
"Selamat siang pak, ada yang bisa dibantu?" tanya seorang receptionist Jiang Group.
"Saya ingin bertemu Lorenzo." ucap Stev dengan terburu - buru.
"Mohon tunggu dulu ya pak." ucap receptionist tersebut. Karna Stev sudah tidak bisa menahan emosinya lagi, maka ia segera menerobos masuk ruangan Lorenzo.
"Brakk..." terdengar bunyi suara pintu yang sangat keras.
"Lu punya sopan santun ga?" tanya Lorenzo dengan sikap dinginnya.
"Brukk." tiba - tiba pukulan Stevpun mendarat di wajah Lorenzo.
"Sopan? lu sendiri bisa sopan ga sama cewe?" tanya Stev dengan tersenyum sinis.
"Sial." seketika Lorenzopun membalas pukulan Stev.
"Gua peringatin sama lu, ga usah ngurusin urusan hidup gua." ucap Lorenzo dengan tatapan tidak bersahabat.
"Lu lupa sama sahabat kecil lu? Meli?" tanya Stev dengan nada menyinggung.
"Meli? lu kenal sama dia?" tanya Lorenzo sambil menatap Stev dengan serius.
"Cihh, asal lu tau selama ini yang jadi asisten pribadi lu itu Meli. Sahabat kecil lu sendiri, ga habis pikir gua sama lu." ucap Stev dengan tatapan marahnya.
"Dimana dia sekarang?" tanya Lorenzo dengan tatapan berkaca - kaca.
"Puas lu sekarang, Meli lagi terbaring krisis di rumah sakit." ucap Stev sambil meneteskan air mata.
Seketika Lorenzopun terduduk lemah di bangkunya dan menyesal dengan perbuatannya selama ini kepada Meli...
"Gua peringatin sama lu, jangan pernah muncul lagi dalam hidup Meli." ucap Stev mengancam Lorenzo dan segera meninggalkan ruangan Lorenzo.
*******
Keesokkan harinya, Lorenzo memberanikan diri untuk menjenguk Meli di rumah sakit. Saat itu hanya Jesi yang menjaga Meli seorang dan saat ini Jesi sedang berada di kantin untuk membeli sarapan...
Sesampainnya di ruangan Meli, Lorenzopun hanya bisa terdiam sambil meneteskan air mata. Ia merasa lemah saat melihat Meli terbaring lemah di atas kasur. Seketika Lorenzo segera meraih tangan Meli...
"Ceklekk..." tiba - tiba pintu ruanganpun terbuka dan tampaklah Jesi dari balik pintu...
"Permisi, siapa ya?" tanya Jesi yang hanya melihat punggung Lorenzo.
"Cii. Ini akuu." ucap Lorenzo yang seketika berbalik melihat Jesi.
"Hmm.. Ni..coo?" tanya Jesi dengan ragu.
Lorenzopun hanya menganggukan kepalanya..
"Yaampun Nico, kemana aja kamu?" tanya Jesi sambil menepuk bahu Lorenzo.
"Ceritanya panjang cii." ucap Lorenzo sambil menjelaskan kepada Jesi.
*Flashback On*
Saat itu, Nico pindah rumah karna desakan dari orangtuanya secara mendadak. Awalnya Nico tidak mengetahui apa yang terjadi dengan kedua orangtuanya, karna hal itu membuat ia tidak sempat untuk mengabari Meli. Tetapi tiba - tiba ada seorang kakek dengan beberapa pengawalnya menghampiri rumah Nico saat itu. Saat itu Nico sedang bermain di depan rumahnya...
"Permisi nak, apakah ini rumah pak Albert Jiang?" tanya seorang kakek tersebut sambil menghampiri Nico.
"Iya kakekk, dia papa aku." ucap Lorenzo yang masih terlihat sangat polos.
"Ohh, cucukuu." ucap kakek tersebut sambil memeluk Lorenzo. Ya kakek ini adalah pemilik dari Jiang Group selaku kakek dari Lorenzo dan juga Richie.
Karna kerjadian saat itu, membuat kita semua untuk memutuskan tinggal di rumah kakek. Nicopun sangat bingung dengan kejadian yang ia alami.. Seiring berjalannya waktu, Nico dan Richiepun bertumbuh menjadi lelaki dewasa.. Disaat itulah, Nico mendapatkan jawaban atas pertanyaannya selama ini..
Dulu kakeknya sangat menentang hubungan kedua orangtua Lorenzo dan juga Richie dikarnakan sang kakek sudah menyiapkan perempuan untuk dijodohkan kepada Albert dengan tujuan memperkuat kerjasama antar perusahaan. Namun, Albert lebih memilih untuk membantah perintah sang ayah dan keluar meninggalkan rumah demi menikahi perempuan yang ia cintai. Ya perempuan itu ialah ibu Lorenzo dan Richie saat ini, yang bernama Claudia. Karna tidak direstui oleh sang ayah, membuat Albert dan Claudia berjuang bersama hingga akhirnya berhasil mendapatkan sebuah keluarga harmonis dengan lahirnya Lorenzo dan juga Richie.
Seiring berjalannya waktu, sang ayahpun menyadari bahwa perbuatannya selama ini kepada Albert ialah salah besar. Sehingga ia berjanji akan menemukan dan membawa kembali keluarga hangat di sisinya. Kini Lorenzo dan Richiepun sudah dididik sebagai seorang profesional dalam mengelola perusahaan, sang kakekpun ingin agar kelak cucunya yang melanjutkan usahanya tersebut.
*Flashback Off*
"Ooh gitu ceritanya selama ini." ucap Jesi dengan pengertian.
"Saat itu, aku udah coba cari - cari kalian cii. Tapi karna kalian udah pindah rumah, buat aku kehilangan jejak kalian." ucap Lorenzo sambil menundukkan kepalanya.