WILL YOU MARRY ME?

WILL YOU MARRY ME?
Part 44


(POV LUNA)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌟🌟🌟


Redup cahayaku ...


Habis ...


Terkikis cinta ...


Yang kuberikan seluruhnya ...


Untuk menerangi hidupmu ...


🌟🌟🌟


--------------------------------------------------------------------


"Mama ...."


Wanita yang telah melahirkanku itu hanya diam. Dia menatap kosong pada layar TV yang menyala dengan suara keras.


"Mama, sudah makan?" tanyaku.


Masih tak ada jawaban.


Jam dinding menunjukkan pukul 21.30 WIB dan aku baru pulang dari tempat kerja. Sepertinya mama juga sama. Dia masih memakai baju kerjanya.


"Aku buatkan makanan dulu," kataku.


"Luna, bisa kita bicara?"


Ditekan tombol 'OFF' pada remote TV dan diamatinya aku yang tengah duduk di sampingnya.


Aku merasa tak tenang. Sepertinya suasana hati mama sedang buruk. Mungkinkah dia akan melampiaskan segala kemarahannya padaku lagi? Tapi waktu itu Arga sudah memperingatkannya dan sejauh ini, mama tak pernah menyentuhku. Dia benar-benar tak ingin aku terlibat dengan keluarga Mahesa rupanya.


"Kita pergi ke luar negeri saja!"


"Apa?!" pekikku. "Tapi, Ma ... kenapa tiba-tiba?"


"Luna, aku benci sekali hidup di sini. Menyakitkan."


Ada apa dengannya? Tak biasanya mama bersikap seperti ini. Mata yang selalu menatapku dengan berapi-api itu, kini nampak redup dan berembun.


"Akhir semester ini, kita mulai pindah!"


Nibir ini pun hanya bisa diam melihat langkah kaki mama yang perlahan memasuki kamar.


Ada apa? Sebuah masalahkah?


***


14.15 WIB


"Aduh, jatuh semua!"


"Pakai kantong plastik saya saja, Bu!"


Aku ulurkan kantong belanjaanku pada seorang nenek yang tengah memunguti benang-benang jahitnya yang berceceran.


"Terima kasih, ya," katanya.


"Sama-sama."


Cantiknya! Biar pun sudah nampak kerutan di wajahnya, tapi sisa kecantikannya masih terlihat jelas.


"Eh, tunggu sebentar!" Nenek itu meraih tanganku, saat aku hendak beranjak pergi.


"Kamu ... mau jadi model nggak?"


"Ya?!"


***


DESY ARIANA BOUTIQUE


Di sinilah aku sekarang. Sebuah butik gaun pengantin yang terlihat mewah.


"Cocok sekali," katanya, sambil mengancingkan sebuah gaun pengantin di tubuhku.


"Bu, cucu Anda sudah datang." Seorang pegawai menghampiri kami.


"Kamu dandanin dia dulu, ya!"


"Baik, Bu."


--------------------


"Lama sekali. Nenek kira kamu nggak datang. Cepat ganti bajumu dan masuk ke ruang make up!" Terdengar suara Bu Desy dari balik pintu.


---------------------


"Sudah, Mbak?" tanya Bu Desy, saat memasuki ruang make up.


"Sudah siap, Bu."


"Bagus. Kamu terlihat cantik sekali. Manis banget," pujinya. "Ga, masuk cepetan!"


"Iya, Grandma."


Seorang pria berjas lengkap berwarna putih-putih melangkah memasuki ruangan.


"Arga?!"


"Luna?!"


Kenapa tiba-tiba bertemu dengannya di situasi seperti ini?


"Kalian saling kenal?" tanya Bu Desy.


"Ah, kami---"


"Kami teman kuliah." Aku memotong ucapan Arga.


"Oh, begitu. Baguslah. Ayo mulai pemotretannya!"


Lagi-lagi takdir seakan tengah mempermainkan hatiku. Di saat tekad sudah bulat untuk mengubur segala hal tentang rasa cinta ini, saat itu pula, benang merah serasa kembali dibentangkan dengan luas.


Membuat perasaan dan hatiku kembali terpontang-panting tak tentu arah.


Wahai, Sang Penguasa hati manusia!


Sungguh aku ingin dijauhkan jika dia bukanlah takdir atas masa depanku.


"Lebih mendekat!" Si Mas fotografer memberi instruksi. "Pegang tangannya, Ga terus tatap matanya!"


"Sudahlah, Bang John jangan cerewet!" geram Arga seraya meraih tanganku.


"Tahan di pose itu, ya! Aku ambil beberapa gambar dulu."


Sudah berapa lama kami tak sedekat ini? Aku bahkan sudah hampir melupakan bulu mata yang lentik itu, mata tajam itu dan sedikit rambut yang selalu terjuntai ke alisnya itu.


Sungguh aku telah bersaksi bahwa aku telah jatuh cinta padanya. Sebuah cinta untuk dia yang tak akan bisa kumiliki.


Hatiku sakit. Sakit sekali.


