
Tidak kerasa sudah 2 jam lamanya mereka asik mengobrol di taman. Segera mereka memutuskan untuk bergegas pulang...
"Mell.. Pokoknya kalo kamu butuh temen curhat, cerita aja ya sama aku." ucap Rin dengan sangat pengertian.
"Iyaa Rinn, makasih banyak yaa." ucap Meli dengan tersenyum hangat.
Karna letak rumah Meli dan Rin berbeda arah, maka mereka berdua menuju ke masing - masing arah yang berbeda. Sewaktu di perjalanan, seketika langkahan kakinya terhenti saat melewati sebuah cafe...
"Hahh?! ga salah liat gua?" ucap Meli yang sangat terkejut.
"Berani - beraninya tuh cewe mainin perasaan Nico, saat ini Nico tuh lagi butuh lu tau ga sih?!" gerutu Meli dalam hati yang terlihat sangat kesal.
"Eh tapi, bukannya dia lagi kerja di luar kota?kok malah sama cowo lain sih di sini." ucap Meli yang nampak sangat geram melihat kelakuan Bella.
"Ring.. Ring..." bunyi handphone Meli karna telepon masuk dari ibunya..
"Melii, kamu dimanaa? udah malem kok belum pulang?" tanya ibu Meli yang terlihat khawatir. Ya karna hari ini adalah hari biasanya ia bekerja di kantor dan karna Meli pulang terlambat tidak seperti biasanya membuat ibunya sangat khawatir.
"Iyaa maa, ini lagi dijalan.. Tadi aku lupa kasih tau mama kalo aku janjian sama Rin." ucap Meli menjelaskan kepada ibunya sambil berjalan terburu - buru.
"Ooiya udah, kamu hati - hati yaa." ucap ibu Meli dengan perhatian.
******
Keesokkan harinya, Meli bekerja seperti biasanya..
"Mell, btw makasih ya kemarin." panggil Richie sambil menyentuh pundak Meli.
"Ooh iyaa, santai aja Rich." ucap Meli yang nampak tidak bersemangat.
"Napa luu? kok lesu amat?" tanya Richie dengan penasaran.
"Gapapaa, Richh. Eh btw boleh nanya ga?" tanya Meli dengan tatapan serius.
"Boleh, mau nanya apa mang?" tanya Richie yang segera menghentikan langkahannya.
"Lorenzo sama Bella udah lama pacaran ya?" tanya Meli dengan penasaran.
"Hmm, mungkin sekitar 1 tahunan. Waktu itu koko gua frustasi gitu, mungkin dia mau coba buka hati buat cewe lain." ucap Richie yang terlamun dengan ucapannya.
"Meli, ikut saya." ucap Lorenzo yang seketika muncul di belakang mereka.
"Rich duluan yaa." ucap Meli segera mengikuti Lorenzo.
"Yoo" sahut Richie
"Pagi pakk, ada apa ya ?" tanya Meli yang terlihat bingung..
"Nih tugas kamu." ucap Lorenzo sambil memberikan beberapa dokumen untuk diperiksa oleh Meli.
"Ah sial, gua gagal bilang makasih." bisik Lorenzo dalam hati.
"Baik pakk.." ucap Meli segera membawa keluar dokumen - dokumen tersebut. Seperti biasanya, Meli selalu membuatkan minuman untuk Lorenzo. Sewaktu Meli membuat minuman tersebut, timbulah pikiran yang menganggunya..
"Gua ga ngeliat Nico terus - terusan diboongin sama cewe itu. Udah jelas - jelas gua liat si Bella jalan sama cowo itu terus dan ditambah mereka berdua mesra banget. Apa yang harus gua lakuin sekarang?" bisik Meli dalam hati dengan ekspresi yang membingungkan.
Setibanya di ruangan Lorenzo..
"Permisi pak, ini tehnya." ucap Meli sambil memberikan teh tersebut.
"Iya." ucap Lorenzo tanpa menatap Meli.
"Dulu gua ga masalah sama sikap lu yang kaya gini, tapi sekarang rasanya sakit banget sama sikap lu sekarang ini. Nico lu udah berubah banyak, bahkan lu ga mengenali gua. Apa semua kenangan lu sama gua ga penting?" bisik Meli dalam hati yang terlihat kecewa.
Segera Meli keluar dari ruangan tersebut, namun langkahannya terhenti saat ia baru saja memegang pegangan pintu...
"Meli, ma..kasih." ucap Lorenzo sambil menatap Meli dengan gugup.
"Iya pak sama - sama." ucap Meli sambil tersenyum.
"Maaf karna Bella lagi kerja di luar kota, jadi kamu yang mengurus saya." ucap Lorenzo dengan tatapan serius.
"Gua ga tahan lagi, sumpah!!" bisik Meli dalam hati.
"Asal bapak tau, Bella ada di sini pak bahkan semalem saya ngeliat dia jalan sama cowo lain." ucap Meli segera berdiri di depan Lorenzo.
"Kamu udah gila ya? kamu ga berhak ngomongin pacar saya sembarangan." ucap Lorenzo dengan tatapan dinginnya.