Destiny With My First Love

Destiny With My First Love
SIKAP DINGIN LORENZO


"Maaf pak, saya lalai mengerjakan tugas." ucap beberapa satpam sambil menundukkan kepalanya.


"Ini jadi pelajaran buat kalian, lain kali lebih teliti sebelum mengunci ruangan." perintah Lorenzo dengan sikap dinginnya.


"Rich bawa dia kerumah sakit. Gua cape." bisik Lorenzo ke telinga Richie sambil meninggalkan gudang tersebut.


"Emang lu cowo ngeselin yang pernah gua temuin selama ini!" ucap Meli sambil meneriaki Lorenzo yang sudah terlihat jauh.


"Udah.. udahh. Yuk ikut gua." ucap Richie sambil menggandeng tangan Meli.


~ Richiepun segera mengantar Meli kerumah sakit sesuai dengan perintah Lorenzo. Setelah memeriksa kesehatan Meli, dokterpun menyarankan Meli untuk beristirahat dan jangan sampai kecapean. Setelah itu, Richiepun mengantar Meli pulang kerumah untuk beristirahat..


"Makasih banyak ya Rich. Lu beda banget sama cowo ngeselin itu." ucap Meli.


"Hahaha, lu harus kenalin dia lebih dalam Mell." ucap Richie sambil tertawa.


"Dah ya gua pulang, hari ini ga usah masuk. Lu istirahat aja." ucap Richie sambil memberikan senyum manisnya..


******


Sesampainya di rumah, orangtua Meli dan Jesipun sudah menunggu kedatangannya di ruang tamu...


"Kemana aja kamu? mama telfon kenapa ga diangkat?" tanya ibu Meli yang terlihat marah.


"Kenapa pulangnya pagi de?" tanya ayah Meli yang terlihat sangat sabar.


"Lu ngapain aja sih kemarin de?" tanya Jesi dengan tatapan kesalnya.


"Oke.. okee. Gini ceritanya. Kemarin tuh aku kekunci di gudang sama CEO kantor aku. Terus hp ku lowbat makanya ga bisa angkat telepon mama dan alasan aku pulang pagi karna beberapa satpam berhasil nemuin kita yang terkunci di gudang. Puas kan, dah dulu aku mau mandi habis itu istirahat." ucap Meli yang memberikan penjelasan panjang kepada keluarganya.


*******


Setelah mengantar Meli pulang, Richiepun segera menuju rumah Lorenzo.. Setibanya di rumah Lorenzo, Richiepun menghampiri Lorenzo yang sedang mendengarkan musik sambil tiduran di ruang tamu..


"Ko, kenapa lu bisa kekunci sama Meli di gudang?" tanya Richie dengan penasaran.


"Gua suruh dia beresin gudang kemarin, terus tiba - tiba gua keinget sama tuh cewe. Soalnya keryawan lain udah pada mau pulang, tapi gua belum liat dia seharian. Ya udah gua cek dah ke gudang." ucap Lorenzo sambil kembali tiduran.


"Lu suruh Meli beresin gudang segede itu sendirian? emang keterlaluan lu ko, dia tuh asisten lu bukan office girl." ucap Richie yang terlihat kesal dengan sikap Lorenzo.


"Gua ga merasa punya asisten, apalagi cewe kaya dia yang selalu ngerepotin dan ga guna." ucap Lorenzo dengan sikap kasarnya.


"Ga akan, emang dia siapa." ucap Lorenzo sambil meninggalkan Richie yang masih terduduk di ruang tamu.


"Cepat atau lambat, akan gua pastiin lu nyesel ko." bisik Richie dalam hati.


*******


Keesokkan harinya, Melipun segera bersiap dan bergegas menuju Jiang Group. Setibanya di kantor...


"Heyy, Meli.. Udah baikan?" tanya Richie sambil menghampiri Meli.


"Udah dong, makasih yaa." ucap Meli sambil tersenyum.


"Waktunya kerja, bukan ngobrol." ucap Lorenzo dengan sikap dinginnya yang seketika lewat dari belakang Meli.


"Rich, gua duluan yaa. Si ngeselin udah dateng." bisik Meli ke telinga Richie. Richiepun memberikan simbol ok kepada Meli.


Setibanya di ruangan Lorenzo...


"Pagi pak, ini kopinya pak." ucap Meli sambil memberikan segelas kopi kepada Lorenzo. Namun, Lorenzo hanya melirik Meli tanpa mengucapkan terima kasih..


"Emang ga punya sopan santun nih orang, bilang makasih aja yaampun susah bett.." bisik Meli dalam hati.


"Kamu buatkan jadwal untuk saya setiap harinya." ucap Lorenzo tanpa melihat Meli.


"Baik pak." ucap Meli yang segera menyusun dan mengatur jadwal - jadwal untuk Lorenzo.


"Brakk.." tiba - tiba pintupun terbuka dan terlihat seorang perempuan menghampiri Lorenzo.


"Maaf pak, saya sudah berusaha menahan nona. Tapi, nona memaksa untuk masuk." ucap asisten Lorenzo.


"Sayangg, masa aku ga boleh sih masuk ke ruangan kamu." ucap seorang perempuan yang bernama Bella.


Lorenzopun segera memberikan isyarat kepada asisstennya untuk pergi..


"Bukan gitu, kamu kan tau aku lagi kerja." ucap Lorenzo yang terlihat sabar dengan tingkah Bella.


"Maaf pak, ini jadwal anda selama 1 bulan ini." ucap Meli sambil menyerahkan jadwal tersebut.