar, Dirga. Aku cukup terkejut saat Sony bilang, bahwa kamu ingin bertemu denganku."
Hati yang sudah kutata agar tetap dingin saat aku bertemu dengannya, tampaknya sia-sia. Gemuruh panas mulai merayap ke ubun-ubunku begitu wajahnya ada di hadapanku.
Tidak, Dirga ...!
Tenanglah ...!
Cobalah bicara baik-baik dengannya ...!
--------------
"Langsung ke intinya saja! Karena aku tak ingin berlama-lama melihat wajahmu, Rudy Aryasa."
Si brengsek ini ... rasanya aku ingin sekali melempar setumpuk sumpah serapah padanya.
Memuakkan sekali!
Kenapa aku harus berurusan lagi dengannya?
--------
"Luna ... apa dia ... putrimu?"
"Iya," jawabnya dengan tertunduk.
"Putri kandungmu?"
"Iya," jawabnya lagi-lagi tanpa berani menatapku.
"Siapa ibunya?"
Rudy diam. Dia terlihat cemas dan kebingungan.
"Sudah aku bilang, langsung ke intinya!" bentakku. "Aku muak harus berlama-lama melihat wajahmu."
"Dia anakku dan ... Clara."
Sialan!
Apa-apaan ini?!
Rasanya jemariku patah karena begitu kuat aku meremasnya.
"Dia masih hidup?" tanyaku dengan menahan amarah.
"Iya."
"Aku dengar, selama ini Luna hidup di panti asuhan. Kenapa? Apa yang kalian lakukan sampai dia hidup di sana?"
"Kami bercerai. Aku menikah lagi dan Clara membawanya. Aku tak tahu kalau selama ini Clara dipindah kerjakan ke luar negeri dan dia menempatkan Luna di panti. Aku tahu baru-baru ini, saat pihak rumah sakit menelponku karena Luna ditemukan pingsan setelah Clara mengurungnya empat hari tanpa memberinya makan."
"Brengsek!" Aku terhenyak dari dudukku dan meraih krah kemeja Rudy. "Iblis seperti kalian, harusnya mati saja!"
Bisa-bisanya mereka berdua bersikap rendah seperti itu. Benar-benar tidak bisa dimaafkan.
"Anakmu dan Luna ... mereka dekat, bukan?" tanyanya.
Aku segera menarik tanganku dan kembali duduk untuk menenangkan emosiku.
"Dengar, Rudy ... aku ingin katakan beberapa hal padamu!" kataku dengan wajah serius.
"Aku akan menanggung semua hal tentang Luna, asalkan kau dan Clara tak pernah muncul di hadapan kami, kamu mengerti?!"
"Kamu ... apa istrimu tak masalah jika Luna masuk di kehidupanmu?" tanya Rudy.
"Itu bukan urusanmu," geramku. "Pergi jauh-jauh! Jangan coba-coba mengusik hidupku atau pun anakku!"
----------------
----------------------
TOKO ROTI
21:00 WIB
"Sampai besok."
Luna nampak melambai pada rekan kerjanya, saat dia keluar dari tempat dia bekerja itu.
"Lho? Om? Kok di sini?"
Aku hanya melempar senyum pada gadis yang sedang dekat dengan putraku itu.
---------------
"Kamu pasti belum makan, kan?" tanyaku, sambil memberinya mie instan, saat kami duduk di depan sebuah mini market.
"Ada apa, Om?" tanyanya.
"Aku dengar, ayahmu mendatangimu ke cafe."
"Ah ... iya."
"Luna, apa dia bersikap jahat padamu?"
"Tidak. Papa orang yang baik," jawabnya. "Dia bahkan datang karena mengkhawatirkan saya. Dan ingin mengajak saya tinggal bersama. Tapi saya menolaknya."
"Kenapa?"
"Karena papa sudah punya kehidupan baru, sudah ada keluarga baru. Saya nggak mau menimbulkan kecanggungan pada keluarganya. Lagi pula saya sudah biasa hidup sendiri. Jadi, saya pasti akan baik-baik saja."
Dia memperlihatkan sebuah senyuman lebar di wajahnya. Dan hatiku terasa sedikit diremas karenanya.
"Apa mamamu ... masih menemuimu?"
"Enggak. Saya ganti nomor. Jadi, mama nggak bisa menghubungi saya lagi," jawabnya dengan wajah sendu.
"Berapa lama kamu tinggal di panti?" tanyaku.
"Ehm ... sekitar delapan atau sembilan tahun," jawabnya lagi-lagi dengan tersenyum.
"Luna, kalau ada sesuatu yang buruk terjadi. Atau saat tiba-tiba mamamu datang menyakitimu, kamu harus memberi tahu kami! Kamu mengerti?"
"Iya. Terima kasih banyak, Om," jawabnya. "Kalian semua sangat baik. Untuk pertama kalinya saya merasa seperti punya sebuah keluarga."
Luna ... entah kenapa, aku sungguh merasa sangat bersalah padanya.
Jika dulu, aku tak melepas Clara, mungkin gadis ini tak akan hidup semenderita ini.
Tapi jika aku mempertahankan Clara, maka Rhesa dan Arga yang akan hidup menderita.
Semoga segalanya baik-baik saja.
Semoga kesalahan masa lalu, tak akan kembali menyakiti anak-anak yang bahkan tak tahu apa-apa ini.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=