"Cantik," gumam Arga. "Kamu selalu terlihat cantik."


Kata-kata itu terasa meremas jantung hingga bulir bening kembali menggenang di pelupuk mataku.


------------------


-------------------------


"Terima kasih bantuannya." Bu Desy memberi amplop pada kami berdua dan sebuah bingkisan untukku.


"Apa ini, Bu?" tanyaku.


"Gaun pengantin," jawabnya.


"Gaun ... pengantin?" Aku keheranan dan langsung melihat isi dalam tas kecil itu.


Benar. Sebuah dress pengantin berwarna peach.


"Kenapa diberikan pada saya?" tanyaku.


"Entahlah. Ingin saja," ucapnya yang diiringi tawa. "Semoga kamu bahagia, Nak!"


Aku melihat Arga yang nampak tersenyum simpul saat tangan hangat neneknya mengusap ujung kepalaku.


"Gaun itu milik Rhesa."


"Bu Rhesa?!"


"Dia memakainya saat pernikahan keduanya bersama Dirga," katanya. "Aku menyimpannya karena aku membuat ini khusus untuknya. Hanya ada satu. Tapi daripada nggak terpakai, untukmu saja. Pakailah saat nanti kamu menikah!"


"Terima kasih."


"Akulah yang harus berterima kasih pada kalian. Sudah malam, pulanglah! Hati-hati di jalan, ya! Salam untuk papa dan mamamu, Arga!"


"Iya."


"Luna!" panggil Bu Desy, saat aku akan meraih gagang pintu butiknya. "Melihat kalian berdua, aku jadi teringat pada Dirga dan Rhesa. Aku harap kalian memiliki takdir yang indah, meski harus berdiri masing-masing."


Terkadang, aku begitu kebingungan dengan jalan takdir yang ditulis Tuhan untukku. Sebuah pertemuan singkat yang berujung pada perpisahan tragis.


Andai sejak awal aku tahu akan begini akhirnya, aku pun tak ingin menggenggam tangannya. Rasa sakit yang mulai terasa saat tangan hangat itu tengah berusaha melepasku.


"Ini dari nenek." Arga mengulurkan sebuah foto padaku. "Katanya untuk kenang-kenangan."


Foto kami tadi. Seperti sedang prewedd atau sejenisnya.


"Aku dengar, kamu akan bertunangan dengan Viona."


"Berita itu cepat sekali menyebar," ucapnya, seraya fokus mengemudi. "Luna, mamamu nggak mukulin kamu lagi, kan?"


Aku menggeleng. "Sepertinya dia mendengarkan perkataanmu."


"Syukurlah," katanya.


Kembali kulirikkan ekor mataku padanya. Dia masih sama. Masih membuat hatiku berdebar-debar saat ada di sampingnya.


"Semoga kamu bahagia bersama Viona."


"Nggak yakin," jawabnya. "Sepertinya aku sudah lupa bagaimana caranya bahagia."


"Ngomong apa, sih, kamu?" Aku sedikit terkekeh mendengar ucapannya.


"Luna, aku sungguh akan melupakanmu."


Sudah seharusnya begitu. Kamu akan terikat dengan orang lain dan aku akan menjadi yang terabaikan dan terlupakan.


Aku sudah mempersiapkan diri untuk saat-saat seperti ini, tapi sepertinya akan cukup sulit.


"Luna, bagaimana kalau kita kabur saja?"


"Apa?!"


"Hahaha ... kenapa reaksimu begitu? Aku hanya bercanda," tawanya.


"Nggak lucu!" kesalku.


"Kalau saja aku bukan anak dari seorang Dirga Mahesa Rizaski, mungkin aku tak akan mengalami kesulitan seperti ini."


"Arga, nggak boleh kamu ngomong gitu!" seruku.


"Iya. Bagaimanapun aku adalah putranya. Harus tunduk dengan garis takdirku yang terikat dengan nama keluarga Mahesa. Menyedihkan sekali!"


"Setidaknya, kamu punya orang-orang baik di sekitarmu, yang peduli denganmu," kataku. "Mari lupakan semuanya dan ayo berteman dari awal! Setuju?"


Arga nampak melempar sunggingan senyum padaku.


"Mohon bantuannya!" ucapnya.


Inilah yang namanya gerhana bulan. Saat aku, Arga dan Viona ada dalam satu garis lurus. Sebuah angin kencang yang terus berhembus mengitari gerhana itu dan membuat kami saling berbenturan.


------------------


"Sampai di sini saja! Mama pasti sudah ada di rumah. Aku tak mau membuatnya marah," kataku, saat tiba di depan gedung apartement mama.


"Aku pergi dulu."


"He'em. Hati-hati!"


Sebuah cinta yang akhirnya menjadi pemisah di antara kami. Garis takdir yang semakin luas terbentang menengahi kami.


"Halo, dokter Roy. Saya Luna." Aku bicara lewat sambungan telponku. "Malam ini juga, saya akan ke rumah sakit dan menentukan jadwal kemoteraphy saya."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=