
"Yaudah kalo gitu tante pulang dulu yaa." ucap ibu Meli sambil melambaikan tangannya kepada Rin dan juga Meli.
"Iya maa, hati - hati yaa.. Rei tiatii." ucap Meli sambil melambaikan tangannya.
"Yooo sipp." ucap Rei sambil mengacungkan jari jempolnya.
******
Setelah kepergian Rei dan juga ibu Meli.. Rin dan Melipun mulai mengobrol banyak hal..
"Iya Mell, kamu mau tau ga kelakuan Stev selama kamu belum sadar." ucap Rin dengan bersemangat.
"Gimana gimana?" tanya Meli dengan penasaran.
"Waktu kamu belum sadar saat itu ada aku, Stev, Rei sama Nico diruangan ini. Bahkan masih sempet - sempetnya mereka berantem di sini." ucap Rin sambil memperlihatkan tempat kejadian saat itu.
"Berantem?" tanya Meli dengan terkejut.
"Iya tapi ga pukul - pukulan sih, mereka cuma adu mulut sengit gitu." ucap Rin
"Kok bisa?" tanya Meli yang sedari tadi penasaran.
"Iya gegara Stev ga suka liat Nico pegangin tangan kamu terus." ucap Rin sambil menjelaskan.
"Emangnya Nico pegangin tangan aku terus Rin?" tanya Meli dengan terkejut.
"Iya hampir seharian dia duduk di sini sambil megangin tangan kamu, dia bahkan minta ke aku biar dia bisa jagain kamu saat itu." ucap Rin sambil menghayati.
"Ohh gitu." ucap Meli dengan wajah datarnya.
"Lah kok respon kamu gitu aja Mell?" tanya Rin dengan ekspresi bingung.
"Aku ga tau Rin harus bersikap kaya apa, aku bahkan seneng banget udah bertemu kembali sama Nico. Tapi ga tau kenapa aku ragu dan ada 1 hal yang buat aku untuk ngehindar dari dia." ucap Meli dengan wajah sedihnya.
"Hmm, karna sikap dia selama ini ya? ditambah sekarang dia udah punya pacar?" tanya Rin dengan maksud memperjelas ucapan Meli.
"Ya mungkin karna itu Rin." ucap Meli sambil menundukkan kepalanya.
"Mell, cinta itu butuh perjuangan. Aku tau kok perjuangan kamu selama ini buat cari Nico, sekarang kalian udah ketemu lagi dan kamu mau mundur gitu aja? Toh, Nico sama Bella cuman pacaran doang kan? bahkan mereka belum nikah, selama Bella belum milik Nico dan Nico belum milik Bella, kamu masih ada kesempatan Mell. Kita ga tau, bisa aja Nico jodohnya kamu?" ucap Rin memberikan penjelasan dengan pikiran dewasanya.
"Kita harus percaya Mel, kalo emang kalian jodoh pasti ga akan kepisah kok." ucap Rin dengan tatapan bermakna.
"Unchh.. Dokter cintakuu." ucap Meli sambil memeluk Rin.
"Waduhh, baru gua tinggal sebentar udah mesra - mesraan disini." ucap Rei yang tertiba muncul.
"Stttt.. Iri aja." ucap Meli sambil tertawa..
"Huhh, Rin mau peyuk." ucap Rei yang seketika nampak imut kepada Rin.
"Astagaa, maaf yaa Mell. Emang suka gitu kadang." ucap Rin sambil menahan muka Rei dengan telapak tangannya yang saat ini tampak imut.
"Uhh, jahat." ucap Rei dengan wajah kesalnya sehingga membuat Meli tertawa melihat tingkah Rin dan juga Rei.
~ Tanpa kerasa haripun sudah sore, tampaklah 2 orang lelaki datang menghampiri Meli...
"Meli." panggil salah seorang lelaki tersebut dengan ramah yang tak lain adalah Richie.
"Richiee." ucap Meli dengan senyum manisnya menyambut kedatangan Richie.
"Gimana kabarnya sekarang? apa yang sakit? kok bisa sih?" tanya Richie dengan pertanyaan bawelnya.
"Rich, tahan mulut lu." ucap Nico dengan tatapan dinginnya melihat Richie dan Meli yang terlihat sangat akrab.
"Meli aja ga masalah." ucap Richie sambil meledek Nico yang tampak kaku sedari tadi.
"Mell, kenapa kamu ga bilang ada cowo seganteng inii." ucap Rin yang nampak kagum dengan ketampanan Richie.
"Hahaha, kan kamu udah punya Rei." ucap Meli sambil tertawa melihat tingkah Rin.
"Terus aja terus." ucap Rei dengan wajah kesalnya karna terbakar api cemburu.
"Ga kokk bebb, aku sayangnya cuman sama kamu." ucap Rin sambil mencubit pipi Rei.
"Hahaha, btw kenalin Rin ini Richie, Rei ini Richie." ucap Meli sambil memperkenalkan.
"Haii Rin, Rei." sapa Richie dengan ramah. Richie dan Nico memang sangat berbeda, Richie lebih terlihat ramah dan gampang berbaur dengan orang lain, berbeda dengan Nico yang terlihat sangat dingin dan jutek.